
Pihak kepolisian terkejut saat mendapati kondisi Remon yang sangat mengenaskan.
"Siapa yang melakukannya? Mengapa senjatanya bisa tercabut tanpa ada yang mengetahuinya? Bukankah kita sedari tadi berjaga disini dan tidak ada satupun yang melintas masuk?" ucap Seorang petugas polisi yang berjaga malam dengan perasaan bingung.
Ke tiga petugas yang sedang berjaga merasa bingung dengan apa yang terjadi. Lalu mereka memanggil petugas medis untuk memberikan pertolongan kepada Remon yang merintih kesakitan dan darah yang mengucur dari bekas senjatanya yang tercabut dengan paksa.
Petugas medis bergegas datang dan memeriksa apa yang terjadi.
Lalu mereka terperangah dan menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, ini sangat mengerikan.
Lalu petugas medis segera melakukan tindakan penjahitan untuk luka yang sangat mengerikan.
Sementara itu, berita tertangkapnya Remon yang kini merebak dimasyarakat membuat warga tersentak kaget, sebab yang mengungkap peristiwa itu adalah Angkasa dan Samudera, bahkan Angkasa mengalami luka yang sangat parah dibagian lengan dan telapak tangannya mengalami luka robek.
Warga memuji keberanian Kedua kakak beradik yang dengan tanpa takut membongkar kebusukan seorang oknum guru yang memberikan matapelajaran penjaskes.
Mereka bahkan tidak menduga jika Remon juga mendidik siswa brandal untuk melancarkan aksinya dan meminta kepada ke 5 siswa itu untuk melenyapkan Melly dengan dalih menutupi perbuatannya.
Terungakap bahwa Remon tidak ingin bertanggungjawab atas kehamilan Melly yang dianggapnya akan membuat dirinya nanti dipecat dari kedinasannya, maka Ia berupaya untuk melenyapkan Melly melalui anak didiknya yang berjanji akan dibayarnya setelah berhasil melaksanakan tugas yang diperintahkannya.
Namun nyatanya mereka meninggalkan Melly masih dalam kondisi masih bernyawa. Maka oleh sebab itu, Remon terpaksa menggunakan tangannya untuk menghabisi siswi yang telah dinodainya.
Namun setiap kejahatan akan meninggalkan jejak bagi pelakunya, meski bagaimanapun Ia mencoba untuk menutupinya. Ibarat pepatah mengatakan, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat akan ketahuan juga.
Sementara itu, Rey menembus kegelapan malam membawa lato-lato yang kini berada digenggamannya. Ia menyantapnya dengan sangat rakus dan tersenyum menyeringai.
Seketika Ia merasakan jika dirinya kian bertambah kuat dan menelannya dengan cepat, lalu menyeka darah yang menetes disudut bibirnya.
"Mirna.. Sebentar lagi aku akan mendapatkanmu, dan kita akan hidup berbahagia selamanya.. Percayalah padaku, jika aku lebih tangguh dari pria bernama Satria itu. Aku lebih dapat membuatmu terlena dan terbang melayang dalam buaian yang memabukkan" guman Rey dengan lirih.
Ia merasa jika Mirna akan tergoda dengan wujudnya kelak jika Ia mendapatkan tumbal lato-lato sepasang lagi.
Perlahan Rey merasakan bulu-bulu ditubuhnya kian tumbuh dan bertambah banyak dan mulai menebal.
"Mengapa tubuhku menjadi seperti ini? Bukankah seharusnya aku semakin tampan setelah mencapai pemenuhan tumbal yang diinginkan?" ucap Rey bingung sembari memandangi tubuhnya yang penuh dengan bulu-bulu yang memanjang.
"Mhngkin ini karena aku masih kurang sepasang lato-lato lagi, sehingga membuatku seperti ini, dan aku yakin jika tumbal itu telah sempurnah, maka bulu-bulu ini akan menghilang, dan wajahku akan berubah tampan" guman Rey meyakinkan dirinya.
Lalu Rey melesat membelah kegelapan malam menuju ke dalam goa dan melihat para sekutunya sedang berkumpul.
Tampak Yanti yang masih saja dengan wujudnya yang sangat mengerikan dengan belatung yang terus menggerogoti tubuhnya dan hanya menyisakan sedikit daging yang melekat.
"Heei.. Kau dari mana saja baru pulang?!" cecar Nini Maru yang melihat kedatangan Rey dalam wujud mengerikan.
"Cari tumballah, Ni.. Aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan wajah tampanku setelah nanti sempurna tumbalku" Jawab Rey dengan sangat yakin.
Nini Maru memandang dengan tatapan sinis, Ia memastikan jika nantinya Rey akan terperangah melihat wujud aslinya setelah menyempurnakan tumbalnya.
"Heei.. Kamu! Sana cari tumbal atau ritual apa gitu biar gak jelek begini" cibir Rey kepada sosok Yanti.
Seketika Yanti membolakan matanya memandang pada Rey yang telah menghinanya. Ia tidak terima jika diremehkan oleh Rey.
"Sudahlah, mengapa kalian bertengkar? Lebih baik Kamu, Yanti, carilah tubuh yang bisa kamu jadikan tempat bersemayam agar kamu terlihat lebih indah dipandang mata" titah Nini Maru dengan nada perintah.
Yanti yang tersinggung dengan ucapan keduanya memilih untuk keluar dari goa dan melesat menuju ke perkampungan dengan perasaan gontai.
Ia merasa jika dahulu Ia adalah sosok yang sangat cantik dan juga aduhai sebelum menempuh jalan kesesatan.
Yanti duduk diatas sebuah dahan pohon rambutan dipinggir jalan tak jauh dari tempat kang Ujang berjualan bakso.
Tampak Angkasa dan juga Samudera sedang makan bakso ditempat Kang ujang karena Mirna, Ibu mereka belum juga pulang yang mengunjungi ayah mereka.
Keduanya juga tidak mengetahui apa pekerjaan ayahnya yang sering pergi ke kota dan mereka hanya diberi uang jajan seadanya.
Melihat Angkasa yang kesulitan untuk menyendok mie dan bakso yang selalu gagal. Maka Samudera berupaya menyuapkan mie dan bakso kepada Angkasa.
Setelah keduanya datang ke warung bakso kang Ujang, perlahan para pembeli mulai berdatangan dan memesan bakso, dan kebanyakan meminta untuk dibungkus.
Kang Ujang sangat senang jika kedua bocah itu datang ke warungnya. Sebab setelah mereka datang, maka warungnya akan menjadi ramai dan seolah mereka seperti maghnet yang membawa pembeli datang sendirinya membeli dagangannya.
Tak butuh waktu lama, dagangan Kang Ujang habis ludes terjual. Lalu Kang Ujang menggratiskan dua porsi bakso kepada ke dua remaja tersebut.
Setelah Angkasa menghabiskan baksonya dengan bantuan kakaknya, maka Samudera kini melahab baksonya, sebab Kang Ujang tampak sudah berberes dan akan pulang.
"Pelan-pelan makannya , Den" ucap Kang Ujang mengingatkan.
Samudera hanya tersenyum datar dan mempercepat makannya karena tidak ingin Kang ujang menunggunya.
"Ini, Kang.. "ucap Samudewa sembari menyerah uang jajan baksonya.
"Sudah.. Jangan dibayar. Saya sengaja kasih gratis malam ini buat kalian berdua" jawab Kang Ujang meyakinkan.
"Makasih ya, Kang" balas Samudera.
Lalu keduanya berpamitan untuk pulang kerumah yang tak jauh dari rumahnya.
Saat mereka akan menuju pulang, keduanya melihat satu sosok yang sangat mengerikan sedang nangkring didahan pohon rambutan yang tak jauh dari rumahnya
"Siapa itu? Menagapa wajahny sangat menyeramkam" bisik Samudera kepada adiknya.
Angkasa melirik kepada sosok yang sedang nangkring di dahan pohon tersesebut.
"Sudah, jangan dipandang! Sudah tau jelek masih juga dipandangi " omel Angkasa.
Ucapan kedua remaja tersebut terdengar oleh Yanti yang semakin membuat sosok itu geram.
Yanti melayang mengahmpiri keduanya, dan menghadang keduanya.
"Heeeii, kalian!! Masih kecil sudah berani mengejek Saya..!! Dasar tidak tau sopan santun!!" ucap Yanti dengan kasar dan juga kesal.
"Maafin kita Tante.. Tante cantik, Koq, bagaikan bidadari.. Tapi.. Tapi bo-ong!" ujar Samudera yang langsung menarik pegelangan tangan Angkasa untuk pulang kerumah dengan ngacir sekencangnya.