
Syafiyah jatuh melayang dari lantai dua tempatnya bekerja.
Semua orang terpekik dan berteriak menyaksikan apa yang terjadi pada orang nomor satu di puskesmas tersebut.
Satu sosok melesat menangkap tubuh wanita itu sebelum mendarat di lantai halaman puskesmas.
Sosok wanita yang tak lain adalah Mirna berhasil menangkap tubuh Syafiyah tanpa cedera sedikitpun. Semua orang tercengang menyaksikan hal tersebut.
Mirna membantu menegakkan tubuh Syafiyah untuk berdiri dengan benar. Wanita itu masih gemetaran dan tak sanggup untuk berdiri.
Orang-orang yang berada di lokasi kejadian tercengang melihat begitu kuatnya wanita yang menyelamatkan Syafiyah yang mana tentu bobot Syafiyah lebih berat dari Mirna.
Setelah mengetahui jika itu adalah madunya Syafiyah m, mereka tak menyangka jika istri kedua Satria itu rela mengorbankan keselamatannya sendiri demi memyelamatkan sang Madu.
Mereka berbisik-bisik menceritakan tentang begitu respeknya Mirna terhadap Syafiya.
"Pantas saja Satria menikahinya, ternyata selain cantik juga baik" bisik seorang diantara kerumunan yang menyaksikan kejadian itu secara langsung.
Mendengar bisikan warga yang terdengar ditelinga Syafiyah, membuatnya semakin kesal dan merasa tersaingi.
Ia juga tak ingin terjatuh dari atas sana, namun karena sosok mengerikan itu mencoba mencelakai nya, Ia juga tidak ingin terjatuh dari atas sana.
"Apa mereka kira aku ini ingin bunuh diri? Sehingga terjun dari lantai dua?" Syafiyah menggerutu dalam hatinya.
Ia mencoba menepis tangan Syafiyah dan berjalan dengan tertatih menuju koridor puskesmas.
Namun karena debaran dan degupan jantungnya masih sangat terasa begitu kuat, Ia oleng dan tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya, dan..
Brruuukh..
tubuhnyanya ambruk di lantai halaman puskesmas.
Perawat datang membawakannya ranjang troli pasien dan meminta bantuan kepada warga yang berada di sekitar untuk membantu mengangkat tubuh Shafiyah tersebut, lalu mereka membawanya ke sebuah ruangan perawatan.
Mereka memeriksa kondisi tekanan darahnya, serta memeriksa janin dalam kandungan wanita tersebut.
Tekanan darahnya cukup tinggi, lalu staf disana menyarankan agar kepala puskesmas mereka untuk beristirahat di rumah beberapa hari, agar menormalkan syok yang terjadi padanya.
Mereka mengantarkan Syafiyah kembali ke rumahnya dan meminta untuk beristirahat.
Setelah berada di dalam kamarnya. Tampak Mirna datang membawa minum air putih untuk diberikan kepada Syafiyah.
"Minumlah, Mbak" ucap Mirna dengan suara lirih.
Syafiyah memandangnya dengan tajam. Ada kekesalan di dalam hatinya.
"Pergilah.. Aku tidak ingin melihatmu ada di dalam rumah ini lagi. Semenjak kehadiranmu di rumah ini, Aku selalu mengalami kesialan demi kesialan dan segala bahaya yang selalu mengincarku" ucap Syafiyah dengan kesal.
"Aku merasa jika kesialan yang ku alami saat ini ada hubungannya denganmu. Maka Aku ingin Kau kembali ke rumahmu, agar aku terjauh dari kesialan tersebut" Syafiya melanjutkan ucapannya.
"Tapi Mas Satria berpesan agar Aku menjaga Mbak Sebelum Ia kembali" jawab Mirna sembari menundukkan kepalanya.
Syafiyah menatap wajah Mirna "Tanpamu Aku bisa melakukan segalanya, maka Aku minta kepadamu agar segera pergi dari rumah ini, sekarang!" Ucap Syafiyah dengan nada penuh penekanan.
Mirna menghela nafasnya, Ia merasa serba salah dengan keadaan ini, namun Syafiyah benar-benar dalam kondisi bahaya, Ia tidak mungkin meninggalkannya seorang diri.
"Apakah Kau tuli? Hingga aku harus mengulangi ucapan lagi?!"ucap Syafiyah semakin kesal.
Mirna menatap sendu pada wanita tersebut, lalu tak ingin memperdebatkan semuanya. Ia memutar tubuhnya untuk segera keluar dari kamar tersebut.
Syafiyah memandang ketus punggung Mirna yang keluar dari kamarnya.
Ia berharap jika Mirna tak lagi menginjakkan kakinya di rumah ini, meskipun itu hanya bayangannya saja.
Sesampainya di rumah yang sudah lama Ia tinggalkan, Ia berbaring sejenak di ranjangnya.
Ia memejamkan matanya, menerawang jauh menuju ke seseorang yang saat ini sedang dalam mengurus pekerjaannya
Ia mengurungkan niatnya untuk membicarakan suatu hal, dan kembali lagi dengan tatapan hampa.
Mirna memilih untuk tidur dan merajut mimpinya di siang hari.
Sementara itu, syafiyah merasa jika selama ini Ia selalu mengalami segala marabahaya dan juga kesialan semenjak Mirna hadir di dalam hidup nya.
Malam menjelang…
Kesunyian, kegelapan dan keheningan kian mencekam.
Syafiyah beranjak dari ranjangnya, Ia melihat jam di dindingnya sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia merasa lapar karena belum makan malam.
Ia menyingkap tudung saji, dan tak ada makanan apapun disana, hanya nasi putih dalam magic com.
Ia menghidupkan kompor, lalu meletakkan pan dan memanaskan minyak goreng untuk membuat telur ceplok.
Minyak di pan sudah mengeluarkan asap, dan Ia masih mengambil telur di dalam lemari es.
Saat Ia hendak memecahkan telur tersebut, tanpa sengaja Ia menyenggol Pegangan pan dan membuat pan itu terjatuh…
Praaaannnkk…
Dan minyak goreng panas tersebut mengenai kakinya.
"Awwww…" pekik Syafiyah yang merasakan panas di kakinya. Ia sangat kesakitan dan rasa panas bercampur perih dan mematikan kompor, lalu tertatih menuju kamarnya mencari salep untuk meredakan rasa perih dan juga panas di punggung telapak kakinya.
Syafiyah membuka laci dan mengacaknya, namun tak ada salep yang dicarinya. Ia merasa sangat kesal dan mengacak isi laci tersebut hingga berserakan di lantai.
Syafiyah duduk ditepian ranjangnya, Ia mengangkat kakinya yang terkena minyak goreng panas tersebut dan menghembusnya untuk mengurangi rasa panasnya.
Syafiyah keluar dari kamarnya, mengambil kunci mobilnya dan mengunci pintu rumahnya untuk pergi ke apotik mencari salep dan mengobati lukanya tersebut.
Wanita itu menghidupkan mesin mobilnya dan mengendarainya melaju menuju apotik.
Saat diperjalanan, Ia merasakan jika hawa dingin menyeruak kedalam mobilnya. Ia menyentuh tengkuknya yang serasa meremang.
Lalu Ia menambah laju kecepatan mobilnya dan saat akan berada diperempatan jalan, Ia melihat dari kaca dashbor jika sosok yang pagi tadi telah membuatnya terjatuh dari lantai dua kini hadir kembali di dalam mobilnya.
Syafiyah membeliakkan matanya, Ia mengerem dengan mendadak dan...
Ciiiiiithhh... Baaaam...
Mobilnya menabrak sebuah pohon dan kepalanya membentur stir mobil.
Syafiyah tersadar dan merasakan kepalanya sangat sakit. Lalu darah keluar dari keningnya.
Syafiyah menoleh ke arah belakang, dan sosok itu sudah menghilang.
Lalu orang-orang berdatangan dan menghampiri mobil Syafiyah untuk melihat kondisi yang terjadi pada pengemudinya.
Kaki Syafiyah terjepit, dan sulit dilepaskan. Warga memecahkan kaca mobil dan membukanya.
Melihat Syafiyah yang berada didalam mobil, warga tercengang, bukan tanpa sebab, karena wanita itu pagi tadi baru saja mengalami kecelakaan terjatuh dari lantai dua ruangnya bekerja, dan saat ini mengalami lagi kecelakaan yang sangat mengenaskan.
"Ya ampun, Mbak.. Dosa apa sih Mbak yang sudah dilakukan hingga mengalami nasib sial terus" celoteh seorang warga yang mencoba mengeluarkan Syafiyah dari dalam mobil dan mencoba membebaskan kakinya yang terjepit.