
Yanti merasa uring-uringan. Tubuhnya menginginkan sesaji ayam cemani dan juga Kembang tujuh rupa membuatnya semakin gelisah. Yanti tidak mengerti mengapa Ia begitu menginginkannya.
Gadis itu keluar dari kamarnya. Kasus kematian pedagang daging di pasar masih ramai diperbincangkan.
Setiap pria yang mati secara misterius selalu kehilangan organ vitalnya yang mana sudah terjadi beberapa kalinya di desa ini.
Tentu saja hal ini bukanlah sesuatu yang kebetulan saja, namun ada sebab lain yang harus diusut tuntas.
Yanti pergi ke pasar untuk mencari ayam cemani yang berwarna hitam di sekujur tubuhnya itu.
Ia sudah berkeliling di setiap pedagang unggas yang ada di pasar tersebut, namun tidak ada satupun pedagang yang menjualnya, gadis itu merasa putus asa.
Hingga akhirnya Ia bertanya kepada penjual unggas terakhir yang ditemuinya "Bang.. ada ayam cemani? Yang semuanya berwarna hitam?" Tanya Yanti dengan lemah.
Ia juga tidak mengerti mengapa Ia mengetahui nama ayam cemani, sedangkan selama ini Ia juga tidak mengetahui apa ayam cemani tersebut.
"Wah.. itukan ayam untuk sesaji, Mbak.. kenapa dibeli?" Ucap pedagang pasar itu dengan perasaan curiga.
"Sesaji itu apa, Bang?" Tanya Yanti tak mengerti.
Pedagang pasar itu melihat Yanti dalam rupa yang sangat cantik dan juga mempesona. Dalam pandangannya, yanti adalah gadis yang sangat menggiurkan.
"Sesaji itu persembahan makanan dan minuman yang diperuntukkan untuk makhluk berjenis setan atau iblis dalam tujuan tertentu" jawab pedagang pasar itu.
Yanti mengerutkan keningnya, menatap heran pada pedagang pasar itu.
"Abang ada-ada saja.. mana mungkin saya seperti itu, ayam itu untuk dipelihara, Bang" jawab Yanti dengan lirih " tap ayamnya ada gak, Bang?" Ucap Yanti dengan selidik.
"Abang gak ada jual, Mbak.. tapi temen Abang ada yang pelihara, sedikit jauh sih dari sini, agak terpencil begitu tempatnya. Sebab Abang dapat pasokan ayam kampung ini juga dari teman Abang itu. Kalau Mbak mau ini nomor Wa-nya, Mbak" ucap pedagang pasar tersebut sembari memberikan nomor phonsel temannya.
Yanti segera mengetiknya, dan menyimpannya "Terima kasih ya, Bang" ucap Yanti, lalu bergegas beranjak pergi meninggalkan pedagang pasar tersebut untuk menuju ke lokasi yang dikatakan oleh pedagang unggas itu.
Yanti memacu sepeda motornya dengan kecepatan tak biasa. Ia menuju ke lokasi yang diberikan.
Setelah menempuh sekitar perjalanan 10 km, Yanti memasuki sebuah jalanan setapak yang sudah tidak beraspal. Jalanan itu penuh dengan bebatuan cadas sebagai pengerasan, Yanti harus berhati-hati dan waspada.
Setelah menempuh jalanan sunyi dan juga sepi yang mana kanan kirinya dipenuhi dengan hutan rimbun yang sangat lebat dan tidak ada satupun rumah penduduk yang dapat ditemui.
Setelah cukup jauh masuk kedalam jalanan sepi, tampak sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan papan yang bercat berwarna hitam.
Dengan penuh semangat, Yanti berusaha mencapainya. Sesampainya di depan halaman rumah itu, tampak sangat banyak sekali berbagai hewan unggas yang dipeliharanya.
Dari ayam dengan berbagai jeni, burung merpati, burung hantu, burung gagak, bahkan hewan kukang juga ada dipeliharanya.
Yanti turun dari sepeda motornya, lalu berjalan dan melihat-melihat hewan tersebut dengan sangat menggiurkan.
Ketika melihat burung gagak hitam itu, hatinya juga berkeinginan untuk membeli burung gagak hitam tersebut.
Yanti tak melihat pemilik rumah, namun pintu rumah itu terbuka lebar.
"Permisi.. apa ada orang?" Tanya Yanti dengan keras dari halaman depan rumah tersebut.
"Masuk.." jawab seorang pria dari atas rumah panggung tersebut.
Yanti menaiki tangga rumah setinggi 2 meter dari permukaan tanah. Ia tak mengerti mengapa pemilik rumah ini sanggup tinggal di tempat ini tanpa satu tetangga pun.
Yanti mencapai depan pintu, Ia memperhatikan ruangan yang tampak berwarna hitam seluruhnya.
Saat ini Yanti tersentak ketika melihat sebuah kain berwarna hitam yang terpasang di dinding rumah itu dengan sebuah meja yang yang tampak beberapa sesaji di atas sebuah piring.
Aroma dupa dan kemenyan yang begitu sangat menusuk hidung. Namun Yanti sangat menyukai aromanya, Ia menghirupnya sangat dalam.
Tiba-tiba saja Yanti berubah dalam hidup dan tatacara hidupnya.
Gadis berusia 30 tahun itu duduk didepan meja tersebut. Ia melihat sebuah tengkorak manusia yang diletakkan diatas sebuah nampan dekat dengan pembakaran kemenyan dan dupa yang masih menyala.
Sesaat keluar seorang pria berpakaian serba hitam dari dalam kamarnya. Ia masih terlihat berusia 40 tahunan dengan tubuh kekarnya.
Ia melihat Yanti sembari tersenyum licik "Wah, Nini.. datang kemari membawakan saya daging segar" ucap Pria itu yang terus menatap Yanti tanpa berkedip.
Yanti tidak memahami mengapa pria itu memanggilnya Nini.. "Saya Yanti, Pak.. bukan Nini.." protes Yanti dengan cepat.
Pria tersenyum dengan penuh misterius.. "Baiklah, Yanti.. apakah ada yang ingin saya bantu?" Tanya Pria paruh baya itu dengan nada yang sedikit genit.
"Saya mendapatkan informasi dari pedagang di pasar kalau bapak ada jual ayam cemani, maka saya datang-datang jauh kemari untuk mencari ayam tersebut" jawab Yanti menjelaskan.
Pria itu menganggukkan kepalanya. "Tunggulah sebentar disini, saya akan kembali" titah pria itu, sembari beranjak turun ke bawah rumahnya melalui pintu belakang rumahnya.
Yanti memandangi seluruh ornamen yang ada di ruangan rumah pria tersebut. Tampak ada beberapa tengkorak kepala manusia yang terlihat sangat menyeramkan.
Ruangan rumah tersebut tampak sangat kental dengan suasana yang begitu mistis.
Sementara itu, pria paruh baya tersebut mengambil 3 ekor ayam cemani, lalu menyembelihnya dengan asal dan menampung darahnya dalam satu wadah besar.
Setelah itu Ia mengambil 3 ekor burung gagak dan juga menyembelihnya, lalu menampung darah burung tersebut dalam satu wadah dengan darah ayam cemani.
Pria itu memetik kembang kantil, mawar putih dan juga mawar merah, kembang melati lalu kembang kenanga.
Pria itu mencampurkan beberapa pasang kembang tersebut kedalam wadah darah ayam cemani dan juga burung gagak.
Lalu sisanya Ia letakkan dalam wadah nampan berbentuk bundar yang terbuat dari tanah liat.
Pria itu menguliti ayam cemani dan juga burung gagak tersebut.
Pria itu memanggang dua ekor ayam cemani dan juga 2 ekor burung gagak.
Seekor ayam cemani mentah dan juga seekor burung gagak mentah diletakkan dinampan berisi kembang tujuh rupa tersebut.
Setelah pemanggangan ayam cemani dan juga burung gagak itu selesai, pria itu membawa nampan berisi sesaji keatas rumahnya dan meletakkannya tepat di hadapan gadis tersebut.
Seketika Yanti merasa sangat tergiur melihat sesaji tersebut. Rasa dahaga dan juga lapar begitu sangat menggandrunginya saat ini.