MIRNA

MIRNA
episode 194



Sosok itu membawa tubuh Yanti melesat membelah kegelapan malam. Ia mencoba menyelamatkan ketiga iblis itu dari luka bakar yang sedang dialami ketiganya.


Sebuah goa tanpa penerangan dan sangat gelap. Sosok itu membaringkan tubuh Yanti dalam sebuah dipan yang terbuat dari bebatuan dan meletakkan tubuh yang sangat menegenaskan itu dengan hati-hati.


Lalu Ia duduk bersila dan merafalkan mantra untuk memadamkan api yang kini masih membakar ketiga iblis yang merupakan sekutunya.


Bukan hanya ketiga iblis itu yang terbakar tapi tubuh kasar Yanti juga menjadi sasarannya.


Tubuh yang kini penuh luka parah dan belatung yang merasuk kedalam daging tubuhnya itu seketika beramai-ramai keluar karena tidak tahan dengan hawa panas yang berasal dari ketiga iblis yang terbakar didalam raga Yanti.


Belatung itu berjatuhan dan berkerumun dengan sangat banyak dilantai goa yang licin.


Lalu sosok itu membuat gerakan yang aneh dan rafalan mantra kegelapan yang hanya Ia sendiri yang tau dan secarik asap hitam berputar-putar didepan dadanya, lalu Ia menggerakkan kedua tangannya dan membuat asap hitam itu bergerak menuju ke tubuh Yanti dan merasuk hingga menyatu menjadi satu.


Tubuh Yanti seketika melayang diudara dengan satu meter dari dipan batuan cadas tempatnya berbaring.


Asap hitam itu membalut tubuh Yanti dengan keseluruhan. Seketika tubuhnya yang tadi mengejang dan penuh luka parah perlahan mulai membaik, meski belum seutuhnya.


Sosok itu terus mengeluarkan segala kesaktiannya untuk menyelamatkan ketiga rekannya dan bersatu membalaskan dendam kepada Satria, karena mereka memiliki satu tujuan yang sama.


Dengan segala pertapaan yang dilaluinya selama ini, akhirnya Ia kembali lagi dalam wajudnya yang kurus ceking bagaikan tengkorak hidup dan yang melekat hanyalah kulit dan tulang saja dengan kuku meruncing dan berwarna hitam.


Disudut bibirnya yang keriput tumbuh taring yang yang meruncing tajam.


Kedua manik matanya memerah dan memancarkan cahaya yang sangat tajam dan penuh dendam yang sangat dalam.


Setelah beberapa saat tubuh Yanti terbalut asap hitam, perlahan belatung itu berguguran dsri dalam tubuhnya, hanya bola matanya yang bergelantungan dirongga matanya masih belum dapat disembuhkan.


Maka dari itu, Yanti membutuhkan darah perawan dan juga darah perjaka yang mana hawa murni dan juga bola mata itu akan digantikan untuk Yanti dan ini sangat membutuhkan ketelitian dalam menemukan sosok yang akan dijadikan tumbal tersebut.


Dan tumbal itu nantinya akan dijadikan untuk penyempurnaan wujud Yanti yang mengobati segala borok dan kecantikannya akan kembali.


Kini tubuh Yanti kembali berbaring didipan batuan cadas dan kulitnya masih berborok dan belum sempurnah sembuh.


Sesaat kedua mata Yanti mengerjap, meskipun mata sebelah kirinya masih bergelantungan dan itu masih bisa berfungsi.


Lalu Yanti merubah posisinya menjadi duduk dan bersila.


Sosok kurus ceking itu beranjak bangkit dan menghampiri Yanti yang kini duduk bersila diatas dipan batuan cadas tersebut.


Kini sosok itu juga duduk bersila menghadapanya. Lalu dengan gerakan yang sangat cepat Ia menghadapkan kedua tangannya kepada Yanti, dan dengan arahan ketiga iblis itu, Yanti mengikuti gerakan pria ceking tersebut dan kedua telapak tangan mereka menyatu dan pria ceking itu menyalurkan hawa murni kedalam tubuh Yanti dan seketika tubuh keduanya berguncang hebat dan keringat membasahi kedua tubuh manusia iblis tersebut.


Setelah Yanti tampak sedikit bertenaga, pria itu melepaskan kedua tangannya, lalu mengehela nafasnya dengan berat.


"Terimakasih, Ki.. Sudah menolongku" ucap Nini Maru dengan suara parau.


"Sesama teman kita harus saling menolong Ni, dan ingat, kamu itu adalah menantuku, dan tidak mungkin aku membiarkanmu dalam kesulitan" ucap Pria ceking itu dengan lugas.


"Namun sangat disayangkan, Ki.. Jika cucumu menikah dengan keturunan dari musuh bebuyutanmu, dan kelak cicitmu itu juga yang akan membinasakan kita" ucap Nini Maru mengingatkan.


Pria keriput nan ceking itu mendenguskan nafas kesal.


"Mengapa Kau tak dapat mencegah pernikahannya? Aku masih bertapa dan mungkin kamu lupa aku ini menganut ilmu yang tidak bisa mati sampai kapanpun, namun karena ketelediranmu, cucuku sampai menikah dengan pria itu" Ujar pria ceking yang tak lain adalah Ki Kliwon ayah dari Reza yang merupakan ayah dari Mirna.


Sedangkan Ki Kliwon yang menjadi kakek Mirna merupakan dukun hitam yang sangat tersesat hingga kematiannya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan Angkasa agar menjadi pengikut kita, Ki?" tanya Ninj Maru dengan suara yang sangat parau.


Ki Kliwon tampak terdiam, Ia berfikir keras bagaimana caranya agar dapat mengambil Angkasa dari Mirna dan juga Satria, sedangkan bocah itu selalu diikuti oleh Chakra Mahkota yang selalu tak ingin jauh darinya.


"Apakah kita harus menculik Samudera, dan meminta pertukaran dengan Angkasa?" Usul Ki Genderuwo yang sedari tadi mencoba menyimak percakapan keduanya.


Sedangkan Rey saat ini masih menjadi pendengar saja.


"Boleh juga usulmu.. Kita jadikan Samudera sebagai Sandera untuk menukar Angkasa, dan setelah itu kita akan membuang segala sifat baik dari Angkasa, dan mengisibya dengan kejahatan dan balas dendam.." balas Nini Maru yang kini sedang gelisah.


Ia tidak dapat membayangkan jika nanti kelak cucunya sendiri yang akan membinasakannya.


"Ini sangat aneh, mengapa Chakra Mahkota memilih untuk menjaga Angkasa daripada menjaga Samudera, apakah karena mereka tahu jika kelak Angkasa yang akan menghancurkan Kita?" Guman Nini Maru dengan nada penasaran.


"Tentu saja, dan sebab itu mereka selalu mengawasi anak tersebut.." Ki Kliwon menimpali.


Kini mereka yang merupakan perkumpulan iblis tersebut, sedang menyusun rencana untuk menculik Angkasa agar menjadi pengikut mereka, namun untuk sementara, Nini Maru akan vacum terlebih dahulu dari dunia pertumbalan dan melakukan pertapaan untuk memperkuat ilmu kegelapannya dalam menghadapi pertarungannya dimasa depan.


Sementara itu, tubuh Yanti yang tadinya penuh dengan belatung kini sudah berhamburan keluar dari tubuhnya dan hanya boroknya saja yang masih belum kering sempurnah.


Yanti duduk bersila diatas batuan cadas, Ia merapatkan kedua tangannya didepan dada dan membentuk oranga yang sedang bertapa.


Matanya memejam dan diikuti oleh mata kirinya yang begelantungan dirongga kirinya.


Ia mulai berkonsentrasi untuk meningkatkan kekuatannya, dan nantinya Ki Kliwon yang akan mencarikan tumbal janin untuk memenuhi asupan energi negatif bagi Yanti dan juga tumbal lato-lato untuk Rey yang nantinya akan dinikahkan kepada Mirna.


Ki Kliwon kini akan mengemban dua tugas sekaligus, namun semua itu demi kelangsungan pembalasan dendam mereka.


Disisi lain, Satria masih fokus dengan dzikirnya, Ia melihat jiak hawa kegelapan kian semakin pekat. Ia harus memberikan perlindungan kepada Angkasa dan juga Samudera agar tidak menjadi sarasaran dari korban balas dendam para leluhurnya.