
Mendengar ucapan Satria, Mirna tersentak dan merasa sangat bersalah atas apa yang sudah pernah dilakukannya masa itu, dimana Ia pernah merasa melakukan perbuatan dosa itu.
Saat melihat kedua anaknya sedang menonton televisi, Mirna menghampiri Satria dan duduk disisinya.
"Mas." ucapnya lirih, dan hampir tidak terdengar. Perasaannya begitu gundah, dan ingin mengungkapkan segala apa yang tersimpan dibenaknya saat ini.
"Ya.." jawab Satria.
Mirna tak memiliki keberanian dalam menatap mata pria didepannya, Ia begitu teramat malu dan sangat merasa insecure.
"Apakah dosaku waktu itu dapat diampuni dan kamu memaafkannya" tanya Mirna kepada Satria, dengan wajah yang masih merunduk.
Satria menghela nafasnya dengan berat "Setiap orang memiliki masa lalu dan juga kesalahan, namun bagaimana cara Ia memperbaiki masa depannya dengan menjadi lebih baik dan berniat tidak untuk mengulanginya" jawab Satria.
"Apakah Aku terlalu kotor?" tanya Mirna dengan cepat.
Satria menatap wanita didepannya "Mungkin tubuhmu pernah kotor oleh dosa itu, tetapi kamu sudah membersihkannya dengan hatimu yang berniat untuk berubah, dan kini teruslah jaga hatimu untuk saat ini dan juga masa mendatang" ucap Satria dengan berusaha tenang.
Mirna menengadahkan wajahnya, dan kemudian meletakkan kepalanya dipundak Satria sebagai tempat bersandar.
Ia mencoba meyakinkan hatinya, jika Ia tidak salah dalam memilih hati dan pengorbanannya berkhianat kepada Nini Maru tidaklah sia-sia belaka.
Satria membelai rambut wanitanya, Ia mengetahui semua perbuatan Mirna pada masa itu karena merasa kesal Ia tidak juga menikahinya dan memilih Syafiyah sebagai istrinya. Lalu wanita itu melampiaskannya kepada pria yang mencoba berbuat nakal padanya dan mengahajarnya hingga tak berdaya dan kehabisan energi.
Namun saat menikah dengan Satria, Ia merasa tercukupkan dalam memenuhi hasratnya, keseimbangan diantara keduanya membuat hubungan mereka semakin harmonis.
"Esok pagi kita pulang ke rumah, dan sebaiknya kita beristirahat karena hari sudah malam" titah Satria kepada Mirna.
Lalu wanita itu menganggukkan kepalanya dan beranjak dari duduknya, menghampiri kedua puteranya yang masih menonton televisi.
"Ayo. Kita tidur, sudah pukul 9 malam, jangan tidur terlalu larut" titah Mirna kepada keduanya.
Kedua bocah itu menganggukkan kepalanya dan Mirna mematikan televisi, lalu menyelimuti kedua bocah itu dan menyendungkan doa untuk keduanya hingga mereka terlelap dalam sentuhan ketulusan akan kasih sayang Mirna.
Malam terus merambat hingga hampir dini hari. Kebiasaan Angkasa adalah sesak pipis ditengah malam.
Semuanya masih tertidur pulas dan dalam buaian mimpi indah.
Angkasa beranjak dari ranjangnya, lalu menuju kamar mandi.
Sesaat tampak diluar sana angin berhembus sangat kencang. Beberapa dedaunan kering tampak berterbangan tertiup angin kencang.
Sesaat tampak petir menyambar dengan diiringi kilatan halilintar yang seolah sedang menyambar sesuatu.
Tirai jendela terbang tertiup angin dan berkibar dengan memperlihatkan penampakan diluar jendela yang mana saat cahaya halilintar menyambar dengan sangat kencang.
Angkasa mempercepat langkahnya masuk kedalam kamar mandi dan menuju toilet, lalu buang air kecil.
Sesaat Ia mendengar suara rintihan dikejauhan, begitu sangat miris, dan sangat samar karena terkadang menghilang ditelan suara petir yang menggelegar.
Setelah selesai, bocah itu segera keluar dari kamar mandi. Ia melihat kearah jendela yang masih tertiup angin berkibar dengan kencang dan tampak satu sosok wanita mengerikan yang menatapnya tak suka.
Angkasa merasa sangat penasaran, lalu Ia mendekati kaca jendela dan mengintai makhluk menyeramkan yang kini menatapnya.
Makhluk itu seolah ingin mengajaknya keluar dari penginapan. Rasa penasaran dan juga menolak bergejolak didalam dadanya. Namun rasa penasaran lebih kuat dibanding rasa penolakannya.
Diam-diam Angkasa keluar dari penginapan dan berdiri didapan teras penginapan, lalu menatap pada sosok mengerikan tersebut.
Angkasa menatapnya dengan tatapan tak berkedip "Mengapa Kau mengatakan Kau adalah cucumu?" tanya Angkasa dengan penasaran.
"Karena Ibumu adalah puteriku" jawab sosok Nini Maru.
"Mana mungkin Ibuku adalah puterimu, ibu sangat cantik, sedangkan Kau sangat buruk rupa" ucap Angkasa yang membuat telinga Nini Maru semakin panas.
Ia sangat marah dan juga kesal akan ucapan Angkasa yang mengatainya buruk rupa, tampaknya Angkasa sama persis seperti Mirna yang sulit dipengaruhi.
Nini Maru menghampiri Angkasa, Ia ingin membawa bocah itu bersamanya dan menjadikannya sebagai budaknya.
Saat jarak mereka begitu dekat, Nini Maru ingin menyentuhnya, dan...
Braaaaaaak...
Nini Maru terpental jauh karena sebuah cahaya tampak keluar dari tubuh bocah tersebut yang menghalangi Nini Maru untuk menyentuhnya.
Wanita iblis mengerang kesakitan saat Ia merasakan jemarinya bagaikan tesengat ribuan volt aliran listrik.
Saat Ia berusaha utuk bangkit, sebuah petir menyambarnya disertai kilatan cahaya halilintar yang turut menyambarnya.
Seketika Nini tubuh Yanti yang dalam wujud manusia tentu hangus terbakar, dan mengejang.
Sementara Nini Maru masih berusaha untuk bangkit dan menggunakan tubuh Yanti sebagai tempat bersemayamnya.
Nini Maru memilih pergi karena belum dapat menyentuh Angkasa dan akan mengumpulkan kekuatannya.
Angkasa tersentak saat sebuah tepukan halus bersarang dipundaknya.
Ia menoleh kearah seseorang yang berada dibelakangnya, dan ternyata Samudera yang menepuknya.
"Ngapain diluar? Ada petir, ayo masuk" titah Samudera, lalu menarik tamfan Angkasa agar segera masuk kedalam penginapan.
Angkasa hanya menurut saja saat Samudera membawanya masuk. Seketika hujan turun deras dan menambah suasana dingin yang sangat menusuk ketulang.
Sesampainya ditepian ranjang, Ia menatap Mirna ibunya yang tertidur dengan pulas dan dengan dengkuran yang sangat halus nafasnya terlihat naim turun.
"Masa iya ibuku secantik ini, dan wanita buruk rupa itu mengaku sebagai ibunya" guman Angkasa dengan lirih dalam hatinya.
Lalu Ia menarik selimut, dan tidur sembari memeluk Mirna.
Sementara itu, Samudera mengambil tempat tidur diantara ayah dan ibunya, lalu kembali memejamkan matanya, merajut mimpinya yang tertunda.
Hujan diluaran sana bertambah deras dan petir juga menyambar dengan begitu sangat dahsyat.
Sementara itu, diatas puncak gunung, para pendaki meringkuk kedinginan dan menggigil karena hujan turun dengan sangat derasnya.
Sedangkan saat mereka akan berangkat, mereka sudah melihat perkiraan cuaca yang ada diaplikasi perkiraan cuaca dan menyatakan jiak dalam seminggu ini kondisi cuaca cerah.
Namun mereka akhirnya harus menelan kenyataan kedinginan malam ini sebab tenda mereka terbang terbawa angin kencang.
Disisi lain, Nini Maru kembali ke pohon beringin dimana tempat Ia akan melakukan pertapaan. Tubuh Yanti semakin mengenaskan dengan luka hangus yang cukup parah. Hal ini membuat Nini Maru harus bekerja keras untuk mendapatkan tumbal janin lagi dan memperbaiki tubuh Yanti yang sangat kacau tersebut.
Yanti merintih dan tak rela dengan tubuh rusaknya.
"Bantu Aku untuk kembali cantik seperti semula, Ni.." Rintih Yanti yang saat ini sangat lemah.