MIRNA

MIRNA
Episode 53



Danang semalam berada dikamar Rumi, beranjak dari ranjangnya. Ia akan pergi kekebun belakang rumah untuk membersihkan beberapa hama yang menempel dikebun mangga milik Tuannya.


Rumi sudah berada didapur sedari tadi. Namun Ia tak melihat madunya Nia tak kunjung juga keluar dari kamarnya.


Rumi yang merasa curiga mencoba memeriksa kamar Nia. Ia tahu jika madunya itu akan menanti kelahiran calkn bayinya, namun setidaknya tidak boleh bermalas-malasan dan tiduran terus dikamarnya. Ia harus berjalan dan berolah raga pagi agar nantinya mudah melahirkan.


Rumi mengetuk pintu kamar Nia dan mencobanya berulang kali, namun tidak ada jawaban Nia.


Rumi mencoba membuka pintunya. Namun Ia dikejutkan oleh penampakan yang sangat mengerikan "Maaass... Mas Danang.. Coba lihat ini, Mas" teriak Rumi ketakutan.


Danang yang saat itu berada dikebun belakang berlari mendengar teriakan Rumi yang tampak sangat mengejutkannya.


Dengan nafas tersengal Ia menghampiri Rumi yang berdiri diambang pintu


Tampak oleh Danang Nia yang sudah berlumuran darah dan sedikit mengering.


Seketika suasana menjadi tegang dan hening.. Lalu Danang menoleh kearah Rumi "Kita harus membawanya ke puskesmas" ucap Danang kepada Rumi.


Lalu Rumi menganggukkan kepalanya. Ia membantu Danang untuk mengangkat Nia yang tak bergerak. Namun saat Danang memeriksanya, ternyata Nia sudah tidak lagi bernyawa.


Seketika keduanya tersentak. Dipastikan Nia kehabisan darah dan tidka ada yang menyadarknya.


Keduanya meeasa bingung, lalu mereka berinisiatif membawa jasad Nia kerumah orangtuanya dikampung dan menceritakan jkka Nia keguguran dan tidak diketahui secara pasti apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Danang merasa ketakutan sendiri. Ia takut jika dituduh telah melenyapkan nyawa Nia, namun Ia tidak memiliki pilihan lain.


Danang dan Rumi memadikan Nia dan mengkafaninya dengan menggunakan bantuan browsing di internet.


Lalu keduanya membawa jasad Nia kekampung halaman menggunakan mobil lama yang disimpan oleh Bayu digarasi rumah itu.


sementara itu,Yanti merasakan tubuhnya sangat mual, Ia merasa seperti habis memakan daging mentah. Namun Ia tidak tahu daging apa yang dimakannya.


Yanti keluar dari kamarnya dan menuju kedapur. Ia melihat Ibunya sedang memasak ayam gulai.


Saat ibunya pergi keluar dapur untuk mengambil daun kunyit yang akan digunakan sebagai pengharum gulai ayamnya, Yanti merasa tergoda untuk mengambil daging aham yang masih mentah tersebut.


Yanti celingukan dan melihat ibunya masih dibelakang, Ia dengan cepat mencomot sepotong daging ayam tersebut dan membawanya kekamar.


Sesampainya didalam kamar, Ia mengendus aroma amis dari daging ayam tersebut dan ingin segera memakannya.


Tanpa menunggu lama, Yanti menghabiskan daging ayam itu, lalu membuang tulangnya dibalik jendela kamar yang terbuka.


Gadis itu merasa sangat heran mengapa Ia sangat menyukai daging mentah dan keinginannya begitu sangat kuat.


Yanti tampak uring-uringan, lalu Ia membuka lemarinya, Ia mengambil uang simpanannya yang tersimpan didalam lemari, uang hasil damai kejadiannya tempo hari.


Gadis itu mengendarai motornya menuju pasar. Ia mencari daging segar dipasar tersebut.


Seorang pedagang yang masih membuka lapak dagangannya melihat calon pembeli datang menghampirinya.


Tampak pedagang lain sudah tutup, namun pedagang itu masih bertahan, sebab dagingnya masih banyak dan hari ini hanya sedikit saja yang terjual.


"Mas. Berapa sekilo dagingnya?" tanya Yanti yang tak sabar melihat daging merah segar itu dihadapannya.


"150 ribu sekilonya, Dik." jawab pedagang itu dengan sumringah.


"Beli 2 kilo, Bang.." ucap Yanti antusias.


"Ini, Dik daginganya.. Totalnya 300 ribu" ucap Pedagang itu.


Yanti meraihnya "Ya.. Saya cuma bawa uang 200 ribu, Bang.. Ngutang dulu ya, Bang.. Besok saya bayar" ucap Yanti dengan menghiba.


"Ya.. Gak bisa gitu donk, Dik.. Ntar kalau adiknya bohong dan gak datang lagi kan yang rugi Abang" ucap Pedagang itu dengan tegas.


"Yanti tampak bengong, dan Ia tidak rela jika daging itu berkurang.


"Gini sajalah, Dik.. Dagingnya saja yang abang kurangi, Ya?" ucap Pedagang itu dengan negosiasi kepada Yanti.


Yanti menggelengkan kepalanya "Saya perlunya segitu, Bang" Yanti tak ingin melepaskan daging itu " Kalau gak beginu sajalah, Bang.. Saya bayar pakai ini saja Ya." ucap Yanti sembari membusungkan dadanya dan menyingkap pakaiannya sedikit keatas.


Melihat suasana pasar yang sepi, pedagang itu terperangah melihat buah melon yang sangat begitu besar.


Pedagang itu tanpa menunggu lama mengiyakannya.


Lalu Yanti ditarik masuk kedalam kedai pedagang itu dan menikmati buah melon segar milik Yanti.


Aroma amis dipakaian pedagang itu membuat hasrat sang gadis semakin meningkat, Ia lalu memberikan bonus service kepada pedagang itu.


Setelah selesai melakukan servicenya, Yanti memberikan nomor WA-nya kepada pedagang itu dengan sebuah kedipan mata.. "Nanti malam saya tunggu dirumah, lewat jendela kamar" ucap Yanti, lalu merapikan pakaiannya.


Gadis itu bahkan tak perduli jika pakaian dan rambutnya terkena noda darah dari daging sapi.


Ia menenteng kantong kresek berisi dua kilo daging segar dan menyimpannya dijok motornya.


Sesampainya dirumah, Ia mengendap-endap memasuki kamar dengan membawa daging sapi segar itu.


Ia segera mengunci pintu kamar dan membuka kantong kreseknya, lalu memakannha mentah dan terlihat sangat rakus.


Dalam hitungan menit, daging sapi itu habis disantapnya sendirian. Ia seperti tak pernah merasakan puas dengan apa yang sudah didapatnya.


Senja berganti malam. Yanti masih membuka jendela kamarnya. Sekitar pukul 9 malam, Ia mendapat sebuah pesan dari seseorang yang mengatakan jika Ia telah menunggu didepan rumah dan tidak berani kedalam kamar.


Yanti memahami jika itu adalah pedagang daging yang menagih janjinya.


Yanti melompat dari jendelanya yang tidak memakai jeruji. Lalu Ia menghampiri pria yang merupakan pedagang daging tersebut.


Yanti membisikkan sesuatu kepada pedagang itu, lalu tampak pria itu menganggukkan kepalanya.


Kedua insan itu menuju kebun jagung dan menuju kegubuk.


Sosok wanita yang menempel ditubuh Yanti tersenyum sumringah dan menyeringai.


Sesampainya disana tanpa menunggu lama, keduanya menuntaskan hasrat terlaranganya. Namun Yanti merasakan jika Ia tidak pernah terpuaskan. Ia terus saja memacu hasratnya hingga hampir waktu subuh.


Pria itu terkapar tak sadarkan diri, lalu Yanti meninggalkannya begitu saja dan berjalan pulang kerumahnya tanpa alas kaki, lalu masuk melalui jendela kamarnya dan tertidur.


Sosok bayangan hitam datang, dan mencabut paksa lato-lato milik pria dan meninggalkannya dengan kejangan nyawa dari sang pria.


Seaaat sosok yang merasuki tubuh Yanti keluar meninggalkan tubuh gadis itu, lalu terbang melayang menuju gubuk jagung. Ia menyesap darah yang mengucur keluar dari luka menganga ditubuh korbannya.


Setelah tubuh itu kering kerontang, sosok wanita mengerikan itu, kembali merasuki tubuh Yanti, dan bersemayam disana hingga waktunya tiba.