MIRNA

MIRNA
episode -289



Samudera memandang langit kelabu. Hatinya sedang gunda gulana. Rasa sakit yang menjalar dibagian lengan hingga pundak kirinya perlahan mulai semakin merasuk kedalam tulang.


Widuri hanya dapat mencegah penyebarannya, bukan mengobatinya.


"Bangkitlah! Bukankah kamu ingin menemuinya?! Apapun hasilnya serahkan semua takdir itu kepada Rab-Mu!" ucap Widuri memberikan semangat yang mungkin dapat membantu Samudera melewati masa sulitnya.


Samudera mengatur nafasnya yang tersengal dan terasa sangat menyiksanya. Ia beranjak dari berbaringnya, mencoba berdiri tegak, meskipun rasa sakit masih menderanya. Ia menatap jalanan yang tampak menanjak, dan mulai berjalan dengan tertatih.


"Aku lapar! Dimana kita dapat menemukan makanan dan perbekalan air minum?" tanya Samudera tanpa menoleh ke arah Widuri.


Sekitar 50 meter diatas sana terdapat satu tempat untuk beristirahat, dan sumber makanan, ayolah kita kesana!" jawab Widuri, mencoba memberi semangat kepada Samudera.


Bocah remaja itu menarik nafasnya dalam dan menghelanya. Lalu mulai berjalan menanjak dengan bertumpu pada tombak milik siluman banteng.


"Berjalanlah, aku akan menaungimu dari sinar mentari agar kau tak merasa kepanasan" ucap Widuri yang mengepakkan sayapnya untuk menjadi naungan bagi Samudera sehingga teriknya mentari tak lagi begitu dirasakannya.


Perjalanan yang seharusnya memakan waktu sekian menit, kini harus sampai hampir setengah jam lamanya.


Sesampainya ditempat yang dituju. Ada sebuah tananman jagung yang siap untuk dijadikan makanan.


Widuri menghidupkan perapian untuk membuat jagung bakar untuk Samudera yang terasa sangat lapar. Setelah jagung bakar itu matang, Ia memberikannya kepada Samudera yang tampak sangat kelaparan dan memakan hingga 3 buah jagung.


Setelah itu Widuri memberikan minum yang berasal dari jemarinya dan Samudera merasakan sangat begitu segar.


Malam menjelma. Kegelapan semakin mencekam dan samudera beristirahat untuk melepaskan lelahnya.


Samudera tertidur dengan lelap setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkannya.


Saat ini Widuri sudah memasang perisai cahaya ghaib untuk melindungi Samudera, dan selagi Samudera masih berada dalam lingkup cahaya tersebut, maka Ia masih dalam batas aman, kecuali Samudera kelar dari perisai tersebut.


Widuri meninggalkan Samudera untuk sebuah urusan penting, dan akan kembali sebelum waktu subuh.


Malam semakin larut. Tampak langit menggelap tanpa sebutir bintangpun dilangit yang kelam.


Sepasang mata memperhatikannya. Lalu sosok itu meliukkan tubuhnya dan menghampiri tubuh Samudera yang masih terlelap.


Lalu Sosok itu merubah wujudnya menjadi sosok Mirna yang tampak begitu sempurnah.


"Samuderaaaa... " panggil sosok Mirna dengan suara yang begitu lirih.


Samudera tersentak kaget saat mendengar suara yang memanggilnya dan terdengar seperti ibunya.


Samudera mengerjapkan ke dua matanya dan dengan kesadaran yang belum begitu penuh, Ia melihat dalam kesamaran dan kegelapan satu sosok yang mirip dengan sosok Mirna dan membuatnya keluar dari perisai ghaib yang dibuat oleh Widuri.


Sesaat setelah Ia keluar dari perisai tersebut, Ia berusaha beranjak bangkit dari tempatnya dan dengan susah payah Ia berdiri tegak dan menatap pada sosok yang berdiri dihadapannya.


"Ibuu..?" ucapnya lirih.


Sosok itu menganggukkan kepalanya. "Iya, anakku! Kemarilah, Sayang" ucapnya dengan begitu lembut.


Samudera menatap nanar dan sorot matanya berbinar, saat sosok Mirna menjulurkan ke dua tangannya untuk menggapai tubuh Samudera dalam dekapannya.


Samudera berjalan tertatih menghampiri sosok tersebut dan bersemangat ingin menyambut dekapan sang Ibu yang penuh dengan kerinduan.


Saat jarak mereka begitu dekat, dan hanya sekitar satu meter saja, Samudera mencium aroma amis yang sangat jauh berbeda dengan aroma ibunya yang lebih mirip dengan aroma kenanga.


Samudera berhenti ditempatnya, memandang sosok Mirna didepannya dengan seksama. Ia merasakan sebuah kejanggalan yang mana ada sesuatu berbisik ditelinganya agar menjauhi sosok tersebut.


Samudera menggelengkan kepalanya "Tidak..! Kau bukan ibuku!" ucap Samudera dengan nada penekanan. Ia meyakini jika sosok itu bukanlah ibunya.


"Kemarilah, Sayang.. Aku ibumu.. Mengapa Kau menjauh?" ucap Sosok Mirna meyakinkan Samudera.


Samudera bergerak mundur, dan sosok itu semakin bergerak menghampirinya. Samudera melirik tombak kepala bantengnya yang masih berada didalam perisai gjaib yang dibuat oleh Widuri.


Sepertinya sosok itu menyadari apa yang sedang difikirkan oleh Samudera. Lalu dengan gerakan cepat Ia menyambar tubuh Samudera dan merubah wujudnya menjadi seekor siluman berwajah cantik rupawan.


Samudera terperangah melihatnya. Ternyata itu adalah Ratu siluman ular yang waktu itu membawanya ke dunia ghaib.


"K-Kau..!" ucap Samudera sembari meringis menahan sakit pada belitan ditubuhnya dan membuat lengan kirinya yang terkena racun tersebut semakin membiru dan menambah penderitaannya.


"Ya.. Kau masih mengingatku, Sayang?! Bukankah Aku sudah memberitahumu? Aku menyukaimu, dan menikahlah denganku. Aku akan membantumu mencapai goa, dan aku juga dapat menyembuhkan racun yang bersemayam didalam tubuhmu. Namun dengan syarat Aku harus menjadi suamiku!" ucap Siluman ular tak mau kalah.


Samudera menatap nanar pada Ratu siluman ular yang saat ini menjulurkan lidahnya menyapu wajah Samudera dengan penuh hasrat.


otaknya seolah nge-blank dan tak dapat lagi berfikir untuk mengingat sesuatu.


Rasa sakit yang menjalar dilengan kirinya semakin membuatnya menghilang konsentrasinya, sedangkan belitan ditubuhnya membuatnya merasakan sesak yang sangat luar biasa.


Pandangan Samudera seolah mengabur, namun Ia terus berusaha menguasai kesadarannya. Saat ini Ia hanya berharap jika Rabb-Nya memberikan pertolongan kepadanya, hanya padanya Ia tempat bergantung dan memohon pertolongan.


"Laa Ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzhalimin" Gumannya dalam hati dengan sehala pengharapan dan doa yang Ia panjatkan agar sang Rabb memberikannya kesempatan bertemu dengan sang Ibu dan tidak mati sia-sia ditangan Ratu siluman ular yang kini mencoba ingin mendapatkan tubuh dan jiwanya.


Ia terus melafazkan tasbih tersebut dalam keadaan yang sangat genting. Sang Ratu siluman ular itu sudah bersiap untuk membawa tubuh Samudera yang tak berdaya ke alam ghaibnya untuk Ia jadikan sebagai suaminya.


Hingga sebuah benda melesat dari kejauhan dan berputar diudara dengan sebuah kilatan cahaya yang menghantam kepala Ratu siluman ular hingga membuat mahkota yang dikenakan sang Ratu terlempar begitu saja dari kepalanya.


Hantaman benda yang bercahaya tersebut menyebabkan hawa panas yang sangat menyiksanya dan membuat tubuhnya seakan terbakar, sehingga memaksanya untuk melepaskan tubuh Samudera dalam sebuah ketinggian yang cukup membuat tubuh itu remuk jika jika sampai mendarat ditanah.


"Aaaaaaaaaarrgh..." jerit sosok Ratu siluman Ular yang kesakitan karena hawa panas yang seakan membakar tubuhnya, dan melepaskan tubuh Samudera begitu saja.


Dan tubuh Samudera melayang diudara dan siap mendarat dengan tubuh dan tulang yang patah.


Lalu tampak sekelebat sesosok tubuh yang melesat dengan cepat dan melayang menyambut tubuh Samudera yang kini sudah tampak lemah dan tak berdaya.


Sosok itu membawa tubuh Samudera masuk ke dalam perisai gahib dan meletakkannya disana.


Setelah meletakkan tubuh Samudera, Ia kembali melesat menghampiri Ratu Siluman Ular yang ternyata sedang mencari batu permata yang berada ditengah mahkotanya yang tadi terjatuh karena sebuah sambaran benda bercahaya yang melesat menghempaskannya.


Sebuah kilauan batu permata berwarba mirah delima tampak dikegelapan malam dan tergeletak disemak-semak.


Ratu siluman ular yang saat ini merasakan tubuhnya sangat begitu panas dan kulitnya yang mengelupas serta tampak dagingnya yang mengeluarkan asap karena seperti serasa sedang dioven melesat cepat menuju batu permata Mirah delima dan ingin meraihnya.


Namun naas, sebuah tendangan tepat dipinggang sang Ratu yang membuat tubuh itu terpental hingga kesemak.


"Aaaaarrgh. Siaalan!!" maki Sang Ratu siluman ular yang merasa kesal dan penuh kesakitan saat mengetahui sesosok manusia yang mencoba menghalanginya mendapatkan batu permata mirah delima dan juga Samudera.


Sosok itu dengan cepat meraih mahkota tersebut dan menbambil batu permatai itu lalu menguasainya.


Sang Ratu merasa sangat marah. Ia meliukkan tubuhnya dan mencoba menyerang sosok itu menggunakan semburan cahaya berwarna merah yang keluar dari mulutnya.


Sosok itu menggunakan batu Mirah Delima untuk menahan serangan tersebut dan membuat cahaya itu berbalik menghantam sang Ratu, sehingga membuatnya terpental dan terhempas di semak belukar.


Samudera yang masih dalam kondisi lemah mencoba melirik pertempuran yang terjadi dan melihat sosok itu dari kejauhan dan mencoba tersenyum, lalu akhirnya kembali memejamkan kedua matanya, karena lukanya yang cukup parah dan racun dilengan kirinya semakin membiru.


"Aaaaaaarrrgh.." erang kesakitan Ratu siluman Ular yang terdengar membahana disekitar hutan larangan.


Tubuh sang Ratu tampak hitam lebam membentuk telapak kaki tepat dipinggangnya saat terkena tendangan sosok tersebut.


Sang Ratu siluman Ular berusaha untuk bangkit dan memberikan serangan kepada sosok itu. Namun pinggangnya terasa sangat sakit dan perlahan tubuhnya merasakan seperti terbakar.


Ia meliukkan tubuhnya hingga menghantam apa saja yang berada didekatnya.


Rasa sakit yang menderanya serta hawa panas tersebut membuat ekornya melilit disebatang pohon yang besar hingga membuat pohon itu tercabut dari akarnya dan menimpa dirinya sendiri.


"Tolong.. Tolonglah Aku.. Aku berjanji tidak akan lagi menganggu Samudera, namun tolong selamatkan, Aku!" pinta Sang Ratu Siluman Ular dengan menghiba.


Tubuhnya yang tertimpa pohon itu membuatnya sangat memprihatinkan.


Sosok tersebut menghampiri sang Ratu siluman ular, lalu menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Tolong, Aku! Aku berjanji akan membalas semua budi baikmu suatu masa nanti!" pinta sang Ratu dengan tatapan menghiba.


Sosok itu menghmapirinya, lalu menyingkirkan batang pohon tersebut dan memberikan sebuah sentuhan tenanga dalam pada sosok siluman Ular tersebut sehingga membuat sang Ratu dapat merasakan tubuhnya kembali memiliki tenaga, meskipun kulitnya mengelupas dengan luka yang cukup parah.


"Terimakasih.. Suatu saat aku akan membalas kebaikanmu, dan Aku berjanji tidak akan mengganggu Samudera lagi!" ucapnya penuh janji yang bersungguh.


Sosok itu menganggukkan kepalanya. "Pergilah.. Dan jangan pernah menampakkan wujudmu hanya untuk menganggu," ucap Sosok itu berusaha tenang.


Lalu sang Ratu menganggukkan kepalanya dan melirik batu permata mirah delima yang kini berada ditangan sosok tersebut.


"Apakah Kau menginginkan batu permata ini?" tanya sosok itu kepada sang Ratu.


Sang menggelengkan kepalanya "Ku hadiahkan batu Irah delima itu kepadamu, dan ini sebagai salam perkenalan kita, sehingga suatu saat aku mudah menemukan keberadaanmu." jawab Sang Ratu, lalu pergi menghilang.