
Mengenai berbagai kuntilanak yang menjadi Fenomena hantu paling narsis di tanah air, ada beberapa jenis kuntilanak yang menurut gaun dan juga levelnya, bukan cuma level pedas dalam bakso atau seblak saja, ya Reader..
Kuntilanak putih dengan gaun putih adalah level terendah, dia tidak menganggu, dan suka muncul diberbagai tempat.
Kuntilanak hitam adalah kuntilanak gaun hitam adalah yang terikat perjanjian dengan seorang dukun untuk menjadi sekutunya.
Kuntilanak gaun merah merupakan kuntilanak yang melalui pertapaan dan ingin mencapai tingkat tinggi dan bergentayangan dengan membawa misi balas dendam. Usia kuntilanak merah sekitar ratusan tahun.
Kuntilanak gaun biru adalah level tertinggi dengan usia mencapai ribuan tahun, jika manusia telah ditempelin jenis ini akan merasa lemas dan sulit disembuhkan.
Kuntilanak gaun kuning adalah jenis kuntilanak yang mati bunuh diri karena patah hati.. (Dikutip dari berbagai sumber).
Kembali ke Mirna..
Kedua bocah laki-lakinya sudah tertidur dan terlelap. Mirna menghampiri Satria dan duduk di sofa tepat Satria sedang duduk sembari menonton televisi.
"Mas.."
"Ya.." jawab Satria, sembari mematikan televisi dan menatap Mirna.
"Nini Maru sudah mulai menganggu kedua putera kita" Mirna mengungkapkapkan isi hatinya. Ia semakin khawatir dan dan Ia tak ingin ada korban berjatuhan terus menerus.
Satria menghela nafasnya, lalu memandang kedua puteranya. Ia juga tak ingin ada korban terus berjatuhan pada warga, namun Ia bagaikan buah simalakama, sebab ilmu itu terlalu dini untuk diwariskannya kepada kedua puteranya.
"Masih ada 10 tahun lagi menanti, Sayang.. Mas tidak bisa terlalu dini menurunkannya, karena daya tahan tubuh dan mental mereka belum dapat menerimanya" jawab Satria.
Mirna menggemgam jemarinya dengan kuat "Namun bagaimana Samudera dapat melihat sosok itu? Sedangkan selama ini Samudera tak dapat melihat sosok Nini Maru" tanya Mirna penasaran.
"Itu karena Samudera menggenggam pergelangan tangan Angkasa, sehingga energi yang dimiliki oleh Angkasa mengalir padanya" jawab Satria.
Mirna memandang Suaminya "Itu artinya jika kelak mereka ingin memusnahkan Nini Maru dan juga sekutunya mereka harus melakukan secara bersama?" cecar Mirna.
"Ya.. Harus ada ikatan bathin diantara keduanya" jawab Satria.
Mirna menghela nafasnya dan menatap kedua puteranya, Ia seakan tak sabar ingin menunggu waktu itu cepat datang.
"Tidurlah, esok kita akan mengajak mereka mendaki gunung untuk melatih mental dan fisik mereka untuk menghadapi setiap rintangan yang ada didepan mereka.." Satria mengingatkan dan membelai lembut wanitanya.
Mirna menganggukkan kepalanya, lalu menuju ranjang kedua puteranya, lalu membenahi selimut yang tertarik karena pergerakan tidur keduanya dan kemudian Ia tidur ditepian ranjang tersebut, lalu tak lama Ia pun terlelap.
Melihat istri dan kedua puteranya tertidur pulas, Satria menggelar sejadahnya, lalu perlahan memejamkan kedua matanya, mengambil tasbih miliknya dan mulai menggerakkan bulir-bulirnya yang terbuat dari batu giok berwarna hijau.
Bibirnya tampak bergerak perlahan membaca sebuah asmaul husnah 'Allah', lalu dengan mengosongkan fikirannya, Ia mencapai tempat berada dialam lain.
Lalu Ia berjalan diatas udara melihat sekelilingnya. Satria kembali ke desa, tampak warga sedang melakukan patroli untuk menjaga keamanan Desa.
Ia merasa sangat bersalah atas semua kejadian ini, sebab dendam yang dibawa oleh Nini Maru untuk keluarganya berimbas pada warga desa.
Namun semua itu juga dapat dihindari andai warga desa dapat menguatkan iman dan menghindari kemaksiatan, sebab Rey hanya akan memangsa korban maksiat saja, sedangkan Nini Maru lebih banyak mengincar janin dari hasil perselingkuhan ataupun juga hasil kemaksiatan.
Ia akan memangsa janin hubungan halal jika sudah tidak menemukan korban tumbal janin hasil perbuatan maksiat lagi.
Namun warga desa sepertinya masih sangat rentan terhadap perbuatan maksiat.
Setelah menikah beberapa tahun tidak memiliki momongan, akhirnya Yuni berselingkuh dengan Likin saat suaminya bekerja shif malam, sehingga akhirnya Ia mengandung, namun karena Ia sudah menikah dan hal ini tidak akan menjadi perhatian warga, sebab Ia bersuami.
Satria melihat sekelebatan bayangan hitam yang tak lain adalah Rey sedang mengintai tiga orang remaja yang sedang dalam kondisi mabuk berat dan mengendarai sepeda motor dan ada satu remaja puteri yang duduk ditengah boncengan dan sepertinya itu juga sedang mabuk karena dicekoki minuman keras.
Warga sudah mengingatkan agar para remaja tidak berkeliaran pada malam hari. Namun entah bagaimana bisa ketiga remaja itu dapat berkeliaran dengan bebas.
Sepeda motor itu sedang menuju sebuah semak-semak untuk menyalurkan hasratnya.
Ketiganya yang sudah oleng tak lagi merasa takut meskipun ada hantu dihadapan mereka karena akal mereka sudah tak lagi waras.
Satria yang melihat sosok Rey mengahampirinya dari arah belakang, lalu melemparkan tasbih ditangannya dan tepat mengenai punggung Rey, dan menimbulkan percikan api.
Seketika punggung Rey terbakar dan ngacir menyelamatkan diri.
Sementara itu, Angkasa terbangun dari tidurnya dan beranjak dari ranjang karena merasa sesak pipis.
Ia pun berjalan menuju kamar mandi dan segera menyalurkan hajatnya.
Setelah selesai, bocah itu kembali menuju ranjangnya.
Namun saat akan naik ke atas ranjang, Ia melihat sang ayah sedang dududk bersila dan memegang sebuah tasbih dengan diam tak bergerak.
Ia yang melihat hal tersebut merasa sangat penasaran, lalu mencoba menghampiri sang Ayah yang tampak diam tak bergerak.
Disisi lain Satria ingin mencari sesuatu yang membuat para remaja itu sadar akan apa yang ingin dilakukan ketiganya.
Satria ingin menghidupkan mesin sepeda motor itu dan menarikbtali gasnya agar ketiganya ketakutan dan tidak melakukan maksiat.
Sebab dari gelagat ketiganya tentu akan berbuat maksiat sebab mereka sudah saling melucuti pakaian mereka.
Disisi lain, Angkasa mencoba mengguncang tubuh Satria dengan sangat keras.
"Yah.. Ayah.. Bangun, Yah.. Pindah boboknya jangan disisni, yah" ucapa Angkasa sembari terus mengguncang tubuh Satria yang saat ini sedang ingin menggagalkan perbuatan ketiga remaja tersebut.
Guncangan Angkasa menbuat Satria tersentak dan tak lagi konsentrasi dan mengharuskan sukmanya kembali ke raganya.
Sementara itu, ketiga remaja itu telah melakukan maksiat dan tampak tak menyadari jika apa yang telah mereka lakukan adalah dosa yang nantinya akan membuat warga desa menanggunya.
Satria akhirnya kembali ke raganya karena Angkasa yang terus mengguncang tubuhnya.
Sesaat Satria tersentak dan menoleh ke arah Angkasa yang menatapnya dengan kebingungan.
"Ayah kenapa tidur sembari duduk? Ayo naik keranjang" ucap Angkasa dengan nada iba.
Satria menganggukkan kepalanya, lalu membelai ujung kepala puteranya.
"Pergilah terlebih dahulu, nanti ayah akan menyusul" ucap Satria mencoba setenng mungkin.
Lalu Angkasa menganggukakkan kepalanya dan beranjak menuju ranjang untuk tidur.
Satria menghela nafasnya, Ia melihat jika para remaja itu telah terjerumus dalam dosa kemaksiatan yang seharusnya tak mereka lakukan.