MIRNA

MIRNA
Episode 68



Keesokan harinya, Mirna tampak sibuk membersihkan rumanhnya yang berdebu, Satria tidak jadi datang menemuinya malam tadi, namun Ia berusaha tetap tenang, sebab Ia tahu jika Syafiyah pasti melarangnya.


Sekitar pukul 8 pagi, tampak beberapa orang pria datang kerumahnya dan mengatakan jika mereka akan memperbaiki rumah Mirna atas perintah Satria.


Mirna hanya menganggukkan kepalanya dan mempersilhkannya.



Ilustrasi dan khayalan Author tentang Mirna, dan para reader bebas mengkhayalkan Mirna seperti apa.


Dua orang pekerja itu tercengang memandangi wajah Mirna yang baru pertama kali ini mereka lihat.


Rasa decak kagum membuat keduanya menelan air liur mereka.


Mirna tidak meneruskan membersihkan rumahnya, sebab akan percuma saja karena akan kotor lagi dengan pekerjaan yang dilakukan oleh para pekerja tukang itu.


Mirna menyingkap sprei dan berniat akan mencucinya. Ia mengumpulkan semua pakain kotor dan akan pergi kesungai.


Setelah Mirna meninggalkan para pekerja itu, Keduanya mulai bekerja, namunn salah satu diantaranya tampak sangat tidak konsentrasi.


"Kang.. Aku gak konsentrasi untuk kerja" ucap pria berusia 30 tahun dengan gelisah.


"Hei, bejo.. kamu fikir kamu saja yang tidak konsentrasi, Aku juga, tetapi Kita harus menyelesaikan pekerjaan ini biar dapat duit" jawab pria yang lebih tua dari bejo. Ia biasa dipanggil botak karena kepalanya botak tanpa rambut.


"Eh.. Bang Botak, lihat ne, si Bejo junior tegak terus karena cewek itu!" gerutu Bejo memperlihatkan juniornya yang masih terbungkus celananya.


"Gila Kamu, Jo.. Kalau mbaknya tadi istri dari pria tadi bisa kelar hidup mu.. Aku juga gelisah, tetapi aku gak berani, Jo.. Aku takut dapat masalah" ucap Botak dengan berusaha menahan hasrtanya yang juga tersiksa karena kecantikan Mirna.


Botak mulai mengukur dan meminta Bejo membantunya.


Setelah mendapatkan semua ukuran yang diinginkannya, Ia mulai mengukur kayu beroti yang akan digunakan untuk memasang platfom ruamah dan kamar.


"Jo.. Itu kayunya sudah saya ukur dan ada tandanya disitu, tolong potongkan, karena saya akan memasang kayu panjang ini" titah Botak kepada Bejo.


Bejo menganggukkan kepalanya dan mulai menggergaji kayu yang sudah diukur oleh Botak.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Bejo sudah tak tahan lagi untuk menahan hasratnya yang bergejolak sedari tadi.


"Bang Botak, perutku tiba-tiba mulas, pengen buang air" ucap Bejo mencari alasan.


"kamu Ini banyak saja alasannya, buruan! Jangan lama-lama" ucap Botak sedikit kesal. Botak kini sedang berada diatas tangga lipat dan sedang memaku kayu yang akan dijadikannya tempat untuk melekatkan bahan platfom.


Mendapat ijin dari botak, Bejo bergegas keluar dari rumah dengan drama memegang perutnyanya yang seolah-olah benar sedang sakit sembari merintih kesakitan.


Bejo menuju pintu dapur dan celingukan mencari dimana keberadaan wanita yang sudah menghilangkan konsentrasinya.


Ia mendengar suara orang sedang menghosok pakaian dari bawah jurang yang tidak terlalu curam.


Seketika Bejo menuju tepi jurang, bemar saja, Mirna sudah berada disana. Kulitnya yang putih bersih berkilau terkena paparan cahaya mentari pagi.


Bejo mengendap-endap melalui pepohonan dan bersembunyi dibalik pohon yang tak jauh dari tempat Mirna mencuci pakaiannya.


Bejo sudah mengeluarkan junionya, Ia bermain solo dan menuntaskan hasratnya hanya dengan memandangi kulit putih Mirna.


Mirna menyadari jika Bejo sedang mengintipnya dan melakukan hal gila itu seorang diri. Setelah Bejo selesai, Ia berniat untuk memasukkan juniornya kedalam celananya, namun Mirna berusaha jahil, Ia mengambil sebutir kerikil yang ada didekatnya dan menjentikkannya dengan kecepatan tinggi dan..


Wuuuusshhh... Taaak..


Batu kerikil itu mengenai kepala junior milik Bejo.


Aaaaaarrrgh...


Wajah Bejo memerah menahan sakit yang teramat sangat dan sampai mengeluarkan air bening disudut matanya. Ia berajalan dengan susah payah menaiki jurang yang tidak terlalu tinggi tersebut menuju rumah Mirna.


Sesampainya dirumah Mirna, Bejo berjalan dengan tertatih dan merasakan juniornya membengkak.


Botak yang melihat Bejo berjalan dengan langkah tak biasa tampak bingung dan merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Bejo.


"Kamu kenapa,Jo" tanya Botak dari atas tangga sembari memukulkan palu ke paku untuk merekatkan kayu rangka platfom.


"Anu kang.. Kepala Anu saya kepentok lebah" ucap Bejo berbohong.


Seketika tawa Botak pecah mendengar jawaban Bejo.


"Gila kamu, Jo.. Lebah apa lebah? Jangan-jangan Kamu lagi ngintip cewek tadi mandi, Ya?" ucap Botak menebak apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.


Bejo tampak nyengir mendengar tebakan Botak.


"Koq Kamu bisa tau, Kang?" ucap Bejo penasaran.


Botak kembali tertawa "Eh.. Jo. Aku duduk ditangga ini bisa lihat kamu dari ventilasi. Kamu fikir saya tidak lihat kamu dari sini" ucap Botak yang membuat Bejo semakin kikuk.


"Namanya juga masih normal, Kang.. Jarang-jarang nemu cewek secantik itu" jawab Bejo mencoba beralibi.


"Bukannya apa, Jo.. Aku juga gak nahan liatnya, tapi setidaknya masih ingat dosa, jangan senbarangan. Istri kamu sedabg hamil dan butuh biaya, masa kamu tega sih" ucap Botak mengingatkan.


"Iya, Kang.. Iya.." jawab Bejo yang menyesali perbuatannya.


"Ya sudah.. Buruan, angkat kayu itu, biar borongan Kita cepat selesai dan cepat dapat uang, ntar kalau kebelet kan bisa cepat pulang salurin sama istri dirumah" ucap Botak kepada Bejo.


Lalu Bejo menganggukkan kepalanya dan mengambil kayu yang diminta oleh Botak san mengulurkannya.


Sementara itu, Yanti tampak sibuk dengan warungnya, Ia mulai membuka warung tersebut. Saat ini Ia membawa Mbak Lisa yang pernah juga bekerja dirumah Satria. Yanti menjadikan Mbak Lisa untuk membantu pekerjaannya, sebab suami Mbak Lisa juga belum pulang dari merantau dan belum mengirimkan uang belanja.


Keduanya tampak sibuk berbenah, sebab malam nanti akan mulai dibuka.


"Yan.. Ini dua kamar untuk apa?" tanya Mbak Lisa dengan penasaran.


Yanti tersenyim menanggapi ucapan dari Lisa "Biasalah lho Mbak.. Itu untuk layanan plus-plus bagi pelanggan, lumayan Mbak, buat uang tambahan" jawab Yanti dengan gamblang.


"Waah.. Gila kamu, Yan.. Dapat ide dari mana kamu?" tanya Lisa dengan penasaran.


"Ada deh, Mbak.. Kalau Mbak mau cari uang tambahan boleh koq.." ucap Yanti sembari menata minuman didalam lemari stailing.


Tiba-tiba sebuah motor berhenti didepan warung mereka, seorang pria membawa satu jerigen ukuran 30 liter turun dari sepeda motor dan membawanya ke dalam warung Yanti.


"Mbak.. Ini pesanannya" ucap Pria berwajah keras, dan tampak kasar.


"Letakkan dibagian sudut sana, Bang" titah Yanti kepada pria itu.


"Iya, Mbak" jawabnya dengam segera meletakkan jerigen tersebut.


"Berapa semuanya, Bang Togar?" ucap Yantj mengeluarkan dompetnya.


"400 ribu saja, Mbak" ucap Togar dengan cepat.


"Gak ada diskonnya, Bang..?" ucap Yanti mencoba menawar.


"Diskon 50 ribu, tapi gratis Itu bolehkan?" ucap Togar sembari menunjuk belahan di dada Yanti.


Yanti tersenyum "Gampang itu Bang.. Yuuk.." ucap Yanti senbari mengedipkan matanya dan masuk kedalam kamar.