
Satria dan keluargannya telah kembali dari berlibur. Namun masa liburan kenaikan sekolah masih sangat panjang.
"Yah.. Malam ini kami mengaji dimushollah, ya" pinta Samudera kepada Satria.
"Boleh.. Tetapi jangan nakal dan patuhi aturan yang ditetapkan oleh ustaz.." Satria mengingatkan.
Selama ini keduanya mengaji bersamanya di rumah, namun tidak ada salahnya jika keduanya diajar oleh ustaz atau imam mushalllah dekat rumahnya, sebab akan berbagi rezki yang mana akan ada iuran untuk perbulannya dan itu tidak menjadi persoalan bagi Satria.
Maghrib telah tiba, suara adzan berkumandang dengan mendayu-dayu. Satria sudah bersiap akan pergi shalat berjamaah dengan berjalan kaki menuju ke mushallah. Kedua bocah itu ikut dengan Satria pergi dengan menggunakan Sepeda.
Setelah selesai shalat berjamaah, Satria pulang ke rumah, sementara Samudera dan juga Angkasa tinggal di di Mushallah karena akan belajar mengaji bersama teman lainnya.
Mereka tampak sangat senang, karena mengaji sembari bertemu dengan teman sebayanya.
Didekat mushallah, ada sebatang pohon mangga yang tumbuh tinggi dan besar disamping toilet.
Pohon itu kerap kali menjadi pembicaraan yang sangat fenomenal, karena di sinyalir ada penghuni pohon yang suka menampakkan diri pada saat tertentu.
Sudah berulangkali pohon itu ditumbang, namun tak ada yang berhasil menumbangnya.
seorang anak laki-laki merasa sesak pipis, karena sudah tidak sanggup menahannya, akhirnya Ia berlari ke tolilet dan menyalurkan hajatnya.
Namun Ia merasa sangat begitu aneh. Seketika bulu kuduknya meremang karena tiba-tiba ada yang menghembus tengkuknya.
Angkasa yang saat ini sedang menghafal kajiannya, melihat sesuatu di belakang teman mengajinya satu sosok mengerikan dengan wujud tinggi besar dan menjulang.
Angkasa menyentuh Samudera dan mencoba memeprlihatkan apa yang mereka lihat.
Seketika mereka terperangah, dan sangat bingung dengan sosok yang baru mereka lihat tersebut.
Angkasa dan juga Samudera permisi untuk ketoilet.
Sesampainya ditoilet itu, keduanya mencoba untuk menyelamatkan sahabatnya tersebut.
Samudera mencoba menghampiri sahabatnya yang tampak terdiam dan juga tak bergerak saat melihat sosok mengerikan tersebut.
Samudera menepuk pundak sahabatnya dan membawanya keluar dari toilet dan tangan besar panjang itu ingin menggapai ketiga bocah tersebut, namun makhluk itu terpental karena pendaran cahaya dari tubuh Samudera dan Angkasa.
Sementara itu, Angkasa meminta kepada Samudera dan juga sahabatnya merundukkan kepalanya kebawah, sehingga tanpa diduga makhluk itu mengecil dan membuat ketiganya berlari menuju ke mushallah.
Tampak bocah yang tadi ke toilet itu syok dan sangat ketakutan dan menggigil.
Melihat keadaan yang sedikit aneh dari santrinya, imam mesjid itu mempertanyakan penyebabnya, lalu ketiganya menjawab jika mereka melihat ada sosok besar, tinggi menjulang di dekat toilet.
Seketika semua santri ketakutan dan berkumpul karena merasa takut mendengar ucapan ketiga temannya.
hal ini membuat imam mesjid tersebut mencoba menenangkan para Santrinya jika Iblis atau syetan itu takut kepada manusia, bukan manusia yang harus takut kepada mereka. Sebab saat penciptaan manusia, Syetan itu diperintahkan oeleh Allah untuk bersujud kepada manusia pertama yang bernama Adam. Maka sudah jelas manusia lebih mulia dari Iblis atau syetan.
Lalu para santri itu perlahan mulai tenang dan sang imam mushallah mengajak anak santrinya untuk membaca doa secara bersama-sama dan membuat para santri kembali mengikuti pengajiannya.
******
Yanti masih merintih dengan luka bakar dari sambaran petir saat itu.
"Kita akan keluar esok malam tepat malam satu suro" jawab Nini Maru dengan menegaskan.
"Aku tidak suka dengan anak Mirna itu, Ni.. Jangan pernah lagi kamu menyentuhnya, Aku yang menanggung akibatnya, tubuhku sangat sakit" protes Yanti.
"Heeem.." jawab Nini Maru. Ia juga tidak akan membutuhkan Yanti lagi jika Ia sudah mencapai kesempurnaannya, dan tubuh Yanti hanyalah tempat sementara untuk Ia dapat memenuhi tumbal janin 8 korban lagi.
Bagi Nini Maru, Yanti adalah sebagai tempat sementara yang mana akan menjadi sosok tak berguna ibarat habis manis sepah dibuang.
Sebagaimana Ia saat dulu masih mengabdi dan terikat perjanjian dengan Ki Karso. Ia selalu di sanjung dan diberi sesaji yang sempurnah dan selalu diagungkan, namun setelah bertaubat dicampakkan begitu saja.
Maka Ia akan membalaskannya juga kepada Yanti sebagai pengabdinya. Ia akan membuang Yanti setelah Ia tidak membutuhkannya lagi, apalagi dengan tubuh Yanti yang sudah mengenaskan.
Ditempat lain, Dino mulai uring-uringan ingin menikah, sebab Ia juga ingin seperti Didi yang kini tampak lebih baik hidupnya setelah menikah dan membuat rezeki Didi kian bertambah setelah istrinya, Wanda mengandung.
Dino bertandang kerumah Didi, lalu mereka mengobrol diteras rumah Didi.
Dino mengutarakan niatnya yang ingin menikah, dan belum juga menemukan jodohnya.
Didi sudah berjanji akan membantu sahabatnya itu menemukan calon pendamping hidupnya.
"Esok sahabat Wanda datang dari kota, semoga saja kamu suka dan merasa cocok. Jika sudah merasa cocok maka segeralah menikah, jangan menunda-nundanya lagi" Didi mencoba menyarankan.
Selama ini Dino sudah berhubungan melalui aplikasi WA, namun belum juga bertemu.
Dino juga merasa takut untuk terjerumus kepada kemaksiatan, sebab sosok mengerikan yang Ia lihat saat mencabut lato-lato milik remaja itu sungguh sangatlah mengerikan.
"Di.. Aku janji akan nikah setelah bertemu dengan wanita itu" ucap Dino dengan penuh keyakinan.
Didi menganggukkan kepalanya "Baguslah.. Jangan pernah takut untuk menikah dan niatkan untuk ibadah, Insya Allah akan datang keberkahan" ucap Didi menimpali.
Dino tersenyum sumringah dan memantapkan hatinya untuk menuju ke pernikahan.
"Di.. Kamu ingat gak kakek yang fotonya disebar itu?" tanya Dino kepada Didi.
"Iya..ya.. Itukan langganan diwarung mbak Lela. Kita sering ketemu kalau lagi nongkrong disana" jawab Didi.
Seketika mereka bergidik "Iya.. Mbak Lela bahkan terlihat begitu dekat dengan kakek itu" Dino menimpali.
Keduanya terdiam, mencoba mengingat saat-saat mereka sering satu tongkrongan dengan kakek yang kini buronan tersebut.
"Tetapi mengapa polisi belum juga dapat menangkapnya?" Dino berguman lirih.
"menurut kabar yang beredar, waktu penyergapan saat itu, para kepolisian mendapat serangan dan paranormal itu tewas diserang kakek tersebut yang berubah menjadi makhluk mengerikan dengan tubuh besar berbulu lebat" jawab Didi.
Seketia Dino memandang Didi "Tetapi yang kulihat waktu itu bulunya tidak lebat, apa ada pelaku lain yang mirip?" ucap Dino bingung.
Didi memandang pada Dino "Ia.. Waktu aku melihat di warung Mbak Lela dan juga Warung Mbak Yanti makhluk itu bulunya juga tipis" ucap Didi yang juga penasaran.
"Apa benar ada banyak pelaku pesugihan didesa kita ini?" tanya Dino semakin bingung.
Lalu Didi menatap Dino penuh penasaran.