MIRNA

MIRNA
episode-292



Mirna diam terpaku mendengar ucapan Samudera. Golok penjagal itu telah siap untuk segera memenggal kepala Samudera.


Nini Maru yang melihat keraguan pada Mirna membuatnya merasakan jika ini akan mengalami kendala.


Nini Maru melesat dengan cepat melemparkan sebuah batu untuk menjatuhkan golok tersebut agar dapat memenggal kepala Samudera.


Namun saat bersamaan sesosom tubuh melesat menangkap batu tersebut agar tak menyentuh tali golok yang tentu saja akan siap memenggal kepala Samudera andai terkena lemparan batu Nini Maru.


Nini Maru membolakan matanya. "Dasar bocaah breengsek!! Apakah Kau tak tau jika Kau itu adalah keterunanku, dan mengapa Kau menghalangi balas dendamku?!" ucap Nini Maru dengan perasaan penuh amarah dan kesal.


Seketika Mirna menoleh melihat siapa yang datang.


Ia mencoba mengingat sosok siapa yang datang dan membuat hatinya merasa sangat bergetar.


Angkasa dan Mirna saling tatap. "Ibuu..!" ucap lirih Angkasa.


Mirna mengerutkan kedua alisnya, dan bergantian menatap Samudera yang tadi juga menatap dan menyebutnya dengan kata Ibu.


"Siapa mereka? Mengapa hatiku bergetar saat menatap keduanya."Guman Mirna lirih.


Sementara itu. Nini Maru mengkomandokan untuk melakukan penyerangan. Dalam sekejap para pasukan Nini Maru menyerang Angkasa dengan berbagai senjata ghaib yang mereka gunakan.


Angkasa menarik Samudera dari atas meja altar dan melepaskan ikatan rantai besi tersebut.


Dalam sekejap, Angkasa membawa Samudera menyingkir dari meja altar dan menyerahkan tombak bertanduk banteng itu kepada Samudera.


Lalu Angkasa menahan serangannyang datang secara membaabi buta.


Angkasa meraih keris yang disimpannya di pinggangnya lalu menghunuskannya keatas dan merafalkan ajian segoro geni.


Ia menyalurkan ajian tersebut dan menggerakkannya dengan cepat dan berputar lalu melompat dan menyerang seluruh pasukan yang datang menyerangnya dan hawa panas yang datang dengan tiba-tiba menghanguskan pasukan tersebut.


Suara teriakan kesakitan dan jeritan yang terdengar riuh dari para siluman dan iblis yang menjadi budak bagi Nini Maru membuat suasana goa semakin tak terkendali karena tubuh mereka yang terbakar dan hangus menjadi butiran debu.


Sementara itu, Nini Maru melompat dan mengeluarkan ajian Gelap Ngampar yang bersiap untuk menghancurkan Samudera beserta Angkasa yang menjadi sosok pengkhinat pada keturunannya.


Sesaat suara gemuruh datang dan petir menyambar apa saja yang tersengar sangat mengerikan dan saling bersahutan.


Duuuuaar..


Suara petir yang saling besahutan dan seaejali terdebgar suara ledakan yang membahana hingga kedalam goa.


Samudera tampak mulai melemah, sebab racun yang mulai menggerogotinya.


Sementara itu Nini Maru menga-cungkan tangannya ke atas langit-langit goa, lalu energi petir masuk menmbus langit-langit goa dan memasuki jemari keriputnya dan dengan cepat Nini Maru mengarahakannya kepada Angkasa.


Menyadari akan bahaya, Angkasa melintangkan kerisnya didepan dada dan sambaran petir berbalik menyerang Nini Maru, yang kemudian menyambar wajahnya.


Duuuuuuuar..


Suara sambaran petir mengenai wajah Nini Maru, sehingga membuat Nink Maru terpental membentur dinding goa, lalu terjatuh ke lantai goa yang terbuat dari batuan cadas.


"Aaaaarrgh.. " suara erangan kesakitan yang sangat menyakitkannya.


Lalu dengan sempoyongan Nini Maru berusaha bangkit dan kali ini Ia berusaha kembali mmeberikan serangan gelap ngamparnya yang meskipun harus mengeluarkan energi yang yang lebih keras.


Nini Maru memutar telapak tangannya dan.mengumpulkan kembali energi petir yang masih menjadi andalannya. Setelah itu menyerang Angkasa dan menyasar pada Samudera yang kini sudah tak berdaya.


Sedangkan Angkasa merafalkan ajian segoro geninya, lalu dengan keris ditangannya Ia melesat melayang dan menghujamkannya tepat didada Nini Maru.


Tubuh iblis betina itu mengejang, lalu bergetar dengan hebat saat keris yang mengjantarkan hawa panas tersebut membakar tubuhnya hingga membuatnya menjerit dan berteriak kesakitan.


"Aaaaaarregggh.."


Teriakannya terdengar sangat menyakitkan bersama tubuhnya yang terus terbakar dan Ia tak dapat menyelamatkan dirinya.


Wajah Nini Maru berubah mengerikan saat api membakarnya. Perlahan tubuh itu menghangus dan menjadi butiran debu yang tak lagi kembali lagi.


Disatu sisi, Mirna masih membopong tubuh Samudera yang mana lengan kirinya mulai membusuk.


Perlahan Mirna merasakan naluri keibuannya semakin membesar dan tumbuh. Ia menyentuh luka tersebut, dan perlahan luka memudar dan seketika membaik lalu sembuh.


Samudera mengerjapkan kedua matanya. Ia melihat seorang wanita cantik sedang memangku kepalanya.


"Ibuu.." ucapnya lirih.


Sesaat Mirna membelai lembut ujung kepala Samudera.


Mirna belum menyadari perubahan wujudnya yang kembali seperti semula.


Dimana cinta Samudera yang rela menukar jiwanya demi Mirna karena air susu yang diberikan oleh Mirna sejak kelahirannya didunia hingga usia 2 tahun dan kasih sayangnya dalam membesarkan Samudera telah membuktikan cinta sejati Samudera yang merelakan dirinya menjadi persembahan, membuat Mirna kembali ke wujudnya semula.


Nini Maru dan rekan-rekannya telah musnah bersama dendam yang mereka bawa dalam keabadian.


"Ibuuu.." ucap Angkasa yang sedari tadi dikacangin.


Mirna menoleh ke arah Angkasa, dan bocah itu bergegas menghampiri Murna lalu mendekapnya penuh kerinduan.


Kamu akhirnya kembali, Bu. Ayo kita pulang, Ayah sudah menunggu Ibu dengan terus bertirakat memohon pertolongan sang Rabb, agar kami berhasil membawa ibu pulang.


Mirna menatap kedua puteranya. KininIa baru menyadari jika dirinya sudah kembali ke wujudnya semula.


"Baiklah.. Ayo kita kembali.. Terimakasih puteraku! Karena keberanian kalian dan cinta tulus yang kalian berikan membuat ibu dapat kembali lagi ke jalan yang benar dan berkumpul dengan kalian.." ucap Mirna penuh haru.


Ditempat lain, seorang pria yang sudah berhari-hark tidak tidur karena terus melakukan tirakat jntuk memantau ke dua puteranya yang telah membawa misi penyelamatan untuk sang istri telah bernafas lega.


Bahkan Ia tak menyangka jika kedua puteranya begitu berani menempuh bahaya dan kembalj dengan membawa ke keberhasilan.


Samudera beranjak bangkit dari pangkuan Mirna, lalu ikut mendekap wanita tersebut.


"Jangan pergi lagi, Bu, dan jangan pernah tinggalin kita!" ucap Samudera dengan penuh harap.


Mirna menganggukkan kepalanya.


"Tidak akan pernah, karena kalian adalah kekuatan untuk ibu dalam menjalani hidup ini" jawab Mirna, lalu Mirna melesat membawa kedua puteranya untuk kembali pulang ke rumah.


Bersamaan dengan keluarnya mereka dadri dalam goa, suara ledakan yang sangat dahsyat terdengar dan goa itu terbakar tak bersisa, dan runtuh rata bersama tanah. Tampak bubungan api yang berkobar menghanguskan sosok makhluk astral yang bersemayam didalam goa.


Kini Mirna dan dua puteranya telah tiba dirumah dan Satria yang juga baru saja menyelesaikan tirakatnya beranjak dari tempatnya dan memandang sang pujaan hatinya.


"Sayang.. " ucap Satria tak kuasa menahannair matanya.