MIRNA

MIRNA
episode 136



Yanti sejenak terdiam. "Ah.. Gila kamu, mana mungkin aku memasak daging manusia, mending aku kasih biawak saja" sergah Yanti, tak setuju dengan ide Rey, bagaimanapun Ia akan meeasa geli mengolahnya.


"Terserah.. Aku ingin bergabung dengan ke dua pria itu, dan memberikan bisikan iblis agar mereka bersemangat" ucap Rey dengan cepat, lalu menghilang.


Yanti mendengus kesal dan membiarkan Rey dengan apa yang akan di kerjakannya.


Rey melesat masuk kedalam kamar bersama Tia dan dua orang pria tersebut. Ia melihat kedua pria paruh baya itu tampak bersemangat menggarap gadis belia.


Rey merasuki salah satunya yang tampak sangat melehoy, mungkin karena postus tubuhnya yang tambun dan juga umurnya yang sudah tak lagi muda.


Saat Rey merasukinya, ia tampak begitu bertenaga dan membuat rekannya bingung karena Tia yang dalam kondisi sakaw dan juga mabuk alcohol berteriak histeris karena pria itu seperti menggila dan tak ingin berhenti, hingga membuat gadis itu kelabakan.


Sementara itu rekannya hanya memandangi saja, dan menunggu giliranya.


"Heei.. Santailah, mengapa begitu sangat kasar? Kau bisa merobeknya?" ucap pria tersebut yang melihat sahabatnya itu seperti kerasukan, namun ucapannya tak digubris sama sekali.


Hingga saatnya pria itu ambruk karena kehabisan energi, mendapati rekannya telah selesai, pria itu mengambil gilirannya, dan saat si pria lengah, Rey mencabut benda yang masih berdiri tegak tersebut, dan menelannya dengan cepat.


Darah menggenangi lantai kamar tersebut, sedangkan si pria satunya tidak menyadari jika Ia dalam incaran bahaya dan sahabatnya juga sudah meregang nyawa dan tersungkur dilantai.


Pria itu terus menggarap Tia yang saat ini sudah meminta ampun karena sudah tidak sanggup lagi untuk menanggungnya, namun sang pria masih saja tak perduli, dan Rey tersenyum melihat semuanya.


Saat yang ditunggu tiba, pria itu mencapai puncaknya dan..


Crreeesssh...sssrrtt..


Rey memcabut lato-lato milik sang pria dengan cepat saat Ia masih menik- mati puncaknya yang kini berganti dengan kematian yang sangat mengerikan.


Lalu tubuh pria itu ambruk terjungkal kebelakang dan menindiih rekannya yang sudah terlebih meregang nyawa, sedangkan Tia tak sadarkan diri karena kelelahan.


Setelah mendapatkan tumbal korbannya,Rey menyeringai dan segera menghilang.


Yanti yang mendengar suara pekikan tertahan dari dalam kamar tersebut langsung membuka pintu kamar dan membeliakkan matanya melihat apa yang terjadi.


"Dasar, Rey Brengseeekk..!! Bisa-bisanya Ia meninggalkan ke kacauan ini dan merepotkanku saja.!!" Yanti menggerutu dan mencoba menarik satu jasad tersebut dan mempreteli barang berharga milik korban lalu menyeret jasad itu dengan tertatih menuju kamar rahasia untuk menyerahkannya kepada biawak peliharaannya.


Setelah memasuki kamar rahasianya, Ia kembali mengambil satu jasad yang lainnya lagi dan menyeretnya menuju kamar tersebut.


Setelah membereskan ke dua jasad itu, Yanti kini membersihkan darah yang menggenang di lantai kamarnya dan juga lantai menuju dapur.


Setelah menguras tenaganya, Ia akhirnya selesai juga, dan waktu hampir senja.


Yanti bingung dengan mobil milik si korban dan cara melenyapkan mobil tersebut.


Yanti meraih kunci mobil tersebut, dan mencari barang berharga disana. Yanti menutup warungnya, lalu membawa mobil itu kearah jembatan yang dibawahnya mengalir sungai deras dan juga dalam.


Yanti mengemudikan mobil tersebut, lalu membawa mobil itu dan seaampainya dijembatan, hari sudah gelap karena waktu maghrib sudah berlalu.


Yanti memperhatikan jalanan dan memastikan tak ada yang melihat apa yang dilakukannya.


Setelah melihat kondisi aman, Ia kemudian menghidupkan mesin mobil dan membuka kaca pintu mobil lalu menepi ketepi sungai dan dengan menggunakan batang kayu Ia menginjak pedal gas dan melepaskannya hingga membuat mobil itu meluncur kedalam sungai dan tenggelam.


Lalu Yanti berjalan menuju jembatan dan Ia mencari tumpangan untuk pulang ke warungnya.


Tak berselang lama, tampak satu buah lampu sorot kendaraan bermotor yang mengarah ke arahnya.


Setelah pengemudinya mendekat, ternya itu Jali temannya Ewin yang menjadi korban kebiadaban Yanti dan Rey.


Jali menghentikan motornya, lalu mengahampir Yanti yang berdiri tegak diatas jembatan.


"Eh.. Mbak Yanti.. Ngapain diatas jembatan malam-malam begini? Tanya Jali dengan penasaran.


"Wah.. Kasihan banget si mbak nya.. Ya sudah, Ayo Saya anterin pulang" ucap Jali sok menjadi pahlawan kemalaman.


Dengan tersenyum licik, Yanti menganggukkan kepalanya.


"Makasih ya, Bang.. Kamu baik banget" ucap Yanti dengan senyum penuh kelicikan.


" Iya, Mbak.. Tapi ada imbalannya jugalah, Mbak" ucap Jali menggoda Yanti.


"Gampang itu, Bang.. yang penting Abangnya anterin saya sampai kerumah" jawab Yanti penuh kemenangan.


******


Didi keluar dari rumahnya, Ia melihat orangtua Dino belum kembali, mungkin menginap di rumah saudaranya.


Didi mencoba menghampiri rumah Dino, sebab Ia melihat lampu ruangan tengah sudah terang, itu artinya Dino sudah keluar dari kamarnya.


Didi mengetuk pintu rumah Dino, Ia bwrharap sahabatnya itu mau membukakan pintu untuknya.


"Din.. Dino.. Bukalah pintu ini, Aku akan menjelaskan semuanya" ucap Didi dengan lirih.


Namu Dino masih diam didalam rumahnya.


Didi mencoba duduk dikursi teras miliki Dino. Ia berharap Dino membukakan pintu dan mendengarkan semua penjelasannya.


Sementara itu, Dino mengintai sahabatnya dari balik tirai jendela, Ia melihat Didi duduk diteras rumahnya dan tampak ingin menjelaskan susatu kepadanya.


Namun karena rasa kesalnya, Ia masih tidak ingin bertemu dengan Didi.


Hari semakin malam, namun Didi masih bertahan diteras rumahnya dan hal ini membuat Dino merasa tak tega.


Akhirnya Ia membuka pintu rumahnya, dan tanpa berkata apapun Ia kembali ke sofa dan duduk disana.


Mendapati Dino membuka pintu, akhirnya Didi mengerti jika sahabatnya itu sudah mulai mereda amarahnya.


Didi kemudian masuk ke dalam rumah Dino dan menghampiri sang sahabat yang duduk di sofa.


Didi masih terdiam dan mencoba merangkai kata untuk membuka awal pembicaraan.


"Maafkan Aku.. "


Dino hanya diam tak menjawab ucapan sahabatnya.


"Namun semua itu aku lakukan untuk memyelamatkanmu" Didi menghela nafasnya dengan berat.


Didi masih terdiam dan tak ingin menjawab ucapan Didi.


"Apakah kamu pernah memikirkan berbagai korban pria meninggal dengan kehilangan alat vitalnya? Semua korban itu karena selesai berzinah" Didi mencoba mencari kalimat yang tepat untuk membuat Dino nalar.


Sesaat Dino meresapi setiap kata yang baru saja diucapakan sahabatnya. Ia mencoba memgingat beberapa korban yang meninggal dunia karena dari hasil pemeriksaan korban tersebut habis melakukan kemaksiatan dan dalam mencapai puncak surgawi mereka.


Sedangkan seorang ustaz yang kemarin baru meninggal dalam kondisi baik-baik saja dan tanpa ada kehilangan alat VitAlnya.


"Namun Aku tidak ingin memaksamu lagi untuk mendengarkan segala ucapanku, semua ada pada keputusanmu, sebab ini hidupmu dan Aku tidak akan mengusikmu lagi" ucap Didi, lalu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.


"Di.."


Didi menghentikan langkahnya, dan tanpa menoleh ke arah sahabatnya.


Lalu Dino beranjak dan menghampiri sahabatnya lalu memeluknya dari arah belakang "Maafkan Aku, maafkan atas keegoisanku" ucapnya tulus, lalu Didi menepuk pundak sahabatnya, dan menganggukkan kepalanya, lalu berpqmitan pulang.