
Angkasa dan juga Samudera tersentak saat merasakan pelukan hangat dari sang ibunya , Mirna.
Mereka juga tidak menduga jika mereka sudah sebulan berada didemensi lain melakukan perjalanan yang sangat penuh dengan hikmah yang mereka dapatkan.
"Ibu.." ucap keduanya, lalu membalas pelukan Mirna dengan penuh kasih.
Ucapan dan penjelasan dari Syech Maulana sudah memberikan pencerahan kepada Angkasa, jika Ia harus memilih jalan yang sama dengan ibunya.
Angkasa berjanji akan membantu ibunya menghancurkan angkara murka dan kesesatan yang dilakukan oleh Nini Maru yang merupakan dari Neneknya sendiri.
Namun segala yang dilakukan oleh Nini Maru tidaklah dibenarkan karena iblis itu sudah jauh tersesat dan banyak menyesatkan manusia serta mengambil janin manusia dengan menjadikannya tumbal.
Sementara itu, Nini Maru mengalami luka yang cukup parah dari pertempurannya saat dimakam dengan Angkasa dan juga Samudera yang mana Mirna juga jelas-jelas tidak lagi dapat dipengaruhi, Ia bersikukuh untuk berada dijalan yang benar.
Sedangkan Rey saat ini merasa bingung mengapa Mirna masih menolaknya dan tidak mau meliriknya sama sekali.
Rey memutuskan untuk mencari tumbal sepasang lato-lato lagi untuk penyempurnaannya, Ia harus mendapatkan Mirna apapun caranya. Selama ini Ia sudah terlalu cukup lama memendam keinginannya untuk mendapat wanita idamannya.
Rey melesat menyusuri kegelapan malam. Rey mersakan bu-lu yang tumbuh ditubuhnya semakin banyak dan melebat. Ia harus menyingkirkannya agar Ia berwujud tampan seperti apa yang diharapkannya.
Rey memandang dari atas udara mencari siapa saja yang akan berbuat maksiat dan ini akan menjadi sasaran yang diinginkannya.
Baron, yang saat ini mendapt skorsing dari pihak sekolah sedang mengendarai motor sportnya.
Seorang remaja dengan watak yang sangat jahat dan mewarisi sifat ayahnya sewaktu masih muda sangat begitu merasa sombong dan angkuh.
Skorsing dari pihak sekolah bukan membuatnya jera, namun sangat disyukurinya karena Ia tidak perlu repot-repot untuk belajar dan pusing memikirkan pelajaran.
Dua rekannya yang waktu itu mengalami lula, dipindahkan kedua orangtuanya masuk ke dalam pesantren agar tidak bergaul lagi dengan Baron si pembawa racun dan pengaruh buruk bagi mental remaja pada umumnya.
Baron berhenti ditepi jalan sembari menghisap sebatang ro-koknya, dan tanpa sengaja Ia melihat Tasya mengendarai sepeda motornya sendirian. Tampaknya Tasya baru pulang membeli camilan.
Baron yang sudah lama menaruh dendam.kepada Tasya karena gadis idamannya itu mengincar Samudera dan juga Angkasa, Ia berniat untuk memberi pelajaran kepada gadis tersebu.
Baron melemparkan puntung ro-koknya dengan geram, lalu Ia membuntuti Tasya hingga sampai ke jalan sepi karena rumah Tasya memasuki gang perkampungan yang rumah warga masih berjarak sedikit jauh satu antara lainnya.
Tasya merasakan jika Baron mengikutinya, sebab Ia melihat teman sekelasnya itu tadi sedang berhenti dipinggir jalan.
Baron menghentikan laju motor Tasya dengan menendang motor gadis itu hingga membuat Tasya terjatuh dannm tersungkur.
Untuk menhindari pengemudi lain, Ia turun dari motornya, lalu menghampiri Tasya, dan mendorong motor Tasya memasuki semak, sedangkan Ia menyembunyikan motornta dibalik pohon dan sesemakan.
"Brengseek.. Mau apa Kau?!" maki Tasya yang merasakan kakinya terkilir karena tertimpa motornya saat ditendang oleh Baron.
Lalu Baron membekap mulut Tasya agar tidak berteriak. Ia menyeret Tasya ke balik pohon yang ada tumbuh dikebun warga. Tasya yang tidak dapat berjalan karena kakinya yang sakit tertimpa motor hanya dapat meronta dan menangis kesakitan saat kulit tubuhnya terkena tumbuhan semak berduri sewaktu Baron menyeretnya.
Remaja itu membuka tali pingganya, dan mengikat kedua tangan Tasya ke atas.
"Nih, rasakan apa yang ku lakukan padamu jika kau sudah ternoda, maka Angkasa dan Samudera tidak akan pernah melirikmu lagi!" ucap Baron dengan nada mengejek.
Kemudian melucuti pakaian Tasya, dan melakukan perbuatan kejinya, merampas kesucian sang gadis, meskipun gadis itu meronta kesakitan dan meneteskan air matanya, Ia tak perduli.
Tanpa Baron sadari, sepasang mata telah mengintainya dan menunggu saat yang tepat untuk menjalankan aksinya.
Baron akhirnya merasakan puncaknya, dan Ia akan menyemburkan lahar miliknya pada ra-him Tasya, namun belum sempat itu terjadi, sekelebat bayangan hitam datang menyambar lato-lato milik Baron yang membuat remaja itu terperangah dan menjerit kesakitan.
"Aaaaargh.." teriak Baron yang sangat kecang dan meninggalkan Tasya yang masih dalam kondisi mengenaskan.
Teriakannya didengar oleh pengendara dua motor yang merupakan tetanhga rumah Tasya.
Baron berlari dari arah semak dengan tidak memakai celana. Dan kedua pengendara itu awalnya merasakan takut, namun setelah melihat Baron yang berteriak meminta tolong akhirnya mereka menghentikan motornya dan mencoba membantu Baron.
Merekantersentak melihat Lato-lato Baron yang hilang dan darah mengucur dengan sanagt deras. Kedua priq itu akhirnya membawa Baron ke rumahh bidan terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Sedangkan Tasya berusaha membuka ikatan Tali pinggang ditangannya.
Setelah bersusah payah, akhirnya terlepas. Tasya beringsut dengan cara menge-sot Ia keluar dari semak dan berteriak minta tolong.
Suara teriakannya didengar oleh sang Ayah yang saatb nii sedang melintasi jalanan karena ongin mencarinya sebab sudah sekian jam lamanya tak juga pulang hanya membeli sebuah camilan saja.
Saat mendengar suara minta tolong dari balik semak. Meyakini itu suara Tasya, anaknya. Maka pria paruh baya itu menharahkan lampu sorrot ke arah suara utu, dan alangkah terkejutnya Ia mendapati puternya dalam kondisi yang mengenaskan.
Dengan bergegas Ia turun dari motornya, membukan kemejanya dan memakaiakannya pada Tasya.
"Breengsek..!! Siapa yanmg melakukannya padamu?!" desak pria paruh Baya itu dengan geram.
Lalu Ia menggendong puterinya ketas motor dan membawanya pulang ke rumah. Setelah sampai dirumah, Ian memanggil istrinya dan sang istri keluar dari kamar dan Ia berteriak histeris saat melihat Suaminya membawa tubuh Tasya dengan kondisi seperti itu.
"Siapa yang tega melakukan ini kepadaku puteriku!!" teriak Sumi tidak terima dengan apa yang terjadi.
"Baron yang melalukannya!! Kita harus membuatnya masuk kedalam jeruji besi!!" ucap pria itu yang akan membuat laporan ke kantor polisi. Ia akan membawa Tasya menjalani Visum untuk lampiran laporannya.
Sumi tidak rela, dan Baron harus mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Sementara itu, Baron berteriak kesakitan, saat Bidan itu menjahit area organ intinya hang sudah menghilang. Bagaimana mungkin Ia hidup tanapa lato-lato dan itu merupakan barang berharga dalam hidupnya.
Setelah proses menjahit selesai, Baron tampak frustasi dan meratapi nasibnya yang tampak sangat mengenaskan.
Kedua warga yang menyelamatkan merasa penasaran mengapa Baron sampai mengalami nasib mengerikan tersebut.
Baron bingung menjawab apa. Sebab jika Ia jujur, maka Ia akan digebuki oleh warga.