
Karena merasa tidak memiliki pilihan lainnya, akhirnya Satria terpaks menjemput Mirna dan meminta untuk bekerja dirumahnya.
Satria mengendarai mobilnya, lalu menuju rumah Mirna.
Sesampainya didepan rumah gadis itu, Satria antara ragu dan juga terpaksa untuk mengetuk pintunya.
Setelah meyakinkan dirinya, Akhirnya Satria mengetuk pintu itu juga.
Tok...tok...tok...
Satria mengetuk pintu rumah Mirna, lalu terdengar suara derap langkah kaki yang menuju pintu depan rumah.
Saat pintu rumah dibuka, tampak seorang gadis yang baru saja selesai mandi dengan rambut basah terurai sedang menatapnya.
Satria sangat kikuk melihat pandangan gadis itu, dan mencoba mengalihkan pandangannya.
"Emm.. Aku datang kemari untuk meminta bantuanmu" ucap Satria dengan lirih tanpa menoleh kearah gadis itu.
"Hal apa yang dapat Aku bantu untukmu?" tanya Mirna dengan tatapan yang terus memperhatikan pria didepannya.
"Apakah Kamu mau membantuku membersihkan rumah? Nanti uang bulananmu Aku tambah 2 kali lipat.." ucap Satria dengan tarikan nafas yang sangat berat.
"Apakah hari ini?" tanya Mirna dengan nada serius.
"Ya.. Jika Kamu tidak keberatan, dan Aku minta tolong kami jagain Syafiyah, soalnya setelah menjemputmu, Aku ada urusan sebentar ke Bank.." ucap Satria dengan sedikit melunak hatinya.
Mirna menganggukkan kepalanya lalu bersiap dan meraih kunci rumahnya.
Mirna berjalan dibelakang Satria, saat ingin naik di jok depan, Satria menegurnya "Emm..Mirna.. Kamu duduk di jok tengah saja, Ya.." pinta Satria, lalu Mirna yang sudah sempat membuka pintu jok depan akhirnya menutup kembali pintu mobil jok depan.
Mirna menuju jok tengah dan duduk disana, baginya tidaklah masalah, dapat melihat pria itu saja sudah membuatnya sangat senang dan merasakan hidupnya sempurnah.
Mobil meluncur membelah jalanan desa dan akhirnya tak berselang lama sudah sampai didepan rumah Satria, lalu Satria menyerahkan kunci rumah, dan berpamitan untuk pergi ke Bank karena sesuatu urusan.
Mirna turun dari mobil, lalu membuka kunci rumah dan masuk kedalamnya. Lalu Ia menutup kembali pintunya.
Mirna lalu membersihkan rumah dalam sekejap mata dan mulai memasak. Setelah selesai memasak, Ia meneriksa Syafiyah masih tampak teridur pulas.
Lalu Mirna memilih untuk berbaring di sofa menanti Satria pulang kerumah.
Sementara itu, mobil Satria yang melintas dijalanan dilihat oleh Yanti yang saat itu baru saja keluar dari rumahnya. Ia dapat menebak jika Syafiyah saat ini pasti sedang sendirian. Ia masih menaruh dendam dengan kejadian waktu itu.
Yanti segera memacu sepeda motornya dan menuju kerumah Satria. Sesampainya didepan rumah itu, Ia membuka pintu rumah yang tidak terkunci dan mengendap-endap masuk kedalam rumah layaknya seorang pencuri dan menyelinap kedalam kamar.
Seketika Mirna terjaga dan mengerjapkan kesua matanya. Sekilas Ia melihat seseorang masuk kedalam kamar Satria.
Yanti yang sudah berada didalam kamar tersenyum menyeringai, Ia menghampiri Syafiyah yang masih tertidur pulas, dan meraih bantal yang berada disisi kiri Syafiyah.
Yanti ingin membekap wajah Syafiyah menggunakan bantal, lalu Ia meketakkan bantal tersebut diwajah Syafiyah yang sedang tertidur pulas, dan..
Wuuuuushh... Ssssttt..
Sebuah selendang menendang bantal itu hingga terpental kesisi ranjang.
Yanti terperangah, dan menoleh kearah seseorang yang berada dibelakangnya.
Alangkah terkejutnya Ia saat mendapati Mirna berada dibelakangnya dengan menatap penuh kebencian.
"Sialan.. Lagi-lagi Dia.. Kenapa sih ini cewek selaku saja nongol tiba-tiba" gerutu Yanti dengan kesal.
Yanti keluar dari kamar dan menatap Mirna dengan tatapan tak suka. Yanti dengan cepat menarik rambut Mirna dengan cepat dan menariknya.
Bukannya kesakitan, Mirna tertawa melihat ulah Yanti, lalu dengan sebuah gerakan memutar tubuhnya , Mirna melayangkan tendangan kepada Yanti yang membuat gadis itu terlempar kediding dan meringis kesakitan.
Yanti memegangi perutnya yang tampak mengeras dan sakit. Ia merasakan jika perutnya teras keram.
Yanti menciut nyalinya, dan memilih keluar dari rumah Satria. Yanti memacu sepeda motornya dan menuju sebuah gubuk jagung tempat dimana Ia dan ketiga pemuda itu pernah bercocok tananm.
Ia menghubungi ketiga pemuda itu untuk menemuinya segera disana.
ketiga pemuda itu dengan cepat menemui Yanti, entah apa yang sedang difikirkan ketiganya, sehingga mau saja diperintah oleh Yanti.
Tak berselang lama, Jeffri, Dandy dan juga Jali sudah berada digubuk itu menemui Yanti.
"Ada apa memanggil Kami kemari? Bukankah Kami sudah membayar ganti rugi dari apa yang sudah kami perbuat?" tanya Jali dengan sinis.
Yanti menatap Jali dengan tatapan tajam. "Aku ingin meminta bantuan kepada kalian" ucap Yanti serius.
Ketiga pemuda itu saling tatap dan merasa penasaran.
"Bantuan apa? Dan imbalannya?" tanya Jeffri dengan tak sabar.
"Mendekatlah.." perintah Yanti yang kini memimpin situasinya.
Ketiga pemuda itu menuju gubuk dan duduk didipan tersebut.
"Perhatikan foto gadis ini.. Ia bekerja dirumah Satria, Aku ingin kalian memberikan pelajaran untuknya" titah Yanti kepada ketiga pemuda itu.
"Wiiiih.. Cantik bener Ne cewek.. Mana bohay lagi.." teriak Dandy dengan semangat.
"Tapi Kalau tinggal dirumah itu mana mungkin kami bisa mengerjainya"ucap Jeffri dengan sedikit pertimbangan.
"setiap yang bekerja dirumah itu, jam 5 sore juga sudah pulang, kalian ikutin saja dimana rumahnya" ucap Yanti menjelaskan.
Seketika ketiga pemuda itu tersenyum dan membayangkan wajah Ayu Mirna dan juga body yang aduhai yang membuat ketiganya tampak bersemangat.
"Tetapi setiap perintah itu dimana-mana ada imbalannya" ucap Jali mengingatkan.
"Perhitungan banget, lagian pekerjaannya juga yang enak-enak" jawab Yanti ketus.
"Ya tidak bisa begitu, kamu harus bayar di muka, kalau tidka Kami tidak mau melakukannya" jawab Dandy menimpali.
Yanti memanyunkan bibirnya.."Aku tidak bawa uang untuk saat ini" jawab Yanti kesal.
Ketiga pemuda saling tatap dan tersenyum menyeringai.. "Gampang.. Bayar saja dengan ini" ucap Jali langsung menerkam Yanti.
"Jangan berisik dan jangan coba-coba menuntut Kami, sebab Kau sendiri yang mengundang Kami kemari" ancam Dandy dengan nada penekanan.
Laku ketiganya menggarap Yanti dan bercocok tanam tanpa perlawananan apapun.
Hari menjelang senja, Mirna berpamitan kepada Satria untuk pulang. Saat Satria Ingin mengantarkannya, namun Mirna menolaknya dan bersikeras untuk pulang sendiri dengan alasan Syafiyah tidak ada yang menemani. Akhirnya Satria mengalah.
"Okelah.. Esok Aku akan membelikanmu sepeda motor, dan Kamu akan Aku ajari cara menggunakannya" ucap Satria kepada Mirna. Gadis itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mirna berjalan menyusuri jalanan yang sudah mulai sepi, karena hampir memasuki waktu maghrib.
Ketiga pemuda yang telah sedari tadi menunggunya tersenyum menyeringai "Gila.. Aslinya lebih cakeo dari yang difoto" ucap Jeffri tak berkedip.
Ketiganya mengikuti Mirna dari arah belakang.
Lalu Jali yang membawa motor sendiri menghampiri Mirna dengan tatapan seringai.
"Mbak.. Koq jalan sendirian.. Saya anterin, Yuk?" Jali menawarkan.
Mirna menghentikan langkahnya, menatap pemuda tersebut dan membaca isi hatinya..
Lalu Mirna menganggukkan kepalanya dan nai keboncengan.
Ketiga pemuda itu bersorak dalam hatinya, merasa Mirna masuk kedalam perangkap mereka.