MIRNA

MIRNA
episode-246



"Aaaarrrgh.." Angkasa tersentak dari tidurnya dan merasakan sebuah tangan mencolek wajahnya.


Ia mengerjapkan ke dua matanya, lalu menyipitkannya dan melihat jika itu adalah Samudera, Kakaknya.


"Kamu mimpi buruk, Ya?" tanya Samudera dengan suara tenang.


Angkasa menganggukkan kepalanya.


"Buruan istighfar 3 x dan meludah ke kiri, itu hanyalah iblis yang menggodamu.


Angkasa beranjak bangkit, dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Samudera.


Lalu Ia melihat jam didinding kamar menunjukkan pukul 2 dini hari, Samudera tampak melanjutkan tidurnya, sedangkan Angkasa masih merasakan nafasnya tersengal karena merasa sedang berpacu cepat dengan Nini Maru saat akan melarikan dari dalam goa.


Angkasa melirik ke arah sang kakak, dan Ia masih teringat akan perkataan dari Nini Maru jika Ia menginginkan darah Samudera sebagai pembalasannya, dan jika tidak mendapatkan Samudera maka Mirna sang Ibu yang akan menjadi gantinya.


Bagaimana mungkin Ia begitu tega mengorbankan Samudera yang selama ini selalu bersamanya dan sering melindunginya, bahkan darah Satria sang Ayah juga mengalir didalam tubuh mereka.


"Tidak..!! Ini tidak mungkin.!! Aku tidak akan memberikan salah satu dari mereka, bahkan aku akan mempertahankan keduanya" guman Angkasa yang tak ingin kehilangan salah satu dari keduanya, sebab Ia menyayangi keduanya.


Angkasa beranjak bangkit dari ranjangnya. Lalu menuju kamar mandi dan berwudhu. Ia akan shalat tahajjud disepertiga malam ini.


Bukankah Rabb-nya menjanjikan jika ada yang memohon ampunan, maka akan Ia ampunkan, dan jika ada hamba-Nya meminta maka akan Ia kabulkan.


Angkasa meyakini jika segala apa yang difirman-kan oleh dia Sang Pencipta Alam Semesta adalah sebuah kebenaran. Dan Angkasa juga meyakin jika tidak adasatupun kekuatan yang ada dialam semesta ini yang dapat menandingi kekuatan Sang Pencipta dirinya.


Setelah selesai berwudu, Ia mulai menggelar sejadahnya. Berdiri tegak kurus menghadap kiblat, dan berniat Tahajjud, lalu menganggkat takbir dan mulai khusyuk.


Saat dirakaat pertama, Ia merasakan deru angin sangat kencang yang menggo-yangkan dahan pepohonan dan bahkan ada yang terdengar patah dan menimbulkan buyi..


Kreeeeeekkk... Baaaaamm..


Dahan pohon kayu itu terjatuh ketanah dan suara angin semakin kencang laksana akan turun badai yang sangat hebat.


Angkasa tidak perduli dengan apa yang terjadi, Ia terus saja melaksanakan ibadahnya, dan setelah rakaat yang kedua, tiba-tiba sebuah sambaran petir bagaikan berada tepat diatas atap kamarnya.


Duaaaaaaar...


Suara sambarannya begitu sangat kuat dan sangat menggetarkan dinding rumah seolah ada seauatu yang disambarnya.


Samudera yang semula hampir mencapai mimpinya sampai tersentak bangun karena kuatnya sambaran petir tersebut.


Kilatan cahaya halilintar yang berkedip-kedip sebelum suara petir itu menghangus sebatang pohon rambutan yang dimana biasa Kang ujang mangkal berjualan baksonya mengiringi ledakan suara petir tersebut, angin kencang tiba-tiba datang laksana ingin melenyapkan segala yang ada.


Samudera menarik selimutnya dan berlindung dibalik selimut tersebut, karena cahaya halilintar tersebut masih berkedip-kedip memperlihatkan kesombangannya dengan diiringi sebuah sambaran lainnya.


Kini Angkasa melanjutkan Witirnya yang mana hanya satu rakaat saja.


Setelah Itu Ia mulai berdzikir yang mana dimulai dengan shalawat kepada Baginda Rasulullah sebab tiada halang doa yang kita panjatkan jika diawali dengan shalawat Nabi."Alluhumma shalli alla syayyidinna muhammadan shalatan alaa ridha ar ridha" Angkasa membacakan shalawat tersebut sebanyak 11 kali, lalu dilanjutkan dengan tasbih Nabi Yunus "Laa Ilaaha Ilaa Anta Subhanaaka inni Kuntu Minadzhalimin" dan Ia membacanya seratus kali.


Setelah menyelesaikan dzikirnya, Angkasa memulai doa "Wahai Ya Rabb.. DZat yang menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya, Sebagaimana Engkau memudahkan Nabi Yunus keluar dari perut ikan 'Nun', maka mudahkanlah segala urusannku untuk menghancurkan Nini Maru dan teman-trmannya" Angkasa melafazkan niatnya, lalu menggenggam tasbihjya, dan mulai melakukan dzikirnya.


Suara petir dan kilatan cahaya yang tadi berada disekita rumahnya, tiba-tiba saja mereda dan berpindah tempat ke sebuah pemakaman. Nini Maru yang saat ini sedang melakukan perlawanan kepada Angkasa dengan mengerahkan segala kekuatannya, tiba-tiba mekihat petir dan kilatan halilintar yang dikirimkannya tadi ke rumah Satria menuju berbalik ke arahnya.


Ketiga rekannya melihat hal tersebut merasa jika itu adalah senjata makan tuan yang saat ini akan menyambar mereka, dengan cepat Ki Kliwon menjambak rambut Nini Maru yang masih bengong menatap datangnya deru angin kencang laksana angin tornado yang berputar dan akan mencabut pohon tersebut.


"Sakit, Ki.." teriak Nini Maru saat menyadari rambutnya dijambak oleh Ki Kliwon.


Seketika Ki Kliwon melepaskannya."Sorry, Ni.. Abisnya kamu cuma bengong, kalau kesambar petir kan hangus kamu!!" jawab Ki Kliwon yang melepaskan jambakan dirambut Nini Maru.


Lalu Nini Maru menggaruk kepalanya yangvterasa gatal dan sakit karena dijambak kleh Ki Kliwon.


Kini keempat Iblis itu melarikan diri dan rumah pohon beringin yang mereka tempati hancur tercabut angin dan hangus terbakar oleh sambaran petir yang maha dahsyat dan kini hancur berantakan tak tersisa.


Lalu kemacauan itu mereda seketika, dan bagaikan tidak terjadi sesuatu.


ke empat iblis itu hanya memandanginya dengan gak berkedip.


Mereka masih melayang diudara dan berfikir untuk mencari rumah baru bagi mereka.


Keempat Iblis itu melayang menembus kegelapan malam. Mereka mencoba mencari tempat yang nyam buat tempat tinggal mereka.


Sesaat mereka melihat rumah Nek Surti yang sangat reot ditinggal mati karena serangan Yanti waktu itu.


Rumah yang ditinggalkan sepuluh tahun yang lalu itu tampak begitu sangat menyeramkan karena sudah lama terbengkalai dan rumor yang berkembang dimasyarakat jika rumah itu sering terjadi penampakan makhluk halus yang mengganggu warga jika sedang melintasinya.


Ternyata itu hanyalah kuntilanak kuning yang merasa jahil dan sangat mudah bagi Nini Maru dan ketiga temannya untuk mengusir kuntilanak tersebut.


Dengan satu sentilan dari kuku Ki Kliwon maka kuntilanak kuning sudah menghilang dengan diiringi lengkingan yang kuat dan menyayat hati.


Rumah baru mereka dipenuhi oleh sarang laba-laba dan banyak dinding yang berlubang dan sangat memperihatinkan.


Namun untuk saat ini, rumah warisan Nek Surti adalah yang ternyaman bagi mereka.


Angkasa menyelesaikan dzikir saat suara adzan subuh berkumandang. Samudera yang sedari tadi bersekungkup dibalik selimutnya membuka selimut tersebut dan bernajak dari ranjangnya untuk berwudhu sebelum suara ketukan ayahnya dipintu membangunkan mereka.


Setelah selesai berwdhu, Ia mengenakan pakaian shalatnya, lalu menunggu Angkasa untuk shalat berjamaah ke mushallah.


Saat Angkasa beranjak bangkit dari duduknya. Samudera tampa sengaja melihat pergelangan kaki kanan Angaksa membiru seperti terkena cengkramgan sebuah tangan karena membentuk 5 jari.


"Dik, pergelangan kakimu kenapa?" tanya Samudera dengan penasaran.


Angkasa mengerutkan keningnya, lalu melirik ke arah yang di maksud oleh kakaknya.


Ternyata itu bekas cengkraman Nini Maru yang saat berada didalam goa, dan mengapa begitu terasa nyata?


"Oh.. Mungkin digigit lipan, Kak" jawab Angkasa lalu beranjak bangkit untuk pergi ke Mushallah.