MIRNA

MIRNA
episode 154



Mirna menghampiri kedua puteranya "Lain kali tunggu Ibu disekolah, jangan pulang sendirian lagi" pesan Mirna kepada kedua puteranya.


"Bu.. Tadi kami dikejar pria berbulu" ucap Angkasa.


Mirna tersentak, lalu menatap keduanya "Jika bertemu dengannya sekali lagi, maka segeralah menghindar" ucap Mirna, lalu menggiring keduanya masuk kedalam rumah.


"Iya, Bu" jawab keduanya serentak.


"Ganti pakaian, lalu segera makan" titah Mirna kepada keduanya dan lalu menuju meja makan untuk menyiapkan makan siang kedua puternya.


Disana tampak Satria yang sedang menyeruput kopinya. Lalu Mirna mengambil 4 buah piring kosong dan meletakkannya diatas meja di masiing-masing didepan kursi kosong.


"Mas.. Sebaiknya kamu segera menurunkan ajian segoro geni kepada mereka, sebab Nini Maru dan juga Genderuwo itu sudah mulai mengikuti mereka" ujar Mirna sembari menata makan siang.


Satria terdiam, lalu menatap kepada Mirna "Daya tahan tubuh dan emosional mereka belum sanggup menerima ajian tersebut. Setidaknya tunggu mereka hingga berumur 16 tahun" jawab Satria.


"Namun Aku sangat khawatir jika sewaktu-waktu Nini Maru dan juga Genderuwo ataupun Rey menyerang mereka. Terutam Samudera, mereka menginginkannya, dan sebaiknya kita khitankan mereka sekarang" ujar Mirna lagi.


"libur sekolah ini akan Mas khitankan" jawab Satria.


Mirna mendenguskan nafasnya dengan berat. Laku kedua bocah laki-laki itu sudah keluar dari kamar mereka yang dulunya ditempati oleh nenek mereka Mala.


Setiap kali keluar dari kamar, pandangan Samudera tertuju pada foto pengantin Ayahnyanya dengan seorang wanita yang wajahnya tentu sangat berbeda dengan Mirna yang Ia panggil Ibu saat ini.


Namun ada foto lainnya, yang mana Ayahnya diapit oleh Mirna dan satu wanita yabg membuat Samudera penasaran.


Lalu kedua bocah itu menuju meja makan dan duduk dikursi masing-masing.


"Bu.." ucap Samudera.


"Ya.." jawab Mirna, sembari menyendokkan nasi kepiring Samudera dan juga Angkasa, lalu mengambilkan lauknya.


"Siapa foto yang bersama Ayah seperti foto pernikahan?" tanya Samudera dengan penuh penasaran.


Seketika Satria tersedak mendengar pertanyaan dari puteranya. Lalu Ia dan Mirna saling pandang satu sama lain.


Satria menarik nafasnya dengan dalam, dan kembali menatap Mirna.


"Dia Ibumu" jawab Mirna dengan lirih.


Seketika Samudera tercengang, begitu juga dengan Angkasa.


"Bukankah Ibuku adalah Ibu?" tanya Samudera dengan penuh penasaran.


Mirna membelai ujung kepala Samudera "Dia ibu yang melahirkanmu, dan meninggal saat melahirkanmu, karena.." Mirna menghentikan ucapannya, Ia tidak ingin memberi tahu Samudera jika Syafiyah meninggal karena ulah Nini Maru, sebab itu terlalu dini.


"Ibumu kehabisan darah" jawab Mirna melanjutkan ucapannya.


"Lalu Ibu?" cecar Samudera.


Mirna tersenyum tipis, dan menatap pada anak lelaki yang sudah dibesarkannya itu dengan cinta kasih.


"Ibu adalah orang yang menyusuimu, ada darah ibu yang mengalir dalam tubuhmu hingga Kau dapat tumbuh besar sampai sekarang, dan ada kasih sayang yang tulus didalam hidupku sehingga kamu akan tumbuh dalam kebahagiaan" Mirna mencoba menerangkannya kepada Sanudera dengan bahasa yang mudah dicerna oleh anak susuannya.


Mirna kembali membelai rambut Samudera "Kamu dan Angkasa adalah kakak dan adik, dari satu ayah yang sama, satu air susu yang sama, hanya ibu yang melahirkannya saja yang berbeda, maka saling berkasih sayanglah, dan salin melindungi dimanaoun dan kapanpun" pesan Mirna kepada kedua puternya.


"Ayo.. Makan. Biar kalian sehat dan juga kuat" titah Mirna kepada keduanya.


****


Malam beranjak. Mirna keluar dari kamarnya saat Satria sudah terlelap karena habis bercinta dengannya.


Ia memasuki kamar kedua puteranya, tampak kedua bocah itu sedang tertidur lelap dalam mimpinya.


Mirna berdiri tegak, lalu memutarkan kedua tangannya dan menggerakkan jari-jemarinya. Bersamaan dengan hal itu, secarik cahaya keperakan keluar dari jari-jemari lentik milik Mirna. Ia mengarahkan ujung jemarinya kepada kedua puteranya dan membuat cahaya tersebut merasuk kedalam tubuh kedua bocah laki-laki yang kini sedang tertidur lelap.


Mirna tampak memucat dan berkeringat dingin, lalu Ia tak sadarkan diri saat setelah menyalurkan energinya kepada kedua bocah itu.


Sesaat Satria tersentak dari tidurnya, Ia tak melihat keberadaan Mirna diranjangnya, dan beranjak bergegas turun dari ranjang dan memakai kimononya menuju ke kamar kedua puternya.


Ia tersentak saat melihat Mirna terkapar dilantai kamar. Lalu dengan sigap Ia membopongnya, dan membawanya kedalam kamar.


Satria membaringkan tubuh sang wanita yang tampak lemah. Satria kemudian mencoba menyalurkan energi tenaga dalamnya kepada Mirna.


Setelah Mirna tanpak pulih, Ia mencoba mendekapnya.


"Mengapa Kau sampai mengorbankan dirimu seperti ini? Seharusnya kau mennyalurkannya kepada Angkasa saja, mengapa harus sampai keduanya sekaligus? Jika sampai berakhir, Aku tak dapat membayangkannya" ucap Satria dengan penuh rasa khawatir.


"Samudera dalam bahaya.. Dia juga puteraku, ada darahku yang bersumber dari air susuku, maka tidak mungkin aku membiarkannya dalam bahaya" jawab Mirna lirih.


"Tetapi jika kau sampai mengeluarkan semua energimu, maka kau bisa saja menjadi manusia biasa yang tak memiliki kekuatan apapun" ucap Satria mengingatkan.


"Tak mengapa, sebab kedua puteraku pasti akan melindungiku" jawab Mirna dengan penuh keyakinan.


Satria mengeratkan dekapannya dan mencoba memikirkan untuk melatih kedua puteranya seni bela diri sejak dini sebelum saatnya Ia nanti akan menurunkan ajian segoro geni itu kepada kedua puteranya.


"Baiklah.. Mulai esok aku akan melatih mereka untuk seni beladiri, agar nantinya mereka dapat melindungi dirinya dari sesuatu yang menyerang mereka" ucap Satria dengan penuh keyakinan.


Mirna bernafas lega, akhirnya Satria bersedia untuk mengajarkan seni beladiri kepada Samudera dan juga Angkasa.


"Sekarang tidurlah.. Kamu sudah sangat lelah" titah Satria kepada Mirna.


Lalu Mirna menganggukkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya untuk kembali tidur karena Ia belum sempat untuk tidur.


Satria memandangi Mirna yang tampak tertidur lelap. Ia mengkhawatirkan kondisi Mirna yang sudah kehilangan setengah dari kekuatannya.


Ia sanggup mengorbankan apapun demi kedua puternya dan tak memikirkan keselamatannya sendiri.


Satria membelai lembut ujung kepala Mirna, lalu mengecupnya. Ia keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil air minum karena merasa haus ditenggorokannya.


Sesaat Ia merasakan sesuatu yang sangat tak lazim. Hawa kegelapan berada didekat kamar kedua puteranya. Satria meyakini jika itu adalah Nini Maru dan para sekutunya.


Satria melesat keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Ternyata Nini Maru dan sekutunya telah menghilang dengan meninggalkan suara tawa yang mengerikan.


Satria kembali masuk kedalam rumah. Sementara itu, Yanti dan Nini Maru, berseta juga dengan Rey dan genderuwo melayang diudara meninggalkan rumah Satria.


"Siaaal..!! hampir saja" gerutu Yanti yang merasa ambigu jika bertemu dan bertatapan langsung dengan Satria.