
Yanti berjalan dikegelapan malam. wajah hancur dan juga tubuh setengah hangus karena tersambar petir membuatnya begitu terlihat miris..
Ia menyusuri jalanan desa dan menginginkan darah dan juga janin untuk mengobati luka bakarnya.
Ia seperti sudah sangat begitu candu untuk memakan janin juga darah milik pria yang ingin bermaksiat dan akan menjadi korban tumbalnya.
Tiga remaja yang pernah lolos dari kematian karena sempat ditolong Satria saat Rey mengincarnya kini ingin mengulangi dosa yang sama.
Mereka seolah tidak pernah takut akan peringatan dari para aparat kepolisian yang mengharuskan untuk tidak berkeliaran dimalam hari dan juga peringatan warga yang melarang warganya agar tidak berbuat maksiat.
Sepertinya pengaruh minuman keras dan juga narkotika sebagai alat perusak generasi bangsa menjadi konsumsi mereka yang tak dapat lagi dihindari.
Jiak sehari tak mengkonsuminya, maka mereka seolah seperti orang linglung. Ketiganya seperti biasanya, berboncengan bertiga, dua remaja putera dengan satu remaja puteri yang tampak tertawa dan mengobrol tidak jelas dan mereka mematikan sepeda motornya lalu memasuki area perkebunan jagung tempat dimana Yanti dulu pernah melakukan maksiat bersama 3 pria yang berkahir tragis.
Setelah memasuki area perkebunan jagung, mereka masih mengoceh yang mana saling tidak nyambung karena pengaruh alkohol dan juga konsumsi sabu.
Adzan Isya berkumndang, dan para jamaah sudah bersiap untuk shalat Isya. Mereka tampak khusyuk dalam melaksankan ibadahnya.
Setelah selesai, semua jemaah bergegas hendak pulang, sesaat rumor tentang pohon mangga yang membuat para santri ketakutan untuk mengajipun menucuat dan menjadi perbincangan jemaah.
Mereka berniat untuk menebang pohon itu tetapi tidak berani. Satria yang mendengarnya akan mencoba membantu esok hari agar pohon mangga itu dapat ditebang dan tidak menimbulkan rumor dan kesan angker lagi.
Setelah selesai bermusyawarah, para jemaah membubarkan diri dan pulang kerumah masing-masing.
Saat akan mencapai simpang rumah, Satria memanggil dua puteranya "Samudera, Angkasa, kalian pulang terlebih dahulu, Ayah ada keperluan, jangan kelayapan kemana-mana" titah Satria kepada keduanya.
Lalu keduanya menganggukkan kepalanya dan mengkayuh sepedanya menuju kerumah.
Sementara itu Satria merasakan kehaadiran soosk Nini Maru yang akan menebarkan kesialan didesanya.
Satria berjalan menyusuri jalanan untuk pergi ke toko sembako pak Joko. Ia ada sedikit keperluan untuk bertemu dengan pak Budi membahas tentang diadakannya pendataan tentang wanita hamil yang ada didesa ini untuk dilakukan penjagaan atau ronda agar tidak ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun belum sempat Ia sampai ke toko semabko milik Pak Joko, Ia melihat ke arah simpang kebun jagung yang mana hawa kegelapan begitu kentara dan sangat terasa begitu ken- tal disana.
Satria berhenti sejenak, lalu mencoba berbelok dan mencari sumber dari hawa kegelapan dan aroma kemaksiatan yang akan terjadi.
Satria melesat ke arah kebun jagung dan terdapat sebuah pondok disana.
Ia melihat tiga remaja tampak sedang tertawa dan entah obrolan apa yang membuat mereka begitu merasa lucu, meskipun tidak ada yang saling nyambung.
Mereka sudah melucuti pakaian mereka, dan akan melakukan dosa waktu itu lagi.
Satria menggelengkan kepalanya melihat hal tersebut. Bagaimana mungkin mereka melakukan perbuatan itu disaat usia mereka yang seharusnya untuk belajar dan menggapai cita-cita mereka.
Meskipun berbagai cara mereka lakukan, namun tak juga dapat bangun dan membuat mereka kesal.
Sementara itu, Rey sepertinya sudah tampak menunggu dan bersiap untuk mendapatkan dua pasang lato-lato yang siap untuk menjadi santapannya malam ini.
Satria meraih tasbih hang berada digenggamannya dan membacakan sebuah doa, lalu melemparkannya pada Rey yang saat ini sedang aktif sebagai penonton adegan mesuum yang membuatnya tak sabar karen tampaknya akan ada satu lawan dua dua dalam waktu yang sama.
Sesaat Rey merasakan sesuatu terbang ke arahnya dan mendesing dengan sangat kuat menuju ke arahnya.
Saat Rey menoleh ke sisi kanannya, Ia melihat sebuah tasbih berputar ke arahnya dan menghantam wajahnya hingga hancur bagian sisi kanannya dan tasbih itu kembali kepemikiknya.
Sedangkan Rey terpekik kesakitan, lalu melesat menghilang, sembari memegangi wajahnya yang sakit "Breeengsek..! Kau Satria. !!" Maki Rey dengan kesal.
Bagaimana mungkin Ia akan akan percaya diri menghadapi Mirna nantinya, jika wajah buruknya akan menjadi lebih buruk setelah terkena hantaman tasbih tersebut.
Ketiga remaja itu menghidupkan senter phonselnya sebagai alat penerangan untuk mereka bermaksiat.
Cahaya yang dibuat ketiganya, menggerakkan hati dua orang warga desa yang saat itu sedang melintasi area simpang untuk berbelok dan mengarah ke kebun jagung.
Dua warga itu merasa curiga dengan cahaya tersebut, lalu segera meluncur menuju kebun jagung
Sesampainya ditempat itu, mereka tersentak karena terkejut, melihat tiga orang remaja yang sudah tanpa sehelai benangpun sedang bercumbu, namun sepertinya kesal karena senjata mereka tak juga bangkit.
Kedua menggerebek ketiga remaja itu, dan yang membuat paling sial adalah jika salah satu warga yang menggerebek itu merupakan ayah dari remaja puteri tersebut.
Mendapati kenyataan yang ada, sang Ayah merasa sangat malu lalu menutupi puterinya menggunakan pakainnya yang sudah berserakan.
Sang ayah tak mengerti mengapa puterinya dapat keluar dari rumah, padahal sumua pintu dann jendela sudah tertutup rapat.
Setelah mengenakan kembali pakaian puterinya, Pria itu melayangkan tinjunya pada dua remaja putera dan sempat mengambil gambar keduanya dan bila nantinya akan dijadikan sebagai bukti untuk melaporkan kasusnha ke kepolisan karena Ia tidak senang dengan apa yang terjadi.
Pria itu menyeret puterinya pulang kerumah dalam kondisi marah, sedangkan warga satunya menyeret kedua remaja itu dalam konndisi tanpa busana dan dibawa ke rumah pak Budi untuk diinterogasi agar membuat keduanya jera atau dilakukan rehabilitasi agar terlepas dari jerat narkotika.
Melihat semua telah aman, Satria melangkah pergi, dan membatalkan niatnya hendak ke rumah pak Budi karena pastinya warga saat ini sedang heboh menangani kasus dua remaja yang kepergok sedang berbuat maksiat dikebun jagung.
Warga tampak mulai berkerumun dan merasa geram dengan aksi ketiganya.
Sedangkan remaja puteri yang dibawah ayahnya pulanng ke rumah mendapatkan tamparan berulang kali dan hal itu tidak begitu terasa bahinya sebab Ia masih dalam kondisi pengaruh minuman keras dan juga sakau.
Satria kembali pulang ke rumahnya, namun sesampainya dirumah, Ia tak menemukan kedua puteranya didalam rumah, entah apa yang sedang dialkaukan keduanya diluar rumah, padahal Ia sudah berpesan kepada keduanya agar segera masuk kedalam rumah dan tidak berkeliaran dimalam hari.
Kini Satria kembali keluar dan mencari kedua puteranya yang belum kembali.