MIRNA

MIRNA
episode 160



Samudera dan juga Angkasa diantar ke sekolah oleh Mirna dengan menggunakan sepeda motor maticnya.


Saat melintasi jalanan, tampak wajah Kakek Nugroho ditempelkan dibatang pohon, dinding warung dan sebagainya.


Sesaat Angkasa meliriknya, begitu juga dengan Samudera.


Angkasa melihat jika sosok dibalik Kakek Nugroho adalah sosok yang sangat mengerikan.


"Bu.. Kenapa foto yang ditempelkan di pohon itu seperti hidup" tanya Angkasa kepada Mirna.


Saat ini Mirna telah sampai dipintu gerbang sekolah, lalu menghentikan motornya.


Dan lagi-lagi foto itu juga berada didinding gergang sekolah "Ingat.. Jika bertemu dengan pria itu kalian haru segera pergi dan jangan mau jika Ia membujukmu untuk ikut bersamanya. Ada satu lagi yang berbulu tipis dan seorang wanita yang memakai gaun putih dengan luka wajah dibagian kirinya" Mirna mencoba menjelaskan kepada kedua puteranya.


"Terutama kamu Samudera" ucap Mirna menegaskan.


"Kenapa denga Samudera, Bu?" tanya bocah itu dengan penasaran.


"Kamu jangan mau ikut sembarangan dengan orang asing, faham?!" ucap Mirna menegaskan.


Samudera menganggukkan kepalanya. Hari ini adalah hark terakhir mereka ujian kenaikan kelas, dan setelah memasuki liburan nanti, keduanya akan dikhitan sesuai janji Satria.


Hal ini tentunya membuat Nini Maru dan juga Rey semakin gelisah.


Mereka menginginkan darah murni Samudera sebelum masa dkhitan dan ini harus segera terlaksana.


Kedua bocah itu menyalim tangan Mirna lalu berlalu masuk kedalam ruang kelas mereka.


Mirna lalu pulang ke rumah dan akan menjemputnya nanti.


Sementara itu, Yanti tampak sangat kacau. Ia semakin tertagih memakan janin selama ikut dalam persekutuannya dengan Nini Maru.


"Ni.. Masih kurang janin 9 lagi. Kita harus mencarinya segera agar apa yang Nini inginkan tercapai" ucap Yanti mengingatkan.


Nini Maru menyeringai. "Apakah Kau tak merasakan kehadiran janin disekitar sini?" tanya Nini Maru dari dalam tubuh Yanti.


Yanti terdiam mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh Nini Maru.


Ia menajamkan indera penciumannya dan mencium aroma janin segar dari jarak jauh.


Lalu penciumannya terhenti pada sebuah rumah milik seorang pria yang baru beberapa tahun lalu menikah dan kini baru dikarunia keturunan, yang mana istrinya sedang mengandung usia 4 bulan.


"Aku menciumnya, Ni.. Dan rasanya tak sabar untuk segera menyantabnya" ujar Yanti.


"Jika begitu kita bergerak malam nanti" Nini Maru menyemangati.


"Tetapi bocah Samudera itu bagaimana Ni?" tanya Yanti tak sabar.


"Masalah bocah itu siang ini kita eksekusi" Nini Maru mengutarakan maksudnya.


"Baiklah.." jawab Yanti, lalu pergi san memyeringai.


Dilain sisi, Dino yang baru saja bernafas lega karena dibebaskan tidak bersalah dalam hal ini dan ditetapkan sebagai saksi, akhirnya dapat kembai beraktifitas.


Didi menyarankan agar Dino tak lagi pergi ke hutan mencari hewan liar, sebab saat ini warga desa dihimbau tidak berkeliaran sendirian apalagi didaerah yang berbahaya seperti hutan dan juga kebun.


"Din.. Ikut kerja denganku saja, masih ada proyek bangunan yang masih sangat lama" Didi menyarankan.


Dino menatap sahabtnya "Beneran ini, Di?"


"Iya.. Ayolah.. Sudah saatnya Kau tinggalkan pekerjaan itu" Didi mencoba menasehati sahabatnya "Baiklah, Di.. Aku ikut" Dino kembali bersemangat.


"Di.."


"Ya." jawab Didi Singkat.


"Makasih banget ya telah bantuin aku dikantor polisi" ucap Dino.


Dino tersenyum tipis "Aku ingin menikah, Din.. Sama sepertimu.. Apakah ada wanita yang mau menikah denganku?" Dino seakan pesimis.


"Ada.. Kamu tampan koq, hanya kamu harus rajin bekerja, dan nanti aku akan coba tanya istriku apakah ada temennya yang jomblo yang mau diajak nikah" Didi memberikan semangat kepada Dino.


Dino tampak bersemangat dan senyum sumringah menghias bibirnya.


"Aku balik duku, Ya.. Besok pagi cepat bangun dan jangan lupa bawa bekal, sebab kita makan siang dilokasi kerja" Didi mengingatkan.


"Ok, Di. " jawab Dino cepat. Lalu Didi beranjak dari duduknya dan menuju ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Didi melihat sang istri sedang memasak didapur. Ia mencoba menghampirinya dan mendekapnya dari belakang "Istri solehaku, sudah cantik, pinter masak pula" puji Didi kepada Wanda istrinya.


Wanda hanya tersipu malu mendengar kata pujian dari sang suami.


Tak berselang lama, ibunda Didi datang dari arah kamar dan menuju ke dapur.


Melihat kemesaraan anak dan menantunya, Ia berdehem untuk memberikan isyarat jika Ia ada diantara mereka.


Didi segera melepaskan dekapannya dan menoleh ke arah ibunya "Eh..ibu.. Kirain siapa" ucap Didi malu-malu.


"Wanda.. Kamu coba gantunkan gunting kecil besi putih ini dipakaian dalammu, tepatnya dibrA mu" ucap Ibu Didi.


Wanda mematikan kompornya, karena masakannya juga sudah selesai.


Ia meraih benda yang dimaksud ibu mertuanya, dengan sebuah jarum peniti yang digunakan sebagi pengaitnya.


Wanda lalu meraihnya, dan menggantungkan benda tersebut sesuai perintah ibu mertuanya.


"Kamu itu sedang hamil, kalau malam ingin tidur, biasakan berdoa, baca ayat yang dapat menolak sihir.." Ibu Didi menasehati menantunya.


"Iya, Bu.." jawab Wanda lirih.


Lalu Ibu mertuanya itu pergi ke kamar mandi untuk mencuci pakaian.


Malam kembali hadir, gelap dan juga sepi.


Nini Maru dan Yanti mulai beraksi. Mereka menyambangi rumah Didi yang akan dijadikan sasaran malam ini.


Aroma janin yang berada didalam perut Wanda begitu sangat menggoda keduanya.


Saat tengah malam, keduanya mulai tampak mondar-mandir di sekitar rumah Didi.


Mereka melemparkan pasir ke atas seng tepatnya diatas kamar Didi dan Wanda.


Ibunda Didi yang mendengarnya tersentak, wanita paruh baya itu meraskan jika ada sesuatu yang tidak baik sedang mengincar penghuni ruamhnya, dan yang tak lain adalah Wanda menantunya.


Nini Maru dan juga Yanti sedang mencari celah untuk masuk kedalam rumah.


Wanita paruh baya itu meraih Mushaf Al-Qur'an, lalu mulai bersenandung memmbacanya.


Sesaat Nini Maru tersentak kaget, sebab seketika suasana menjadi panas. Semakin lama mereka semakin merasa resah dan kesakitan.


Lalu sosok Yanti menggeliat dan beranjak dari sisi rumah Didi.


Tanpa sengaja, Ayah Dino melihat sosok bergaun putih sedang berada disisi jendela kamar Didi. Sontak hal itu membuat Pria paruh baya tersebut berteriak "Ada kuntilanak.. Ada kuntilanak..!!" teriak ayang Dino dengan keras.


Sesaat warga berhamburan keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi.


Yanti yang kesakitan karena ayat yang dibacakan ibu Didi, kini harus dikejutkan lagi dengan kerumunan warga yang tiba-tiba mengepungnya.


Seketika Yanti merundukkan kepalanya dan waga yang berkumpul mulai membuat lingkaran.


Seketika Yanti cekikikan dan saat warga ada yang berteriak "Bakar..bakar.." lalu yang lainnya tersulut dan hendak membakar Yanti yang masih cekikikan, lalu Yanti melesat menghilang yang membuat warga kebingungan mencarinya.