
Lela seharian berkurung didalam rumah. Setelah meminum ramuan yang diraciknya sendiri. K
Lela berharap agar janinnya segera gugur. Menjelang senja. Didi yang biasa nongkrong diwarung Mbak Lela melihat warungnya tutup sedari tadi.
Didi rajin ke warung Mbak Lela, selain dapat Wifi gratis juga bisa melirik tubuh semok janda tanpa anak tersebut, ya lumayanlah buat cuci mata sebab pacar Didi jauh nun di alam maya sana, alias pacaran online.
"Mbak Lela.. Gak buka ya hari ini?" ucap Didi dalam sembari nyelonong masuk kewarung yang memang bentuknya terbuka dan tempat duduk yang bisa digunakan saat Mbak Lela tidak berjualan.
"Iya.. Saya lagi gak enak badan, kalau mau nongkrong diwarung ya silahkan saja" jawab Mbak Lela lirih.
Didi duduk diwarung tersebut sembari memaninkan phonsel canggihnya dan berselancar didunia maya. Ia dapat mengakses wifi gratis karena sudah mengetahui kata sandinya.
Menjelang maghrib Didi berniat pulang, dan akan datang lagi nanti sembari mengajak Dino untuk menemaninya bergadang.
Didi pulang sembari bernyanyi kecil. Saat ini Ia melihat Kakek Nugroho sedang memanggul jaringnya.
Dalam keremangan senja, Didi melihat jaring tempat ikan kakek Nugroho sudah tidak ada lagi ikan yang tersisa.
"Wah.. Ikannya laris manis ya Kek" sapa Didi dengan ramah.
Kakek Nugroho hanya menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman Didi. Lalu Ia berjalan menuju gang rumahnya yang melewati rumah Lela.
Didi lalu bersiul-siul dengan riang. Namun Ia merasakan jika bulu kuduknya meremang, maka Didi mempercepat langkahnya dan karena ini sudah memasuki waktu maghrib dan wajar saja jika Ia meeasa meremang, sebab diwaktu maghrib para makhluk astral sedang berseliweran.
Kakek Nugroho berjalan sedikit kokoh dari biasanya, mungkin karena banyak Ikan segar membuatnya tetap sehat dan semakin kuat.
Sesampainya didepan warung Lela, Kakek Nugroho berhenti sejenak, memandang pintu rumah Lela yang menyatu dengan warung.
Ia memejamkan matanya sejenak, lalu menghirup udara dengan sangat dalam, seakan merasakan aroma yang sangat segar dan membuatnya sangat bahagia.
Setelah itu Ia berjalan menuju rumahnya.
Adzan maghrib berkumandang. Lela mulai merasakan perutnya kontraksi. Ia begitu sangat kesakitan dan meringis menahn sakit.
Rasa sakit itu mulai terasa kuat, kadang menghilang dan juga kadang datang.
Saat rasa sakit itu mendera, Lela mencengkram tepian ranjangnya untuk mengurangi rasa sakit yang sangat luar biasa.
Saat itu, semilir angin masuk melalui ventilasi jendelanya. Perlahan angin itu menyapa kulit halus Lela yang saat ini sedang merasa kesakitan.
Angin itu terus-menerus membelai lembut wajah Lela.
Setelah adzan maghrib selesai, Lela mulai mengantuk dan merasakan jika matanya sangat berat.
Saat-saat akan terlelap Ia masih dapat merasakan jika perutnya yang kontraksi semakin mendera, bersamaan dengan matanya yang terus mengantuk.
Lalu Lela tak dapat merasakan apapun.
Angin lembut itu mengubah dirinya menjadi sosok hitam dan menuju arah pangkal kaki Lela, lalu menarik janin didalam rahim Lela yang sudah meluncur keluar dengan cepatnya.
Lalu Ia menyesap darah tersebut dan menyimpan dirongga mulutnya dan tidak menelannya.
Lalu bayangan hitam itu keluar melalui ventilasi jendela dan terbang melayang jauh kedalam hutan.
Setelah sampai dibawah pohon beringin, Ia menghampiri sosok kuntilanak merah yang sedang tampak bersemedi dengan duduk bersila.
Mengetahui kehadiran sekutunya, Ia mengerjapkan matanya, lalu menatap bahagia dengan apa yang dibawa oleh sekutunya.
Sosok bayangan hitam itu menyerahkan janin yang dibawanya dan sebelumnya melumuri janin itu dengan darah milik Lela yang disimpannya dirongga mulutnya lalu menyerahkan persembahan itu kepada Makhluk menyeramkan bergaun merah dengan luka bakar hampir disekujur tubuhnya, bahkan wajahnya hancur karena terkena ajian segoro geni tersebut.
Bahkan darah yang sempat meleleh itu Ia sesap tanpa sisa.
Perlahan seperdelapan dari luka bakar diwajahnya membaik, namun masih butuh banyak lagi janin yang dibutuhkannya.
"Terimakasih.. Kau sudah membantuku dalam masa pemulihan" ucap makhluk itu yang tak lain adalah Nini Maru.
"Sama-sama Ni.. Aku juga melakukan ini karena ada timbal balik yang akan Aku dapatkan dari semua ini" jawab Bayangan hitam itu dengan nada sumringah.
Sementara itu, Didi dan Dino berjalan mengarah kewarung Lela. Lalu meraka masuk kedalam warung yang terbuka untuk siapa saja karena memang tidak ada penutup pintunya.
Lalu mereka menyalakan Wifi gratis dari warung Mbak Lela dan mulai berseluncur didunia maya.
"Di.. Mbak Lela sakit atau gimana Ya? Koq tidak ada suaranya" ucap Dino yang merasa tidak enak dengan perasaannya.
"Mungkin sudah tidur kali , Din.." jawab Didi dengan santai, sembari menggulir layar phonselnya.
Sesaat tampak Kakek Nugroho berjalan dari arah gang rumahnya.
Lalu Didi menoleh kearah pria senja itu. "Tu kakek kenapa kelayapan malam-malam, Sih?" ujar Didi sembari melirik kearah pria senja itu.
Dino ikut melirik apa yang dilihat oleh Didi. "Iya, Ya.. Tapi koq lama-lama tu kakek kelihatan sedikit muda ya, Di" Dino menimpali.
"Diakan nelayan, makanannya ikan terus, protein masuk terus, makanya dia makin sehat" jawab Didi lirih takut terdengar oleh Kakek Nugroho.
Pria senja itu berjalan melewati warung mbak Lela, namun Ia tidak melihat kewarung itu, seolah bersikap cuek saja.
Setelah kakek Nugroho melintas, Dino merasakan jika bulu kuduknya meremang dan mersakan sesuatu yang tak nyaman.
"Aku merasa tidak enakYa, Di" ujar Dino sembari mengusap leher belakangnya.
"Iya.. Aku juga, sama... Pulang yuk.. " ucap Didi menyarankan.
Bersamaan dengan hal itu, Lela tersadar dari tidurnya. Ia merasakan kepalanya sangat pusing, lalu Ia ingin beranjak bangkit, dan alangkah terkejutnya Ia saat melihat sepreinya penuh noda darah..
Aaaaaaargh...
Teriak Lela dengan kencang, membuat Didi dan Dino yang berniat akan pulang tersentak kaget dan saling pandang.
Lalu keduanya memutar tubuhnya dan menggedor pintu Lela dengan kencang.
"Mbak.. Mbak Lela, kenapa?" tanya Didi dan Dino berbarengan.
Lalu terdengar suara tangisan Lela yang diiringi dengan keluarnya darah segar yang tampak meleleh.
Karena tak juga membuka pintunya, akhirnya Didi san Dino mendobrak pintu tersebut hingga terbuka.
Mereka mendengar suara Lela yang menangis didalam kamar. Lalu keduanya mencoba membuka pintu kamar, dan mendapati Lela bersimbah darah.
"Mbak Lela? Kenapa Mbak?" tanya Didi dan Dino berbarengan. Karena sudah banyak mengeluarkan darah, akhirnya Lela jatuh pingsan.
Lalu Dino segera menghubungi ambulance agar Lela segera mendapatkan pertolongan.
Setelah beberapa menit kemudian, lalu mobil ambulance datang dengan suara sirene yang meraung-raung. Sesaat setelah mobil itu berhenti didepan warung Lela, dan tampak petugas kesehatan membawa tubuh Lela kedalam ambulance.
Hal tersebut membuat warga yang selama ini hening merasa penasaran dan mulai mengintrogasi kedua pemuda yang pertama kali menemukan Lela dalam kondisi bersimbah darah.
Kedua pemuda itu hanya menjelaskan seadanya, karena mereka juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada janda tanpa anak tersebut.