
Dua orang petugas medis datang memeriksa. Mereka sama terkejutnya dengan apa yang dilihat saat ini.
Lalu polisi yang bertugas jaga malam menghubungi atasan mereka dan melaporkan kejadian yang sangat mengerikan.
Kedua para medis itu memeriksa kondisi remaja itu dan dinyatakan sudah meninggal dunia. Namun penjahitan akan tetap dilakukan, sebab bagaimanapun itu akan menyulitkan fardu kifayah jika darah masih terus mengalir kalau tidak dijahit.
Para penyidik datang kembali setelah tadi menyelidiki Remon yang kehilangan organ intinya.
Kini terulang kembali kejadian yang sama, namun lato-lato ke duanya masih melekat dengan kondisi hancur terkena cabikan kaca pecah yang ditancapkan berulang kali.
Penyidik menduga jika pelakunya seorang psikopat yang kejam dan tidak manusiawi.
Namun semua ini pasti ada hubungannya dengan para keluarga korban yang berusaha untuk membalas dendam.
Maka pihak penyidik mendatangi rumah keluarga Melly malam ini juga. sesampainya dirumah keluarga Melly yang masih terpasang tenda untuk takziah, dan suasana masih terlihat ramai oelh sank keluarga yang datang dari jauh untuk melayat karena me dengar kematian Melly yang sangat mengenaskan.
Kedatangan penyidik membuat keluarga yang masih berduka itu merasa sangat bingung. Apalagi penyidik memberikan pertanyaan yang membuat mereka merasa tersinggung karena dituduh aksi balas dendam dengan melenyapkan para pelaku yang sudah menodai dan membunuh Melly.
Amarah ayah Melly meledak seketika.
"Eh, bapak polisi yang terhormat! Kami sedang berduka dan kini bapak menuduh kami melakukan perbuatan yang kami tidak lakukan" ucap Ayah Melly dengan sangat berang.
"Kami hanya ingin memastikan anggota keluarga apakah ada yang keluar dalam waktu lama malam ini?" petugas polisi itu menjelaskan.
"Kami semua berada dirumah, dan tidak ada yang keluar sampai acara tahlilan selesai" jawab Ayah Badu dengan kesal.
"Coba periksa lagi dan mungkin saja ada salah satu anggota keluarga yang menyelinap keluar dan belum kembali.." Ucap Petugas kepolisian yang membuat para keluarga saling pandang untuk memeriksa apakah ada dari mereka yang kekuar rumah .
Lalu seorang keluarga yang datang dari jauh merasa jika ada yang hilang "Donny.. Kemana Donny?" tanyanya dengan nada cemas.
Seluruh yang ada disitu mengedarkan pandangannya mencari sosok Donny yang dimaksud. Namun pemuda berusia 17 tahun itu tidak ditemukan diantara para kelauarga lainnya.
Saat para keluarga sedang sibuk mencarinya. Tampak dari kejauhan Dony sedang berjalan dengan gontai sembari membawa sebilah pisau yang berada ditangannya dengan kondisi berlumuran darah menuju ke teras rumah, lalu ambruk..
Braaaaak...
Seluruh yang ada dilokasi terperangah. Bahkan pihak penyidik mengerutkan keningnya melihat apa yang terjadi.
Dengan menggunakan sarung tangan, penyidik meraih pisau tersebut dan memasukkannya kedalm kantong plastik transparan. Ada beberapa bagian luka disekujur tubuh Donny, lalu mereka memanggil bidan terdekat untuk memberikan pertolongan kepada pemuda itu.
Keluarga saling pandang, namun mereka meyakin bukan Donny pelakunya, sebab Donny selalu bersikap baik selama ini.
Setelah mendapatkan perawatan, Donny dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, meskipun pihak keluarga mencegahnya, namun petugas tetap membawanya.
*****
Adzan subuh berkumandang. Angkasa tersentak bangun dari tidurnya. Lalu mengguncang tubuh kakaknya agar bangun.
"Kak. Bangun, ayo shalat subuh!" ucap Angkasa sembari mengguncang pundak Samudera.
Samudera menggeliatkan tubuhnya, lalu menajamkan pendengarannya dan terdengar jelas suara adzan subuh berkumandang, lalu Oa bergegas bangun dan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Angkasa hanya berwudhu saja, dan keduanya menuju mushallah untuk shalat berjamaah.
Setelah mesaptkan shaf paling depan, lalu mereka shalat dengan dipimpin oleh imam yang sangat fasih bacaannya.
Setelah selesai shalat, keduanya berjalan kaki menuju pulang ke rumah.
"Ibu kenapa sangat lama sekali pulang dari kota?" tanya Samudera dengan nada lirih.
"Esok juga pulang" jawab Angkasa.
"Koq, Kamu tahu?"
"Ya, Tahulah"
"Yesss..!!" teriak Samudera kegirangan.
Angkasa melirik kakaknya "Seneng banget kelihatannya" ucap Angkasa penuh selidik.
"Ya iyalah.. Kalau ada ibu kan setiap hari diamsakin enak terus, nah.. Kalau ibu tidak dirumah kita makanya pakai tekur ceplok doank" jawab Samudera dengan semangat.
Sesaat Angkasa melihat sekelebat bayangan dengan membawa botol pecah bekas minuman berakohol menuju ke arah pemakaman.
Angkasa merentangkan satu tangannya diperut Samudera dengan isyarat agar berhenti.
"Ada yang tidak beres, deh Kak!"
"Apanya yang tidak beres?"
Angkasa tidak menjawab pertanyaan kakaknya, Ia memejamkan kedua matanya dan tersentak melihat sesuatu yang menegerikan.
Samudera yang masih bengong ditarik pergelangan tangannya begitu saja diwaktu subuh yang mana udara masih terasa dingin.
"Heei..! Kita mau kemana?!"
"Kepemakaman!"
"Mau ngapain?!"
"Udah, ikut saja!" jawab Angkasa dengan.
Samudera yang tak dapat menolak akhirnya mengikuti langkah Angkasa yang berlari sangat kencang sehingga membuat nafasnya tersengal.
Mereka tiba dibelakang pagar makam. Lalu bersembunyi dibalik pagar tersebut. Suasana masih gelap, dan hanya tampak samar-samar seseorang berlalu dari tempat itu, dan melangkah pergi.
"Siapa itu?" tanya Samudera bertanya dengan berbisik.
Angkasa meletakkan jemarinya dibibir dengan isyarat agar Sang kakak tak berisik.
Setelah memastikan sosok itu pergi. Angkasa masih tetap menggenggam pergelangan tangan kakaknya dan mengendap-endap memasuki pemakaman.
Lalu mereka menghampiri makam Melly yang masih terlihat basah tanahnya karena baru saja semalam siang dikebumikan.
Samar-samar hari mulai tampak mengarak pagi dan cahaya mulai berpendar, sehingga keduanya dapat melihat sebuah sesaji berada dekat disisi makam.
Bahkan makam Melly tampak berlubang diujung bagian kepala makam dan sepertinya seseorang yang menggali makam tersebut.
"Sepertinya ada yang menggali makam Melly, Kak" ucap Angkasa lirih.
"Kenapa digali?"
"mengambil tali pocongnya"
"Buat apa?"
"Buat ikat rambut!" jawab Angkasa asal.
Samudera mendenguskan nafasnya dengan kesal.
"Ada yang memanfaatkan kematian Melly yang tidak wajar untuk balas dendam, kita harus menghentikannya"ucap Angkasa.
Samudera hanya menggelengkan kepalanya melihat ulah sang adik yang selalu melibatkannya dalam bahaya.
"Jangan kurang kerjaan, Kamu.! Ayo pulang, hari sudah terang, kita mau ke sekolah" ucap Samudera mengingatkan.
Angkasa menatap kakaknya "Kita masih libur dan penyelidikan disekolah masih berlanjut dua hari lagi. Kita harus membantu Melly agar tenang dan tidak di manfaatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab" Angkasa menjelaskan.
"Maksud Kamu apa?"
"Jin qorin Melly digunakan seseorang untuk membalas dendam dan membunuh para pelaku yang telah menodainya" jawab Angkasa.
Sanudera mengerutkan keningnya "Maksudnya Pak Remon akan dibunuh oleh jin qorin Melky yang dipuja orang tersebut?"
Angkasa menganggukkan kepalanya.
"Bahkan pelakunya sudah dua yang tewas" jawab Angkasa.
Samudera terperangah. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Angkasa.
"Bagaimana Ia membunuhnya?"
"Kita harus segera mencegahnya. Malam nanti kita akan memanggilnya" ucap Angkasa.
Lalu Ia beranjak pergi dan diikuti oleh Samudera.
Namun saat akan melangkah, kaki Samusera tersandung dan menabrak makam Melly yang basah, dan yang mengerikannya, makam itu ambles dan membawa Samudera ikut kedalamnya.
Dengan cepat Angkasa menyambar tangan Samudera dan menariknya ke atas.