MIRNA

MIRNA
episode-276



Angkasa menarik tubuh Samudera dari serangan tombak pria yang tiba-tiba melayang dari parit tersebut.


"Ini Iblis siang-siang kenapa keluyuran, sih?" bisik Samudera kepada Adiknya.


"Biasanya mereka lemah jika keluar siang hari, sebab siang hari waktu mereka istrihat" jawab Angkasa.


"Kalau begitu mereka sedang kerja Rodi, jadi dipaksa siang dan malam?" ucap Samudera.


Angkasa menganggukkan kepalanya"Bisa jadi.. Mungkin saja mereka takut dengan atasannya" balas Angkasa sembari menghindari lemparan tombak besi yang dilemparkan oleh iblis tersebut ke arah Angkasa.


Tombak itu melesat dan menancap disebatang pohon yang ada dibelakang Angkasa dan seketika pohon itu berlubang dan tampak berasap.


Tangan iblis itu tampak sangat besar dan jemarinya saja sebesar pisang Ambon, sangat mengerikan.


Angkasa dan Samudera mulai waspada. Meskipun siang hari para Iblis itu lemah, namun bukan berarti mereka harus menganggap remeh lawan mereka.


Dengan gerakan cepat Angkasa menerjang Iblis bertanduk tersebut. Namun sepertinya iblis itu tak bergeming.


Dan tanpa menunggu lama, Samudera berlari ke arah belakang, lalu mencabut tombak yang tertancap dibatang pohon tak jauh dari mereka, dan kembali melemparkannya ke arah iblis tersebut dan mengenai perutnya hingga tertembus.


Iblis itu tercengang dan menatap tajam.pada Samudera, namun saat akan melakukan serangan balasan, Angkasa melemparkan tasbihnya dan membuat iblis itu terbakar dan menghilang.


Sedangkan iblis yang membawa senjata api, kini sudah berdiri tegak dengan tatapan penuh amarah.


Senjata apinya berubah menjadi rantai besi dengan kepala tengkorak dibagian ujungnya.


Lalu Ia melemparkan senjatanya dengan gerakan menutar kepada kedua bocah itu, sehingga membuat Angkasa dan Samudera harus menyingkir dan menghindarinya.


Dari kepala tengkorak itu, tampak keluar asap hitam yang menimbulkan aroma busuk dan sangat menyengat.


Samudera dan Angkasa terus menghindar saat iblis terus melancarkan serangannya. Angkasa membuka dasi sekolahnya dan juga meminta Samudera melepaskan dasi yang melilit dilehernya.


Setelah menerima dasi dari Samudera, Angkasa mengikatnya menjadi dan kini dasi itu menjadi panjang.


Angkasa melemparkan ujung dasi satunya kepada Samudera, dan Sang kakak menangkapnya. Saat iblis itu melempar senjata rantai besi berkepala tengkorak kepada mereka, lalu keduanya menautkan dasi itu hingga mengait kepala tengkorak dan mereka bertukar tempat sehingga kepala tengkorak itu terikat ke dasi dan dengan cepat menghentak kepala tengkorak sembari membaca ta'awuz dan kepala tengkorak itu terlepas dan menggelinding ditanah.


Lalu keduanya membacakan dzikir dan menendang kepala tengkorak itu hingga melesat menjauh.


Sesaat adzan Ashar berkumandang, dan mereka tak menduga sudah selama itu mereka bertempur dengan iblis tersebut. Lalu ibils itu ngacir saat suara adzan berkumandang dan membuat kedua bocah itu bernafas lega.


Lalu keduanya menuju sepeda motor mereka, dan anehnya sepeda motor yang digunakan oleh iblis itu juga lenyap tak berbekas.


Keduanya saling pandang dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Semuanya begitu serasa bagaikan mimpi.


Samudera menghidupkan mesin motor dan Angkasa naik ke atas boncengan lalu mereka bergegas pulang dan menuju ke rumah.


Saat Adzan Ashar berakhir, mereka sampai di mushalllah dan memilih singgah untuk shalat Ashar berjamaah karena merasa tanggung untuk sampai kerumah.


Sementara itu, Satria sudah berada dirumah. Ia mempersiapkan makan makan malam untuk ke dua puteranya, setelah itu selesai Ia shalat Ashar dirumah.


Bayangan Mirna masih terus menari dipelupuk matanya. Ia merindukan wanita itu. Dimana wanita itu tak pernah membantah sedikitpun apa yang diperintahkannya. Ia berharap sang Rabb masih menjaga hati dan keteguhan imannya untuk tetap menjadi orang yang berada dijalan-Nya.


Setelah selesai dari shalatnya, Ia kembali memunajatkan doa untuk keselamatan sang istri. Demikian pula Angkasa dan Samudera yang memunajatkan doa yang sama, sehingga membuat doa mereka bertemu dilangit menuju satu tujuan kepada sang Rabb pemilik alam semesta.


****


Mirna tersentak dan mencoba beranjak bangkit. Ribuan mata menatapnya dengan pandangan yang sangat mengerikan dan penuh intimidasi.


Mirna mengalami luka lebam dibagian punggungnya. Sepertinya Ia terkena ajian gelap ngampar yang dilancarkan oleh Ki Kliwon saat akan melumpuhkannya.


Luka itu membiru dan lebam menembus jantungnya. Mirna mencoba berusaha tenang menghadapi ribuan para siluman yang kini sedang mengawasi setiap gerak-geriknya.


Dengan gerakan tanapa mencurigakan, Mirna mencoba menyembuhkan luka lebamnya dengan menyalurkan tenaga daalmnya, namun ternyata sia-sia karena Ia terlalu banyak mengeluarkan energi saat menyelamatkan ke dua puteranya.


Mirna menggeram dan merasa kesal, namun memilih untuk diam.


Mengetahui Mirna sudah terbangun. Ke tiga Iblis itu menerobos masuk ke dalam pagar kegelapan yang terdiri dari siluman tersebut.


Lalu mereka menghadap kepada Mirna dan menatapnya dengan penuh kemenangan.


"Mirrnaa..! Apakah kau ingin keluar dari penjara ini? atau kau ingin kembali bergabung kepada kegelapan?! dan mengusai alam kesesatan yang nyata!" ucap Nini Maru dengan suara paraunya.


Mirna menatap dengan penuh amarah "Aku tak sudi untuk bergabung dengan-mu, Ni!" jalan kita berbeda dan niat kita juga berbeda!" jawab Mirna yang masih terduduk dilantai batuan cadas.


"Dasar, Anak bodoooh!! Mengapa Kau begitu memilih jalan yang lurus? Kau itu keturunanku?!" Teriak Nini Maru dengan penuh amarah.


" Setiap jin diciptakan untuk menyembah kepada sang Rab. Kecuali jin itu berubah menjadi iblis dan syetan!!" jawab Mirna.


"Jangan sok ceramah, Kamu..!! Kamu itu tetap keturuna syetaan..!!" ucap Nini Maru penuh amarah.


"Tetapi tidak ingin menjadi yang terlaknaaat!!" jawab Mirna dengan tegas.


Seketika Nini Maru memerah wajahnya dan merasa jika Mirna benar-benar menjadi pembangkang baginya.


"Apakah Kau ingin membangkangku sebagai ibumu?!" tanya Nini Maru dengan tatapan yang tajam.


"Membangkang karena perintah kesesatan itu adalah diwajibkan, Ni. Nabi Ibarahim saja membangkang ayahnyanya yang sebagai pembuat berhala, lalu apalah dirimu yang yang seorang iblis belaka!!" jawab Mirna setenang mungkin.


Nini Maru membolakan matanya, dan semakin geram. "Apakah Kau fikir Kau bisa keluar dari penjara silumana ini?" ucap Nini Maru dengan nada sinis.


"Aku yakin bisa, jika Rabb-ku menghendakinya" jawab Mirna yang semakin membuat Nkni Maru semakin kesal.


"Hehh..!! Tuhanmu tidak akan mendengarkan iblis sepertimu!" ucap Nini Maru yang semakin tersulut emosi.


"Aku yakin dapat kekuar dari tempat ini. Karena kekuatan ribuan iblis itu tidak sebanding dengan seper-sembilan dari kekuatan dan kekuasaan keseluruhan yang dimilkki oleh Sang Rabb. Kekuatan kaliannitu tidak lebih dari hanya se-ujung kuku saja!" jawab Mirna.


Nini Maru membolakan matanya "Kita lihat saja siapa yang lebih kuat??! Aku!! Atau tuhan-Mu!!" ucap Nink Maru dengan congkaknya.


Mirna hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Nini Maru.


"Jika Kau ingin keluar dari penjara siluman ini, maka ada syarat yang harus Kau penuhi, Kau harus menukarkan jiwa Samudera kepada ku!" ucap Nini Maru mengingatkan


"Tidak akan pernah, dan aku dapat keluar sendiri tanpa haris menukarnya" jawab Mirna.


"Dasaar, Bodooh!! Dia bukan anakmu! Untuk apa Kau melindunginya? Kami sangat membutuhkan jiwa dan darahnya!" ucap Nini Maru dengan kesal.


"Darahku mengalir ditubuhnya, kerena Ja meminum ASI-ku.. Dan kasih sayangku padanya sama halnya kepada Angkasa, jadi jangan bermimpi untuk bertukar apapun!!" jawab Mirna.


Nini Maru tersenyum sinis "Dia yang akan datang dengan sendiri untuk menukarkan jiwanya untukmu!! Hihihihiihi" jawab Nini Maru, lalu melesat menghilang.