
Yanti masih belum menemukan gaun untuk menutupi tubuhnya. Ia merasa dua bocah itu sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin seusia mereka mengerjain Nini Maru sekelas iblis yang yang ditakuti oleh manusia, namun mereka seperti tidak ada takut-takutnya.
"Ni.. Bagaimana ini? Masa iya aku tidak memiliki gaun? Mana sebagian tubuhku hangus lagi" protes Yanti yang saat ini sedang duduk bersila dibawah pohon beringin.
"Ntar malam kita akan mencari gaun untukmu, mungkin saja ada kuntilanak putih yang bisa dirampok gaunnya" jawab Nini Maru dari dalam tubuh Yanti.
Yanti mendenguskan nafasnya dengan sangat kesal "Makanya Nini jangan nekad buat dekatin bocahbitu sebelum Nini dapat menyempurnakan tumbal janim yang tersisa 8 lagi" Yanti mencoba mengingatkan dengan nada yang sangat kesal.
"Aku hanya ingin cucuku itu menjadi pengikutku, bukan yang berbalik menyerangku.. Ini semua karena Mirna terlalu mudahnya jatuh cinta dengan Satria" Nini Maru menggerutu.
Yanti seketika terdiam mendengar ucapan Nini Maru. Ia begitu bergetar hatinya saat nama pria itu disebut dihadapannya.
"Wajarlah, Ni.. Aku sendiri saja tidak tahan dengan godaan saat berhadapan dengannya, apalagi Mirna.." jawab Yanti yang saat ini sedang membayangkan wajah Satria.
Seketika Nini Maru semakin kesal "Dasar jaalang..!! Apakah Kau tak bisa menyingkirkan bayangan mesuummu itu dari benakmu, dan itu menganggangguku" ucap Nini Maru dengan sangat penuh amarah.
Yanti merasa Nini Maru terlalu mengaturnya, dan itu membuatnya semakin sangat bertentangan pendapat dengan Nini Maru.
"Membayangkan wajahnya saja tidak boleh, mengapa Kau begitu sangat sensitif.. Jangankan Mirna.. Aku sendiri saja mengakui jika Satria benar tampan dan juga perkasa, aku begitu sangat menginginkannya, namun anakmu yang beruntung mendapatkannya" sergah Yanti.
Nini Maru semakin terlihat menggerutu dengan ucapan Yanti "Kamu ini, itu bukan keberuntungan bagi Mirna.. Tapi kesialan, sebab semakin lama sari tubuh Satria tertanam ditubuhnya, maka semakin membuat Mirna kehilangan nilai-nilai iblisnya dan membuatnya menjadi manusia seutuhnya" jawab Nini Maru yang semakin lama melihat Mirna akan kehilangan pengaruh aura kegelapan dalam dirinya.
Jika pengaruh hilang seutuhnya, Mirna akan kehilangan kekuatannya dan menjadi manusia biasa, dan hal itu akan membuat Mirna tidak akan dapat dibawanya lagi ke alam kegelapan.
Sementara itu, kekuatan yang dimiliki oleh Mirna telah mengalir dalam tubuh Angkasa dalam tingkat kemurnian yang masih dalam tahap awal, namun karena bercampur dengan kekuatan Satria, membuat Angkasa semakin cepat dalam tahap yang tidak disangka sama sekali oleh Nini Maru.
Oleh sebab itu, jika tubuh Angkasa tersentuh olehnya, maka Ia akan merasakan seolah tersengat aliran listrik ribuan volt.
Malam menjelang.. Kegelapan kian mencekam, penuh dengan keheningan. Dinginnya udara malam membuat insan memilih untuk tetap berada dirumah.
Kedua bocah itu sudah tertidur dengan lelapnya. Mirna membuka pintu kamar puteranya, lalu masuk kedalamnya dan mengahampiri kedua bocah laki-laki yang wajahnya hampir mirip dengan kulit berwana putih bening sepertinya.
Ia menatap kedua bocah yang sedang tertidur lelap itu. Ia duduk bersila, lalu mengatupkan kedua tangan didepan dadanya, dan memejamkan kedua matanya. Ia mengosongkan fikirannya dan menuju sebuah kemurniannya.
Sesaat tubunya memendarkan cahaya keperakan dan Ia menggerakkan kedua tangannya dengan sangat cepat membuat gerakan memutar, lalu menekan ibu jari kaki bagian kanan kedua puteranya.
Sepertinya Ia tidak ingin hanya melindungi Angkasa saja, namun Ia juga harus melindungi Samudera sang anak susuannya yang telah dibesarkannya dengan cinta kasih.
Mirna ingin membagi kekuatannya kepada kedua bocah itu, dan tentunya hal itu tidak pernah terfikirkan oleh Nini Maru sebelumnya.
Tubuh wanita cantik itu bergetar hebat dan cahaya keperakan itu terus mengalir masuk kedalam tubuh kedua puteranya.
Seemntara itu, Satria tersentak mendapati Mirna tak lagi dikamarnya. Ia merasakan sebuah hawa murni berada ruangan kamar puteranya.
Satria segera bergegas keluar dari kamarnya dan membuka pintu kamar dengan cepat.
Tampak Mirna sedang menyalurkan hawa murni untuk kedua puteranya, sedangkan Ia sudah terlihat sangat lemah.
Satria segera bergegas menghampiri Mirna yang akhirnya terkulai tak berdaya dan limbung kebelakang.
"Sayang.. Mengapa Kau mengorbankan dirimu.. Ini terlalu dini buat mereka" bisik Satria dengan lirih.
Mirna hanya dapat mengerjapkan kedua matanyanya dengan lemah, Ia begitu sangat menguras energinya.
Satria membawa tubuh Mirna kedalam kamarnya. Ia harus segera menyelamatkan Mirna dan memberikan energi untuknya.
Satria memagut bibir lembut itu, memancing reaksi aliran darah Mirna yang sempat melemah, sentuhan lembut demi sentuhan untuk membakar hasrat sang hasrat sang istri.
Mirna kembali membuka kedua matanya. Tubuhnya yang melemah perlahan bagaikan sebuah balon kempis yang ditiup angin dan kini mulai bergerak naik.
Sari madu milik suaminya akan membantunya kembali mendapatkan energinya yang sempat hilang, Ia harus segera mendapatkannya.
Cumbuan Satria ternyata mampu kembali membuatnya terbakar dan saat ini Ia menginginkannya.
Melihat Mirna kembali bergerak dan menyambutnya, Satria dengan cepat menyerahkan sari madu kedalam inti tubuh sang istri. Pelepasan pertama membuat wajah pucat itu kembali teraliri darah yang membuatnya kembali cerah, dan hingga akhirnya Satria memberikan sari madunya untuk yang ketiga kalinya, dan Mirna kembali normal.
Keduanya saling berdekapan dan seolah tak ingin terpisahkan.
Disisi lain, Yanti menyusuri kegelapan malam untuk mencari gaun yang akan menutupi tubuh hangusnya.
Saat itu Rey sedang berkeliaran mengintai Dino yang saat ini sedang berduaan bersama janda yang akan menjadi calon istrinya tersebut.
Melihat kehadiran Yanti, Rey sangat terkejut dengan kehadiran wanita yang kini sudah kehilangan kecantikannya itu.
"Kamu ngagetin saja" omel Rey yang masih yerus mengawasi Dino dan sang janda yang tampak sangat kasmaran.
"Kamu ngapain disini?" tanya Yanti penasaran.
Rey menunjuk ke arah Dino dengan seorang wanita muda berada diteras rumah Didi.
"Itu.. Lagi ngawasi dua sejoli yang lagi kasmaran, mau beri semangat agar berbuat maksiat biar dapat tumbal lato-lato" ucap Rey dari balik kegelapan malam.
Yanti mengerutkan keningnya "Jika berhasil, janin dalam kandungannya milikku" ucap Yanti dengan penuh seringai.
"Aman itu.. Kita kan sudah sepakat untuk saling berbagi" jawab Rey dengan senyum sumringah.
Yanti menganggukan kepalanya "Baiklah.. Aku pergi dulu" ucap Yanti.
"Mau kemana?" tanya Rey penasaran.
Yanti menghela nafasnya dengan berat "Mencari gaun untukku" ucap Yanti berjalan tan menggunakan sehelai benangpun.
Rey meruncingkan bibinya "Ya sudah sana.. Soalnya Kau terlihat sangat jelek tanpa gaun" jawab Rey mencibir.
"Sialaan, Kau..!!" maki Yanti kesal, lalu memilih pergi untuk mencari kuntilanak putih dan melakukan perampokan gaun.
Namun sedari tadi Ia berkeliaran dikegelapan malam, namun tak satupun kuntilanak putih yang tampak melintas dihadapannya, sepertinya mereka telah mengetahui kabar jika Ia telah kehilangan gaunnya karena dikerjain oleh dua bocah laki-laki, sehingga para kuntilanak pjtih memilih untuk bersembunyi saat ini.