MIRNA

MIRNA
episode 93



Wanita bercadar yang tak lain adalah Mirna melayang menuju sungai, Ia membawa janin yang berada ditangannya, dan membuka bungkus selendangnya, membersihkan sisa darah tersebut, lalu merobek sedikit pakaiannya dan membungkusnya, Ia kemudian melesat menuju sebuah pemakaman, dan menggali lubang kecil disana, lalu menguburnya.


Setelah itu Mirna melesat kembali kerumahnya.


Sementara itu, Yanti kembali ke wujudnya, luka parah dibagian wajahnya membuatnya menaha perih yang tak terkira.


"Mengapa Kau gagal lagi dalam mendapatkan tumbal janin itu?!" ucap sosok wanita bergaun merah yang kini tampak sangat marah.


"Aku sudah berusaha, Ni.. Namun wanita bercadar itu menghalanginya" jawab Yanti mencoba membela dirinya.


Sosok Nini Maru itu melesat menghampiri Yanti. Jemari keriput dan kuku runcingnya mencengkram wajah Yanti tepat pada kulit wajahnyanya yang melepuh karena terkena siraman kopi oleh Ayahnya.


"Aku tidak ingin mendengar kegagalan apapun lagi darimu, ku beri waktu satu minggu lagi, dan Kamu harus berhasil mendapatkannya" ucap Nini Maru, sembari menekan kukunya yang runcing dan juga keriput.


Yanti meringis menahan rasa sakit dari luka melepuh dan juga goresan kuku tajam tersebut.


Setelah memberikan peringatan kepada Yanti, Nini Maru melesat cepat dan menghilang, dengan meninggalkan aroma kembang kenanga yang perlahan juga menghilang.


Yanti meringis kesakitan, dan Ia berjalan kekamar mandi, dan Lisa berpura-pura tertidur saat Yanti hendak melintasinya.


Yanti memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya dari lumuran darah yang merupakan ritual dalam syarat mencapai kesempurnaan pesugihan yang kini dilakoninya.


Sementara itu, keempat remaja yang gagal dalam menjadi generasi penerus bangsa bersama ketiga teman prianya masih bersenang-senang dengan kelenaannya.


Bahkan mereka tidak menyadari jika salah satu dari keempat remaja pria sudah menghilang tanpa jejak.


****


Mentari bersinar di ufuk timur. Semua terlihat begitu biasa saja, saat tiba-tiba suara teriakan memecahkan kesunyian dipagi itu.


Dimana seorang pria berusia 35 tahun berlari ketakutan dan membangunkan para remaja yang tertidur di pos ronda karena semalaman bergadang sembari bermain game online.


"Bang.. Ada apa, Bang?" tanya seorang remaja yang masih dengan menguap dan mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih setengah.


"I-itu.. Si Randy temen kalian terkapar didekat semak" jawab Pria bernama Jojo yang menemukan Randy terkapar disemak-semak tak jauh dari pos ronda.


Seketika remaja lainnya yang baru saja terbangun dari tidurnya saling pandang dan memang tidak melihat Randy didalam pos ronda tidur bersama mereka.


Lalu para remaja itu melompat dari pos ronda dan mencoba melihat apa yang baru saja dikatakan oleh Bang Jojo dan setengah berlari memeriksa apa yang terjadi.


Sementara itu, Jojo berlari menuju rumah Pak Budi selaku RT untuk melaporkan kejadian yang baru saja dilihat agar segera melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib.


Seketika warga desa dibuat gempar oleh berita yang disampaikan oleh Jojo dan bergegas mendatangi lokasi kejadian.


Di sisi lain, para remaja itu mencoba menarik tubuh Randy dari dalam semak dalam posisi terlungkup.


Dan alangkah terkejutnya mereka saat mereka membalikkan tubuh Randy dan mendapati tubuh alat vitalnya sudah terlepas dengan darah yang sudah mengental dan hampir mengering.


Mereka melihat kedua bola mata itu membeliak dengan mulut ternganga, seakan menahan rasa sakit yang luar biasa saat meregang nyawa.


Para remaja itu bergidik ketakutan dan tak percaha jika sahabat mereka mati dalam kondisi mengenaskan dan tak pernah menduga sama sekali sebelumnya.


Orangtua Randy yang mendapat kabar tentang penemuan anaknya didalam semak dengan kondisi mengenaskan segera menuju tempat lokasi pos ronda untuk melihatnya.


Saat melihat puteranya sudah terbujur kaku dengan kehilangan alat vitalnya.


Seketika ibunya berteriak histeris dengan meraung-raung meratapi sang putera yang pergi dengan cara yang tak biasa.


Warga mulai bertanya-tanya akan rentetan kejadian yang menimpa warganya.


Bahkan malam tadi Badu kehilangan janinnya secara misterius. Sehingga membuat warga semakin merasa khawatir dan sangat merasa terancam.


"Mengapa ini sangat mirip dengan kejadian Anang? Bedanya Anang dicabut alat vitalnya saat sudah dimakamkan, sedangkan ini masih dalam kondisi hidup" ucap Ibu Anang yang kembali teringat akan alamarhum puteranya yang juga meninggal secara mengenaskan.


Ucapan Ibu Almarhum Anang membenarkan peristiwa itu. "Ya, bahkan Gugun yang ada di desa tetangga juga kehilangan alat vitalnya" warga lain menimpali.


Seketika suasana menjadi riuh dengan berbagai spekulasi, sebab pihak kepolisian tidak dapat mengungkap kejadian tersebut hingga saat ini.


Lalh pihak kepolisian datang dan memasang garis police line berwarna kuning hitam yang mana agar Warga jangan mendekati lokasi yang diberi garis batas.


Polisi membawa kantung jenazah dan memasukkan jasad Randy kedalam kantung jenazah lalu mencoba mengidentifikasi tempat kejadian perkara dan mengorek keterangan dari para saksi seperti Jojo yang pertama kali menemukannya dan para remaja yang merupakan teman Randy saat malam kejadian dipos ronda sebelum Randy ditemukan tewas


Kegemparan tersebut sampai ketelinga Badu, entah mengapa hatinya begitu sangat was-was dan sangat takut. Entahlah, hatinya merasa tak nyaman sejak peristiwa malam tadi.


Disatu sisi, Yanti melihat wajahnya dicermin. Ia melihat luka bekas siraman kopi panas itu kini membentuk gelembung berisi cairan yang tampak merusak wajahnya.


Yanti melihat ke empat remaja perempuan dan 3 orang remaja pria itu masih terkapar diwarungnya dengan pakaian yang sangat berantakan.


Yanti bergegas pergi ke apotik untuk mencari obat luka diwajahnya. Ia tidak ingin wajahnya rusak akibat luka tersebut.


Saat diperjalanan, Ia melihat dari kaca mobil jika banyak warga berkumpul dan tanpa sengaja Ia melihat polisi membawa kantung jenazah yang akan dinaikkan keatas mobil patroli dalam bentuk bak terbuka.


Seketika Yanti teringat malam tadi Ia yang telah bercinta dengan seorang remaja yang ada dipos ronda, dan Rey yang mencabut lato-lato remaja itu.


Seketika rasa takut menyelinap dihatinya, namun Ia yakin jika Polisi tak dapat mendeteksinya.


Yanti melajukan mobilnya menuju apotik satu-satunya yang ada di desa ini.


Saat Ia akan sampai diapotik, darj kejauhan Ia melihat ayahnya, Badu juga sedang menuju apotik untuk membeli obat untuk ibunya yang baru keguguran karena ulahnya.


Yanti mengurungkan niatnya untuk ke apotik tersebut dan memilih untuk pergi.


Ia tidak ingin ketahuan Ayahnya jika Ia adalah pelaku dari korban pengambil janin ibunya.


Yabti segera memutar mobilnya untuk kembali pulang ke warungnyanya, meskipun kini kulit diwajahnya dengan gelembung yang berisi cairan yang terasa panas dan juga perih.


Yanti sangat takut jika wajahnya kelak rusak, namun Ia tidak ingin mengambil resiko, dan memilih pergi.


Sementara itu, para remaja dan juga Jojo dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan kepergian mobil polisi diiringi teriakan dan tangisan orangtua Randy yang tidak rela dengan kematian anaknya.


Saat Yanti melintasi kerumunan warga dan melihat ibu Randy yang menangis histeris, dan Ia hanya merasa masa bodoh saja, lalu melajukan mobilnya dengan kencang.