
Mirna sudah tampak bersih dan juga wangi. Seperti biasanya, Ia mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri.
Hal tersebut yang membuat Satria semakin hari semakin cinta dan membuatnya semakin tak ingin jauh dari istri mudanya itu.
Setiap pagi sarapan sudah tersedia dan rumah juga tertata rapih dan bersih.
Satria menyantab sarapannya sembari ditemani oleh Mirna yang kini terus menatapnya.
Setelah selesai dengan sarapannya, Satria mengampiri Syafiyah dan melakukan tugasnya untuk memandikan dan juga menyuapi istri pertamanya itu.
Saat ini Mirna teringat jika kebutuhan dapurnya hampir menipis dan Ia perlu berbelanja untuk masak siang ini.
Mirna mengetuk pintu kamar Syafiyah.
Tok..tok..tok..
"Masuk" jawab Satria dari dalam kamarnya.
Mirna membuka pintu kamar itu, dan melihat jika Satria sedang menyalin pakaian Syafiyah.
Terlihat jelas bagaiamana Syafiyah tanpa busana dan Satri sedang memakaikan underware kepada Syafiyah.
Mirna hanya tersenyum melihat semuanya.
"Ada apa, Sayang" tanya Satria kepada Mirna, yang terdengar sangat menusuk ditelinga Syafiyah.
"Belanja untuk siang ini sudah habis, Mas. Sepertinya perlu untuk berbelanja stok seminggu" ucap Mirna dengan sangat hati-hati.
Satria menganggukkan kepalanya " Sebentar, Ya" ucap Satria lalu mengaitkan pengait bra Syafiyah, dan merogoh saku celananya untuk mengambil dompet.
Satria memberikan uang lembaran seratus ribu rupiah sebanyak 6 lembar "Berbelanjalah, jika kurang nanti Mas tambahi.." ucap Satria menjelaskan.
Mirna menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk pergi ke toko sembako milik pak Joko.
Saat Ia keluar dari pintu rumah, sekelebat bayangan hitam melintasinya. Mirna terdiam dan berhenti sejenak. Bayangan hitam itu kembali berkelebat dan Mirna tersenyum tipis.
Dengan cepat Ia menarik selendang yang menggantung di lehernya.
Dengan gerakan cepat Ia melemparkan selendang itu kearah kelebatan bayangan yang melintas.
Braaaaak..
Suara hempasan sesosok tak terlihat disebatang pohon pisang. Pohon itu roboh seketika, jika mata awam melihatnya maka tidak akan ada terjadi sesuatu, namun bagi Mirna, sosok itu adalah Rey yang sedang terluka karena terkena hempasan selendang milik Mirna.
Wujud Rey menunggu penyempurnaan untuk kembali lagi dalam wujud aslinya.
Ia menginginkan Mirna, namun tampaknya Mirna tengah menjalani proses pembuahan dalam rahimnya, Ia menggagalkan pembuahan tersebut yang kini sudah dalam bentuk zigot.
Suara teriakan itu terdengar oleh Satria, Ia menghentikan pekerjaannya, lalu bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Sesampainya diluar rumah, Satria melihat sosok Rey dalam kondisi terluka sedang berada dibawah pohon pisang.
Melihat kehadiran Satria, Rey menghilang dengan segera.
Melihat hal tersebut, Satria meminta Mirna untuk masuk kedalam rumah. "Masuklah.. Biar Mas yang berbelanja" titah Satria.
"Ini uangnya, Mas" ucap Mirna sembari menyerahkan uang tersebut kepada Satria.
"Pegang saja, mana tahu ada keperluan mendadak kamu tidak perlu mencari Mas" ucap Satria, lalu menuju garasi mobilnya.
"Oh, Ya.. Tolong selesaikan pakaian Syafiyah, Ya Sayang, dan jangan keluar dari pintu sebelum Mas kembali" titah Satria kepada Mirna.
Lalu Mirna menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam rumah semabri mengunci pintu.
Satria mengemudikan mobilnya menuju toko milik pak Joko. Ia akan membeli beberapa kebutuhan pokok mereka dan stok persediaan lainnya.
Mirna melihat Syafiya memandangnya dengan tatapan cemburu.
Mirna menghampiri Syafiyah, lalu memakaikan pakaian Syafiyah yang belum selesai.
"Kamu apakan Mas Satria, sehingga setiap malam harus singgah dikamarmu hingga larut malam, dan kembali kekamar ini setelah aku terlelap" ucap Syafiyah dengan nada sindiran.
Mirna tersenyum tipis "Hanya melayani kebutuhannya, dan memenuhi semua keiinginan seorang suami, agar Ia betah dirumah" jawab Mirna dengan tenang.
"Kamu jangan merasa menang dalam hal ini..! Ingat, tanpa Aku, kamu itu tidak akan pernah menikah dengan Mas Satria" ucap Sayafiyah dengan nada ketus.
Mirna menganggukkan kepalanya "Iya, Mbak.. Saya akan selalu ingat, dan Mbak juga harus ingat sebagai istri harus melayani suami dengan baik, agar suami juga semakin sayang, Mbak" ucap Mirna yang sudah menyelesaikan memakaikan pakaian Syafiyah.
Syafiyah membolakan matanya "Berani-beraninya Kamu mengajari saya tentang menyenangkan suami, jangan sok pintar Kamu!!" hardik Shafiyah dengan kesal.
Mirna merundukkan kepalanya, lalu ingin memilih untuk pergi.
"Tunggu, serahkan kepada saya uang pemberian Mas Satria tadi, bukankah Kamu tidak jadi berbelanja" ucap Syafiyah dengan kesal.
Mirna menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan melangkah mengahmpiri Syafiyah.
Ia mengeluarkan uang pemberian Satria, dan dengan jarak satu meter, Mirna menjulurkan uang tersebut kepada Sayafiyah.
Dengan refleks Syafiyah meraih uang itu, namun karena tidak sampai, Ia tanpa sadar bangkit dan beranjak dari ranjang untuk menggapai uang itu.
Dengan cepat Mirna menaikkan tangannya yang memegang uang tersebut ketas kepalanya, sehingga Syafiyah terpaksa berjinjit.
Mirna tersenyum melihat kelakuan Syafiyah. Lalu terdengar pintu kamar dibuka, dqn Mirna menangkap tubuh Syafiyah seolah sedang mengajari Syafiyah berjalan.
Satria menatap keduanya "Maaf, Mas.. Tadi Mbak Syafiyah bosan tiduran terus, jadi meminta untuk untuk dilatih berdiri" jawab Mirna cepat, dan membopong tubuh Syafiyah kembali keranjang, dan meletakkannya dengan sangat pelan.
Syafiyah belum sempat berkata apapun, dan Mirna menyelipkan uang yang diminta Syafiyah ketelepak tangan Syafiyah dengan tatapan tanpa ekspresi, lalu meninggalkan Syafiyah yang masih terdiam dalam kepanikan.
Hampir saja Ia ketahuan berbohong jika masih lumpuh, namun Ia bingung sepertinya Mirna mengetahui kebohongannya dan sengaja berpura-pura tidak tahu.
Bahkan tadi Ia sengaja menutupinya dari Satria.
Mirna menghampir Satria, lalu mengambil belanjaan dapur yang masih dipegang Satria dalam kantong kresek.
"Mas minta diamsakin apa siang ini?" ucap Mirna dengan begitu sangat lembut.
"Ikan bakar sambal terasi, dan sayurannya direbus saja" ucap Satria dengan nada yang begitu terlihat senang.
"Baik, Mas.. Mirna akan buatkan" jawab Mirna dengan patuh.
Syafiyah memandangi keduanya. Mungkin benar yang dikatakan Mirna padanya, jika Ia tidak pernah melayani Satria dengan benar. Namun bagaimana Ia dapat menyediakan hidangan yang lezat, sedangkan Ia tidak pandai dan tidak pernah memasak sama sekali.
Sepertinya Syafiyah harus mulai bersaing dengan Mirna untuk merebut kembali hati Satria seutuhnya atau Ia memilih berpura-pura untuk terus mendapat perhatian sang suami.
Mirna keluar dari kamar Syafiyah, melangkah ke dapur untuk memasak pesanan Satria.
Satria memandang kearah Syafiyah, lalu Ia melihat apa yang digenggaman Syafiyah. Itu adalah uang pemberiannya kepada Mirna barusan, namun Satria berpura-pura tidak mengetahuinya.
Satria menuju dapur, lalu menghampiri Mirna yang tampak lihai membersihkan ikan nila yang akan dibakar dengan bumbu racikannya.
Satria mendekap Mirna dari arah belakang, merengkuh pinggang Mirna dan mengecup lembut pipi wanita itu.
Sepertinya Satria mulai pandai bersikap romantis dengan belajar secara tidak langsung kepada Bayu sang ayah tirinya saat kepergok sedang bersikap romantis kepada Mala, ibunya.
"Ini uang sebagai pengganti yang diminta Syafiyah darimu" bisik Satria sembari menyelipkan uang satu juta rupiah kedalam bra Mirna, dan sedikit nakal meremas gundukan kenyal selalu membuat Satria merasa candu.
"Tidak usah diganti, Mas.. Mungkin mbal Syafiyahnya juga butuh" ucap Mirna sembari menggeliat.
Satria tidak menyahutinya, hanya saja saat ini gairahnya kembali terbakar. Lalu meletakkan pisau yang dipegang Mirna dan mencuci tangan Mirna, serta menggiringnya kedalam kamar.