
Nini Maru menggerutu karena Angkasa menarik gaunnya hingga memperlihatkan tubuh keriputnya yang sangat mengerikan.
"Dasar, Bocah tengil! Main tarik saja.."Nini Maru mengomel dan tampak kesal.
Sedangkan Ki Genderuwo sedang berbaring didipan kayu yang sudah melapuk.
"Kamu kenapa, Ki?" tanya Nini Maru yang melihat tubuh Ki genderuwo tampak luka lebam dan sangat lemah.
Ki Genderuwo menoleh kepada Nini Maru yang saat itu baru saja mengenakan gaunnya.
"Pakai nanya segala.. Emang gak tau aku habis nagapain?!" jawab Ki Genderuwo dengan kesal.
Nini Maru memutar bola matanya dengan malas.
Sesaat Ia memandang jasad dua remaja yang kini semakin mengeluarkan aroma busuk. Jasad itu saling tindih dengan kondisi yang mengenaskan .
"Dua jasad ini sangat mengganggu sekali" ucap Lirih, namun Ia tidak memiliki keinginan untuk memindahkannya, sebab jin qorin keduanya selalu berlalu lalang mengitari jasadnya yang belum disempurnahkan..
Ditempat lain. Mala dan Bayu sedang berada diranjang setelah diantarkan oleh Satria. Mobil Bayu yang tercebur ke dasar sungai tidak dapat lagi diselamatkan dan hanya pasrah saja.
"Mas.. Siapa Mirna sebenanrnya? Mengapa begitu sangat janggal?" ucap Mala dengan sangat penasaran.
Bayu menghela nafasnya dengan sangat berat.
"Jika kamu ingin bertanya hal itu, maka tanyakan pada Satria dan pinta Ia untuk datang kemari" ucap Bayu menyarankan.
Mala terdiam dalam sepi. Mirna sosok misterius yang tidak mudah untuk dimengerti.
Namun yang Ia ketahui, Ia menyayangi Samudera sama seperti anaknya sendiri dan tidak membeda-bedakannya.
Bahkan Selama ini Mirna telah merawat Satria dengan baik.
"Menagapa Kamu begitu ingin mencari tahu tentang jati diri menantumu?" tanya Bayu dengan rasa penasaran.
Mala tergagap dan merasa bingung harus menjawab apa.
"Coba kamu perhatikan, Mas.. Bagaimana Ia bisa mengalahkan makhluk iblis genderuwo itu dengan begitu mudahnya?" ucap Mala mencoba menganalisa apa yang dilihatnya.
Bayu mencoba membenarkan apa yang dikatakan oleh Mala.
"Kamu masih ingat tidak tentang keris yang pernah bersarang ditubuhku?" tanya Bayu pada Mala.
Mala menoleh ke arah Bayu lalu menganggukkan kepalanya.
"Ha.. Aku mengingatnya" jawab Mala.
"Aku tidak pernah meminta benda itu untuk hadir ditubuhku namun karena alasan garis keturunan, maka keris itu memilih untuk bersarang ditubuhku dan Alhamdulillah Hamdan berhasil mengeluarkannya. Mungkin bisa saja Mirna mewarisi kekuatan lain dari keturunan nenek moyangnya" ucap Bayu mengingatkan.
Mala menatap pada Bayu dan mencoba mencerna segala apa yang dikatakannya "Dan seperti kekuatan yang dimiliki oleh Satria? Yang berasal dari nenek moyang almarhum Bang Roni?" ucap Mala lirih.
Bayu menganggukkan kepalanya "Ya.. Seperti itu contohnya.. Apakah kamu masih mencurigai menantumu?" tanya Bayu lagi.
Mala menggelengkan kepalanya. Lalu mencoba tersenyum.
"Jika begitu, mari kita tidur, karena hari semakin larut" ajak Bayu sembari menarik selimutnya.
Mala menganggukkan kepalanya dan menarik selimut tersebut. Lalu Bayu menghadapnya, dan mendekap tubuh wanita yang dicintainya meskipun usia mereka terpaut beberapa tahun dan itu tak merubah cinta Bayu padanya, baginya Mala yang kini berusia 60 tahun adalah wanita yang masih cantik sama seperti dahulu saat Ia pertama kali melihatnya.
Sementara itu, Nini Maru masih merasa penasaran mengapa cucunya itu sangat sulit ditaklukan. Ia sangat sulit mencari kesempatan untuk menculik Samudera selama Angkasa terus menempel di dekat bocah tersebut.
"Ya karena kekuatan kita belum sempurnah. Mereka selalu meminta pertolongan pada Sang penguasa Alam, bagaimana mungkin Kita mengalahkan Pengusa alam, tidak mungkin-bukan?!" ucap Ki Genderuwo mengingatkan.
Sesaat obrolan mereka terhenti setelah mendengar suara ramai-ramai berjalan menuju ke arah rumah Nek Surti yang kini menjadi persinggahan mereka.
Rey yang berada diatas bubungan rumah memperhatikan pergerakan warga yang membawa penarangan berupa senter dan juga suluh bambu.
"Mengapa warga menuju ke arah kita?" tanya Ki Gendurowo sedikit bego.
Nini Maru menatap pada kerumunan yang semakin mendekat.
"Mereka mencari jasad dua remaja ini. Sepertinya orangtuanya membawa dukun, dan dukum itu yang mengatakan jika anak mereka berada dirumah ini" jawab Nini maru.
Ki Genderuwo beranjak bangkit dari ranjang tua itu dan ikut mengintai ke arah rombongan para warga yang sudah mendekat.
"Mbah.. Apa benar anak saya Lulu berada digubuk ini?" tanya Didi dan Doni yang ikut mencari keberadaan Lulu.
Si Mbah dukun itu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, coba kalian lihat kedalam, dan saya tidak berbohong denga apa yang saya ucapkan!" jawab si Mbah dukun dengan penuh keyakinan.
Aroma busuk dari kedua jasad itu semakin menyeruak, dan membuat warga merasa enegh.
"Bangkai apa ini? Mengapa aroma sangat menyengat?" ucap Dino penasaran.
"Sepertinya berasal dari dalam rumah almarhum nek Surti" balas Didi.
Warga semakin penasaran dan akan memeriksa ke dalam.
Lalu mereka menerobos masuk ke dalam.rumah, dan tiba-tiba saja mereka terpekik bersamaan saat melihat apa yang ad adidepan mereka.
"Aaaaaaaarrrggh.." teriak mereka bersamaan saat melihat dua jasad saling tindih dan itu adalah Lulu yang beberapa waktu dinyatakan menghiilang.
Suara teriakan tersebut membuat Ayah dan ibu Lulu bergegas menuju rumah yang tersebut.
Sesampainya didalam rumah itu, Ibunda Lulu terpekik dan jatuh pingsan saat melihat jasad yang sedang dalam posisi duduk setengah bersandar di tiang rapuh tersebut dengan tubuh Ferry diatas pangkuannya dengan tanpa sehelai benangpun dan begitu juga dengan Lulu tampa busana.
"Luluuu" teriak ayah Lulu yang masih menguasai emosinya.
Lalu warga mengangkat tubuh Ferry dari pangkuan Nora, lalu kemudian mengangkatkan tubuh Lulu menggunakan sarung tangan karena tubuhnya mulai membusuk dan menimbulkan aroma yang melekat ditangan mereka nantinya.
Ayah Lulu mencoba memapah tubuh istrinya yang tak sadarkan diri, sedangkan warga menggantikannya menuju rumah kediaman mereka.
Suara bisik-bisik warga yang berspekulasi tentang kematian Lulu bersama fery yang juga mati bersama.
warga membawa tandu untuk membawa kedua jasad tersebut. Sesampainya didepan rumah. Mereka meletakakkan jasad tersebut untuk segera di fardhu kifayakan.
Warga bahu membahu menyelesaikan fardhu kifayah untuk Lulu, sedangkan Ferry dibawa keluarganya untuk difardhu kifayahkan juga.
Saat jasad Ferry terlentang, warga kembali berteriak saat melihat lato-lato milik Ferry ternyata telah hilang dan bekas lubang tersebut banyak terdapat belatung yang memenuhi rongga luka itu.
Belatung itu bersaburan dilantai dan menambah warga semakin merasa takut dan ngeri.
Lalu Mereka mempercepatnya, karena semakin lama menundanga akan membuat mayat cepat pembusukannya.
Setelah jasad Ferry dibawa pulang, maka Jasad Lulu sudah dishalatkan dan akan segera diamakamkan agar arwah gadis remaja itu tenang dan tidak mengganggu lagi untuk memberitahukan diamana keberadaannya.