
Satria tampaknya tidak shalat berjamaah ke mushallah, sebab tidak keluar dari kamar. Sepertinya ayah mereka sedang shalat berjamaah berdua saja dengan ibunya.
Lalu Angkasa dan juga Samudera pergi ke mushallah berdua dan berjalan kaki.
Tampak beberapa pohon tumbang terkena sapuan angin pu-ting beliung dan pohon rambutan tempat biasa kang Ujang mangkal berjualan bakso tampak hangus terbakar tersambar petir.
"Petir malam tadi mengerikan sekali ternyata, Ya" ujar Samudera kepada adiknya.
"Ya.. Sangat menegerikan. Yuuk.. Buruan, ntar ketinggalan shalat qobla subuh" ujar Angkasa sedkit berlari dan diikuti oleh Samudera.
Sementara itu, Nini Maru menggeram marah. Bagaimana bisa Angkasa begitu memudahnya membalaskan serangannya.
"Dasar, bocah teengil!!" umpat Nini Maru yang mengenang pertarungan bersama bocil tersebut saat malam tadi.
"Sepertinya kita harus mencari yang terlemah, Ni" ucap Ki Kliwon menyarankan.
Nini Maru menoleh ke arah Ki Kliwon. "Maksudnya, Ki?"
"Apakah kau lupa jika ada keturunan Ki Karso yang lain yang sangat lemah?" ucap Ki Kliwon mencoba mengingatkan Nini Maru yang tampaknya mulai pikun.
"Siapa, Ki?"
"Kamu ini ,Ni.. Umur masih ratusan tahun saja sudah pikun, gimana kalau ribuan tahun?" ucap Ki Kliwon geram.
"Aku benar--benar gak ngerti, Ki" jawab Nini Maru dengan cepat.
Ki Kliwom memasang wajah jelek yang menanmbah jeleknya semakin bertambah.
"Hadi, Ni.! Hadi adik satu-satunya Satria yang berada dikota dan mengurus bisnis Satria. Mungkin kita memulainya dari sana" ucap Ki Kliwon mengingatkan..
Seketika wajah Nini Maru berubah cerah. Ia begitu cerobohnya telah melupakan keturunan Ki Karso yang satu itu. Bagaimanapun itu adalah keturunan Ki Karso meskipun tidak berpengaruh atas kehancurannya, namun Hadi tetaplah garis keturunan Ki Karso yang harus dimusnahkan.
"Ya.. Aku batu faham.. Kita hancurkan dari yang terlemah dahulu" ucap Mini Maru menyetujui. Lalu mereka sepakat untuk menuju kerumah Hadi yang berada dikota.
Hadi memiliki seorang puteri yang sekarang sedang berkuliah di negeri Jepang sembari mengurus perusahaan Satria yang diwariskan Kakeknya yang bernama Rakes dari Almarhum orang tua angkat Jayanti dan Bram, yang mana saat Itu kedua orangtuanya menculik Satria dari kandungan Mala dengan cara Pujon atau transfer janin melalaui ilmu ghaib.
Namun nasib berkata lain, niat Ki Kliwon yang ingin mencelakai Satria agar Mala tidak memiliki keturunan, justru Pujon tersebut menyelamatkan Satria dan dibesarkan oleh orangtua angkat yang menculiknya dari kandungan Ibunya menjadikannya seorang pewaris tunggal yang kaya raya dan memiliki ilmu kanuragan warisan dari orangtuanya yang terpilih yang beeadal dari ayahnya.
******
Siang ini Hadi akan berangkat mengadakan pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya yang akan melakukan kerjasama proyek mereka.
Selama dalam ke pemimpinan Hadi, Perusahaan Satria berkembang pesat. Selain amanah yang dipikul oleh Hadi, Ia juga sangat jujur dan kompeten, sehingga Satria mempercayakannya kepada adik kandungnya.
"Sayang, Abang berangkat dulu, Ya.." ucap Hadi kepada Shinta yang saat ini sedang sibuk membersihkan kamar.
Mereka sudah memiliki rumah sendiri, sebab Satria sering juga datang ke kota membantu pekerjaannya dan rumah peninggalan almarhum orangtua angkatnya yang diwariskan kepada Satria dan dulunya ditempati Satria, kini sering ditempati Kakaknya bersama iparnya Mirna.
Maka Hadi berinisiatif untuk membeli rumah sendiri.
"Hati-hati ya, Sayang" ucap Shinta, lalu menyalim tangan suaminya.
Hadi lalu berpamitan dan beranjak pergi menuju lokasi tempat mereka akan melakukan meeting.
Shinta melanjutkan pekerjaannya membersihkan kamarnya.
Meskipun Ia memiliki asisten rumah tangga, namun jika urusan kamar, maka Shinta yang akan mengurusnya sendiri.
Shinta mengganti sprei dan menata ranjangnya dengan rapi.
Shinta merasakan bulu kuduknya meremang dan aroma kembang kenanga menyeruak diruang kamarnya.
Seketika Ia teringat beberapa belas tahun yang lalu jika itu adalah tanda-tanda kehadiran sosok yang hampir merenggut nyawanya.
Shinta tersentak kaget. Mengapa makhluk yang sudah lama tidak muncul, kini kembali lagi melakukan teror yang membuat Shinta merasakn sangat was-was.
Praaaank...
Suara kaca pecah yang berasal dari cermin yang meja rias milik Shinta yang berantakan.
Shinta tersentak kaget karena suara pecahan cermin tersebut.
Berusaha melihat tiba-tiba pecahan cermin tersebut terangkat ke atas dan pecahan yang berbentuk runcing tampak akan menyerangnya.
Shinta membolakan matanya dan Ia berusaha untuk membuka pintu kamar yang terkunci namun tak dapat dibuka.
Shinta membolakan matanya saat melihat pecahan cermin yang runcing itu melesat menuju ke arahnya.
Wuuuuuussshh...ssstt..
Dengan cepat Shinta menghindar dan berlari ke sisi kiri sehingga pecahan itu menancap dipintu.
Nafas Shinta tersengal karena kaget dan juga ketakutan yang menjadi satu.
"Ia berusaha untuk membuka pintu dan terus berdoa agar pintu dapat terbuka, dan beruntung pintu itu terbuka, lalu Shinta berlari keluar dan menuju ke arah anak tangga.
Tampak pecahan cermin kembali melesat mengejarnya, karena panik, Shinta menabrak pagar pembatas lantai dua dan tubuhnya melayang jatuh kebawah lantai dasar, dan sebagian pecahan cermin menancap diperutnya dan..
"Aaaaaasrrggh..
Teriakan Shinta menggema diruangan rumahnya. Lalu..
Wuuuuuusssh..
Sesosok bayangan melesat menagkap tubuh Shinta dan membawanya mendarat ke lantai dasar dengan aman, lalu membaringkannya ke sofa.
Darah mengucur dari perutnya yang terluka tancapan pecahan cermin dan sosok itu melesat menuju lantai dua dan mengejar sosok yang telah mencoba mencelakai Shinta.
Asisten rumah tangga yang mendengar suara teriakan majikannya berlari melihat apa yang terjadi. Saat melihat majikannya terluka parah dan terkapar.
Asisiten rumah tangga yang melihat kejadian itu langsung memanggil tukang kebun dan meminta kepada tukang kebun untuk membawa Shinta ke rumah sakit.
Asisiten rumah tangga itu mencoba menghubungi Hadi suami majikannya untuk memberikan kabar jika nyonya mereka mengalami kecelakaan yang belum diketahui penyebabnya karena tiba-tiba terluka dan terbaring disofa.
Namun Hadi tidak dapat dihubungi karena phonselnya di nonaktifkan sebab Ia sedang melakukan meeting.
Sementara itu Shinta sudah memasuki rumah sakit dan mendapatkan penanganan yang intensif.
Petugas medis mencoba mengeluarkan pecahan cermin tersebut dan luka itu tampak begitu menganga.
Lalu kemudian menjahitnya, tampak lambung Shinta sedikit tergores dan telah mendapatkan penanganan yang benar.
Sedangkan asisiten rumah tangga melaporkan kejadian tersebut kepihak kepolisian, sebab mereka melihat kamar milik majikannya berantakan dan ditemukan cermin oecah berserakan dilantai dan tampak beberapa pecahannya menancap dipintu kamar.
Laporan tersebut sedang ditangani dan dilakukan olah tempat kejadian perkara. Namjn saat ini Shinta belum dapat dimintai keterangan karena sedang trauma atas kejadian tersebut, dan polisi menunda untuk menginterogasinya.
Sedangkan sosok yang menyerang Shinta melarikan diri setelah dikejar sosok yang menyelamatkan Shinta.