
Sosok bayangan putih berbalut cahaya keperakan itu membawa tubuh Mirna yang terluka sedikit karena tendangan sosok Bayangan hitam yang tak lain adalah Rey.
Sosok bayangan putih meletakkan tubuh Mirna ditepian ranjang. Sosok itu berupa naga raksasa yang tak lain adalah Chakra Mahkota sang khodam yang mendampingi Satria.
Mirna mengingat sosok itu, sosok yang pernah memberikannya tumpangan saat digoa dimana Ia dan Satria sedang dalam perlawanan bersama Nini Maru.
"Terimakasih" ucap Mirna lirih lalu menatap Sosok Naga itu dengan nanar.
Chakra Mahkota mengerjapkan matanya, lalu pergi menghilang.
Mirna memegang pinggangnya yang terasa sakit dan membiru, Ia menarik selendangnya, lalu melilitkannya kepinggangnya untuk mengobati luka akibat tendangan Rey
Disisi lain,Yanti merasakan jika bayangan hitam itu sosok yang sangat begitu tangguh dan kuat.
Berbeda dari pria yang pernah menggarapnya, Yanti merasakan kepuasan yang sangat tinggi. Ia merasa tidak sia-sia menjadi budak iblis.
Setelah selesai menggarap Yanti, Bayangan hitam itu meninggalkan Yanti dan menghilang begitu saja.
Dalam keheningan malam yang sepi, Yanti beranjak bangkit dari lantai kamar rahasianya. Ia memunguti pakaiannya dan mengenakannya.
Setelah itu, Ia menatapi pria yang tadi menjadi korban dari kebiadaban Yanti.
Yanti bingung bagaimana menyembunyikan jasad peria itu agar menjadi aman.
Saat orang terlelap dalam tidurnya, Yanti menyusuri hutan dibelakang rumahnya, Ia membawa cangkul dan menggali lubang yang bertujuan untuk mengubur jasad pria itu.
Setelah hampir dua jam, Ia mendaptkan lubang sedalam 50 meter, lalu kembali kekamarnya dan menyeret jasad pria itu lalu menguburkannya begitu saja, bahkan jasad itu tertekuk.
Yanti mencaribdedaunan kering dan menutupi bekas undukan tanah basah tersebut, dan setelah meeasa masalahnyanya selesai, Ia kembali kekamarnya, lalu membersihkan lantai yang bersimbah darah dan Ia tertidur karena kelelahan.
Mentari pagi bersinar dengan begitu sangat terang, Yanti mengerjapkan matanya dan melihat kesekeliling kamarnya. Tampak olehnya perhiasan emas dan berlian melimpah dengan sangat banyak didalam sebuah nampan bekas sesajinya.
Yanti membekap mulutnya dan merasa tak percaya dengan apa yang diihatnya.
Yanti merangkak menghampiri nampan sesaji itu, Ia tampak begitu kegirangan dan meraih perhiasan emas dan berlian itu sembari memeluknya dengan sangat senang.
Saking senangnya Ia tertawa danntwrsenyum seorang diri. Ia membayangkan jika Ia àkan memjadi kaya raya jika Ia terus menumbalkan janin yang diinginkan oleh Nini Maru dan mengorbankan lato-lato dari para pria hidung belang.
Yanti mulai berfikir jika Ia akan membeli mobil baru, dan sebagai bonus untuk Lisa, Ia akan membelikan Lisa motor, namun Lisa harus menuruti segala perintahnya, Ia akan menjadikan Lisa mesin pencetak janin dan akan meluaskan bangunanan warungnya lalu menambah jumlah kamar.
Yanti keluar dari kamar rahasianya. Ia melihat Mbak Lisa yang masih terkapar karena mabuk semalaman bersama pria yang masih selamat dalam target korban tersebut.
Seperti tanpa ada masalah, Yanti membangunkan Mbak Lisa yang masih sangat mengantuk dan matanyanya terasa berat.
Mbak Lisa mengucek kedua matanya dan dengan sempoyongan, Ia berusaha untuk bangkit dari duduknya yang sedang tertidur berpangku dengan pria tersebut.
Mbak Lisa berusaha menyingkirkan tubuh pria itu dengan sedikit kesusahan.
Setelah berhasil menyingkirkan pria itu, Ia berjalan sempoyongan sembari memegangi kepalanya yang sedikit sakit.
"Buruan mandi, Mbak.. Kita akan pergi ke kota dan ada sedikit kejutan untuk Mbak" ucap Yanti dengan berbisik.
Tak berselang lama, pria itu juga terbangun dengan kondisi masih merasakan pusing.
Dengan sempoyongan, Ia membayar pesanan yang Ia pesan malam tadi.
Pria itu keluar dari warung Yanti dan tampaknya Ia belum menyadari jika sahabatnya tak bersamanya.
Ia memgendarai motornya dan menuju pulang tanpa mengingat jika Ia malam tadi bersama temannya.
Sementara itu, Yanti membisikkan sesuatu kepada Lisa, lalu wanita itu menganggukkan kepalanya dan tampak menyetujui apa yang dikatakan oleh Yanti yang merupakan majikannya.
Keduanya lalu membersihkan diri dan memakai pakaian yang bagus, karena pagi ini mereka akan pergi ke kota untuk menjual emas dan berlian lalu membeli mobil yang diinginkan oleh Yanti.
Mendengar akan dibelikan sepeda motor, maka Lisa begitu sangat senang, Ia pun berdandan dengan secantik mungkin.
Sementara itu, Mirna sudah merasa baikan dari luka lebam yang dirasakannya karena tendangan dari Rey malam tadi.
Mirna berwnjak ke dapur dan memasak sarapannya, Ia teringat akan Satria yang pasti belum sarapan. Ia berniat mengunjungi suaminya dan membawakan sarapan.
Setelah memasak sarapannya, Ia meletakkan didalam wadah toples dan membungkusnya.
Ia kemudian beranjak berjalan menuju rumah Satria.
Bukanlah hal sulit bagi Mirna untuk mencapai rumah itu dengan cepat, dalam hitungan menit Ia sudah tiba didepan rumah Satria.
Ia mengetuk pintu dengan perlahan, lalu sosok wanita yang tak lain adalah Syafiyah membukakan pintu dan melihat kesal kepada Mirna.
"Kamu? Mau apa kemari?" tanya Syafiyah dengan ketus.
Mirna hanya membalas dengan senyum tipis "Membawakan sarapan untuk Mas Satria dan juga Mbak Syafiyah" ucap Mirna berusaha tenang.
Syafiyah memutar bola matanya dengan malas dan senyum mencibir.
"Eh.. Sayang. Masuk.. Pagi-pagi sudah datang kenapa tidak beritahu dulu jika mau kemari biar Mas jemput" ucap Satria yang sudah nongol didepan pintu dengan tiba-tiba.
Tampak rambut Satria basah, dan Mirna tersenyum tipis "Mirna buatkan sarapan buat Mas dan Mbak Syafiyah" ucap Mirna dengan setenang mungkin.
"Oh.. Masuklah, mengapa hanya berdiri didepan pintu" ucap Satria sembari menarik pergelangan tangan Mirna untuk masuk kedalam rumah, lalu menutup pintu itu kembali.
"Sayang, Ayo dimakan sarapannya. Kamu harus sarapan sebelum berangkat kerja" ucap Satria kemudian meraih pergelangan tangan Syafiyah dan menggiring keduanya ke meja makan.
Mwskipun sedikit kesal dengan kehadiran Mirna, namun Ia Syafiyah tak dapat menolak untuk sarapan, karena Ia kesiangan dan tak sempat memasak sarapan, lagi pula Ia tidak pandai memasak dan hanya membeli dikantin.
Mirna mengambil 3 buah piring dan menatanya diatas meja makan, lalu menyendokkan sarapan buatannya berupa nasi uduk dengan sambal teri kacang dan lalapan, lalu meletakkan didepan Satria dan Syafiyah.
Setelah itu Ia mengambil untuk dirinya, dan ketiganya menikmati sarapan tersebut.
Syafiyah tak memungkiri jika masakan Mirna sangatlah enak, dan Ia juga bingung mengapa Mirna dapat belajar memasak.
"Masakan kaku enak sayang" ucap Satria saat menyuapkan suapan terakhirnya.
Seketika Syafiyah merasa telinga terbakar mendengar ucapan Satria, sebab Satria tak pernah memujinya karena memang Ia tidak pernah memasak.
"Keasinan masakan kamu.. " ucap Syafiyah yang membatalkan suapan terakhirnya yang tersisa satu sendok saja, lalu Ia menepiskan piring itu dan meneguk air putih, lalu berpamitan pergi bekerja.
Satria dan juga Mirna hanya tersenyum tipis menaggapi ucapan Syafiyah terlihat terbakar cemburu.