MIRNA

MIRNA
episode-257



Sesampainya dirumah sakit, Hadi terburu-buru memasuki ruangan tempat Shinta dirawat.


Wajahnya tampak pucat karena baru saja berhadapan dengan Nini Maru. Ia meletakkan tas jinjing itu diatas lantai dengan kasar dan duduk di sofa dengan nafas tersengal.


"Kamu kenapa, Di? Seperti di kejar syetan saja" ucap Mala dengan nada penasaran.


Hadi mencoba mengatur nafasnya yang tampak masih memburu dan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghelanya melalui mulut dan mengulanginya beberapa kali, sehingga Ia benar-benar tenang.


Setelah merasa tenang, Ia menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya, dan semua yang berada diruangan itu mendengarkannya secara seksama.


"Ternyata Nini Maru dan rekan-rekannya berniat mengincar keluarga kita seluruhnya" ucap Mala dengan nada lirih. Ia tidak memahami mengapa begitu dendamnya Iblis itu kepada anak keturunannya.


"Sepertinya saat ini mereka menargetkan Samudera, kita harus segera kembali. Hadi, Shinta sudah mulai membaik, dan esok kami akan segera kembali, sedangkan untuk Shinta dan kamu, nanti akan aku berikan mantra pelindung dan tentunya harus dibarengi keyakinan pada sang Rabb untuk memberikan perlindungan yang sebenarnya" ucap Satria kepada Hadi.


Hadi menganggukkan kepalanya dan kemudian mereka memutuskan untuk tidur bermalam dirumah sakit menemani Hadi malam ini.


Malam semakin larut. Nini Maru memandang cermin tua yang masih tergantung didinding kayu yang tampak sangat reot tersebut, namun masih dapat dipergunakan dengan baik.


Ia memandang wajahnya yang berlubang akibat terkena tasbih yang dilemparkan Angkasa. lubang itu sangat dalam, dan membuat dagingnya yang rusak tampak begitu lunak hingga mudah berlubang saat terkena benda yang menyentuhnya.


Sesaat Ia mendengar suara orang berbisik-bisik diluar Nini Maru melesat menempel didinding rumah yang sudah sangat reot tersebut.


Semakin lama, suara itu semakin mendekat dan membuat para demit sekutu Nini Maru beranjak dari tempatnya dan mendengar suara pintu rumah itu dengan perlahan. Tampak dua remaja yang sedang berdebat masuk kedalam rumah peninggalan Nek Surti.


"Aku, takut Fer!" ucap remaja putri yang perutnya tampak membuncit. Selama ini Ia sudah berusaha menutupinya dengan menggunakan pakaian besar dan mengikatnya dengan menggunakan kain kemben agar perutnya tidak membuncit, namun semakin lama perut itu tak dapat disembunyikan.


"Ayolah.. Coba dulu.. Kamu minum saja obat penggugur kandungan ini, menurut penjualnya ini ampuh" jawab Fery remaja putus sekolah yang kini kerjanya hanya seorang pengangguran yang tidak tentu arah.


Kini Ia ketakutan dan tidak ingin bertanggungjawab atas perbuatannya yang sudah menghamili seorang remaja puteri yang masih duduk dikelas 2 SMP.


"Tapi reaksi obat ini pastinya sangat sakit?" jawab Lulu yang masih takut untuk mencoba meminum obat penggugur janin tersebut.


"Ayolah, Lulu Sayang.. Hari hampir tengah malam, nanti kita terlambat dan akan ketahuan warga" Rayu Fery.


Lalu Lulu akhirnya mencoba untuk meminum obat penggugur tersebut, meskipun Ia merasa takut. Namun rayuan Fery membuatnya lemah juga.


Fery yang berhasil merayu Lulu akhirnya mengambil kesempatan untuk menggauli gadis remaja yang mereka sebut sebagai pacarnya.


Sesaat keduanya tak memperdulikan rumor yang berkembang jika rumah itu angker dan sering menampakkan sosok mengerikan.


Namun keduanya merasa lebih angker jika kandungan Lulu semakin membesar.


Saat pergumulan terjadi, obat yang diminum Lulu mulai bereaksi dan Lulu mulai merasakan mulas diperutnya.


Nini Maru dan sekutunya saling pandang dan merasakan jika mendapatkan mangsa tanpa diduga-duga.


"Fer.. Perutku mulas banget.." keluh Lulu yang mana Fery masih terus menggaulinya tanpa memperdulikan rasa sakit yang mendera perut Lulu.


Rey melesat cepat saat melihat Fery akan mencapai pelepasannya.


Kreeees.. Sreeek..


Rey mencabut paksa lato-lato milik Fery.


"Aaaaaarrggh" suara Fery tertahan saat Ki Kliwon yang hidupnya membutuhakan darah menggigit lehernya dan membuat remaja itu membolakan matanya dan kehilangan nafasnya, lalu ambruk dilantai.


Lulu yang tak dapat melihat dalam kegelapan karena suasana sangat gelap tak menyadari apa yang terjadi, Ia hanya merasakan Fery melepaskan pergumulannya.


"Fer.. Fery.." panggil Lulu dengan lirih, sebab rasa mulas diperutnya semakin sangat intens dan terasa begitu menyiksanya.


Ia merosot duduk dilantai tanah yang kotor karena sudah tak tahan untuk menahan rasa sakit yang terasa memintal perutnya.


Semakin lama rasa sakit itu semakin memyiksanya dan membuatnya tak mampu bertahan.


Ia mendengar suara "sruuuuup...sssrrrrlleelp" seperti seseorang yang menyeruput minuman.


Lulu tidak menyadari jika itu adalah Ki Kliwon yang sedang menyeruput darah Fery yang mengucur dari lato-latonya yang tercabut paksa.


"Fer.. Fery.. Aaarrghh.." Lulu mengerang kesakitan saat merasakan sebuah berkuku tajam menerobos masuk ke dalam liang jalan lahirnya dan menarik paksa janin yang sedang berjuang antara hidup dan mati setelah meminum obat penggugur tersebut, dan akhirnya memilih menyerah setelah sebuah tangan kasar dan berkuku panjang mernggutnya.


Kedua mata Lulu membola dalam kegelapan yang tak satupun orang tau akan apa yang kini sedang dirasakannya.


Pemilik tangan kasar itu menarik janin tersebut dan memakannya dalam kegelapan malam dan suasana rumah yang sangat menyeramkan tersebut.


Nafas Lulu tersengal dan Ia merasakan ada sesuatu yang menyesap darahnya dari jalan lahir tersebut secara bergantian. Ia merasakan lemah, darahnya bagaikan habis terserap habis oleh sesuatu yang tak kasat mata.


"Fer.. Fery.. Kamu dimana?" ucapnya lirih dan akhirnya Ia tak dapat lagi menahan rasa yang tak biasa, lalu tubuhnya mengejang, dan kedua matanya tertutup serta merasakan dirinya begitu ringan.


Kini kedua tubuh remaja itu tergeletak begitu saja dilantai tanah yang kotor tanpa siapapun yang tahu dan mati dalam kehinaan dalam berbuat maksiat.


Setelah keempat iblis itu mendapatkan korban yang tanpa dicari dan tiba-tiba datang sendiri dengan begitu mudahnya, membuat mereka tertawa terbahak dengan sangat riang.


Malam semakin larut, kegelapan yang kian mencekam membuat insan tertidur lelap dalam dekapan mimpi yang indah, dan tanpa sadar jika dua keluarga telah kehilangan salah satu dari anak mereka yang berhasil menyelinap melalui jendela tanpa jeruji dan melakukan perbuatan kotor sehingga mengantarkan mereka pada kematian yang sangat hina.


Sesaat dua arwah yang sudah melepaskan diri dari raganya memandang bingung mengapa tubuh mereka berada digubuk tua dan tak bergerak lagi.


Keduanya saling pandang satu sama lain dan ingin bertanya mengapa ini terjadi pada mereka.


Sehingga mereka tersentak kaget saat mengetahui ada empat makhluk jelek yang sedang memperhatikan mereka sedari tadi.


Dan saat ke empat iblis itu tertawa mengejek mereka, keduanya kabur dan kembali ke rumah mereka, untuk memberikan kabar kepada keluarganya jika mereka sudah pergi untuk selamanya.