MIRNA

MIRNA
Episode 89



Malam telah menjelma. Kegelapan kian menyelimuti langit kelam.


Suara nyanyian jangkrik menemani malam ini, tak ada dentuman musik yang memekakkan telinga.


Yanti terbangun dari lelap tidurnya. Ia melihat sekelilingnya. Waktu menunjukkan pukul 11 malam.


Yanti tersentak kaget, karena Ia tak melihat keempat remaja yang diandalkannya untuk mencari sumber keuangannya.


Bahkan Yanti tak melihat satu pelangganpun yang datang ke warungnya.


Yanti merasa bingung dengan apa yang sedang dialaminya.


"Mengapa pelangganku tidak ada satupun yang datang? Dan kemana keempat para remaja itu? Mengapa tidak datang malam ini?" Yanti terus mencecar dirinya sendirinya dengan berbagai pertanyaan.


Yanti beranjak bangkit dari tidurnya, Ia menuju kamar dan mencari phonselnya.


Ia menelefon Tia salah seorang remaja tersebut.


"Hallo, Tia. Kenapa kalian tidak ada yang datang bekerja malam ini?" Tanya Yanti dengan nada suara kesal.


"Kami tadi sudah datang, Mbak.. tapi warungnya tutup dan terlihat gelap, lalu kami telefon mbaknya tetapi tidak diangkat, kami kira Mbaknya pergi, ya Kami pulang lagi" jawab Tia dari seberang telefon.


Seketika Yanti mencoba keluar Melihat warungnya. Ia melihat jika warungnya tampak buka dan lampu juga hidup terang benderang, sebab Ia tidak mematikan lampunya sedari malam tadi.


Lalu mengapa mereka mengatakan jika warungnya tutup? Yanti merasa bingung dan Ia masuk kembali kedalam warung "Eh.. Tia, jangan alasan, Ya. Warung buka sedari pagi tadi, dan lampu juga hidup" sergah Yanti dengan kesal.


Namun Tia bersikeras jika warung Yanti tadi terlihat tutup. Karena tak ingin berdebat, akhirnya Tia memutuskan sambungan telefon dan menonaktifkan phonselnya, sehingga Yanti tak dapat lagi menghubunginya.


Yanti semakin kesal, sebab Ia tak mendapatkan pemasukan malam ini, sedangkan Ia pagi tadi baru saja kehilangan harta bendanya.


Saat Yanti dalam kegalauan, tiba-tiba sekelebat bayangan melintas dari hadapannya. Saat Ia menolehkan wajahnya, tampak sosok Nini Maru melekat di ditembok, lalu melompat menerkam Yanti yang masih berdiri terpaku menatapnya.


Seketika Yanti tersungkur dilantai dan Nini Maru menatapnya tajam.


"Ini belum seberapa? Jika Kau tak mampu mencarikanku tumbal janin, maka aku akan mencabut segala apa yang sudah aku berikan kepadamu" ucap Nini Maru dengan sorot mata tajam.


Yanti merasa bergetar, Ia tidak menduga jika bersekutu dengan iblis itu sangatlah rumit.


Seketika Yanti tersungkur dilantai dan Nini Maru menatapnya tajam.


"Ini belum seberapa? Jika Kau tak mampu mencarikanku tumbal janin, maka aku akan mencabut segala apa yang sudah aku berikan kepadamu" ucap Nini Maru dengan sorot mata tajam.


Yanti merasa bergetar, Ia tidak menduga jika bersekutu dengan iblis itu sangatlah rumit.


"Carikan segera tumbal janin untukku, maka akan aku kembalikan kekayaanmu yang telah hilang" ucap Nini Maru dengan nada penuh ancaman.


Yanti menganggukkan kepalanya dengan tubuh gemetar dan wajah memucat.


Seketika Nini Maru menghilang dan meninggalkan suara tawa yang sangat menakutkan.


Yanti berfikir keras, siapa yang harus ditumbalkannya? Dan siapa warga yang saat ini sedang mengandung?


Yanti terus berfikir, dan andai Lisa yang ditumbalkan, janinnya masih sangat kecil sekali, itu tidak akan memuaskan Nini Maru dan jumlah emas yang didapatnya juga tidak seberapa nantinya.


Sementara itu, Lela yang kini sedang menjaga warungnya mendapat pelanggan yang lumayan ramai.


Ternyata persekutuannya dengan genderuwo dalam wujud kakek Nugroho membuat warungnya mulai ramai, meskipun Lela hanya mengandalkan Wifi gratis.


Berbanding dengan Yanti, Lela hanya bersekutu dengan genderuwo, sehingga hanya genderuwo itu saja yang boleh menikmati tubuh Lela.


Yanti berjalan menuju dapurnya, ia mendengar suara rintihan dari Lisa yang tampaknya sudah sangat kelaparan. Yanti segera membuka pintu kamar, dan Ia beru teringat jika Ia tadi tertidur lupa untuk memberi makan kepada Lisa.


karena dikurung didalam kamar pengap dan berdampingan dengan tulang belulang manusia yang sangat membuatnya frustasi. Ditambah lagi dengan rasa lapar yang menderanya, membuat Lisa linglung dan seperti depresi.


Yanti memberi makan Lisa, sebab Ia menganggap jika Lisa merupakan sumber kekayaannya jika sampai dapat memberikan janin kepadanya.


Namun malam ini, Ia harus mencari tumbal dan sedangkan Ia tidak mendapatkan calonnya. Yanti juganharus mencari korban pria sebagai persembahan kepada Rey yang juga membutuhkan lato-lato untuk menambah penyempurnaannya agar dapat mengawini Mirna.


Tiba-tiba Yanti teringat akan seseorang. "Ibu.. Ya Ibukan sedang mengandung, dan sekarang kandungan ibu sudah 4 bulan. Mengapa Aku tidak ingat jika Ibu sedang mengandung?" guman Yanti lirih dengan senyum menyeringai.


Yanti tidak perduli jika Ia akan mengorbankan calon adiknya. Baginya yang penting Ia mendapatkan calon tumbal untuk kekayaannya.


"Esok aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Aku harus menghubungi Ki Brewok untuk mempersiapkan sesaji darah ayam cemani dan juga burung gagak lengkap dengan kembang tujuh rupa" guman Yanti sumringah.


Selain itu, Yanti juga harus mencari korban pria yang akan dikorbankan lato-latonya.


Kini Yanti sudah merancang apa saja yang akan dilakukannya untuk esok hari.


Pagi menjelang dan mentari sedang bersinar dengan cerahnya.


Yanti terbangun dari tidurnya. Ia bersiap untuk pergi menemui Ki Brewok dan membeli semua persiapan yang dibutuhkannya.


"Ki Brewok ini pakai minta dijemput segala semua persiapannya. Bukankah setiap saat Dia yang mengantarkan sesaji itu? Bikin repot Aku saja. Mana warung juga harus dibuka" Yanti menggerutu dengan kesal.


Yanti menaiki mobilnya, Ia masih meeasa beruntung sebab perampok itu tidak membawa mobilnya.


Yanti melajukan mobilnya dan menuju alamat Ki Brewok setelah melakukan pencarian melalui google maps.


Sedikit kesulitan karena alamat tersebut sangat terpencil.


Hutan dikanan kiri jalan menjadi pemandangan sepanjang jauh mata memandang.


jalanan yang masih sangat belum tersentuh pembangunan membuat begitu sangat menambah aura yang begitu menyeramkan, namun bagi Yanti hal biasa, sebab itu sudah menjadi hal biasa Ia lihat, karena persekutuannay dengan dengan Nini Maru dapat melihat wujud makhluk tak kasat mata.


Yanti terus menyusuri hutan dan akhirnya menemukan rumah Ki Brewok.


Pria itu sudah menunggu lama kedatangan Yanti.


Ayam cemani dan juga burung gagak sudah dipersiapkannya.


Kembang tujuh rupa, jeruk purut, dan lainnya sudah dipersiapkan oleh Ki Brewok.


"Selamat datang, Mbak" sapa Ki Brewok dengan antusias.


Yanti hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan Ki Brewok.


"Masuklah dulu, Mbak..pasti perjalanan yang sangat melelahkan. " ucap Ki Brewok basa-basi.


Yanti menganggukkan kepalanya, Ia melihat jika Ki Brewok tinggal berdua saja bersama anak lelakinya yang berusia sekitar 25 tahun.


Ia tidak tahu kemana istri dan anaknya yang lain.


"Istri Ki Brewok kemana Ki?" tanya Yanti dengan penuh selidik.


"Istri Saya baru 4 bulan yang lalu meninghal dunia" jawab pria berusia 40-an tahun itu.


Yanti hanya menganghukkan kepalanya, lalu mengikuti arah Ki Brewok masuk kedalam rumah..