
Satria membersihkan Syafiyah, lalu seperti biasanya, menyuapinya dan Ia membawanya berjemur diluar halaman menggunakan kursi roda.
Cahaya mentari pagi menghangatkan kulitnya. Satria mendorong kursi roda itu disepanjang halaman rumah mereka.
Tak jarang tindakan Satria tersebut mendapat perhatian dari warga yang melintas didepan rumah mereka.
Warga mengagumi sikap Satria yang tampak tulus mencintai Syafiyah meski kondisi istrinya seperti itu.
Setelah puas menjemur istrinya, Satria membawanya kembali masuk kedalam rumah, dan Satria membaringkan tubuh istrinya ditepian ranjang.
"Sayang.. Mas ke laundry dulu, Ya.. Mau jemputa laundryan" ucap Satria berpamitan.
Lalu Syafiyah hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian Satria, kini Syafiyah tinggal seorang diri didalam rumah.
Yanti yang kebetulan sedang melintas dsri depan rumah Satria menggunakan sepeda motor baru dari hasil uang damai yang didapatnya, dan menggunakan helm, memutar arah dan menuju rumah Satria.
Ia tau kebisaan Satria yang tidak pernah mengunci pintu rumahnya. Ia dapat masuk kerumah itu dengan mudahnya.
Yanti menuju kamar Satria, dan membukanya. Syafiyah terkejut melihat kehadiran Yanti yang tiba-tiba saja masuk kedalam kekamarnya.
Yanti menghampiri Syafiyah yang sedang terbaring lemah ditepian ranjang.
"Ya.. Yanti.. Apa yang Kamu lakukan disini" tanya Syafiyah dengan nada ketakutan, Ia merasakan gelagat yang tidak baik dari gadis itu.
"Aku hanya ingin mengunjungimu.. Mengapa Kau sangat begitu ketakutan sekali?" ucap Yanti dengan senyum menyeringai.
Seketika Syafiyah merasa bergidik melihat senyum dan tatapan dari Yanti yang tak biasa.
"Apakah Kau tahu, Fiyah? Aku sangat membencimu.. Mengapa nasibmu begitu beruntung dengan mendapatkan suami tampan, kaya, dan juga menyayangimu.." ucap Yanti dengan nada penuh iri dengki.
"Jika dibandingkan denganku, jelas Aku jauh lebih cantik, dan Aku memiliki body yang menggoda dibanding denganmu.. Namun mengapa nasibmu begitu sangat beruntung" ucap Satria kesal.
Syafiyah merasa tubuhnya bergetar, Ia merasa sangat ketakutan dan juga meremang mendengar ucapan Yanti mengandung makna tertentu dalam setiap katanya.
"Takdir seseorang itu sudah dituliskan, dan Kita hanya menjalaninya saja" jawab Syafiyah memberanikan diri.
Yanti tersenyum mencibir, dan menatap penuh kebencian pada Syafiyah.
"Aku ingin Kita bertukar nasib.. Aku inginkan suamimu.. Dia terlalu tampan dan menggoda, Aku tak tahan melihatnya" ucap Yanti dengan sangat jelas.
Hal tersebut membuat Syafiyah merasa sesak nafas. Kata-kata Yanti terucap bagaikan seorang penjahat yang berselimut kebencian.
Entah pengaruh iblis dari mana, Yanti ingin menggulingkan tubuh Syafiyah agar terjatuh dari ranjang, dan berharap wanita itu mati seketika saat terjatuh dari tepian ranjang.
Namun baru saja Ia akan menggeser tubuh Syafiyah yang sudah memucat ketakutan, tiba-tiba Yanti merasakan wajahnya ditampar sesuatu..
Wussssssh...
Plaaaak...
Sebuah hempasan ujung selendang mengenai wajahnya hingga membiru dan Ia terjungkal dari kursi yang didudukinya.
Aaaarrgh..
Yanti terpekik menahan sakit karena terjungkal dan luka lebam diwajahnya karena seperti dihantam benda keras.
Yanti berusaha bangkit dan beranjak dari lantai sembari memegangi wajahnya yang sakit.
Saat Ia menoleh kearah pintu kamar, tampak berdiri satu sosok gadis nan cantik rupawan dengan pahatan tubuh yang sempurnah.
Syafiyah merasa lega melihat kehadiran Mirna, entah mengapa Ia merasakan hal itu dalam hatinya.
Yanti membolakan matanya yang melihat kehadiran gadis itu secara tiba-tiba.
Tanpa menjawab sepatah katapun, Mirna menarik pergelangan tangan Yanti dan melemparkannya keluar kamar.
Buuuugh..
Teedengar suara tubuh Yanti tersungkur dilantai ruangan utama.
Saat bersamaan, Satria pulang dengan membawa kantong kresek berwarna hitam yang berisi laundry.
Melihat Yanti berada didalam rumahnya dengan kondisi luka lebam dan juga tersungkur dilantai, Ia merasa sangat terkejut.
"Apa yang Kau lakukan dirumahku?" hardik Satria dengan penuh amarah. Belum sempat Yanti menjelaskan, Mirna muncul dari balik pintu kamarnya, dan menatap lekat pria pujaannya, yang membuat debaran tak menentu dihati Satria.
Setelah puas memandang pria itu, tanpa berbicara apapun, Mirna keluar dan kembali pulang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Satria merasa tersentak setelah kepergian Mirna dan menatap tajam pada Yanti "Pergi dari rumahku, sekarang..!!" titah Satria dengan nada penuh emosi.
Hiks...hiks..hiks..
Terdengar suara tangisan Syafiyah dari dalam kamar, membuat Satria berkari menuju kamarnya dan mengahmpiri istrinya.
Syafiyah mengukurkan tangannya dan Satria meraihnya, lalu memeluknya.
"Tenang, Sayang.. Katakan apa yang terjadi" tanya Satria lirih.
Syafiyah masih tersedu dan begitu trauma mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.
Setelah merasakan sedikit tenang, Syafiyah mencerigakan kejadian yang baru saja menimpanya. Satria merasa geram mendengarnya, dan melepaskan pelukan Syafiyah lalu berjalan keluar kamar dan ingin rasanya menghilangkan Yanti dari muka bumi.
Namun saat Ia melihatnya, Yanti sudah terlebih dahulu kabur.
"Lalu mengapa Mirna berada disini juga" Tanya Satria penasaran.
"Dia yang menyelamatkan Fiyah Mas. Jika Mirna tidak datang, kemungkinan Fiyah sudah jatuh dari atas ranjang" ucap Syafiyah sembari tersedu.
Satria tertegun mendengarnya, Ia tidak menduga jika Mirna melakukan hal itu. "Jadikan Mirna bodyguard buat Fiyah, Mas.. Aku merasa aman bersamanya jika Mas sedang pergi" rengek Syafiyah dengan penuh harap.
Satria memandang istrinya.. "Nanti Mas akan coba menemuinya, apakah Ia mau atau tidak dengan tawaran pejerjaan ini" ucap Satria mencoba menenangkan hati istrinya.
Seketika senyum dibibir Syafiyah mengembang mendengar ucapan suaminya.
Sementara itu, Yanti memasuki kamarnya dengan langkah tertatih. "Siaaaalan gadis itu" maki Yanti dengan sangat kesal. "Siapa sih Dia.. Kenapa tiba-tiba bisa muncul dirumah Satria" Yanti merasa sangat penasaran.
Yanti merasakan perutnya kembali nyeri setelah dihempaskan oleh gadis bar-bar tersebut. Yanti mengambil jamu yang sudah dipesannya, lalu menenggaknya.
Yanti mengalami sedikit pendarahan karena adanya benturan saat Yanti tersungkur tadi.
Ia merasakan tubuhnya sakit semua, apalagi luka diwajahnya yang sangat tampak lebam. Ia sangat kesal dan menggerutu bahkan memaki gadis cantik tersebut.
"Awas saja Kau.. Aku akan membuat perhitungan denganmu" ucap Yanti dengan sangat kesal.
Yanti membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan tubuh yang begitu ngilu Ia rasakan.
Seketika Yanti memiliki ide untuk membalaskan dendamnya kepada gadis yang baru ditemuinya dirumah Satria tadi.
Namun Ia harus mencari tau dulu dimana gadis itu tinggal, setelahnya Ia akan menyusun rencananya sembari tersenyum menyeringai.
"Lihat saja nanti, Aku akan menghancurkanmu" guman Yanti dengan sangat kesal dan penuh kebencian.
Ia merasa jika Gadis itu harus disingkirkan, karena dapat menghalangi Ia untuk mendapatkan Satria.
Yanti begitu terobsesi dengan Satria, Ia tak dapat menahan dirinya jika berhadapan dengan pria itu, membayangkannya saja Ia sudah sangat gila, apalagi jika harus berhadapan langsung, Ia sungguh menggilai suami dari tetangga itu.
"Satria.. Andai saja Aku menjadi istrimu.. Dunia ini akan terasa sangat begitu indahnya" guman Yanti dengan lirih, sembari memeluk erat gulingnya.