
Satria menghubungi Mala Ibunya dan juga Hadi sang Adik. Namun karena Hadi
masih sibuk dan Shinta baru saja melahirkan, membuat Hadi tidak dapat menghadiri pernikahan kedua Kakaknya.
Sebenarnya Hadi merasa terkejut karena Kakaknya menelfon untuk memberi kabar jika Ia akan menikah lagi. Namun melihat kondisi Syafiyah sang kakak ipar yang lumpuh permanen, tentunya Ia memberikan toleransi atas keputusan kakaknya, apalagi pernikahan itu juga atas permintaan kakak iparnya.
Mala menyiapkan acara syukuran sederhana dan hanya memanggil tetangga sekitarnha.
Sedangkan kekuarga Syafiyah memilih untuk tidka hadir karena merasa tersinggung atas keputusan Satria yang dianggap menduakan Syafiyah.
Lisa adalah salah satu orang yang paling kecewa karena mendengar pernikahan Satria yang terbilang mendadak dan tiba-tiba.
Saat ijab kabul berkumandang dan diucapkan dengan lancar oleh Satria, lalu wali hakim mengatakan sah, dan diikuti oleh para saksi, maka seketika Pohon beringin tempat Nini Maru bertapa bergetar dan berguncang.
Pohon itu menggugurkan daunnya dan seketika Nini Maru berteriak dengan sangat keras "Mirnaaaaaa" teriaknya menggema diseluruh hutan.
Ia beranjak dari bertapanya, berdiri tegak dengan tatapan oenuh dendam dan kebencian. Gaun merahnya yang hangus terbakar membuatnya tampak semakin kacau.
"Brengsek, Kau Mirnaaa..!!" ucapnya dengan sangat penuh Amarah.
Lalu tiba-tiba sosok bayangan hitam datang menghampirinya "Bagai mana ini, Ni? "tanya sosok bayangan hitam itu.
"Berapa total organ vital yang sudah Kau dapatkan?" tanya Nini Maru dengan nada kesal.
"14 buah, Ni.." ucap Sosok bayangan hitam itu kepada Nini Maru.
"sempurnakan menjadi 40, dan Aku akan menyempurnakanmu menjadi sosok manusia seutuhnya, dan balaskan dendamku" Titah Nini Maru kepada sosok bayangan hitam itu.
"Baik, Ni.. Aku akan berusaha giat lagi" jawab Sosok bayangan hitam itu.
"Carikan Aku sosok manusia pendosa, berjenis kelamin perempuan, Aku akan menjadikan tubuhnya sebagai tempat Aku untuk mencari mangsa.." ucap Nini Maru dengan nada perintah.
"Ada, Ni.. Ia sedang berada didalam sel tahanan, bagaimana caranya untuk mengekuarkan wanita itu?" tanya sosok hitam itu dengan sangat penasaran.
"Manusia pada dasarnya bersikap tamak, dan hanya mereka yang beriman yang tidak dapat disentuh.. Maka Kamu pasti tahu cara membebaskan wanita itu" ucap Nini Maru dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Aku mengerti, Ni" ucap Sosok bayangan hitam itu dengan patuh, lalu menghilang.
Sementara itu, acara pernikahan yamg terkesan mendadak tersebut, membuat pergunjingan diwarga sekitar. Sebab mereka beberapa hari ini melihat Mirna keluar masuk rumah Staria, berbagai spekulasi beredar dengan asumsi yang beragam.
Mala mencoba menginap malam ini dirumah lamanya, kamar Hadi yang kosong menjadi tempat malam pertama untuk pasangan pengantin baru tersebut.
Syafiyah mencoba terlihat tegar. Jika rasa cemburu, tentu saja Ia memiliki rasa cemburu, namun itu harus Ia tepiskan demi kebahagiaan Satria, sebab Ia ingin menebus rasa bersalahnya terhadap suaminya.
Saat malam pertama tiba, Satria tampak keluar dari kamarnya dan menuju kamar Syafiyah.
Ia membaringkan tubuhnya ditepian ranjang dengan pakaian santainya. Syafiyah yang melihat ulah suaminya lalu menyentuh lengan suaminya.
"Mas.. Ini malam pertama pernikahanmu, mengapa Kamu tidur disini" ucap Syafiyah dengan bingung.
"Kenapa sih, Sayang? Kamu sudah tidak mencintaiku lagi, Ya..? Sampai Kamu memaksa Aku untuk menikah lagi? Bahkan sekarang kamu mengusirku dari ranjang ini" ucap Satria kesal.
Syafiyah terhenyak mendengar ucapan Suaminya "Bukannya Fiyah tidak mencintaimu, Mas.. namun Fiyah juga ingin melihat Kamu hidup bahagia. Jangan karena sibuk merawat Fiyah, Mas lupa untuk memiliki keturunan" jawab Syafiyah dengan tatapan sendu.
"Tetapi Mas menerima, Kamu apa adanya" jawab Satria bersikeras.
"Pergilah, Mas.. Temui dia.." pinta Syafiyah dengan menghiba.
Mendengar Syafiyah yang terus mengoceh membuat telinganya sangat panas. Lalu dengan langkah terpaksa Ia kembali kekamar Hadi untuk menemui Mirna.
Mala yang melihat sikap Satria terkesan acuh tak acuh terhadap Mirna merasa sangat kasihan melihat menantu keduanya itu, namun Ia tak ingin membuat keributan dimalam pertama pernikahan Satria dan juga Mirna.
Satria memasuki kamar dengan langkah malas. Lalu Ia melihat Mirna yang baru saja selesai mandi.
Ia sepertinya risih dengan riasan yang dipakainya saat akad nikah siang tadi.
Semua tamu yang hadir dalam pernikahan itu tampak berdecak kagum melihat kecantikan Mirna yang tampak begitu sangat sempurnah.
Para tamu berbisik-bisik seakan mereka melihat seorang bidadari yang turun dari khayangan. Sebab didesa sangat jarang sekali ada gadis secantik itu.
Mirna tampak santai dan tenang saat melihat Satria memandanginya. Ia berusaha Acuh sebagaimana Satria mengacuhkannya.
Satria lalu naik keranjang, dan tanpa sepatah katapun tidak ingin mengatakan sesuatu kepada Mirna.
Mirna juga tampak tak perduli dengan Satria, Ia ingin melihat seberapa jauh Satria bertahan dengan sikap angkuhnya.
Mirna menaiki ranjang, lalu tidur disisi Satria, dan mereka sama-sama terdiam.
Mirna tidur dengan posisi memunggungi Satria, lalu mencoba menahan hasrat dan geloranya yang sebenarnya tengah memuncak saat seranjang dengan pria pujaannya.
Ia merasa bagaikan bermimpi dapat menikah dengan pria itu, meskipun Ia harus bersabar untuk menunggu pria itu menerimanya dengan hati yang sesungguhnya.
Mirna menunggu saat malam pertama ini dengan cukup lama, namun Satria masih bertahan dengan prinsipnya.
Sementara itu, Satria merasakan keringat dingin saat seranjang dengan Mirna, namun Ia sudah melakukan perjanjian dengan Mirna jika Ia boleh menyentuh wanita yang kini menjadi Istrinya itu dengan cinta kasih, bukan hanya didasari oleh hasrat semata.
Keduanya sama-sama tersiksa dengan perjanjian yang mereka buat sendiri.
Akhirnya malam pertama mereka terlewat tanpa melakukan apapun.
Disisi lain. Seseorang yang menggunakan jaket hitam dan menutup wajahnya dengan jaket hoodienya dan juga memakai masker serta kacamata hitam datang kekantor polisi dengan membawa satu koper berisi uang dan berbagai permata.
Ia melakukan negosiasi dengan petugas kepolisian, dan mereka menyepakati sebuah kesepakatan dan yang sangat pelik.
Esok paginya, Petugas kepolisian membuka pintu tahanan dan mengeluarkan tahanan seorang wanita yang tak lain adalah Yanti.
Yanti merasa sangat heran namun juga merasa senang sebab Ia dapat bebas dari jerat hukum.
Tanpa Yanti ketahui, seseorang yang sangat misterius telah membebaskannya dengan memberikan uang damai kepada keluarga korban yang sebenarnya bukan Ia yang membunuh ketiga pemuda itu, namun karena idenya itu, sehingga ketiga pemuda itu mengalami nasib buruk.
Yanti keluar pagi itu juga, dan Keluarganya tengah menunggunya untuk menyambutnya.
Tampak Badu yang terlihat sangat bahagia melihat puterinya keluar dari tananan.
Yanti kembali kerumahnya dengan perasaan yang sangat bahagia sekaligus penasaran dengan siapa yang telah berbaik hati untuk membebaskannya.
Ia sangat ingin melihat siapa pahlawan untuk dirinya.
Namun Samar-samar Ia mendengar suara percakapan antara ayah dan Ibunya yang menyatakan jika Satria telah menikah dengan seorang gadis cantik yang tinggal diujung tepi hutan.