
Pagi menjelang. Ke dua bocah itu sudah bersiap akan pergi ke sekolah dan tampak keduanya sudah kembali bugar, meski dibalik itu semua ada pengorbanan sang ibunda yang rela mengorbankan nyawanya untuk menyalurkan tenaga dalamnya kepada kedua bocah itu.
"Bu.. Kami berangkat ke sekolah" ucap Samudera dan Angkasa sembari menyalim tangan Satria dan juga Mirna.
Mirna mengulurkan tangannya dan keduanya mengecup punggung telapak tangan Mirna kemudian Mirna memberikan kecupan diujung kepala kedua puteranya.
Keduanya berpamitan berangkat ke sekolah mengendarai motor mereka yang tampak berlumpur karena semalaman menerobos jalanan yang belum tersentuh pembangunan menuju rumah ki Brewok.
Sesampainya di sekolah. Keduanya menuju kantin dan membeli camilan gorengan untuk nngemil mereka. Keduanya mengamati kantin Mbok Titin yang masih tertutup.
"Si Mbok itu gak pulang, Ya?" bisik Samudera kepada Adiknya dengan nada yang sangat rendah agar tidak didengar yang lainnya.
"Dia memilih hidup dengan pria yang ada didalam. Kamar sebelah. Itu anaknya Ki Brewok" jawab Angkasa yang juga berbisik.
Maksudmu?" tanya Samudera sedikit bego.
"Itu.. Urusan orang dewasa, dan sangat vul-gar disebutin" jawab Angkasa.
Samudera memanyunkan bibirnya "Berarti Mbok Titin gak bakal jualan dikantin ini lagi?" tanya Samudera lagi.
Angkasa menganggukkan kepalanya "Ya.. Ia memilih hidup bersama pria itu, meskipun pria itu sedikit depresi, namun bosa diandalkan" jawab Angkasa.
"Deeeeeerrr... Hayooo. Ngobrolin apaan, Sih? Sampai bisik-bisik segala" ucap Tasya yang tiba-tiba datang mengagetkan keduanya hingga tersentak dan menghentikan obrolannya.
Angkasa dan Samudera menarik nafasnya dengan berat dan menghelanya. "Kamu ngagetin saja" ucap Samudera yang masih tersengal karena Tasya cukup mengangetkannya.
"Abisnya kalian itu swrius banget. Ngomongin apaan, Sih?" tanya Tasya penasaran.
"Gak ada, hanya ngobrol biasa masalah PR saja" jawab Angkasa asal.
Seketika wajah Tasya berubah panik" A-apa, PR?! mati, Aku!! Aku lupa ngerjain PR kimia!!" jawab Tasya yang langsung nagacir dari belakang keduanya dan menghambur ke kelas.
Angkasa mengerutkan keningnya, padahal Ia hanha asal ngomong saja, dan akhirnya membuat gadis itu menghilang dari pandangan ke duanya.
"Ya, Sudah.. masuk kelas, yuk..!!" Ajak Samudera dan mereka beranjak dari tempatnya lalu melangkah keluar dari kantin.
"Heeeii.. Samudera! Mau kemana?" tanya Mbak Desy.
"Ke kelas, Mbak" jawab Samudera.
"Kalian belum bayar gorengannya" ucap Mbak Desy mengingatkan.
Keduanya saling pandang "Eh, iya.. Kan tadi belum dibayar. Sudah, bayar sana" ucap Samudera kepada Angkasa.
"Koq Aku, Sih?" ucap Angkasa protes.
"Karena kamu itu si adik, maka harus patuh perintah dari sang kakak" jawab Samudera.
"Yaelah.. kakak beda berapa menit doank saja sombong!" balas Angkasa sembari menghampiri Mbak Dessy.
"Ini, Mbak.. Maaf lupa" ucap Angkasa sembari nyengir dan menyerahkan uang gorengan mereka.
Angkasa beranjak pergi dan menyusul kakanya yang sudah berjalan keluar dari kantin.
"Iiih.. Gemes banget sih, tu bocah.. Pengen dua-duanya" guman Mbak Dessy yang berusia 23 tahun itu.
Lalu Ia kembali ke dapur kantin untuk melayani pesanan siswa lainnya.
Sementara itu, mbok Titin terbangun dengan wajah kusutnya karena semalaman di garap oleh pria tersebut.
Ia tersentak melihat pria itu ternyata masih berusia muda dan saat ini masih tertidur pulas disisinya.
Ia beranjak bangkit dan memunguti pakaiannya lalu melirik rudal pria berusia 30 tahun itu dengan gemas. Lalu Ia beranjak ke luar kamar dan menuju dapur untuk memasak.
Rumah yang sangat kacau dan karena atap sengnya terbang terkena angin kencang yang diciptakan oleh Nini Maru membuat rumah itu tampak sangat berantakan.
Mbok Titin mencari persediaan bahan pokok yang tersedia di dapur. Ia melihat singkong yang tergeletak disana, lalu Ia mengolahnya dan merebusnya untuk dijadikan santapan pagi ini.
Ia memasak menggunakan kayu bakar, karena tidak ada kompor ditempat itu.
Setelah menyalakan api. Mbok Titin mencium aroma darah yang menyengat tersebut. Ia baru teringat jika jasad Ki Brewok masih teronggok dihalaman samping rumahnya dan itu sangat mengenaskan .
Mbok Titin mengambil cangkul, lalu menggali tanah disamping dekat dapur dan ketika liang itu sudah sedalam satu meter, Mbok Titin menyeret jasad Ki Brewok yang sudah kaku dan memasukkannya ke liang yang digalinya.
Ia menguburkan jasad itu tanpa melewati fardhu kifayah terlebih dahulu. Kemudian Ia menguruknya dengan tanah dan meninggalkannya begitu saja.
Kemudian kembali ke dapur dan melihat singkong rebusnya sudah mendidih dan Ia beranjak mandi sembark menunggu singkong itu matang.
Setelah selesai mandi, Ia kembali ke kamar pemuda dan membuka lemari pakaian yang sudah melapuk dan menemukan sebuah tas yang berisi pakaian wanita lengkap dengan alat kosmetiknya.
Tas tersebut tak lain adalah peninggalan Rina yang saat itu tertinggal karena Ia disekap dirumah tersebut akibay tersesat karena melarikan diri saat kematian Jali yang sangat manakutkannya.
Mbok Titin mengenakan pakaian milik Rina dan beedandan seadanya. Ia berharap jika pemuda itu terbangun bisa menerimajya sebagai Rina yang selalu Ia sebutkan.
Mbok Titin kembali ke dapur dan mengamgkat singkong rebus untuk dihidangkan sebagai sarapan bersama kopi hitam yang juga sudah diseduhnya.
Menghirup aroma kopi hitam yang harum menyengat itu, sang pemuda terbangun, dan Ia beranjak keluar dari kamarnya dan tanpa sehelai benangpun, karena Ia masih dalam kondisi linglung, bahkan Ia tidak mengenali dirinya sendiri.
Melihat seorang wanita duduk diruang tengah dengan memakai pakain Rina dan menggunakan lipstik yang merah merona, membuat pemuda itu tersenyum sumringah dan menghampirinya dengan penuh semangat.
"Rinaaa? Kamu akhirnya datang" ucapnha dengan girang sembari memeluk Mbok Titin penuh kerinduan.
Mbok Titin tak perduli jika pria itu menganggapnya Rina atau siapalah. Yang terpenting baginya Ia mendapatka pasangan hidup kembali, dan pastinya pemuda yang masih gagah meskipun sedikit linglung tak menjadi masalah baginya.
Pria itu dudk disisinya dengan mata yang terus menatap sayu.
Mbok Titin mengarahkan gelas kopi kepadanya, dan pemuda itu menyeruputnya, kemudian Mbok Titin memyuapinya dengan singkong rebus. Pemuda itu memakannya dan kini Ia merasakan hidupnya kembali ceria setelah menemukan tambatan hatinya. Begitu juga dengan pemudah itu yang merasa Rinanya sudah kembali dan kini Ia tampak begitu sangat senang.
Mbok Titin akan memulai hidupnya kembali dan akan hidup bertani ditempat tersebut. Apalagi persediaan singkong dikebun dan juga jagung masih melimpah. Maka Mbok Titin akan menanam singkong dan juga Jagung, sedangkan persediaan masih melimpah.
Pemuda itu menyandarkan kepalanya dipundak Mbok Titin dan kini semangat hidupnya kembali lagi setelah melihat kehadiran Mbok Titin yang Ia kira adalah Rina yang telah lama menghilang.