
"Mas.. Siapa wanita itu? Bukankah dia wanita yang sama saat menyelamatkan kita dijembatan?" tanya Mala dengan degub jantung yang berdebar.
"Mungkin juga" jawab Bayu sembari menyetir mobil milik Hadi dan melaju kencang sebab adzan maghrib masih terdengar berkumandang. Mereka ingin segera sampai dirumah sakit.
Tak berselang lama, mereka tiba dirumah sakit dan bergegas menuju ruang rawat inap Shinta.
Sesampainya disana, mereka mendapati Mirna dan Satria sedang berada disana dan bersiap ingin ke mesjid.
Mala meletakkan 6 bungkus makan malam mereka yang terdiri dari nasi goreng dan mie goreng diatas meja sofa, dan tak sempat untuk berbincang karena waktu maghrib telah masuk dan mereka harus shalat Maghrib.
Setelah selesai shalat Maghrib, mereka kembali ke ruang rawat inap dan menyantap makan malam mereka, sedangkan Shinta masih dengan bubur rumah sakit meskipun lambungnya sudah mulai membaik.
Setelah menyantab makan malam, Hadi berpamitan untuk pulang kerumah dan mengambil perlengkapan pakaian dan juga lainnya.
Hadi mengendarai mobilnya dan menuju pulang kerumah. sesampainya di rumah, Hadi menapaki anak tangga menuju kamarnya, tempat dimana peristiwa itu terjadi.
Saat membuka pintu kamar, suasana hening dan juga mencekam.
Para asisten rumah tangga sudah membersihkan pecahan cermin dan polisi sepertinya tidak mengungkap kejadian tersebut karena Hadi mencabut laporannya. Sebab jika dilanjutkan juga kepolisian tidak akan menemukan siapa pelakunya.
Hadi membuka pintu lemari pakaian. Ia ingin mengambil beberap helai pakaian milik Shinta dan perlengkapan lainnya dan memasukkannya ke dalam tas jinjing yang berukuran sedang.
Perlahan Ia mendengar suara air mengalir deras didalam dari kran shower.
Hadi meyakini jika tak ada siapapun yang berada dikamar ini kecuali dirinya. Lalu Hadi melangkah mendekati pintu kamar mandi, dan menarik handlenya, lalu membukanya dengan kasar.
Tampak dibalik didinding kaca buram pembatas untuk mandi seseorang sedang mandi menggunakan shower.
Hadi tercenung. Siapa yang berani mandi dikamarnya malam-malam dan memasuki kamar tanpa seijinnya.
Hadi merasakan deguban dijantungnya semakin berdegub kencang dan hatinya tak mampu menahan rasa cemas dan juga penasaran.
Bayangan dari balik kaca adalah sosok wanita berambut panjang dengan tubuh kurus kering, dan kukunya tampak begitu runcing saat sedang mengusap rambutnya yang basah.
Hadi berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan dan ingin melihat siapa.yang sedang mandi tersebut.
Aroma sabun yang dipakainya beraroma kembang kenanga dan sangat menyengat.
Hadi tahu itu bukan aroma sabun milik Shinta, sebab Shinta menggunakan sabun cair beraroma bunga sakura.
Degub dijantungnha semakin kencang dan rasa takut juga menjadi satu saat Ia semakin dekat dengan dinding kaca pembatas anyara buthub dan shower.
Saat Hadi menyingkap tirainya..
Sreeeeekk.
Tak tampak siapapun didalam ruangan shower tersebut.
Hadi terperangah. Sebab Ia meyakini jika tadi ada seseorang yang berada didalam ruangan tersebut. Bahkan shower masih hidup dan tampak lantai basah. Hadi segera mematikan kran shower, lalu melangkah mundur untuk keluar dari tersebut.
Saat Ia berada diambang pitu yang hanya ditutup dengan tirai anti air, Ia merasakan ada sesuatu yang menghalangi langkahnya dan Hadi menabraknya.
Jantung Hadi semakin berdegub kencang, dan dengan gerakan cepat Hadi meraih tirai penutup Pintu ruang amndi dan membelitkannya ke kepala sosok tersebut lalu mencoba berlari menuju pintu kamar mandi untuk segera keluar.
Setelah berhasil keluar dari kamar mandi, Ia berusaha mengunci pintu tersebut, dan menyambar tas jinjing berisi pakain Shinta untuk kembali ke rumah sakit.
Hadi menuju halaman rumah dan menaiki mobilnya lalu mengekudikannya dengan cepat.
Jantungnya sangat berdegub kencang ketika mengetahui makhluk menyeramkan dengan wajah hancur membentuk lubang-lubang kecil seperti hantaman sebuah tasbih yang dilakukan oleh seseorang.
Hadi terus melaju kencang menuju ke rumah sakit. Namun sesaat Ia terhenyak karena menyadari jika mobilnya seperti jalan ditempat.
Ia melihat jika dirinya masih berada dihalaman rumah, dan ini tampak begitu membingungkan, sebab Ia merasakan sedang mengemudi namun tetap berada ditempatnya.
"Dasar, Syeetan.. Sialaan!!" maki Hadi dengan geram.
Seketika mobilnya meluncur kencang dan membuat Hadi merasa kebingungan dan berusaha mengendalikan laju mobilnya karena hampir menabrak pintu pagar halaman rumahnya.
Dengan keahlian mengemudinya, Ia mampu mengendalikan mobilnya tersebut.
Nafas Hadi tersengal dan deguban dijantungnya semakin kencang. "Astaghfirullahallazhim.." Hadi beristighfar atas segala apa yang dialaminya.
Hadi kemudian membaca tas'awud dan segala doa Ia panjatkan memohon perlidungan dari Sang Pencipta Alam semesta yang menguasai alam dengan penuh keyakinan.
Hadi kembali mengemudikan mobilnya dan saat Ia melihat kaca dahsbor, tampak satu sosok yang ditemuinya dikamar mandi tadi sudah duduk dijok tengah.
"Haaah..!!" Hadi tersentak kaget saat melihat sosok itu duduk menatap dengan sorot mata tajam dan bersinar merah.
Dengan gerakan refleks, Hadi mengambil tabung racun api yang tergantung tak jauh dari tempat setirnya, lalu Ia getokkan dikepala iblis wanita itu dengan sangat geram sembari membaca segala doa yang Ia hafal, dan beruntungnya Hadi tidak latah membaca doa sebelum makan.
Ia menggetok kepala Iblis tersebut sembari menutup matanya, hingga tanpa sadar jika Ia saat ini sedang menggetok jok mobil karena iblis itu sudah melesat pergi.
Setelah beberapa menit kemudian, Ia membuka matanya dan mencoba mengintai dengan ujung matanya dan mendapati iblis tersebut sudah tidak ada lagi di jok mobilnya.
Hadi bernafas lega. Lalu bergegas mengemudikan mobilnya sembari menggerutu kesal.
Sepanjang perjalanan pergi ke rumah sakit, Hadi terus merafalkan doa untuk memohon pertolongan kepada Rabb-Nya agar dilindungi dari iblis laaknat tersebut.
Sementara itu, Sosok iblis betina itu melesat membelah kegelapan malam dan merasakan kepalanya sangat pusing.
Sosok itu kembali ke kediaman Nek Surti dengan perasaan kesal. Niat hati ingin melukai Hadi, namun justru Ia bernasib apes.
Tampak tak jauh darinya jika Ia melihat Rey sedanv mengipas-ngipas rudalnya yang terbakar dengan tangannya yang berbulu lebat itu.
Rudal yang harus dibanggakan untuk Mirna justru bernasib malang harus terbakar dibagian kepalanya dan membengkak.
Sedangkan Ki Genderuwo masih terkapar dilantai tanah dengan hawa panas yang menyelimuti tubuhnya.
Semua usaha yang sudah mereka bangun untuk menghancurkan keluarga itu selalu saja gagal. Mereka merasa harus mencari tumbal terakhir yang akan memberikan mereka kekuatan besar, yaitu Samudera.
Ya.. Samudera adalah target tumbal yang harus mereka dapatkan, apalagi usia Samudera sudah 16 tahun dan ini adalah usia yang sangat tepat untuk menjadi tumbal persembahan sebagai pemberi kekuatan mereka untuk menghancurkan keturunan keluarga Ki Karso.