MIRNA

MIRNA
episode 214



Ki Brewok mencoba beranjak bangkit dari lantai karena telah dilempar oleh Nini Maru dengan sangat kasar.


Ia memegangi pinggangnya yang sakit dan menggerutu karena perlakuan kasar Nini Maru.


Suara ribut tersebut membuat Rina dan anak lelaki Ki Brewok terbangun dan mencoba menggedor pintu kamar Ki Brewok yang hanya bersebelahan saja.


"Pak.. Bapak.. Bapak kenapa?" ucap Beni yang merupakan anak satu-satunya Ki Brewok.


Pria bertumbuh gempal itu hanya mengerang dan berjalan dengan tertatih menuju pintu kamar. Saat membukanya Ia melihat Beni beserta Rina sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Bapak tidak apa-apa?" tanya Beni penasaran.


"Tidal apa-apa gundulmu..!! Apa gak lihat kalau pinggang bapak sakit ini." gerutu Ki Brewok kesal.


"Kenapa, bisa?" tanya Beni penasaran.


Tanpa menjawab, Ki Brewok keluar dari kamarnya dan menuju arah dapur.


"Ikuti, Bapak.. Bantu tangkap ayam cemani dan burung gagak yang ada dikandang" titahnya dengan cepat.


Tiba-tiba...


Aaaaaaaarrrrggghh...


Suara teriakan Rina yang terkejut saat melihat rupa Nini Maru dan juga Yanti sedang berada didalam kamar Ki Brewok.


Rupa keduanya yang sangat hancur berantakan membuat Rina sangat terkejut dan tak dapat mengontrol dirinya.


Lalu


Brrrraaaaaaakkk..


Rina jatuh pingsan dan terjerambab dilantai kayi rumah Ki Brewok.


"Haahh..." Ki Brewok menghela nafasnya dan menapaki anak tangga dapur menuju ke kandang ayam cemani dna juga burung gagak peliharaannya.


Beni bergegas mengangkat tubuh Rina dan memindahkannya ke dalam kamar, Ia sepertinya jatuh cinta dengan wanita yang sudah menjada itu meskipun mereka beda usia, dan meminta kepada bapaknya untuk memiliki wanita itu meskipun tanpa ikatan pernikahan.


Setelah meletakkan tubuh Rina diatas kasur usang yang sangat tidak layak, Beni meninggalkannya dan mengikuti ayahnya menuju kebelakang dapur untuk membantu Bapaknya mengambil ayam cemani dan juga burung gagak.


Lalu mereka menyembelih ayam dan burung gagak ditengah malam gelap gulita.


Darahnya itu Ia tampung dalam sebuah wadah ember plastik yang berukuran jumbo.


Setelah menampung darah ayam burung gagak dan juga ayam cemani tersebut, Ki Brewok menambahkan kembang tujuh rupa dan juga mengiris sedikit tangannya dan mengalirkan darahnya kedalam campuran darah tersebut.


"Bantu Bapak memindahkannya dan letakkan didepan kendi air tersebut.." titah Ki Brewok dengan cepat.


Beni hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat dan mengikuti perintah tersebut.


Lalu Ia membakar kemenyan dan dupa untuk menambah kesempurnaan ritual tersebut.


"Nini.. Kemarilah.." pinta Ki Brewok kepada Nini Maru, lalu kedua iblis itu segera melesat turun menuju ke lokasi tempat mereka akan bermandikan darah dan juga kembang tujuh rupa serta campuran tujuh pusaran air yang sengaja dikumpulkan oleh Ki Brewok dalam sebuah wadah gentong.


Nini Maru dan juga Yanti tampak tak sabar untuk segera mandi darah tersebut.


"Aku dulu yang mandi, dan Kau setelahku" titah Nini Maru kepada Yanti dengan nada parau dan penuh penekanan.


Yanti hanya dapat menganggukkan kepalanya untuk mematuhinya dan tidak dapat membantahnya.


Nini Maru segera masuk kedalam wadah plastik jumbo tersebut dan Ia berendam didalamnya lalu meyiramkan wajahnya dengan air yang bercampur darah tersebut.


Sesaat air darah itu berubah mengahangat dan perlahan mendidih. Nini Maru melesat dan segera beranjak dari pemandiannya.


"Panas, Ki.. Sangat panas" keluh Nini Maru yang merasakan tiba-tiba air itu menjadi mendidih karena ajian segoro geni yang seakan membakarnya itu merubah air tersebut menjadi mendidih.


Ki Brewok menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung bagaimana caranya menolong kedua iblis tersebut.


Seketika Ia memiliki ide "Beni.. Bawa wanitamu kemari" titah Ki Brewok kepada Beni, anak lelakinya.


"Tidak, Pak.. Aku tidak mau.!!" bantah Beni.


"Siaaalann, kamu..!! Berani bantah Bapak?! buruan..!!" Maki Ki Brewok yang merasa kesal dengan segala bantahan sang anak.


Beni bergetar ketakutan melihat sorot mata tajam bapaknya yang penuh intimidasi.


"Cepaaat..!!" Teriak Ki Brewok dengan kasar.


Beni terpaksa beranjak ke dalam rumah, lalu memasuki kamar dan membopong tubuh Rina, lalu membawanya ke belakang dapur dan menemui Bapaknya.


"Lucuti seluruh pakaiannya..!! Titah Ki Brewok dengan sangat cepat.


Beni melucuti pakaian Rina dan tanpa sehelai benangpun.


"Masukkan Ia kedalam wadah air darah itu, sekarang..!!" Titah Ki Brewok sembari matanya terpejam dan membacakan mantra kegelapan.


Beni kemudian memasukkan tubuh Rina yang masih tak sadarkan diri itu ke dalam wadah tersebut dan Beni mulai menyiramkan air darah itu ke sekujur tubuh Rina.


"Ambil gelas yang berisi campuran darah ayam cemani dan burung gagak tersebut. Lalu minumkan padanya" Titah Ki Brewok.


Lalu Beni mengambil segelas darah tersbut, dan meminum paksakan kepada Rina yang tak juga sadarkan diri hingga habis.


Lalu Ki Brewok mengarahkan asap dupa dan juga asap kemenyan itu kepada tubuh Rina.


Seketika tubuh Rina terangkat ke udara dan dengan posisi terlen-tang.


Ki Brewok terus membaca mantranya dengan sangat cepat dan kini asap dupa serta kemenyan tersebut menutupi seluruh tubuh Rina yang melayang diudara setinggi duduk Ki Brewok.


"Masuklah, Ni kedalam raganya, mungkin ini bisa membantu" Titah Ki Brewok kepada Nini Maru dan Yanti tak ingin ketinggalan untuk ikut juga masuk kedalamnya.


"Tidak..aku tidak mau.." ucap Beni kepada Bapaknya, Ia tak sudi jika kedua iblis buruk rupa itu merasuki tubuh kekasihnya.


"Diamlah..!! Ini demi kebaikan bersama.." ucap Ki Brewok kepada Beni.


"Aku tidak sudi kedua iblis jelek itu merasuki Wanitaku..!!" bantah Beni dengan kesal.


Tetapi Ki Brewok tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh anak lelakinya. Ia terus melakukan ritual yang sudah terlanjur terjadi.


Lalu Nini Maru dan Yanti merasuki raga Rina secara bergantian dan membuat tubuh Rina bergetar hebat dengan guncangan yang sangat dahsyat.


Benny terperangah melihatnya, Ia merasa tak rela jika wanitanya harus dirasuki dua iblis tersebut.


Setelah penyatuan berhasil, Rina mengerjapkan kedua matanya, menatap tajam pada kegelapan malam.


Lalu mendarat diatas wadah plastik dan berdiri tegak. Ia merasakan tubuhnya sangat panas, dan menatap pada Ki Brewok dan juga Beni.


Peluh mengalir dari kulitnya yang tampak putih bercahaya, Ia sangat kepanasan dan merasa tersiksa.


"Beni.. Berikan Ia cairan tubuhmu, untuk mengurangi rasa panas yang kini menyerangnya" titah Ki Brewok kepada anak lelakinya.


"Tapi, tunggu.!! Kamu tidak akan tahan dengan hawa panasnya, biar bapak yang dulu melakukannya, setelah itu baru kamu.." titah Ki Brewok kepada Beni.


Lalu Ki Brewok mengeluarkan senjatanya dan bergumul dengan Rina yang kini bukan lagi dirinya.


Rasa panas pada tubuh Rina membuat Ki Brewok tidak bertahan lama dan dalam sekejab sudah menyem-burkan cairan miliknya.


Setelah itu, Beni kini mencoba memberikan cairan miliknya, dan hawa panas dalam tubuh Rina membuat Beni bertahan beberapa menit saja.


Rina tampak begitu haus akan cairan milik pria dan membuatnya harus mencari cairan lainnya dan juga janin yang akan menjadi santapannya.