
Pihak kepolisian membawa ke lima begal yang sudah lama mereka cari ke ruangan perawatan.
Para medis mengobati luka ke lima pria yang dalam kondisi mengenaskan tersebut.
Lalu hijab milik Mirna yang mereka temukan didekat mobil kelima kawanan begal sekaligus perampok sadis itu dilakukan pemeriksaan untuk mendapatkan sidik jari dari sipemilik hijab.
Setelah dibubuhkan serbuk putih diatas hijab tersebut, lalu sebuah alat pendeteksi yang dapat melihat sidik jari tersebut.
Setelah dilakukan uji forensik, namun hanya satu sidik jari yang ditemukan dihijab tersebut, dan itu sidik jari milik salah satu pria begal yang malam itu menarik hijab Mirna.
Kejadian ini sungguh sangat aneh, sebab tidak mungkin juga para begal yang kelimanya adalah para pria itu menggunakan hijab.
Setelah kelima para begal itu sudah membaik, petugas kepolisian akhirnya membawa mereka ke ruang penyidikan, lalu menanyakan siapa pemilik hijab tersebut.
Dari jawaban kelimanya, lalu polisi membuat sketsa wajah wanita yang mereka sebutkan, dan dari keterangan ke limanya, jika wanita itu juga yang membuat mereka babak belur.
Bahkan salah satu dari mereka menyebutkan jika punggung wanita itu terluka terkena badik yang digoreskan oleh salah satu pria begal tersebut.
Badik yang digunakan oleh pria itu akhirnya juga disita sebagai barang bukti.
Ke lima pria itu dimasukkan ke ruang tahanan sementara sebelum disidangkan. Sementara kepolisian mencari wanita yang menjadi terduga pemukulan bagi kelima pria itu.
Pagi menjelang, dan mentari bersinar dengan begitu sangat hangatnya. Saat ini menunjukkan pukul 9 pagi, para warga sibuk bekerja dan ada juga yang sibuk berbelanja untuk memasak menu makan siangnya.
Saat ini, Polisi mendatangi lokasi kejadian dan menanyakan warga dengan membawa sketsa wajah wanita yang diduga melakukan pemukulan kepada para begal tersebut.
Hingga sampai akhirnya mereka menuju toko sembako Pak Joko yang saat itu sedang ramai pembeli.
Dan mereka mengatakan jika itu adalah Mirna, menantu dari Mala.
Bahkan Pak Joko mengakui jika malam itu Ia melihat punggung Mirna luka robek dan banyak mengeluarkan darah hingga merembes ke pakaian gamisnya.
Mendengar penuturan warga dan kesaksian Pak Joko, maka Polisi menyambangi rumah Satria dan mencari Mirna.
Namun pintu pagar rumah tampak terkunci dan tidak terlihat orang didalalmnya.
Bu Ratna yang saat itu baru pulang dari apotik merasa heran melihat dua orang polisi yang meyambangi rumah Satria.
"Cari siapa ya, Pak?" Tanya Bu Ratna penasaran.
"Kami sedang mencari Ibu Mirna. Apakah Ibu tau dimana keberadaan beliau?" tanya Polisi itu sesopan mungkin.
Bu Ratna semakin penasaran mengapa sampai Mirna dicari polisi, kesalahan apa yang sudah dilakukannya? Semuanya begitu membuat Bu Ratna merasa sangat takut sekaligus penasaran. Sebab selama ini Ia mengenal Mirna adalah sosok yang tidak banyak bicara namun sangat baik.
"Memangnya ada apa ya, Pak?" tanya Bu Ratna penasaran.
"Kami tidak dapat menjelaskan lnya, namun apakah Ibu mengetahui dimana keberadaan Ibu Mirna saat ini?" tanya polisi itu dengan penuh selidik.
"Heem.. Sepertinya ke sekolah anaknya yang ada di SD 009 itu" ucap Bu Ratna mencoba menebaknya.
Lalu dua orang polisi itu saling pandang "Baiklah, Bu.. Terimakasih atas segala informasinya" ucap Polisi itu dengan seramah mungkin, lalu bergegas beranjak dari kediaman Mirna.
Saat tiba disekolah, dua polisi itu melihat Mirna yang tampaknya menunggu kedua buah hatinya didepan pintu pagar, dan tanpa basa-basi mereka menanyakan jati diri Mirna.
"Maaf, apakah kami dengan Ibu Mirna?" tanya salah satu polisi tersebut.
Seketika polisi itu begetar hatinya, tiba-tiba bagaikan kaku saat melihat pesona kecantikan Mirna. Bagaimana mungkin ada wanita secantik itu, dan ini akan sangat tidak mungkin.
"Ya.." jawab Mirna dengan tenang. Suara lembut Mirna begitu sangat mendayu syahdu bagaikan melodi yang mengalun lembut ditelinga polisi itu.
"Emm.. Begini, Bu.. Kami harap Ibu ikut kami ke kantor polisi untuk menjadi saksi atas peristiwa kejadian malam tadi" ucap Polisi itu menjelaskan.
Mirna menatap polisi itu, dan Ia tersenyum tipis, yang semakin membuat polisi itu meleleh hatinya bagaikan lumeran coklat saat terkena panas.
"Baiklah.. Tapi saya tidak dapat terlalu lama, karena anak saya akan mencari-cari nantinya" jawab Mirna.
Polisi itu menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu mari ikut kami kedalam mobil polisi" ucap Polisi tersebut.
"Tidak perlu, saya akan kesana sendiri" jawab Mirna.
Kedua polisi itu hanya dapat mengikuti apa yang dikatakan Mirna. Lalu mereka masuk ke dalam mobil, dan saat mereka melihat Mirna, wanita itu sudah tidak ada didepan pintu pagar sekolah.
Keduanya saling pandang "Haah?" kemana perginya wanita itu? Mengapa Ia menghilang?" tanya seorang polisi yang berusia muda itu.
"Jangan-jangan Dia melarikan diri dan mengibuli kita?" jawab rekannya.
Lalu keduanya merasa ditipu oleh Mirna dan ini semua karena terpesona oleh kecantikan Mirna semata.
Namun tiba-tiba mereka mendapat telefon dari atasan mereka jika Mirna sudah berada dikantor polisi sedari tadi.
"Apaaa..??" keduanya terkejut bukan kepalang. Sebab mereka bahkan belum menghidupkan mesin mobil dan mengapa tiba-tiba saja Mirna sudah sampai disana terlebih dahulu.
Lalu kedua polisi itu tampak dengan cepat mengemudikan mobil dinas tersebut dan ingin membuktikan jika wanita yang dikatakan atasannya itu adalah wanita yang sama atau justru wanita yang berbeda.
Sesampainya dikantor polisi, keduanya menuju ruang penyidikan dan benar saja, itu wanita yang sama yang mereka temui di depan sekolah tersebut.
Dua orang polisi itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bagaimana mungkin Mirna dapat secepat itu tiba dikantor polisi? Apakah Ia merupakan pembalap motor GP sehingga dalam sekejap saja bahkan hanya kerlingan mata sudah tiba dikantor polisi.
Mirna dimintai data diri dan memberikan Kartu identitasnya yang saat itu Satria yang membuatnya saat akan pernikahan mereka.
Saat sidik jarinya diperiksa, sesuai dengan yang berada dikartu identitasnya. Namun tidak ditemukan dihijab tersebut, sungguh aneh.
Mirna dimintai keterangan tentang kejadian malam itu "Apakah Ibu yang telah membuat ke lima pria itu babak belur?" tanya penyidik kepada Mirna.
Namun Mirna hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
Seluruh penyidik yang berada diruangan itu bagaikan tersihir oleh pesona Mirna. Mereka tak dapat begitu menekan Mirna dengan pertanyaan yang sangat menjebak.
"Tetapi para saksi menyebutkan anda terluka terkena goresan badik dipunggung anda" ucap penyidik itu lagi.
Mirna kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Tidak ada" jawabnya lagi.
Lalu para penyidik saling pandang dan tidak ingin begitu saja mempercayai pengakuan Mirna.
Lalu mereka menghadirkan Pak Joko dan juga begal yang telah menggoreskan luka dipunggung Mirna.
Mirna tampak tenang seolah Ia hanya berhadapan dengan para anak kecil saja.
Bahkan saat polisi menekan ingin menghadirkan para saksi tersebut.