
Pagi menjelang. Sinar mentari bersinar dengan sangat cerah, berusaha menghangatkan semua makhluk dimuka bumi.
Samudera dan Angkasa sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Keduanya membuat sarapan mereka sendiri dengan hanya telur ceplok, dan ayam goreng serta tambahan saos botolan.
Keduanya selalu berboncengan kemanapun pergi. Sebab Satria hanya membelikan mereka satu motor saja. Semuanya bukan tanpa alasan, sebab Samudera dan Angkasa tidak boleh terpisah agar selalu saling melindungi.
Bahkan Samudera dan Angkasa tidak mengetahui jika Ayahnya adalah seorang pengusaha yang sangat kaya raya.
"Ayo, Kak.. Sudah siang" ucap Angkasa yang sudah berdiri diambang pintu dan sedang menunggu Samudera menggunakan sepatunya.
Samudera mempercepat mengikat tali sepatunya, dan bergegas mengunci pintu rumah, lalu beranjak naik motor dan menuju ke sekolah.
Setelah sampai disekolah. Samudera merasakan desiran angin yang berdesir begitu sangat dingin sedingin es.
Seketika bulu kuduk Samudera meremang dan mulai merasakan hawa negatif mulai berada disekitarnya. Remaja itu merasakan jika ada sosok astral yang mengikutinya sedari tadi. Angkasa sudah masuk ke dalam kelas terlebih dahulu saat Ia tadi singgah ke toilet.
Saat ini, Ia berpapasan dengan Tasya yang mengembangkan senyumnya saat bertemu dengan Samudera.
Remaja itu membalas seulas senyum tipis untuk membuat senang hati gadis yang saat ini dalam fase pemulihan pasca pelecehan yang dilakukan oleh Baron terhadapnya.
Saat Ia memasuki kelas, sosok yang mengikutinya itu seakan berhenti diambang pintu dan tidak ikut masuk sebab ada Angkasa yang menatapnya dengan tajam.
Samudera bergegas menghampiri Angkasa dan bergegas duduk disampingnya.
"Dik.. Kakak merasa jika ada sesuatu yang sedang mengikuti kakak sejak dari parkiran tadi" bisik Samudera agar tak orang lain yang mencuri dengar percakapan mereka.
Angkasa menganggukkan kepalanya. Lalu Angkasa menggenggam jemari Samudera sembari memejamkan matanya.
"Lihatlah siapa yang berada diambang pintu" ucap Angaksa kepada Kakaknya.
Samudera menoleh kearah pintu yang disebut oleh Angkasa. Dan alangkah terkejutnya Ia saat melihat sosok mengerikan sedang berdiri menatapnya dengan seringai tajam, bulu lebat dan sorit mata merah yang memancarkan kengerian.
Sanudera tersentak dan nafasnya memburu.
"Mengapa Ia bisa ikut siang-siang begini?" ucap Samudera dengan penasaran.
"Ia sedang mengincar, Kakak. Sebaiknya kakak terus membaca doa, meminta perlindungan pada sang Rabb" ucap Angkasa mengingatkan.
Tak berselang lama bel berbunyi dan para sisiwa berlari ke kelas masing-masing dan tanpa sengaja mereka menabrak tubuh para siswa, dan anehnya para siswa tidak merasakan apapun.
"Siaallan, Tuh demit.. Apa gak punya kerjaan ngikutin sampai ke sekolah?" bisik Samudera kepada Adiknya.
"Mungkin dia mau ikutan belajar, kemaren waktu masa hidupunya dia kan satu kampus dengan ayah dikedokteran, tapi gak lulus karena bego" Jawab Angkasa dengan nada hang sangat lemah.
"Koq, kamu tau, sih?" tanya Samudera penasaran.
"Ya iyalah.. Aku tau.. Aku kan cucu dukun!" jawab Angkasa sambil nyengir.
Samudera menjitak kening adiknya "Ah, Dasar kamu, aku juga cucunya kali" jawab Samudera.
Dan obroaln mereka terhenti karena guru mata pelajaran agama telah datang dan seluruh siswa diam tak bergeming menunggu materi yang akan diajarkan.
Melihat aura teduh dari guru agama tersebut, iblis berbulu yang mengikuti Sanudera sedari tadi yang tak lain adalah Rey memilih untuk pergi. Lalu guru agama tersebut memulai pelajarannya dengan berdoa terlebih dahulu.
Setelah selesai berdoa, mereka memulai pembelajarannya.
Pembelajaran telah usai. Kini pergantian mata pelajaran yang akan berganti dengan guru mata pelajaran lainnya.
Angkasa dan Samudera bergegas keluar untuk mencari keberadaan Rey yang sedari tadi mengikuti Samudera.
Kedua bocah itu bergandengan tangan agar Abgkasa dapat mentransfer mata bathinnya dan kakaknya dapat juga melihat keberadaaan syetan tersebut.
"Ngapain tu demit diparkiran?"
"Mau maling kali, curanmor!" jawab Angkasa asal.
"Ah, ngada-ngada saja, Kamu" ucap Samudera lalu mereka bergegas melangkah menuju parkiran.
Sesampainya diparkiran, tampak Rey sedang duduk disebuah sepeda motor gede milik salah seorang sisiwa dan duduk bergaya diatasnya.
Melihat kehadiran dua bocah itu, Rey menyeringai dan menghampiri keduanya.
"Eh, Demit..!! Ngapain kamu ngikutin aku terus? Dah keq pegawai renteiner saja, Kamu!!" ucap Sanudera kesal.
Rey menyeringai dengan tatapan bola mata yang sorotnya kemerahan.
"Aku akan membawamu, kamu adalah tumbal terakhir yang harus kami santab untuk memulihkan kekuatan kami" jawab Rey jujur.
"Enak, saja main bawa-bawa sembarangan!!" jawab Angkasa dengan cepat.
Rey menatap pada Angkasa yang merupakan ancaman baginya dan juga rekannya.
"Eh, Anak syetan..!! Jangan ikut campur kamu! Urus saja diri kamu!" hardik Rey kesal.
Angkasa mengerutkan keningnya dengan ucapan yang dilontarkan oleh Rey.
"Enak saja ngatain saya anak syetan..!! Kamu yang Syetan gak pernah nyadar!! Saya bukan anak syetan, tapi anak Jin yang sudah berada dijalan yang lurus!! Kita berbeda, Syetaan!!" jawab Angkasa kesal.
"Hallaaah..!! Berisik, Kamu.. Sesama anak Syetan tidak boleh saling menghujat!" jawab Rey semakin kesal.
Karena keduanya masih berdebat, Samudera diam-diam merafalkan ayat Qursi dan meraih tasbih pemberian ayahnya, lalu melemparkannya ke arah Rey, dan..
Wuuuussshh..
Taaaak...!!
"Aaaaarghh.." teriak Rey yang memegangi keningnya.
"Eh.. Sialaaan!! Nyerang gak bilang-bilang!!" teriak Rey yang merasakan benjol dikeningnya karena serangan dari Samudera yang giba-tiba saja.
Lalu Rey menggeram, dan mengeluarkan angin kencang yang membuat ke duanya terpental karena tekanan udara yang dilakukan oleh Rey begitu sangat kuat.
Keduanya menabrak dinding kelas belakang yang berhadapan dengan parkiran.
Bugggggh...
"Aaaaargggh" teriak keduanya tertahan karena takut ada yang mendengarnya.
Keduanya beranjak bangkit dengan memegangi dada mereka yang sakit.
Rey datang menghampiri dengan wajahnya yang semakin mengerikan dan kuku runcingnya hang berukuran panjang serta taring yang menyeringai.
Ia mencengkram kerah pakaian Samudera dan akan membawanya bersama, namun tiba-tiba tubuhnya merasa bagaikan tersengat aliran listrik ribuan volt dan bergetar, lalu melepaskan cengkramannya pada Samudera.
Ternyata Angkasa telah menekan punggung Rey dengan tasbih ditangannya dan tubuh Angkasa yang serasa memiliki daya aliran listrik bagi para jin, setan dan iblis yang menyentuhnya dan berniat jahat akan membauat lawannya kejang.
Seketika Rey memilih kabur dan meninggalkan parkiran.
Angkasa meraih tangan kakaknya, dan membawanya pergi dari parkiran tersebut, lalu menuju ke kekelas dan pergantian guru ada 1 menit lagi. Keduanya bergegas berlari menuju kelas dan berhasil masuk ke kelas 5 detik sebelum guru matematika itu masuk kelas lebih dahulu.
Keduanya duduk dibangku mereka dengan nafas yang tersengal karena habis berlarian dari parkiran dan juga bertarung dengan Rey yang sudah mulai memiliki kekuatan untuk kembali menganggu dua bocah itu.