
Pria senja itu semakin mendekat dan kini telah memasuki warungnya. Lela terlihat gemetar, namun Ia berusah tenanng, dan tidak ingin terlihat gugup.
Pria senja itu duduk di bangku warungnya. "Kopi hitam satu" ucap Pria itu dengan nada lirih.
Lela menganggukkan kepalanya, lalu pergi kedapur dan menyeduh kopi hitam panas pesanan pria senja itu.
Selama ini Lela selalu ramahnya terhadapnya. Namun semenjak kejadian-kejadian aneh menimpanya, membuat Ia merasa bergidik dan tidak lagi berusaha ramah kepada pria misterius itu.
Hari memasuki waktu maghrib, dan kakek itu masih betah diwarungnya. Lela beranjak dari warungnya dan ingin masuk kedalam rumah, sebab adzan Maghrib berkumbadang.
Sesaat Lela merasakan tubuhnya sedikit bergidik dan merasakan tengkuknya meremang dan Ia mencoba mengabaikannya.
Lela pergi kekamar mandi dan ingin membersihkan tubuhnya. Lela merasakan jika perutnya tidak tidak bereaksi apapun, meskipun Ia tadi meracik ramuan andalannya dengan jumlah takaran yang sangat berlebih.
Lela sudah selesai dengan mandinya, Ia berharap kakek itu sudah pulang saat Ia sedang mandi tadi.
Lela mengintip kewarungnya, dan sudah tidak menemukan lagi pria senja itu, hatinya menjadi lega.
Lela memasuki kamarnya, lalu menutup pintu kamar dan mencari pakaian ganti.
Namun alangkah terkejutnya Ia saat melihat sosok kakek Nugroho melalui cermin dipintu lemari pakaiannya, sedang berdiri dibalik pintu kamarnya sembari menatapnya dengan tatapan yang mengerikan.
Sesaat Lela tersentak karena terkejut bukan main dengan tatapan tersebut. Belum sempat Lela berteriak, pria itu dengan secepat kilat menyambar tubuh Lela yang hanya berbalut handuk saja.
Dengan cepat tubuh pria senja itu menghempaskan Lela keatas ranjang dan terjadilah pergumulan yang tidqk diinginkan.
Lela dapat merasakan bagaimana pria dengan buasnya menghajar tubuh Lela. Pria itu berubah menjadi pria berhati brengsek dan menggumuli Lela tanpa ampun.
Hingga sampai akhirnya Lela terkapar karena dihajar habis-habisan hingga 3 jam lamanya.
Namun Lela lagi-lagi terkejut karena tidak menemukan pria senja itu, karena tiba-tiba menghilang begitu saja.
Lela memunguti handuknya dan mengenakannya, lalu merapikan rambutnya yang berantakan.
Lela mengintai warungnya dari balik tirai jendela dan mencoba melihat gelas kopi yang tadi dihidangkan untuk pria itu. Lagi-lagi Ia tak menemukannya.
Lela semakin bingung karena Ia tidak tahu Ia sedang bergumul dengan siapa barusan. Namun Ia merasakan itu sangat nyata.
Tanpa sadar, ternyata sudah pukul 10 malam. Lela menutup warungnya karena tidak ada lagi pelanggan yang datang.
Ia memastikan jika Ia sudah bergumul terlalu lama dengan pria misterius itu.
Lela merasa sangat kelelahan dan juga ingin tidur segera.
Sementara itu, seorang pria senja berjalan masuk kedalam rumah gubuk yang sangat reok dan hampir saja tumbang jika tertiup angin kencang. Namun nyatanya rumah itu tak juga tumbang jika ditiup angin kencang, Ia masih berdiri sangat kokohnya.
Ia mengaku jika memiliki seorang istri, namun nyatanya tak ada sesiapapun dirumahnya kecuali hanya Ia seorang diri.
Pria senja itu tertidur dibalik dipan kayu yang tampak usang. Sesaat pandangannya menerawang jauh, sesuatu tampak terfikir dibenaknya. Terlihat wajah keriputnya yang begitu kontras dengan kerutan-kerutan dikulitnya.
Sesaat Ia tersentak karena sesuatu memanggilnya, Ia beranjak dari dipannya dan keluar dari gubuk reotnya lalu berjalan menuju kegelapan malam.
Disisi lain, Yanti merasa sangat kecewa karena mendengar pernikahan Satria dengan gadis yang memergokinya saat ingin mencelakai Syafiyah.
Yanti tampak uring-uringan dan tidak rela jika Satria menikahi gadis lain.
"Bisa-bisanya Satria memilih gadis itu, bukankah Aku juga jauh lebih menarik dari gadis itu.." gerutu Yanti dengan kesal.
Gadis itu membuka jendela kamarnya karena Ia merasakan udara malam ini Terlalu panas dan gerah.
Yanti yang berhasil keluar dari tahanan masih penasaran dengan siapa orang yang sudah membebaskannya dan mengapa orang tersebut rela mengeluarkan uang dengan jumlah yang banyak dan tentunya ada maksud tertentu, sebab orang yang membebaskannya tidak menyebutkan namanya.
Yanti kembali keranjangnya setelah merasakan udara dingin masuk kedalam kamarnya.
Kembali fikirannya bercabang memikirkan antara Satria dan orang yang membebaskannya.
Sesaat udara dingin yang masuk kedalam kamarnya, membuat Ia seperti serasa mengantuk. Yanti tak mampu menahan rasa kantuknya, lalu Ia tertidur dengan pulasnya.
Satu sosok wanita bergaun merah dengan wajah setengah hancur masuk melayang melalui jendela kamar yang terbuka.
Lalu sosok itu menghampiri Yanti dan merasuki tubuh Yanti yang sedang tertidur pulas tersebut.
Seketika penyatuan terjadi, mata Yanti tiba-tiba terbuka lebar. Tatapannya tampak kosong dan sorot matanya yang sangat tajam.
Lalu Yanti beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia berjalan keluar menuju pintu utama dan pergi keluar rumah tanpa mengunakan alas kaki.
Ditengah malam yang sepi karena sebagian warga sudah merajut mimpi dan rumah-rumah sudah tertutup rapat.
Yanti dengan rambutnya yang tergerai berjalan menuju sebuah rumah.
Gadis itu berjalan dengan sangat cepat dan tidak dapat terlihat oleh siapapun.
Yanti memasuki pagar rumah seseorang, Ia dapat mencium aroma janin yang sangat menggiurkan dan juga menggodanya.
Yanti Masih mengingat rumah itu. Rumah dimana ada beberapa orang telah melakukan pemujaan terhadap dirinya.
Yanti mendekati pintu rumah itu, lalu masuk kedalamnya dengan sangat mudahnya.
Sesaat Ia menuju sebuah kamar. Dari dalam kamar itu tercium aroma janin yang sudah siap untuk disantap.
Yanti tersenyum seringai. Ia menembus pintu, dan melihat satu seorang wanita muda dengan perut membesar dan dipastikan jika kandungannya sedang menghitung hari saja.
Yanti menghampirinya, lalu menyingkap pakaian wanita muda itu, dan menyesap pangkal kakinya dan menarik paksa janin yang masih telelap dalam rahim ibunya.
Wanita muda itu tersentak kaget karena melihat sosok wanita mengerikan yang berlumuran darah memakan janin dalam gengaman tangannya yang berlumuran darah dan kuku tangannya yang meruncing.
wanita muda itu tak sadarkan diri saat melihat tatapan mengerikan yang berasal dari wanita itu.
Janin yang sudah menjadi sosok bayi mungil itu sudah habis dimakannya dengan rakus dan Ia menyesapi darah yang berceceran dilantai dan dijemarinya.
Setelah merasa puas, Ia pergi meninggalkan rumah itu dengan senyum senyum seringainya.
Pagi menjelang, Yanti terbangun dari tidurnya. Ia mersakan jika aroma amis sedang menusuk indra penciumananya.
Yanti mengenduskan hidungnya dan mencari sumber aroma amis darah tersebut.
Alangkah terkejutnya Ia saat melihat disela-sela jemarinya Ia menemukan sisa darah yang menempel, dan juga yang melekat dipakaiannya. Yanti mengerutkan keningnya. Ia mengingat jika tidak melakukan hal apapun. Lalu Ia pergi kekamar mandi dan membersihkan dirinya serya pakaiannya yang terkena noda darah.