MIRNA

MIRNA
episode 122



Seorang perawat datang memeriksa kondisi Syafiyah yang kini masih termangu di kursi roda.


Insiden yang baru saja dialaminya membuat Ia merasa trauma. Bagaimana mungkin Ia dapat membayangkan jika saja mobilnya tadi tidak berhenti secara mendadak di depan pagar ataupun mobilnya tak dapat begerak saat ditengah badan jalan dan truck itu menabraknya?


Syafiyah bergidik membayangkannya.


Perawat itu mencoba memeriksa tekanan darah Syafiyah dan Syafiyah menepisnya.


"Tinggalkan saya sendiri. Sebentar lagi saya akan pulang dan tidak masuk kerja" ucap Syafiyah yang masih merasakan syok.


Perawat itu hanya menaggukkan kepalanya, dan beranjak pergi dari ruangan tersebut.


Syafiyah mengusap wajahnya dengan kasar, Ia seperti bermimpi saat mengalami kejadian barusan.


Ia meraih phonselnya, lalu mencari sebuah nama dalam phonselnya dan menekan panggilan vedeo pada nama contact 'My Husband'.


Panggilan tersambung, lalu tampak Satria sedang menerima panggilan vedeonya.


"Assallammualaikum, Sayang" ucap Satria dari seberang panggilan vedeo.


"Waalaikum salam.. Mas, kapan pulang?" tanya Syafiyah yang akhirnya mau tak mau menelefon suaminya.


"Maafkan Mas, masih ada pekerjaan yang belum selesai, kamu baik-baik disana ya.. jaga kesehatan dan juga kandungan kamu" ucap Satria dengan tenang.


Sesaat Syafiyah melihat lengan seorang wanita yang sepertinya menggunakan handuk setengah badan, dan wajahnya dari samping mirip Mirna.


Syafiyah membolakan matanya "Mas, mengapa Mirna ada di kamar, Mas? Sebenarnya Mas ini kerja atau dimana sih?" cecar Syafiyah yang tiba-tiba meledak nada bicaranya.


Satria menoleh kearah yang ditunjuk Syafiyah, dan wanita itu telah menghilang.


"Dimana, Sayang? Tidak ada siapa-siapa? Masa kamu lupa dengan kamar ini? inikan kamar Mas yang dirumah warisan Papa Bram dan Mama Jayanti" ucap Satria memperlihatkan ruangan kamar tersebut.


Namun Syafiyah tidak menemukan sosok Mirna disana, padahal tadi sangat jelas Ia melihat Mirna disisi kiri Satria duduk ditepian ranjang.


Syafiyah yang awalnya ingin bercerita tentang insiden yang baru saja menimpanya tiba-tiba menguap begitu saja dan melupakam kejadian tersebut Ia merasa masih meyakini jika wanita yang dilihatnya barusan adalah Mirna.


Namu bagaimana Mirna dapat secepat itu pergi ke kota dan naik kendaraan apa? Hal yang sangat mustahil.


"Mas.." ucap Syafiyah dengan nada ketus.


"Iya, Sayang" jawab Satria dengan tenang.


"Awas saja jika Mas sampai main gila dengan wanita lain di kota" ancam Syafiyah.


Satria terkekeh mendengar ucapan Syafiyah "Tidak, Sayang.. Palingpun jika main gila dengan Mirna" jawab Satri keceplosan.


"Apaa?! Jadi Mirna sekarang bersama Mas?" cecar Syafiyah dengan nada interogasi.


"Kan Kamu sendiri yang memaksa Mas untuk menikahinya? Masa iya Kamu marah?" Satria balik membalikkan ucapan Syafiyah.


"Ya tapi ngapain Mirna dikamar Mas?" tanya Syafiyah cepat.


"Dia tidak sedang dikamar ini" jawab Satria, lalu mengedarkan camera vedeonya keseluruh ruangan kamar.


Syafiyah mendengus kan nafas kesal "Ya sudah.. Telefon Fiyah tutup, dan jangan lupa cepat pulang" ucap Syafiyah mengakhiri panggilan telefonnya.


"Iya, Sayang.. Assallammualaikum" ucap Satria.


"Waalaikum salam" jawab Syafiyah ketus, lalu mematikan paggilannya.


Mirna keluar dari kamar mandi, lalu menyalin pakaiannya "Jadi berziarah ke makam Papa Bram dan Mama Jayanti, Mas?" tanya Mirna yang saat ini sedang menyalin pakaiannya.


Mirna menganggukkan kepalanya, lalu menemukan pakaian yang layak untuk dipakai ke pemakaman dan tak lupa Ia memakai kerudungnya.


"Ayo.. Dan segera kembali agar tak menimbulkan kecurigaan pada Syafiyah" ucap Satria sembari meraih pergelangan tangan Mirna dan menuju ke garasi mobil.


Satria mengendarai mobilnya menuju ke pemakaman, dan tak berselang lama mereka telah sampai di sana.


"Ayolah.. Mas akan memperkenalkanmu kepada mereka" ucap Satria yang melepaskan sendalnya terlebih dahulu saat sebelum memasuki pemakaman.


Mereka menuju makam yang tampak berdampingan satu sama lain.


"Ini makam Papa Bram, dan yang ini makam Mama Jayanti" ucap Satria sembari memperlihatkan batu nisan yang bertuliskan nama masing-masing makam.


Mirna meletakkan satu buket mawar putih yang mana untuk masing-masing makam.


Lalu Satria memanjatkan doa kepada Rabb-Nya untuk kedua orangtua angkatnya.


Sesaat Mirna meraskan hembusan semilir angin yang sangat dingin dan menyapa kulit tubuhnya, Ia dapat merasakan jika sebuah sapaan dari arwah kedua orangtua angkat suaminya, Ia tersenyum dengan tipis.


Setelah melakukan ziarah, Mirna berpamitan untuk kembali pulang dan dengan cepat Ia melesat laksana cahaya lalu tiba dirumah Satria dan memasak untuk makan siang.


Syafiyah segera pulang ke rumah. Sekitar pukul pukul 11.00 siang Ia sudah sampai dirumah.


Saat turun dari mobil, Ia mencium aroma masakan. Syafiyah mengerutkan keningnya.


"Mirna?" gumannya lirih.


Ia mempercepat langkahnya dan membuka pintu utama.


Syafiyah melangkah dengan terburu-tanpa highless-nya, sebab sudah tertinggal dipuskesmas saat insiden pagi tadi.


Benar saja, Ia melihat Mirna sedang memasak didapur, lalu yang dilihatnya tadi siapa? Ia tidak mungkin salah dalam melihat sosok wanita tadi yang bersama Satria didalam kamar.


Namun jikapun itu Mirna, bagaimana caranya Mirna bisa berada disana dan tiba-tiba berada dirumah?


Sungguh hal yang tidak masuk akal bagi Syafiyah, dan ini sangat membingungkan.


"Sudah pulang, Mbak?" tanya Mirna dengan tenang, lalu menyajikan makan siang untuk Syafiyah.


"ini ada nasi beras merah dan sayur bening bayam jagung dan juga ikan patin goreng yang baik untuk kandungan Mbak Fiyah karena mengandung asam folat tinggi dan omega 3" ucap Mirna dengan sangat lembut.


Syafiyah mengerutkan keningnya "Hallah.. Sok tau Kamu, sok ahli gizi.. Saya juga tau sayur bayam mengandung asam folat dan ikan patin mengandung omega 3, jadi jangan sok ngajarin saya. Ibaratnya kamu itu ngomong dengan saya seperti mengajari ikan berenang" ucap Syafiyah ketus.


Mirna tersenyum tipis " Ya sudah, Mbak jya makan saja dulu, saya mau ke kamar" ucap Mirna beranjak pergi meninggalkan dapur.


Syafiyah memasang wajah kesal, lalu mengambil piring kosong dan hendak makan. Saat Mirna berbalik untuk menuju kamar, Ia melihat rambut Mirna masih tampak basah.


"Mengapa Mirna siang-siang mandi keramas? Bukannya pagi tadi Ia juga keramas?" Syafiyah menduga-duga hal yang tidak masuk akal.


"Sangat aneh" guman Syafiyah lirih.


Lalu Ia menyendokkan nasi dan lauknya ke dalam piringnya dan makan dengan lahab.


Ia tak memungkiri jika masakan Mirna benar enak adanya, namun Ia tak ingin mengakuinya di depan Mirna.


Mirna memasuki kamarnya, Ia berbaring ditepian ranjang. Rasanya ingin Ia kembali lagi menemui Satria, memadu kasih dengan sang suami. Ia merasa tak pernah ada bosannya bercinta dengan pria pujaannya, dan pria itu membuatnya begitu sangat candu.


Sesaat Mirna menyanyikan senandung cintanya untuk Satria, menggambarkan kerinduannya, meskipun baru beberapa jam yang lalu mereka memadu kasih.


Sementara itu, Satria yang mendengarnya tersenyum sumringah, ternyata istrinya itu begitu dalam mencintainya.