
Satria kembali dari Mushallah dengan tergesah-gesah. Ia bukannya tidak dapat menolong Mirna, namun saat itu Ia masih melaksanakan shalat Isya berjamaah, dan Ia tidak dapat membatalkan shalatnya begitu saja.
Angkasa dan juga Samudera ikut mengejar sang Ayah yang kelihatan sangat begitu khawatir.
Sesampainya dirumah, Ia masuk dengan cepat dan menuju sofa. Saat itu Ia melihat Mirna dalam kondisi lemah dan Ia segera mengangkat tubuh Mirna ke dalam kamar dan membaringkan lembut tubuh itu diatas ranjang.
"Ibu kenapa, Ya?" tanya Samudera penasaran.
"Ada iblis yang berusaha menculik Ibumu, dan mereka akan terus mengincarnya sampai Ibumu dapat mereka bawa!" jawab Satria.
"Apakah itu Nini bergaun merah yang mengaku sebagai nenekku?" tanya Angkasa kepada Satria.
Seketika Satria menatap pada Puteranya, lalu mengaggukkan kepalanya "Ya.. Dan mereka tak akan membiarkan ibumu berada dijalan yang lurus" jawab Satria.
"Aku tidak akan membiarkan mereka membawa ibu.!!" ucap Angkasa dengan penuh amarah dan menatap pada Ibunya yang terbaring lemah.
Samudera menatap pada Adiknya "Kakak akan selalu mendukungmu dan membantumu" janji Samudera kepada Angkasa, sebab meskipun Ia mengetahui jika Mirna bukan wanita yang melahirkannya, namun kasih sayang Mirnalah yang membuat Samudera dapat tumbuh besar hingga sekarang ini.
Angkasa menganggukkan kepalanya dan mereka saling bergandengan tangan untuk saling membantu satu sama lainnya.
"Sekarang pergilah kekamar, bantu ibu kalian dzikir untuk memulihkan kesembuhannya" pinta Satria, lalu keduanya menganggukkan kepala dannberanjak bangkit menuju kamar dan akan berdoa meminta kesembuhan dari sang Khaliq untuk ibundanya, Mirna.
Satria menutup pintu kamarnya, lalu membentangkan seajadahnya. Ia duduk bersila dan memegang tasbihnya.
Suasana hening, Satria memejamkan kedua matanya, mulai menggerakkan bulir tasbih tersebut, menyebut nama Sang Agung pemilik alam semesta, memohon pertolongan pada-Nya untuk menyelamatkan istrinya dari para iblis tersebut.
Sementara itu, Nini Maru dan ketiga sekutunya kembali ke goa dengan luka yang cukup parah, begitu juga dengan Rey yang beberapa kali mendapat serangan dari Mirna.
"Siallan, Kamu Rey.. Sudah berulang kali saya katakan jangan terburu-buru untuk mengambil Mirna, tapi kamu tidak sabaran!" maki Nini Maru dengan kesal.
"Mau sampai kapan, Ni? Aku sudah tidak bisa menunggu lama lagi! Aku harus mendapatkan Mirna dan memiliki garis keturunan untuk meneruskan dunia kegelapan!" jawab Rey yang selalu saja membantah ucapan Nini Maru.
Nini Maru mendenguskan nafasnya, menatap kesal pada Rey.
"Kamu itu sulit sekali diberitahu, alias keras kepala!! Kalau sudah begini kita juga yang repot!" ucap Nini Maru yang menahan sakit dibagian dadanya terkena serangan Chakra Mahkota.
"Aku mencintainya, Ni.. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan cintanya, namun sepertinya Ia tak menginginkanku hanya karena Aku berwajah buruk rupa!" ucap Rey dengan hatinya yang pilu.
Saat mereka sedang berdebat, sebuah hawa panas memasuki goa dan semakin lama hawa itu mereka terasa seperti berada didalam oven.
"Mengapa hawa goa ini sangat panas, dan ini tidak biasa" Nini Maru merasakan tubuhnya sangat begitu panas.
Lalu ketiganya merasakan hal yang sama. "Ya.. Sepertinya ini adalah sebuah kiriman yang sengaja dikirim kepada kita" Ki Kliwon mulai merasakan hawa itu semakin naik suhunya.
"Siaaall..!! ini kiriman dari Satria, dan kita harus segera meninggalkan goa ini sebelum kita hangus terpanggang!" titah Nini Maru kepada ketiga sekutunya.
"Tapi kemana, Ni?"
"Kemana saja, yang penting jangan digoa ini!!" titah Nini Maru dengan cepat.
Dan..
Buuuuummm...
Sebuah semburan api membakar dinding goa dan membuat ke empat iblis itu panik lalu melesat meninggalkan goa tersebut.
Sesampainya diluar goa, terdengar suara ledakan yang membakar seisi goa dan ke empat iblis tampak kesal kepada Satria.
"Ini semua karena salahmu, Rey.. coba kamu bisa menahan keinginanmu, maka tidak akan terjadi hal seperti ini" ucap Nini Maru kesal.
Rey yang merasa terus dipersalahkan semakin kesal "Jangan terus Menyalahkanku, Ni.. Kamu yang ibunya saja tidak dapat menaklukannya, apalagi Aku?! Aku hanya menginginkan Mirna untuk segera menjadi milikku, tetapi Kau selalu mengulur waktu" balas Rey dengan cepat.
Ki Kliwon yang melihat perdebatan keduanya merasa Jengah, lalu melesat pergi meninggalkan mereka untuk mencari tempat bersemayam.
Ki Kliwon memilih pohon beringin yang tumbuh besar dipemakaman. Melihat Ki Kliwon pergi, mereka terdiam dan melesat mengikuti kemana arah Jenglot itu pergi.
Ke empatnya memandang pohon itu dengan seksama, dan ada banyak penghuni dipohon itu "Ki.. Ini tidak dapat dijadikan sebagai tempat bertapa, sebab terlalu ramai penduduknya, Ki.. Sudah seperti rumah susun saja" ucap Nini Maru.
Ki kliwon hanya diam saja. Ia memperhatikan berbagai ragam demit yang menghuni pohon itu, dan dengan satu hentakan kedua tangannya, para penghuni itu terpental dari tempatnya dan tersangkut diberbagai tempat.
Lalu Ki Kliwon menempati pohon itu dengan mudahnya.
Para demit yang merasa diusir secara paksa melakukan protes dan berdemo disekitaran pohon beringin.
"Heeei.. Ki..!! Seenaknya saja main usir kami, ini rumah kami sejak puluhan tahun lalu, dan kamu main ambil saja tanpa permisi" ucap Si Ocong yang tidak terima rumahnya diambil paksa secara ilegal.
Nini Maru dan Ki Genderuwo beserta Rey ikut menempati pohon beringin itu dengan congkaknya.
"Heei.. Kalian semua.!! gak lihat apa warna gaunku yang sudah merah?! Kalian itu cuma demit rendahan yang tugasnya untuk melayani kami, maka jangan banyak protes!" ucap Nini Maru kesal.
Seketika para demit tidak terima dikatakan demit rendahan. Lalu mereka beramai-ramai menguncang pohon beringingin tersebut laksana mahasiswa yang sedang berdemo meminta untuk diturunkannya harga bahan bakar minyak.
Pohon beringin itu berguncang, dan membuat Ki Kliwon merasa terganggu.
Ia melesat turun dari tahtanya yang berada diujung dahan pohon beringin dan menatap pada demit yang sedang berkerumun dan mengguncang pohon beringin tersebut.
Seketika mereka berhenti berkoar dan menatap ketakutan pada Ki Kliwon.
Ki Kliwon merentangkan ke dua tangannya dan sebuah angin kencang keluar dari ajian yang sedang digunakannya, sehingga para demit itu kembali terpental dan tersangkut dimana-mana.
Seketika para demit itu dkam tak bergeming dan tidak ada lagi yang berani melawan seperti para demonstran yang tersiram gas air mata.
Setelah berhasil memundur paksa para demit tersebut, maka kini mereka berempat menjadi penguasa disekitar tempat mereka berada.
Ki kliwon memilih dipucuk pohon beringin tersebut, sedangkan Ki Genderuwo memilih berada berdiri dibawah pohon tersebut, sedangkan Nini Maru memilih bergelantungan disulur pohon tersebut dan sembari melakukan pertapaannya dan mengumpulkan energinya yang sudah terkuras.