MIRNA

MIRNA
Episode 48



Mirna membuka pintu kamarnya, Ia sedikit terkejut saat melihat Satria berada dikamarnya. Mirna hanya diam saja, dan mencoba mencari handuk untuk mandi.


"Mirna" ucap Satria dengan lirih, lalu memandang wanita itu.


"Ya.." jawab Mirna, lalu meraih handuk yang tersangut disebuah jemuran kecil yang terbuat dari logam didalam kamarnya.


"Kemarilah" titah Satria, dengan deguban jantungnya yang memburu.


Mirna hanya menganggukkan kepalanya dan menghampiri Suaminya.


"Bisakah Kau mengurutku? Tubuhku terasa pegal" pinta Satria.


Mirna kembali menganggukkan kepalanya, tanpa berbicara sedikitpun.


Lalu Ia berjalan menghampiri suaminya, dan tampak Satria menanggalkan pakaiannya dan menyisakan celana boxernya.


Satria menelungkupkan tubuhnya, dan menanti Mirna untuk menyentuhnya.


Mirna mulai mengurut punggung suaminya, sentuhan itu membuat Satria merasa melayang. Ia tidak menduga jika selain pintar memasak dan mengurus rumah tangga, Mirna juga pandai mengurut.


"Kamu capek, Ya" tanya Satria sembari menikmati setiap sentuhan yang Mirna berikan.


Mirna hanya terdiam tanpa jawaban apapun. Mendapati Mirna yang tak menyahuti ucapannya, Satria merubah posisinya menjadi terlentang.


Dengan posisi itu Ia dapat melihat jelas betapa rupawannya wajah Mirna, ditambah lekuk tubuh yang sangat menggoda.


Mirna mengurut bagian lengan Satria, tanpa memandang kepada Satria yang terus menatapnya.


"Mengapa Kau menerima pernikahan ini?" tanya Satria kepada wanita itu, yang sedari tadi tak juga menatapnya.


Mirna menghentikan urutannya, dan saat ini Ia menatap kedua bola mata Satria yang selama ini membuatnya begitu sangat terpesona.


"Aku menerimanya karena Aku benar mencintaimu, namun Kamu menikahiku karena keterpaksaan" jawab Mirna tanpa dapat menutupi lagi perasaannya.


Satria sudah dapat menebaknya.. Lalu Ia membalas tatapan istrinya yang baru semalam dinikahinya.


"Dapatkah Kau mengajariku cara mencintaimu?" tanya Satria dengan lirih.


Mirna menatapnya dengan tatapan sendu, sebuah tatapan hasrat menggebu yang selama ini telah Ia pendam sangat lama.


"Puaskan Aku.. Kau akan mencintaiku dalam sekejab" jawab Mirna yang sudah tak mampu lagi menahan gejolak jiwanya.


Tanpa menunggu lama Ia melepaskan seluruh pakaiannya, dan memperlihatkan apa yang miliki.


Satria terperangah dengan tindakan Mirna yang berbeda dan berbalik terbalik dengan sikap Syafiyah yang selama ini selalu menolaknya jika dia menginginkan hal tersebut.


Mirna memang berbanding terbalik dengan Syafiyah dalam segala hal. Belum sempat Satria menjawab apa, Mirna sudah menyerangnya terlebih dahulu yang membuat Satria keringat dingin dan kewalahan.


Tiga jam lamanya Mirna mengerjai Satria dan Ia merasakan puncak surgawinya yang selama ini tak pernah Ia dapatkan, Ia terkulai lemas disisi suaminya, Ia mengeratka pelukannya dan tak ingin melepaskan suaminya siang ini.


Sementara itu, Nini Maru merasakan sesuatu petaka akan datang padanya. Ia terlihat gusar dan juga gelisah.


"Mirnaaaa.. Sialan Kamu..!!" teriak Nini Maru dengan sangat kesal dan penuh amarah.


Lalu sosok bayangan hitam itu datang menemuinya "Saya sudah membebaskan wanita yang akan menjadi tempat bersarangmu, Ni" jawab Sosok itu dengan perasaan yang tak kalah galaunya dengan Nini Maru.


"Mereka telah melakukanmalam pertama mereka.. Ini sebuah bencana..!" ucap Nini Maru dengan sangat khawatir.


"Apa yang harus kita lakukan, Ni?" tanya sosok bayangan hitam itu dengan sangat kacau.


Sementara itu, Satria merasakan puncak surgawi yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Ia tak meduga jika Mirna begitu sangat luar biasa.


"Terimakasih, Sayang.." ucap Satria sembari mengecup lembut ujung kepala Mirna.


Tiga ronde dipagi hari ini membuat semangat Satria bertambah. Lalu keduanya mandi bersama, dan Mirna memintanya sekali lagi yang membuat Satria sedikit kewalahan menghadapi Mirna. Lalu mereka menyelesaikan mandi mereka.


Satria tampak tersenyum-tersenyum sendiri keluar dari kamar Mirna "Kalau tau begini rasanya sudah dari tadi malam aku lakukan" gumannya dan menuju keluar rumah. Ia ingin keluar sejenak untuk mengambil uang di ATM-nya karena Ia harus memberi Mirna uang untuk berbelanja kebutuhan hidup mereka bertiga.


Mirna keluar dari kamarnya, lalu membawa selendang miliknya, Ia memasuki kamar Syafiyah dan menatap Syafiyah dengan tatapan yang penuh misteri.


Syafiyah menatapnya dengan tatapan sendu, Ia melihat rambut basah Mirna, Ia memastikan jika saja Mirna baru saja mendapatkan jatahnya.


Mirna berjalan menghampiri Syafiyah, dengan tatapan yang sedikit berbeda, Ia berdiri ditepi ranjang Syafiyah.


Syafiyah merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapan Mirna. Wanita yang kini menjadi madunya tersebut, mengangkat pinggang Syafiyah.


"Aaaarrgh.. Sakit, Mirnaa" teriak Syafiyah dengan wajah meringis kesakitan dan sakit yang luar biasa.


Namun Mirna tak menghiraukan teriakan Syafiyah yang meringis kesakitan. Karena rasa sakit yang sangat luar biasa tersebut, sampai membuat Syafiyah meringis dan menangis tersedu.


"Apa yang Kau lakukan padaku? Apakah Kau sudah gila? Inikah balasanmu terhadapku yang sudah merelakanmu bermadu denganku?" cecar Syafiyah dengan isak tangisnya.


Mirna mengambil selendangnya, lalu mengikat pinggang Syafiyah yang sudah dinaikkannya beberapa jengkal dari atas ranjang.


Segala cacian dan cercaan dilontarkan Syafiyah karena rasa sakit yang sangat luar biasa sehingga Ia merasakan sekujur tubuhnya bagaikan dikuliti dan tubuhnya remuk redam.


Mirna mengencangkan ikatannya, dan tak menghiraukan segala cercaan yang dilontarkan oleh Syafiyah, Ia seperti gadis bisu dengan tatapan dingin menghujam jantung.


Setelah beberpa saat membuat pinggang Syafiyah tergantung dari atas ranjang, Mirnna menekan perut Syafiyah hingga terhempas keatas ranjang, dan...


"Aaaaarrgggh..."


Syafiyah kembali berteriak kesakitan mendapati perlakuan tak menyenangkan dari Mirna. Keringat dingin mengucur dari tubuh Syafiyah, matanya sayu, lalu tak mampu lagi menatap pada objek didepannya. Syafiyah merasakan pandangannya menghitam, kepalanya perlahan berdenyut dan perlahan Ia mengatupkan kedua matanya.


Mirna membuka selendangnya, lalu melepaskannya dari pinggang istri pertama tersebut.


Mirna menatap Syafiyah dengan tatapan misteriusnya, lalu pergi meninggalkan Syafiyah begitu saja, dan kembali kekamarnya.


Satria baru saja kembali dari ATM dan mencari Mirna dikamarnya. Ia melihat istri keduanya itu sedang merapikan sprei yang tampak berantakan karena pergumulan mereka tadi.


"Mirna.." ucap Satria dengan lembut.


"Ya.." jawab Mirna dengan lirih.


"Ini uang belanja, jika ingin berbelanja pergilah ke toko Pak Joko yang ada diujung sana, tidak jauh dari rumah" Satria menjelaskan dan memberikan uang itu kepada Mirna.


Mirna menerimanya "Terimakasih, Mas" ucap Mirna menirukan panggilan Syafiyah kepada Satria.


Satria tersenyum mendengarnya. Sepertinya Satria mulai jatuh cinta kepada istri barunya, seirang wanita yang serba bisa dan dapat mengurangi pekerjaannya.


Satri mengecup ujung kepala Mirna dengan lembut, yang membuat Mirna yang membuat Mirna melayang dengan perasaannya.


Semua yang ada pada Mirna, membuat Satria seakan mendapatkan sesuatu yang sangat berbeda dan membuat hidupnya semaoin bersemangat.


Satria keluar dari kamarnya dan menuju kamar Syafiyah untuk bekerja. Ia memandang Syafiyah yang tampak tertidur, ada sesuatu yang berbeda dari Istri pertamanya itu, namun Satria mencoba menepisnya, dan Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.