
Lisa tersentak kaget melihat penampakan yang terjadi. Ia tak menduga jika Yanti sampai sesadis itu menjadi manusia yang tidak memiliki hati nurani.
Remaja itu mergang nyawa dengan cara kebiadaban yang tak manusiawi.
Yanti memasang dupa dan mebakar kemenyan, memanggil sosok yang telah menjadi sekutunya dalam mencari kekayaan.
Seketika sosok lain datang, berupa wujud wanita berwajah setengah hancur dengan kuku runcing dan juga jemari keriput yang memanjang.
Sosok wanita dengan bergaun merah dan juga rambut panjang menjuntai datang menghampiri Yanti kini tanpa sehelai benangpun sedang mengatupkan kedua tangannya sembari membaca mantra.
Sosok itu meyesap sari sesaji dari apa yangbtealh disediakan oleh Yanti.
Lisa semakin gemetaran, Ia bahkan tak menduga jika Yanti memiliki sekutu lain yang lebih mengerikan.
"Kuntilanak merah?" guman Lisa dalam hatinya yang penuh dengan ketakutan.
Bersamaan dengan hal itu, Sosok bayangan hitam yang pernah dilihat oleh Lisa waktu itu bergumul dengan Yanti.
Lisa dipaksa menyaksikan semuanya dengan rasa takut yang teramat mengerikan.
Setelah selesai pergumulan dengan makhluk berbulu tipis itu, Yanti melakukan ritual mandi darah ayam cemani dan juga darah burung gagak yang kini baru saja diserap sarinya oleh Nini Maru.
Lisa seakan ingin muntah melihat apa yang dilakukan oleh Yanti. Bagaimana mungkin gadis itu memandikan darah kesekujur tubuhnya bahkan meminumnya sebagian. Rasa mual menyeruak diperut Lisa, dan tak sanggup untuk menyaksikannya.
Belum sempat lagi hilang rasa mualnya, Ia melihat sosok bayangan hitam itu menghabiskan daging remaja laki-laki itu dalam sekejab.
Sektika Lisa merasakan kepalanya pusing dan tak sadarkan diri.
Yanti keluar dari warungnya, dan menuju ke rumahnya.
Ia berjalan dengan begitu cepat tanpa sehelai belangpun dengan baluran darah ayam cemani dan juga darah burung gagak.
Dalam perjalanannya, Ia merasa tak sabar untuk dapat sampai dirumah yang sudah lama Ia tinggalkan.
Yanti menyelinap masuk saat pintu masih terbuka. Ia melihat Ayahnya sedang menonton televisi, sedangkan Ibunya sedang menyeduh kopi untuk ayahnya.
Selama Yanti memutuskan untuk pindah rumah sendiri, orangtuanya tak pernah lagi menjenguknya bahkan mengabaikannya.
Aroma anyir menyeruak kedalam ruangan rumah tersebut.
Ibu Yanti membawa segelas kopi untuk dihidangkan kepada ayah Yanti.
"Mereka sepertinya sudah tidak menganggapku ada, dan mereka sedang menanti kehadiran calon adikku yang sudah lama diharapkan mereka" guman Yanti dalam hatinya.
"Bang.. Koq seperti bau anyir, Ya? Anyir darah yang hampir busuk gitu" celoteh Ibu Yanti kepada suaminya.
Yanti yang mendengar percakapan itu merasa kesal, sebab mereka dapat mencium kehadirannya.
Ayah Yanti mengenduskan indera penciumannya.
"Iya.. Sepertinya ada sundel bolong yang sedang berada disekitar kita" ucap Ayah Yanti mengingatkan.
Ibu Yanti merasa was-was dan memegangi perutnya " Kamu ada bawa tangkal gak, Dik?" tanya Ayah Yanti mengingatkan.
"Ada Bang, gunting kecil besi dan juga kunyit bengle" jawab Ibu Yanti dengan cepat dan seketika bulu kuduknya meremang.
Yanti duduk menghampiri keduanya, Ia sudah tak sabar untuk mengambil calon sang adik yang kini tampak begitu manis untuk dinikmati.
Yanti menghentikan sentuhannya karena Ia tersungkur dilantai.
"Bang.. Kenapa bau anyirnya seamkin dekat sekali ya?" ucap Ibu Yanti dengan perasaan yang cemas.
Ayah Yanti semakin waspada " Coba baca ayat kursi, Dik. Biasanya kalau ada yang berniat mengganggu akan pergi, sembari perutnya diusap-usap" Ayah Yanti meyarankan, lalu menghampiri istrinya dan ikut membacakan doa-doa pengusir iblis laknat.
Yanti merasakan terusik dengan doa-doa itu, tubuhnya yang sudah di tempeli oleh Nini Maru seketika menjadi panas dingin dan meronta kepanasan, sehingga tanpa sadar menyentuh vas bunga dan membuatnya terjatuh dari atas meja.
Seketika kedua orangtua Yanti tersentak melihat vas bunga yang terjatuh dengan tiba-tiba.
"Dik.. Terus baca doa, Abang mau ambil sapu ijuk dulu, soalnya si Bejo yang di desa tegangga itu katanya dapat memukul wujud tak kasat mata itu dengan sapu ijuk" ucap Ayah Yanti dan segera beranjak dari duduknya.
Mendengar ayahnya akan mengambil sapu ijuk, Yanti bergegas bangkit dan berwnjak pergi, namun kakinya tanpa sengaja menginjak pecahan jaca dari vas bunga hingga terluka.
Darah mengucur dari telapak kakinya dan membuat memperlambat jalannya.
Yanti keluar dari pintu rumah saat melihat ayahnya membawa sapu ijuk yang akan digunakan untuk memukulnya.
Bersamaan dengan hal itu, tampak Pa Budi yang selaku ketua RT melintas dari depan rumah mereka.
"Eh Pak Budi.. Darimana?" Sapa Ayah Yanti dengan nada gelisah semabri celingukan kesana kemari.
"Baru pulang pengajian, bang. Ada apa abng kenapa seperti mencari sesuatu?" Tanya Pak Budi penasaran.
"Itu, Bang.. Makhluk yang bau anyir darah dan mengganggu wanita hamil sepertinya sedang menyatroni rumah saya, sebab Ia tadi memecahkan vas bunga dan mencoba menganggu istri saya.
Pak Budi membolakan matanya "Benarkah? Wah sepertinya desa kita sudah tidak aman lagi. Siapa yang telah menuntut ilmu hitam atau sedang menjalani ritual pesugihan?" ucap Pak Budi seeprti merasa tak nyaman.
"iya, Pak.. Sepertinha Kita harus mengadakan Ronda malam, atau anak-anak remaja itu dari pada main game online gak jelas mending diauruh jaga desa, nanti Kita gaji dengan iuran tiap bulan bagi warga" ucap Ayah Yanti menyarankan.
Pak Budi menganggukkan kepalanya "Boleh juga itu sarannya, besok siang kita kumpulkan warga untuk membahas hal ini" jawab Pak Budi lalu berpamitan dan pergi dari kediaman ruamh orangtua Yanti.
Merasa tak mendapatkan mangsa dan tumbal janin, Yanti merasa frustasi.
Ia melihat beberapa orang remaja sedang berada disebuah pos ronda. Mereka hanya bermain game online dan tampak begitu sangat antusias, sehingga salah diantaranya beranjak bangkit, mungkin merasa sesak pipis dan ingin segera menhampaikan hajatnya.
Remaja itu menuju kegelapan untuk buang air.
Yanti menghampiri sang bocah, Ia mendekati bocah itu dan menggenggam senjata milik remaja tersebut.
Merasa kaget, namun terasa seperti nikmat, remaja itu membiarkan tangan tak terlihat itu membelai senjatanya.
Melihat korbannya menurut saja, Yanti menggirinya kesebuah tempat dan Ia menggauli remaja itu dengan wujud tak terlihat, dan remaja itu seperti terhipnotis.
Hjngga akhirnya sang remaja merasakan puncak surgawinya, bergumul dengan wujud tak kasat mata.
Seketika Rey datang mencabut lato-lato sang remaja, dan terkapar didalam semak.
Setelah mendapatkan mangsa lain, Yanti mencoba mencari wanita hamil yang ada di desa ini. Tentunya wanita hamil yang sengaja tidak menginginkan calon bayinya.
"Dimana aku harus mendapatkan tumbal janin? Aku harus mendapatkannya malam ini" Yanti berguman lirih dalam hatinya.
Ia menyusuri jalanan untuk mencium aroma janin segar yang masih berada didalam rahim.