
Pihak kepolisian semakin bingung dengan semua kejadian demi kejadian yang terus melanda desa tersebut. Dimana semua korban yang meninggal selalu kehilangan organ vitalnya.
Selain itu, setiap dari korban tersebut adalah pelaku kemaksiatan.
Setelah melakukan visum, hal yang sama dengan kasus lain sebelumnya Ialah mereka meregang nyawa setelah merasakan puncak surgawinya dan berakhir dengan ke neraka.
Dijasad Jali ada dua sidik jari yang ditemukan, yaitu sidik jari milik Rina dan juga sidik Jari milik Yanti, begitu juga halnya dengan yang berada di kerangka tubuh Rini, ada ditemukan 3 sidik jari milik 3 remaja puteri dan juga sidik jari Yanti.
Setiap jasad yang tewas mengenaskan selalu ditemukan sidik jari Yanti menjadi sesuatu hang sangat misterius.
Sementara saat ini Yanti masih dalam misteri dimana keberadaannya, dan begitu juga Kakek Nugroho yang menghilang begitu saja.
Rina dan juga wanita muda itu kini menjadi buronan untuk dimintai keterangannya, dan jika terbukti melakukan pembunuhan, maka akan dijadikan statusnya sebagai tersangka.
Kematian Jali dan kehilangan organ vitalnya kembali merebak dimasyarakat. Warga diwanti-wahti agar tidak lagi berbuat kemaksiatan, karena pelaku mengincar para pelaku kemaksiatan, namun sepertinya mereka tidak mengindahkan peringatan tersebut.
Malam yang begitu sunyi, dan juga hening. Sepeerti pada kasus sebelumnya, warga akan berkurung dirumah untuk beberapa hari saja, ketika kabar itu telah senyap, maka warga akan berkeliaran kembali.
Ketiga wanita mud yang tidak mengetahui jika dirinya dalam kondisi buronan polisi terlihat santai menunggu pelanggan yang mungkin akan ada yang ingin memakai jasa layanan mereka.
Namun karena kasus Jali baru saja menggemparkan, warga memilih untuk berdiam durumah, dan ketiga remaja itu tampak uring-uringan menunggu pelanggan yang tidak juga terlihat satu orangpun.
Ketiganya membutuhkan sabu malam ini untuk sebagai kebutuhan mereka sehari-hari.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya tampak cahaya lampu dari sebuah mobil yang menuju ke arah mereka. Ketiganya terlihat begitu bahagia, dan berharap itu adalah pelanggan mereka.
Setelah mobil mendekat, beberpa orang berpakaian preman menghampiri ketiganya, wajah mereka begitu tampak sumringah, apalagi para pria itu tampak bertubuh kekar.
Setelah para pria itu berada cukup dekat dengan ketiganya, maka dengan mudahnya para pria menciduk ketiga wanita muda itu dan memborgol tangan mereka dari arah belakang.
"Eeh.. Ini apaan, Pak.. Apa salah kami? Mengapa kami diborgol?" tanya Tia penuh keheranan.
"Nanti kalian jelaskan saja dikantor polisi" jawab salah seorang pria yang ternyata petugas kepolisian.
Ketiga wanita muda meronta-ronta menolak untuk dibawa kekantor, namun para petugas itu dengan cepat membawa mereka masuk kedalam mobil.
Sesampainya dikantor polisi, mereka digiring keruang penyidikan dan dicecar berbagai pertanyaan mengenai kerangka Rini yang ditemukan dirawa.
Sementara itu, Rina yang terperangkap dalam pelariannya, kini bagaikan merasa sial dan harus menjadi bulan-bulanan dua pria ayah dan juga anak lelaki pria yang tak kenalinya itu.
Bahkan Ia kini dijadikan budak yang memenuhi kebutuhan hasrat dan juga berberes pekerjaan rumah tangga.
Meskipun Ia tidak terlacak polisi saat ini, namun Ia terpenjara dalam perbudakan dua pria.
Diruang penyidik, ketiga wanita itu dicecar pertanyaan yang terus menjebak ketiganya.
Namun mereka tidak terbukti membunuh Rini, hanya saja mereka yang membuang mayat Rini kedalam rawa karena merasa ketakutan. Akhirnya mereka ditetapkan sebagai tersangka dalam tindakan merusak alat bukti dan mencoba menghilangkan bukti, lalu setelah dilakukan test urine, ketiganya postif menggunakan narkoba, dan parahnya lagi dua diantaranya sedang mengandung.
Sebelum kasusnya disidangkan, mereka dibawa ke pusat rehabilitas untuk menjalani pemulihan dari kecanduan narkoba.
Bahkan sepeda motor miliknya di sembunyikan oleh kedua pria itu ditengah hutan, agar Rina tak melarikan diri.
Dalam hubungan gelapnya bersama Jali selama ini, ternyata tanpa Ia sadari jika Ia telah mengandung dan itu telah diketahui oleh Ki Brewok.
Tentunya pria itu sangat senang, karena akan Ia tumbalkan kepada Nini Maru nantinya, dan tentunya Ia akan mendapatkan pundi-pundi kekayaan, meskipun hidupnya hingga saat ini tampak begitu saja, serba kekurangan.
Mungkin itu istilah yang sering disebut oleh orang 'Duit hantu dimakan setan' yang mana menggambarkan tidak ada keberkahan didalamnya.
Rina memasak dengan diawasi oleh pemuda yang merupakan anak dari Ki brewok. Saat mencium aroma masakan itu Rina merasa mual dan itu sangat menyiksanya.
Namun karena pemuda itu terus saja mengawasinya, Ia merasa ketakutan dan terus melanjutkan pekerjaannya.
Diruang rehabilitas, tampak Tia, Ziyah dan juga Tini sedang menjalani masa karantinanya.
Mereka bersama peserta lainnya menjalani hari-hari tanpa adanya sabu yang masuk kedalam tubuhnya.
Tubuh mereka menggigil dan menginginkan barang tersebut.
Bersama mereka, tampak seorang remaja puteri yamg saat itu pernah ditangkap oleh warga yang mana tidak lain adalah ayah sendiri yang menangkapnya.
Perutnya tampak membuncit dan ternyata Ia juga sedang mengandung.
Ketiganya melirik kepada remaja itu, yang tampak pucat karena tidak dapat tidur sebab memerlukan dosis sabu dalam tubuhnya.
Dilain tempat, Yanti yang kini menjadi setengah iblis semakin merasakan dirinya tak terkendali.
Ia mencari tumbal yang masih tersisa "Ni.. Kita harus mendapatkan tumbal malam ini" ucap Yanti kepada Nini Maru.
"Aku mengerti, namun janin siapa yang akan menjadi sasaran kita malam ini?" tanya Nini Maru kepada Yanti.
"Sepertinya istri si Didi itu kandungan sudah sangat enak.. Bagaimana jika kita kesana saja?" tanya Yanti.
"Heemm.. Merekakan pasangan halal, lagipula Ibunya selalu melantunkan ayat suci, rumahnya tidak tersentuh" ucap Nini Maru dengan ragu.
"Kita kesana saja dulu, sepertinya ibunya sedang pergi" jawab Yanti yang mencoba menyemangati dirinya.
Nini Maru menganggukkan kepalanya pertanda setuju "Baiklah, Kita kesana"jawab Nini Maru, lalu mereka pergi menyambangi rumah Didi.
Dan ternyata benar apa yang diduga Yanti, jika ibunya Didi sedang tidak ada dirumah dan sedang menghadiri acara pernikahan keluarganya.
Maka saat ini Wanda sedang sendiri didalam kamarnya, sedangkan Didi masih mengobrol bersama Dino yang saat ini sudah membuka usaha warung sembako didepan rumahnya.
Yanti berdiri disisi jendela kamar Wanda. Saat malam terasa gerah, Wanda membuka jendelanya, karena kipas angin tak mampu membuat menghilang rasa gerahnya.
Melihat hal itu, tentu saja memberi kesempatan kepada Yanti dan juga Nini Maru untuk menerobos masuk kedalam kamar Wanda yang saat ini hanya menggunakan tanktop dan kain sarung saja, sebab untuk mengurangi rasa gerahnya.
Sementara itu, Didi yang sedang mengobrol dengan Dino merasakan bulu kuduknya meremang dan Ia mencium aroma kembang kenanga yang sangat mustahil, sebab dilingkungannya tidak ada menanam kembang kenanga.