MIRNA

MIRNA
episode 144



Syafiyah masih termangu menghadapi kenyataan jika sang suami mengirim wanita cantik lainnya kedalam rumah ini.


Ia tampak pusing memikirkan semuanya, namun perutnya terasa lapar karena sudah hampir lewat jam sarapan.


Widuri datang kembali menawarkan makanan dan membawa nampan berisi sarapan kepada Syafiyah.


"Dimakan, Mbak sarapannya. Jangan sampai membahayakan kandungan danjuga diri, Mbak" ucap Widuri selembut mungkin. Sedangkan Mirna sedang membersihkan rumah.


"Jangan berisik, Kamu.. Biarkan saja saya kelaparan, kalau perlu mati sekalian" jawab Syafiyah ketus.


Widuri tersenyum dengan sangat manis. Ah.. Wajahnya kian bertambah cantik saja dengan seulas senyum dibibirnya.


"Kalau, Mbak Syafiyah mati, saya bersedia menggantikan posisi Mbak sebagai istri Satria" jawab Widuri dengan nada yang mengandung penuh arti.


Seketika Syafiyah membolaka ln matanya "Apa? Jangan ngimpi kamu, suami saya gak akan mungkin tertarik dengan wanita sepertimu" ucap Syafiyah yang semakin sangat kesal.


"Oh.. Ya.. Bagaimana kalau saya buktikan saya dapat memikatnya?" tantang Widuri yang semakin membuatnya kesal.


Syafiyah semakin pusing menghadapi Widuri, sebab berbeda dengan Mirna yang hanya selalu diam dan pasrah jika mendengar omelannya, kecuali jika Mirna melarangnya melakukan hal yang berbahaya, maka Mirna akan mengomel.


Namun wanita yang baru saja datang saat ini, Ia memiliki mulut yang sangat cerewet dan membuat Syafiyah semakin merasa kesal.


Dengan tatapan kesal, Syafiyah menarik nampan berisi sarapan itu dengan kasar, hingga menumpahkan air minum yang berada didalam gelas diatas nampan tersebut dan membasahi pakaian Syafiyah.


Lalu Syafiyah menyuapkan sarapan ke mulutnya dengan sangat kasar.


"Pelan-pelan saja, Mbak.. Nanti tersedak dan bisa menyumbat pernafasan Mbaknya" ucap Widuri dengan nada kelakar.


"Sialan, Kamu.. Buruan pergi dari kamar saya" ucap Syafiyah dengan kesal atas segala ocehan Widuri.


Widuri tersenyum, lalu beranjak meninggalkan Syafiyah.


Ia menuju dapur dan melihat Mirna baru selesai membersihkan dapur.


Wanita peri itu menatap Mirna yang kini perutnya kian membuncit, seulas senyum menghias bibirnya saat Mirna menatapnya.


"Mbak Syafiyah sudah sarapan?" tanya Mirna.


Widuri menganggukkan kepalanya dengan sangat lembut, sebuah kerjapan mata yang membuatnya terlihat begitu sangat menawan.


Mirna menghampirinya, dan duduk disisi kiri Widuri.


Lalu wanita peri itu membelai perut Mirna "Dia akan menjadi anak yang tangguh" ucap Widuri dengan tatapan yang sangat bahagia.


Namun tiba-tiba saja Ia menjadi sendu, dan melepaskan belaiannya diperut Mirna.


"Kamu kenapa? Kamu menyukainya?" tanya Mirna dengan tatapan yang penuh arti.


Widuri menghela nafasnya, tanpa menjawab pertanyaan dari Mirna. Ia tahu jika Mirna dapat menebak isi hatinya.


"Jika mencintainya mengapa hanya dipendam? Lebih baik kamu ungkapkan" Mirna menyarankan.


Widuri menatap pada Mirna, dan mencoba tersenyum dengan sangat manis.


"Untuk apa aku menyatakannya? Jika Ia juga tahu apa yang ada didalam hatiku? Biarkana saja mengalir apa adanya, jika kelak Ia memiliki perasaan yang sama, maka Ia yang akan memintanya. Ia memiliki hati yang terlalu setia, dan Aku tidak ingin memaksanya" jawab Widuri dengan begitu sahaja.


*****


Polisi menemukan sidik jari Yanti pada ke empat kasad tersebut.


Dan dari hasil uji laboratorium, jika keempat jasad itu mati dalam keadaan mengenaskan. Dimana organ vitalnya dicabut paksa saat mereka masih hidup, dan kasus ini sama seperti halnya dengan beberapa jasad yang ditemukan dalam kondisi tanpa organ vital.


Namun yang mengehrankan, jasad yang lainnya tidak ditemukan sidik jari Yanti, dan sidik jari itu tampak sangat aneh dan tidak terdeteksi.


Sementara itu, sidik jari Yanti ditemukan diarea tubuh yang berbeda, serta sidik jari misterius juga ada di keempat jasad yang tinggal tulang kerangka saja.


"Ini sepertinya ada hubungan antara pelaku dan juga terduga pelaku Yanti. Bisa saja antara tersangka dan dan juga Yanti memiliki hubungan dan kerjasama satu sama lain" seorang penyidik mencoba menganalisanya.


"Namun, Yanti menghilang sejak kebakaran yang melanda warungnya" ujar seorang penyidik lainnya.


"Kita harus menemukan wanita itu untuk mengungkapkan kasus ini" ucap Penyidik tersebut.


"Tetapi bagaimana dengan jasad yang mirip dengan gorilla? Jasad itu ada mengandung gen Yanti, namun gen lainnya bukan gen manusia dan juga bukan gen hewan.. Ini sangat membingungkan" ungkap sersan Jefry.


Sersan Adhit tampak termangu, sebab jasad yang disebutkan oleh Sersan Jefry sangat membingungkan.


"Apakah jasad yang memiliki gen aneh itu pelakunya?" ujar Sersan Adhit.


Sersan Jefry mengangkat kedua bahunya "Kita perlu bukti lainnya" jawab sersan Jefry.


Kedua penyidik itu tampak sangat serius dalam pandangan analisanya.


"Kita harus mencari korban lainnya disekitar lokasi, bisa saja ada yang disembunyikan dan jumlah korban mungkin saja bertambah" jawab penyidik tersebut.


Lalu kedua penyidik tersebut menyiapkan Tim untuk kembali ke lokasi warung Yanti sudah hangus terbakar, dan mereka baru mengingat jika pernah di temukan 3 jasad pria di waktu yang berbeda dengan kondisi yang sama kehilangan organ vitalnya.


Mobil polisi datang kembali ke lokasi tempat warung Yanti habis dilahab si jago merah.


Lalu mereka berpencar mencari barang bukti lainnya yang dianggap mencurigakan. Sersan Jefry melihat ketempat pembuangan sampah, sebab biasanya pelaku kejahatan akan membuang bukti kejahatannya di tempat yang dianggap sepele tersebut.


Ditempat sampah Ia hanya menemuka beberapa bangkai hewan seperti kepala Baabi dan juga biawak yang buang Yanti sembarangan di tempat sampah tersebut dan menyebarkan aroma busuk yang sangat kuat.


Sementara itu. Sersan Adhit masih betah dikamar tempat ditemukannya kerangka manusia yang sudah menjadi abu tersebut.


Tampak di sekitar kamar yang sudah ludes terbakar itu sebuah serpihan debu berbentuk nampan yang membentuk seperti tempat sesaji dan juga pemujaan untuk melakukan sebuah ritual, dan sebuah alat untuk pembakaran dupa.


"Apakah Yanti melakukan ritual ilmu hitam dan pesugihan?" guman Sersan Adhit yang mulai mencurigai praktek ilmu hitam atau juga pesugihan yang dilakukan Yanti secara diam-diam.


"Dan kerangka ini adalah korban yang ditumbalkan?" Sersa Adhit terus menggali analisanya.


Sementara itu sersan Jefry melihat ke tebing jurang, dan Ia melihat ada gundukan tanah yang mencurigakannya. Ia menuruni dinding tebing dan mencoba menghampiri gundukan tanah tersebut.


Sesampainya ditepi gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rerumputan itu, sersan Jefry tampak terperangah, saat melihat dua buah benda berwarna putih mirip dengan jemari manusi yang menjadi kerangka menyembul dari gundukan tanah yang sudah dibuatnya.


Setelah meyakini Itu adalah dua jemari tangan manusia, sersan Jefry menghubungi sersan Adhit untuk menemuinya di tebing jurang belakang warung yang kini sudah rata dengan tanah.


Lalu Sersa Adhit mengiyakan dan menuju ke lokasi yang diberikan oleh sersan Jefry.