
Mirna sedikit terlambat datang kerumah Satria karena ulah kesebelas pria yang merupakan pelanggan Yanti diwarung yang penuh kemaksiatan tersebut.
Saat diperjalanan menuju rumah Satria, Ia berpapasan dengan mobil Syafiyah yang menepi dipinggir jalan karena hendak berbelok kearah puskesmas.
Dari arah belakang tampak sebuah mobil counteiner melaju dengan kecepatan tonggi dan sepertinya sedang mengalami rem blong.
melihat mobil Syafiyah yang akan menyeberang berada dalam ancaman, Mirna melesat dengan cepat dan tak terlihat oleh siapapun, lalu mendorong mobil Syafiyah yang masih setengah badan dijalan lintas.
Bersamaan dengan hal itu, mobil counteiner itu tergelincir di bahu jalan dan menyasar masuk kedalam parit disisinya, sementara itu mobil Syafiyah sudah terselamatkan dan berada diseberang jalan.
Sedangkan sopir dan kernet mobil counteiner itu terjepit didalam mobil.
Mirna menghampirinya sebelum orang ramai berdatangan.
Dengan cepat Mirna membobol pintu mobil dengan menggunakan selendangnya yang tak telihat oleh siapapun, lalu mengeuarkan sopir dan kernet mobil yang terjepit itu ditepi jalan.
Seketika warga berkerumun menghampiri truk counteiner tersebut untuk melihat apa yang terjadi.
Namun warga merasa bingung siapa mengeluarkan sopir dan kernet itu dari dalam mobil.
Sedangkan Mirna telah melesat dengan cepat menuju rumah Satria.
Syafiyah yang masih merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi padanya mengatur nafasnya yang memburu.
Ia merasakan seperti ada seseorang yang sedang menyelamatkannya barusan, namun Ia tak mengetahui itu siapa.
Melihat kerumunan itu, Syafiyah turun dari mobilnya dan memerintahkan untuk membawa kedua korban itu ke UGD untuk dilakukan penanganan medis.
Para petugas medis menghampiri membawa ranjang troli dan membawa kedua korban untuk dilakukan perawatan.
Sementara itu, Mirna sudah berada didepan rumah Satria. Ia membawa nasi goreng ayam kalasan untuk sarapan Satria.
Mirna membuka pintu dan masuk kedalamnua. Tampak rumah sangat berantakan karena belum dikemas.
Maka Mirna membersihkan rumah yang tampak sangat kacau. Lalu setelahnya Ia menuju dapur dan meletakkan sarapan yang dibawanya diatas meja makan.
Ia tak melihat Satria didalam rumah. Sepertinya suaminya itu masih didalam kamar utama. Ia mengetuk pintu kamar, dan benar saja, Ia melihat Satria membuka pintu kamar.
"Sayang.. Kamu sudah datang?" ucap Satria yang menarik masuk Mirna kedalam kamar dan menggendong tubuh ramping itu bagaikan menggendong anak kecil saja.
"Mengapa lama sekali?" ucap Satria yang tampak menahan rasa rindu.
Satria sebenarnua ingin mengunjungi Mirna, namun Hadi mengiriminya banyak pekerjaan, sebab perusahaan mereka mengalami kemajuan, sehingga Ia harus membagi waktu untuk meneyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu tinggal disini lagi ya?" Rayu Satria kepada Mirna dan menurunkan Mirna dari gendongannya, namun kedua tangannya masih mendekap pinggang ramping itu.
"Biarkan Mirna disana, Mas. karena tidak akan ada dua cinta yang bisa hidup bersama dalam satu atap. Ini semua demi kesehatan Mbak Syafiyah, sebab Mbak Syafiyah juga sedang mengandung. Mirna tidak ingin kehadiran Mirna di rumah ini akan membuat fikiran Mbak Syafiyah stres dan dapat mempengaruhi janin dalam kandungannya" Mirna mencoba menjelaskan semuanya kepada Satria.
"Tapi Mas gak jauh dari kamu?" ucap Satria manja.
"Siang hari menjadi jatah Mirna, kecuali hari libur, Mirna tidak akan datang berkunjung karena Mbak Syafiyah libur bekerja dan itu biarkan menjadi waktunya untuk mendapatkan waktu terbaik bersama Mas" ucap Mirna dengan ketulusannya.
Satria menarik tubuh Mirna dalam dekapannya "Uang belanja Kamu masih ada atau tidak?" tanya Satria yang semakin erat mendekap tubuh Mirna.
"Mirna masih ada stok bahan pangan dan belum
membutuhkan uang" ucap Mirna dengan jujur.
Satria menatap istri keduanya dengan penuh cinta "Kamu ini selalu membuatku semakin jatuh cinta" bisik Satria dengan gemas, dan membawa Mirna keranjang.
"Emangnya kenapa? Ini ranjang tidur Mas juga" jawab Satria yang sudah tak sabar.
"Jangan disini, Mas. Jangan melukai perasaannya dengan pergumulan kita di ranjangnya" ucap Mirna memohon.
Satria menghentikan perbuatannya, lalu menggendong Mirna ke kamar tamu dan menguncinya dengan segera.
Sementara itu, Lela berniat membuka warungnya. Ia meminum jamu kunyit asam untuk mengeringkan luka dalamnya, agar segera pulih kesehatannya.
Lela berniat berbelanja ke toko sembako yang yang merupakan toko sembako terbesar ditempat mereka tinggal.
Lela mengendarai motornya dan mengenakan emas yang lumayan banyak dari mulai leher, telinga, dan kedua pergelangan tangan yang sangat banyak menggunakan gelang tangan hingga tampak bagaikan toko mas yang sedang berjalan.
Lela mengendarai sepeda motor yang baru dibelinya dengan sangat perlahan.
Ia sangat bangga dengan segala perhiasan yang melekat ditubuhnya.
Disepanjang perjalanan, Ia menjadi pusat perhatian orang-orang karena pemakaian emas yang berlebihan.
Sesampainya ditoko sembako Ia tak sengaja bertemu dengan Yanti dan juga Lisa yang juga sedang berbelanja.
Keduanya tampak juga menggunakan perhiasan yang tak kalah dari Lela.
"Eh, Mbak Lela.. Belanja juga, Mbak?" sapa Yanti.
Lela sedikit kaget karena Yanti berbelanja sedikit jauh dari rumahnya.
"Jauh amat kamu belanja sampai kemari, Yan..? bukannya rumah Kamu didesa sebelah?" tanya Lela penasarn, lalu meraih dua kotak mie instan yang varian goreng dengan kuah.
"Lho.. Aku sudah pindah ke desa ini lho, Mbak" ucap Yanti dengan senyum tipis.
"Masa sih? Pindah disebelah mana?" tanya Lela yang masih terus memilih bahan belanjanya. Kali ini Ia mengambil dua papan telur ayam.
Yanti tersenyum dengan smrik "Aku buka warung sendiri loh, Mbak" ucap Yanti yang seolah-olah menjadikan Lela sebagai saingan saat ini.
Lela mengernyitkan keningnya "Oh, Ya.. Baguslah. Semoga laris manis, Ya" ucap Lela, lalu mengambil 2 bungkus saos sambal kemasan.
"Iya, Mbak.. Bahkan pelanggan Mbak banyak juga lho yang singgah kewarung saya" ucap Yanti seolah memanasi hati Lela.
Lela hanya tersenyum miris, Ia tak ingin memperpanjang percakapannya dengan Yanti. Lalu Ia mempercepat belanjanya.
Lela tak mengira jika Yanti ternyata diam-diam menikamnya dari arah belakang dan menjadikannya sebagai saingan.
Yanti yang melihat gelagat Lela tersenyum mencibir. Lalu kemudian mengajak Lisa memilih belanja mereka.
Lela membawa semua belanjanya dan memasukkannya mengikatnya menggunakan tali agar tidak bersusah payah.
Sementara itu, Yanti memanasi Lela dengan menggunakan mobil barunya.
Lela hanya membalas dengan senyum sinis. Dalam hati Yanti berguman "Kamu yang punya janin, aku yang semakin kaya raya" lalu Yanti melenggang memasuki mobilnya yang diikuti oleh Yanti dan juga Lisa.
Lela berusaha tak perduli dan Ia mengendarai sepeda motornya menuju pulang.
Sementara itu, Yanti dan Lisa tertawa mengejek Lela yang tampak seperti kepanasan karena ucapannya.
Lalu Yanti menyetir mobilnya dan membawa barang belanjanya menuju pulang ke warungnya.