
Syafiyah bangun dari tidurnya. Ia masih mengingat peristuwa dimana oria bertopeng itu hampir berbuat me- sum padanya.
Ia merasakan mengapa nasibnya sangat sial, sehingga harus kedua kali mengalami pelecehan dari makhluk menjijikkan dan juga menyebalkan.
Syafiyah melirik jam di dinding kamarnya, masih menunjukkan pukul 1 malam. Ia merasa sangat haus dan ingin mengambil air minum dingin didalam lemari es yang terdapat di dapur.
Angin bertiup sangat kencang dan menerbanngkan gorden jendela yang mana angin masuk melalui ventilasi udara.
Selain itu, suara petir menggelegar dan diiringi oleh kilatan cahaya halilintar yang tampak bersahut-sahutan membelah kengerian malam yang tampak mencekam.
Syafiyah tersentak saat suara sambaran petir yang begitu menggelegar dan kilatan halilintar yang tampaknya menyambar sesuatu diluar sana.
Wanita itu memegang dadanya yang terkejut dengan tiba-tiba. Rasa haus yang menghampirinya memaksanya harus pergi ke dapur.
Saat berada di meja makan, Ia teringat akan pertengkarannya bersama Mirna diruangan ini dan Ia tidak mengerti mengapa Mirna bersikeras terus untuk dirinya memakai gelang tasbih tersebut.
Syafiyah menghela nafasnya dengan berat dan menuju lemari es untuk mengambil sebotol air dingin untuk melegakan dahaganya.
Tirai jendela kaca itu berterabangan karena tertiup angin yang sangat kencang, dan tiba-tiba saja air hujan turun bagaikan dicurahkan dari atas langit.
Syafiyah meneguk air tersebut dan merasakan tenggorokannya terasa lega.
Namun Ia tersentak kaget saat melihat sesesok makhluk berbulu tebal dan juga bermata merah menatapnya dengan tajam.
Kilatan cahaya dari halilintar menggambarkan dengan jelas sosok tersebut yang terus menatapnya dengan senyum seringai.
Seketika Syafiyah meletakkan botol air minumnya diatas meja dan bergegas masuk kedalam kamarnya.
Sesampainya didalam kamar, kembali tirai jendelanya berkibar diterpa angin kencang.
Syafiyah melirik kearah jendela kaca yang memperlihatkan sesuatu diluar sana yang mana kikatan cahaya halilinyar memperjelas apa yang kini berada didepan jendelanya, menatapnya dengan tatapan mengerikan.
Kali ini bukan sosok genderuwo berbulu lebat yang tadi ditemuinya di jendela dapur. Melainkan Nini Maru dengan rambut panjang terurai menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.
Seketika Syafiyah tersentak dari ranjangnya. Ia beranjak turun dan keluar dari kamarnya, menuju ruang santai.
"Dasar, Setan sialan!! Salahku apa coba?! Kenapa mereka mengikuti terus? Kenal juga kagak" Syafiyah memeluk bantal sofa dengan erat.
Syafiyah merasakan jika akhir-akhir ini makhluk itu terus mengikutinya, Ia tidak tahu apa yang diinginkan oleh keduanya, seolah-olah seperti seorang renteiner yang menagih angsuran nasabahnya yang membandel membayar tunggakan.
Syafiyah melirik kearah jendela diruang santai yang mana tirainya juga berkibar terterpa angin kencang.
Wanita itu seperti merasakan firasat yang tidak enak, jika ada sesuatu yang sedang memperhatikannya dari jendela kaca tersebut.
Benar saja, ternyata sosok Nini Maru kini berada disana dan menatapnya dengan tatapan penuh dendam.
Syafiyah kembali tersentak kaget melihat wajah mengerikan Nini Maru yang saat ink sedang menatapnya tak suka.
Taring panjang dengan senyum yang tidak ada manisnya sedikitpun, Ia menyeringai menatap pada Syafiyah.
"Sialan..!! Kenapa mengikutiku terus sih?! Apa gak punya pekerjaan lain apa!!" guman Syafiyah dengan kesal dan juga tubuh yang gemetar ketakutan dan keringat dingin mengucur deras disekujur tubuhnya.
Syafiyah melirik kamar Mirna yang sedari tadi masih tertutup dan Syafiyah menduga jika Mirna telah tertidur pulas.
Menghadapi kenyataan yang ada, membuat nyali Syafiyah menjadi menciut juga.
Ia beranjak dari sofanya, lalu menuju kamar Mirna dan menggedor pintu kamar Mirna dengan kencang.
Tak berselang lama, pintu terbuka dan tampak Mirna berdiri diambang pintu dan menatap Syafiyah yang wajahnya tampak memucat.
Tanpa berkata apapun, Syafiyah nyelonong masuk kedalam kamar Mirna dan naik keatas ranjang Mirna lalu berbaring dan menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Namun Mirna mengacuhkannya, sebab makhluk laknat itu tidak akan dapat menembus masuk kedalam rumah mereka dan hanya berada diluar saja.
Mirna menutup pintu kamarnya dengan cepat, lalu kembali untuk naik keatas ranjang, namun Syafiyah membuka selimutnya.
"Kamu tidur dibawah saja! Saya tak sudi tidur seranjang denganmu" hardim Syafiyah dengan nada ketus, lalu kembali bersembunyi dibawah selimutnya.
Mirna tersenyum tipis melihat kelakuan Syafiyah, namun Ia merasa kasihan melihat Syafiyah yang dalam kondisi ketakutan.
Syafiyah merasa aneh berada didalam kamar Mirna, rasa takutnya berangsur menghilang dan Ia mulai mengantuk, lalu tertidur lelap.
Sementara itu, Mirna mengalah untuk tidur dibawah dan membentangkan karpet tebal untuk tempat tidurnya tanpa ribut dengan Syafiyah.
*****
Pagi menjelang, Mirna sudah bangun dan memasak sarapan untuk dirinya dan juga Syafiyah yang mana akan berangkat untuk bekerja.
Aroma nasi putih yang wangi, omelet telur dan juga ikan teri sambal serta lalapan mentimun.
Syafiyah yang mencium aroma omelet tersebut memaksanya terbangun dari tidurnya.
Ia menatap sekitarnya, dan Ia terperangah, sebab in bukan kamarnya. Ia mengerutkan keningnya dan baru mengingat jika malam tadi Ia memasuki kamar Mirna karena dibuntuti oleh dua makhluk iblis menyebalkan itu.
Syafiyah menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, sesaat Ia teringat akan sesuatu.
Tiba-tiba Syafiyah membayangkan ranjang ini menjadi tempat terpanas antara Mirna dan juga Satria.
Seketika Syafiyah merasa bergidik dan jijik, lalu segera turun dari ranjang Mirna dan bergegas beranjak keluar dari kamar Mirna.
Saat melintasi ruang tengah, tanpa sengaja Ia melihat Mirna sedang berada didapur dan menyiapkan sarapannya.
Syafiyah hanya mendengus kesal, lalu pergi kekamarnya untuk membersihkan dirinya dan akan berangkat bekerja.
Mirna telah selesai menyiapkan sarapan dan membereskan dapur yang kotor, lalu Ia kembali ke kamar.
Ia melihat kamar yang berantakan, lalu merapikan sprei dan melipat selimut yang dilemparkan Syafiyah dilantai.
Setelah itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Syafiyah sudah selesai dengan seragam kerjanya. Ia menuju meja dapur dan membuka tudung saji, lalu meletakkan tas brandednya di kursi kosong dan Ia menarik kursi kosong lainnya untuk sarapan.
Ia memulai sarapannya, dan tak berselang lama, tampak Mirna keluar dari kamar dengan rambut basahnya.
Syafiyah mengerutkan keningnya " Mengapa Ia basah rambut pagi-pagi? Bukankah Mas Satria tidak dirumah?" Syafiyah berguman dalam hatinya.
"Enak sambal terinya, Mbak?" tanya Mirna saat melihat Syafiyah begitu lahab mengunya sarapannya dengan omelet dan sambal terinya.
Syafiyah tak menjawabnya, dan menyunggingkan senyum sinisnya.
Mirna menarik kursi kosong yang tanpa sengaja menjatuhkan tas brandednya yang waktu itu dibelinya saat berjalan-jalan ke Mesir saat menghadiri pernikahan pamannya Satria, yaitu paman Hamdan.
Seketika Syafiyah mengehentikan suapanya, dan menelannya dengan cepat, lalu mengacak pinggangnya dengan tatapan tajam "Dasar, kamu, Ya!! Kamu gak tau itu tas mahal?! Main jatuh-jatuhin saja. Ambil dan bersihkan dengan tissu, awas saja kalau ada yang lecet, kamu harus menggantinya!!" hardik Syafiyah dengan nada tinggi.
"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja" jawab Mirna sembari merundukkan kepalanya, sembari memungut tas Syafiyah yang terjatuh dilantai tanpa sengaja.
"Maaf saja tidak cukup, cepat bersihkan, dan jika ada yang cacat maka kamu harus menggantinya dua kali lipat!" ucap syafiyah dengan jengah.
Mirna menganggukkan kepalanya, lalu menatap Tas tersebut membersihkannya menggunakan tissu seperti yang diminta oleh Syafiyah.