MIRNA

MIRNA
episode 133



Didi dan Dino berjalan ditepi hutan. Mereka menyusuri tepian sungai dan mencari hewan buruan.


Seekor baabi hutan tampak terperangkap diakar pohon dan terjepit kakinya. "Di.. Lihat tu.." tunjuk Dino dengan penuh semangat.


"Kamu mau jual itu?" tanya Didi kepada Dino.


Sahabtanya itu menganggukkan kepalanya "Ya sudah, Ayo Aku bantu" jawab Didi sembari membidikkan senapang anginnya membidik kaki baabi hutan itu dan melumpuhkannya.


Ssssstt...dooorr


Suara peluru yang keluar dari senapang dan melumpuhkan baabi hutan tersebut.


Keduanya melepaskan hewan tersebut dari jepitan akar pohon tersebut.


Lalu mereka menandu baabi hutan itu dan juga dua ekor biawak yang lumayan besar naik dari jurang yang tidak terlalu terjal.


"Di.. Kamu normal gak sih sebenarnya?" tanya Dino ke pada sahabat setelah naik ke atas dan tepatnya dibelakang rumah Mirna.


"Eh.. Din, Aku masih normal tau!!" jawab Dino dengan cepat.


Dink menghela nafasnya "Tapi mengapa kamu menghalangiku saat menggarap Mbak Lela?" tanya Dino penasaran.


Seketika Didi terdiam. Ia ingin mengatakan apa yang dilihatnya malam itu, namun Ia takut menjadi fitnah jika itu tidak terbukti.


"Emm.. Ya karena Mbak Lela itu janda" jawab Didi asal.


"Bukannya kami pernah mengatakan jika silahkan berpacaran dengan atau janda, tetapi jangan bini orang" tukas Dino dengan nada protes.


Didi menjitak kepala sahabatnya. "Ya bukan berarti harus kamu garap juga tau..?! Maksudnya itu pacaran sehat, dan jika ingin mengarap ya nikahin dulu" jawab Didi kesal.


Dino menganggukkan kepalanya, entah apa yang difikirkannya saat ini.


"Emm.. Tapi Mbak Lela masih hooot, Lho Di" ucap Dino dengan santai mengingat malam itu.


Didi menggelengkan kepalanya "Dasar, gak ada akhlak kamu. Sebaiknya kita jangan main ke warung Mbak Lela dulu"


"Lho.. Kenapa? Sudah 2 hari kita tidak main ke warungnya" protes Dino.


Didi mengenduskan nafasnya dengan berat "Kamu gak mau kehilangan lato-lato kamu kan?" tanya Didi cepat.


Dino berhenti sejenak dan memutar tubuhnya menghadap sahabatnya itu.


"Maksud kamu?" tanya Dino penasaran.


Seketika Didi kelabakan untuk memberikan jawabannya.


Namun obrolan mereka terputus saat Yanti memanggil keduanya.


"Bang.. Sini.." teriaknya sembari melambaikan tangannya dengan gerakan memanggil.


Lalu keduanya berhenti dan saling menatap.


"Ya.. Sudah.. Ayo" jawab Didi menyetujui.


Lalu keduanya mengahampiri Yanti yang menggunakan celana sebatas pangkal kaki dan tanktop berwarna kuning kunyit.


Luka dibagian wajahnya mulai tampak memudar, namun wajahnya tampak tidak bercahaya, seperti pucat dan mungkin juga sakit.


"Ada apa, Mbak? Tanya Didi yang pastinya tentu akan membeli hewan buruan mereka.


Yanti tersenyum sumringah. Entah mengapa Ia tampak begitu geni saat melihat Didi.


"Ya mau beli hewan buruannyalah, Bang. Masa iya mau beli abangnya" jawab Yanti genit.


Didi hanya tersenyum tipis "sudah mbak.. Kalau mau borong semuanya 1 juta saja" ucap Didi ingin segera cepat-cepat pergi dari warung Yanti.


Sesaat Ia melihat sosok bayangan hitam yang Ia lihat malam saat berada di warung Mbak Lela melintas di ruangan warung Yanti.


Didi tersentak. Ia sangat yakin jika yang dilihatnya itu sama seperti yang dilihatnya saat diwarung Mbak Lela.


Seketika Didi bergidik san meremang bulu kuduknya.


Yanti masuk kedalam warung dan menuju kamarnya, lalu mengambil uang tanpa menawar harga yang diajukan oleh Didi.


Ia tersentak saat melihat Rey sudah berada diranjangnya.


"Aku ingin pemuda yang ada didepan warung itu" ucap Rey dengan tatapan tajam.


Yanti menoleh ke arahnya, sembari mengerutkan keningnya.


"Makasudmu yang mana? Yang bertubuh tinggi atau yang bertubuh sedang?" tanya Yanti penuh selidik.


"Yang bertubuh sedang.. Aku sudah lama tidak mendapat tumbal lato-lato" ucap Rey dengan suara parau.


Yanti terdiam sejenak "Baiklah.. tapi jangan coba-coba sentuh yang bertubuh tinggi, amu menginginkannya" ancam Yanti kepada Rey.


"Sepakat..!" jawab Rey dengan cepat.


Lalu Yanti mengganggukkan kepalanya, dan keluar dari kamarnya untuk menemui ke dua pemuda itu.


"Bang.. Ini uangnya.." ucap Yanti sembari menyerahkan uang tersebut.


"Makasih, Mbak" jawab Didi cepat dan ingin segera pergi dari warung tersebut.


Namun Yanti mencoba mencari celah agar Ia dapat berbicara berdua dengan Dino.


"Eh, Bang Dino.. Minta tolong dong bawain hewan itu kedapur.. Kan berat, bang" ucap Yanti mencoba mencari alasan.


Dino menganggukkan kepalanya, sebab babi hutan dan dua ekor biawak tidak mungkin dapat diseret Yanti sendirian.


Dino meminta Didi menunggu sebentar, hanya untuk membawa bintanang itu ke dapur.


Didi menganggukkan kepalanya dan menunggu sejenak.


Yanti memasuki warung dan menggiring Dino ke arah dapur. Dino menarik kayu yang menjadi alat untuk mengikat ke 3 ekor hewan tersebut.


"Letakkan disini saja, Bang." ucap Yanti dengan suara yang sedikit genit.


Dino meletakkan ke tiga hewan tersebut dan beranjak ingin pergi, namun Yanti menarik pergelangan tangannya "Kenapa terburu-buru, Bang? Gak mau yang hangat, bentar saja" ucap Yanti mencoba menawarkan sesuatu yang selama ini dicari Dino.


Yanti mendekatkan tubuhnya kepada pemuda tersebut.


Lalu mencoba menggoda sang pemuda dengan sebuah iming-iming yang menggiurkan.


Ia menyingkap pakaiannya dan memperlihatkan dua tonjolan didadanya.


Seketika Dino menelan salivanya. Ia teringat kembali saat bercumbu dengan Lela waktu itu.


Bayangan malam itu kembali terngiang begitu saja, dan kali ini Ia tawarkan sesuatu secara gratis.


Dengan cepat Dino menyambarnya, bagaikan bayi baru lahir yang sangat kehausan, Ia melahab sesuatu milik Lela.


Didi merasa curiga karena Dino terlalu lama, dan Ia teringat akan sosok bayangan hitam itu yang tadi melintas didalam warung Yanti.


"Dino.."


Gumannya dengan panik, lalu menerobos masuk ke dalam warung Yanti dan menuju dapur sesuai dengan yang dikatakan oleh Yanti kepada Dino saat meminta membawakan ke tiga ekor hewan tersebut.


Didi terperangah melihat adegan panas keduanya yang tengah berbuat maksiat di meja kompor, dan bayangan hitam itu tampak mengawasi keduanya.


Laku dengan cepat Didi menarik kerah baju Dino yang masih sibuk menyusu layaknya bayi.


Karena Didi yang tiba menariknya, tanpa sengaja Dino menggigit benda kecil di tonjolan milim Yanti yang membuat wanita itu terpekik kesakitan.


Didi tak menghiraukan makian Yanti kepadanya, Ia segera membawa Dino segera keluar dari warung tersebut, tanpa perduli Dino yang terus mengomel karena lagi-lagi Didi memergokinya dan menggagalkan ia yang sedang bercumbu.


Meskipun Dino mengomel, Didi terus menyeretnya hingga menjauhi warung tersebut.


"Lepasin, Di.. Apaan, Sih Kamu? Kenapa selalu menggangguku melakukan kesenangan? Atau jangan-jangan Kau iri ya karena mereka lebih memilihku?" ucap Dino yang mencoba melepaskan cengkraman Didi dikerah pakaiannya.


"Din.. Kamu tidak tahu sebenarnya bahaya sedang mengintaimu" sergah Didi mencoba mengingatkan sahabatnya.


"Halaaah..! Jangan sok munafik kamu! Mungkin jika Kamu yang berada diposisiku kamu akan merasa senang mendapat suguhan gratis" protes Dino yang emosi karena belum sempat menuntaskan hasratnya.


Didi mengacak rambutnya dengan kasar "Bukan.. Bukan itu maksudku.. Namun ada sesuatu yang tidak dapat aku jelaskan" jawab Didi berusaha membela dirinya.


Namun Dino sudah terbakar emosi, dan Ia meraih uang yang masih dipegang oleh Didi, mengambil bagiannya dan pergi berlalu meninggalkan Didi dengan perasaan yang sangat kesal.