MIRNA

MIRNA
episode 203



Nini Maru yang menguasai tubuh kasar Yanti kini sudah berada dihadapan Tia yang diam tak bergeming.


Wajah takut wanita muda itu tampak begitu kentara dan membuatnya sangat begitu memucat.


Tubuh kasar Yanti yang penuh belatung dan sangat menjijikan sudah menggerakkan tangannya dan menyingkap pakain daster Tia .


Sedangkan Tini mencoba beringsut dari tempatnya dan diam-diam berusaha untuk kabur dari gubuk tersebut.


Dengan tertatih sembari memegangi perutnya yang sangat sakit akibat kontraksi membuatnya tidak dapat mempercepat langkahnya.


Jalanan yang gelap gulita membuatnya harus mera-ba mencari jalan menuju keluar dari kebun.


Saat sedang dalam pelariannya, Ia mendengar suara jeritan kesakitan dari Tia yang kini berhadapan dengan Yanti dan ketiga iblis tersebut.


Tini terus melangkah menembus kegelapan malam yang kian sepi, dan perlahan suara Tia melemah bersama dengan desiran angin yang membawanya pergi bersama.


Di gubuk itu, Tia menahan suaranya tercekat ditenggorokan karena Sosok mengerikan dengan kuku runcingnya itu memaksa masuk ke jalan lahirnya dan menarik paksa janin yang sudah tampal kepalanya menyembul dijalannya.


Placenta yang masih tertinggal didalam rahim itu juga Ia paksa keluar bersama dengan hentakan yang menyakitkan.


Janin yang sudah memiliki organ tubuh yang lengkap itu masih bernyawa saat Yanti menarik paksanya.


Ia menangis sekejab dan menggerakkan tubuhnya yang mungil dan mulutnya bergerak seolah hendak meminta minum ASI.


Namun Yanti dengan cepat melahabnya tanpa sisa.


TIa yang menyaksikannya dengan kepala matanya sendiri bagaimana Sosok mengerikan itu menyantab anaknya yang berjenis kelamin perempuan, mendadak tak sadarkan diri.


Tak ada tangisan itu lagi, kini sosok mungil tersebut sudah habis tak bersisa. Lalu haus akan darah yang sudah lama Ia pendam, membuatnya seketika menyesapnya secara rakus.


Ia begitu sangat candu dengan darah tersebut, dan Ia belum terpu-askan meski sudah mendapatkan satu janin.


Tubuhnya yang semula sangat panas, kini sedikit mereda, dannm Ia masih inginkan darah itu lagi. Ia melesat menyusul Tini yang mencoba melarikan diri darinya.


Tini berjalan tertatih sembari terus memegangi perutnya yang sangat sakit. Darah mulai merembes dari jalan lahirnya, rasa sakit itu sangat nyata, lalu kakinya tersangkut akar pohon karena suasana gelap gulita, dan kepekatan malam yang kini ada di depannya.


Wanita muda itu terus mengerang dan ingin beranjak bangkit. Namun sakit yang dideranya membuatnya tak bisa untuk bangkit.


Satu sosok melesat menghampirinya yang kini tengah terduduk diatas rerummputan.


Darah terus mengalir dari jalan lahirnya dan kian merembes dengan deras. Pakaiannya sudah basah oleh darah yang tak dapat lagi dicegah.


Nafas Tini kian tersengal. Degub jantungnya kian menderu yang terdengar bagaikan suara melodi yang menakutkan.


Yanti kini berdiri dengan jarak 10 meter darinya tiba-tiba merangkak dengan cepat menuju ke arahnya dan kini sudah berada tepat dihadapannya.


Tini mencoba menggerakkan tumit kakinya untuk beringsut mundur.


Namun Yanti menarik kaki Tini dengan menggunakan tangannya yang tampak penuh belatung dan juga dengan aroma anyir dan juga amis yang sangat memualkan.


Tini menjerit ketakutan, namun tak satupun seseorang yang mendengarnya.


Dengan cepat Yanti mendekatkan tubuhnya kepada Tini dan bola matanya yang hanya sebelah saja bersinar cahaya merah dan belatung yang bersarang di tubuhnya berjatuhan karena pergerakan Tini yang berusaha menendang tubuh Yanti mencengkram pergelangan kaki Tini.


Yanti dengan cepat menggerakkann tangannya memaksa masuk kejalan lahir milik Tia. Dengan cepat tangan itu menarik paksa janin itu keluar dan dengan satu hentakan janin itu keluar paksa.


Nini Maru yang tak sabar melihat Janin itu dengan tatapan seringai lalu melahabnya dengan rakus dan tak membuat Tini membolakan matanya.


Tini kembali berteriak, namun suaranya tak pernah dapat keluar dari tenggorokannya.


Setelah melahab habis janin tersebut, Yanti masih haus darah itu. Ianingin menyesapnya dengan menggunakan bibirnya yang dipenuhi belatung.


Namun..


Buuuuuuuuugh..


Sebuah hantaman benda keras mengenai kepalanya hingga membuatnya tersungkur. Dengan cepat Ia satu sosok wanita yang tak lain adalah Tia yang baru tersadar dari pingsannya memukul tubuh kasar Yanti dengan bongkahan kayu bakar yang didapatnya digubuk.


Lalu Ia menarik Tini agar segera berdiri dan segera keluar dari kebun dan menuju jalanan utama.


Dengan susah payah Tini beranjak bangkit, Ia merasa bersalah telah meninggalkan Tia sendirian, namun ternyata Tia membantunya saat bahaya.


Keduanya beranjak berjalan dengan tertatih dan mencoba mencapai jalanan utama dengan kondisi Tia yang mana placentanya masih tertinggal didalam rahimnya.


Yanti yang kepalanya terkena pukulan kayu bakar itu membuat retak tengkorak kepalanya dan daging disisi luar kulitnya mengelupas dah belatung-belatung itu berjatuhan dengan sangat banyak dan tanpa sadar retakan ditengkoraknya itu membuat belatung menyesap masuk dan menggerogoti otaknya.


Tubuh kasarnya beranjak bangkit, meskipun Ia merakasan sakit dibagian kepalanya karena belatung itu sudah masuk kedalam tubuhnya, namun ketiga Iblis itu terus memaksanya untuk melakukan apapun yang diinginkan oleh ketiganya.


Seketika Yanti bergerak dengan sempoyongan mengejar Tia dan Tini yang mencoba melarikan diri darinya.


Ia melesat mengejar keduanya yang berjalan tertatih-tatih mencapai jalanan utama.


Tini merasakan tubuhnya sangat lelah, placenta yang yertingal didalam tubuhnya membuat merasakan sesak, dan Ia sepertinya sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.


"Tia.. Larilah.. Aku tidak kuat lagi, tubuhku sangat lemah" ucap Tini yang merasakan pemandangan sudah tak mampu lagi untuk melihat setitik cahaya.


"Bertahanlah, kita hampir sampai" ucap Tia memberikan semangat kepada sahabatnya.


Sementara itu, Yanti sudah berada dihadapan keduanya menghalangi jalan mereka. Ia masih menginginkan darah Tini yang terus merembes, dan juga placenta yang tertinggal.


Tia mencoba menghalangi makhkuk itu agar tak menyentuh Tini. Ia melayangkan pukulan itu sekali lagi ke tubuh Yanti dengan balok kayu tersebut.


Tanpa diduga Yanti menangkap balok tersebut, dan mencoba memutarnya lalu menendang Tia hingga terpental kebelakang dan Tia tak sadarkan diri.


Tini yang sudah tak sanggup lagi bertahan mencoba pasrah dengan apa yang dilakukan oleh makhluk itu.


Hingga akhirnya..


Buuuuuugh...


Suara hantaman yang kuat yang membuat tubuh Yanti terpental, lalu sekelebat bayangan memungut tubuh Tia dan juga Tini yang dipanggulnya diatas pundaknya.


Sosok bercadar itu membawa tubuh Yanti dan juga Tia ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan.


Para medis tercengang saat melihat tiba-tiba saja ada ranjang troli yang berjalan menuju ke arah mereka dan dengan dua pasien yang tak sadarkan diri dengan pakaian bersimbah darah.