MIRNA

MIRNA
Episode 51



Lela merasakan jika perutnya sedikit mual. Rasa mual itu biasa dan membuat Ia merasa sangat tidak nyaman.


Didi dan juga Dino sudah nongkrong diwarungnya. Hari ini mereka mendapat biawak berukuran besar yang dijual kewarung remang-remang penyedia tuak.


Keduanya memesan teh susu dingin, dan duduk diwarung dengan memanfaatkan wifi gratis dari warung Lela.


Setelah menghidangkan pesanan Didi dan Dino, Lela tampak berkeringat dan wajahnya memucat.


"Mbak.. Koq wajahnya pucat banget" ucap Didi sembari menatap Lela dengan perasaan prihatin.


Lela menatap Didi dengan tatapan nanar "Kepala Mbak terasa pusing, Di. Perut Mbak juga mual" ucap Didi dengan perasaan yang semakin menjadi.


Seketika pandangan Lela menghitam dan...


Bruuuuuuuugh..


Lela jatuh tersungkur dilantai dan tak sadarkan diri.


Didi dan juga Dino beranjak dari duduknya, dan menghampiri Lela "Mbak.. Mbak Lela.. Bangun, Mbak" ucap Didi sembari menepuk-nepuk wajah janda tanpa anak itu.


Kedua pemuda itu menggotong Lela keruang tamu dan membaringkan Lela di kursi tamu.


"Din.. Aku keluar sebentar panggil bidan Rini yang baru pindahan itu diseberang jalan, Ya.." titah Didi, lalu menghidupkan mesin motor maticnya dan menjemput bidan Rini yang baru pindahan di seberang jalan.


Dino hanya menganggukkan kepalanya saja. Dino memandangi wajah Lela yang tampak memucat dan dalam tak sadarkan diri.


"Sebenarnya Mbak Lela ini masih cantik.. Kasihan juga kalau kesepian" Dino berguman dalam hatinya.


Tak berselang lama, bidan Rini dan Didi sudah datang bersamaan. Lalu bidan Rini masuk kedalam rumah dengan melewati warung Lela.


Sesampainya di dalam rumah, Bidan Rini lalu memeriksa Lela dengan seksama. Sesaat Ia meminta kedua pemuda itu untuk keluar sejenak, sebab ada pemeriksaan yang sedikit privasi.


Bidan Rini mengingkap pakaian Lela hingga batas pusar. Lalu Ia menekan perut bagian bawah Lela dan Ia merasakan benda kecil bersarang disana.


Tak berselang lama, Lela terbangun dan memegangangi kepalanya yang sakit. Ia merasa terkejut karena melihat bidan Rini tiba-tiba berada dirumahnya.


"Kenapa Bu Bidan ada dirumah saya?" tanya Lela dengan bingung.


" Iya, Mbak.. Tadi Mbaknya pingsan dan pemuda yang diwarung Mbak itu menjemput saya" ucap Bidan Rini dengan serius.


"Mbak.. Bisa buang air kecil dan tampung airnya di wadah ini?" titah Bidan Rini sembari mengambil wadah berbentuk tabung setinggi 5 cm.


Lela merasa bingung dengan perintah Bidan Rini, namun Ia mencoba menurutinya.


Sementara itu, Didi dan juga Dino menyeruput teh susu dinginnya "Kira-kira Mbak Lela sakit apaan ya, Di?" tanya Dino penasaran sembari menyerupu teh susu dinginnya hingga habis.


"Entahlah.. Mana saya tau.. Kan Kita juga sama-sama disini" jawab Didi yang juga sama penasarannya.


Lela membawa tabung berisi air seninya dan memberikannya kepada Bidan Rini.


Lalu Bidan Rini menerimanya dan meletakkan sebuah alat tes kehamilan yang membuat Lela merasa gemetar dan khawatir saat Bidan Rini memasukkan alat itu kedalam tabung berisi air seni itu.


Lela membolakan matanya saat melihat alat tes tersebut memperlihatkan dua garis berwarna merah tua.


Seketika Lela merasa lemah, dunianya bagaikan berputar "Tidak... Tidak.. Ini tidak mungkin terjadi.. Saya tidak pernah melakukan hal hina ini kepada siapapun" ucap Lela sembari menutup mulutnya.


Bidan Rini memandang dengan iba "Namun ini hasilnya positif, Mbak.." ucap Bidan Rini dengan berbisik agar tidak didengar oleh kedua pemuda yang berada diwarungnya.


Lalu bidan Rini memberikan obat penghilang rasa mual dan juga beberapa vitamin untuk membantu Lela mengatasi rasa tak nyamannya.


Lela ingin rasanya berteriak dan tidak menerima kehadiran sosok didalam rahimnya.


"Bu.. Tolong rahasiakan ini dari siapapun, jika kedua pemuda itu bertanya, katakan saja saya sedang sakit kepala dan kecapekan" pinta Lela dengan memelas.


Bidan Rini menganggukkan kepalanya dan berjanji akan merahasiakan hal tersebut.


Bidan Rini keluar dari rumah Lela dan berpamitan. Lalu Didi mengantarnya kembali kerumah Bidan tersebut.


Ditengah perjalanan, Didi bertanya karena merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Mbak Lela pemilik warung.


"Sakit apa Mbak Lelanya, Bu Bidan?" tanya Didi yang penasaran.


" Sakit kepala dan masuk angin, mungkin kecapekan karena jaga warung hingga larut malam" jawab Bidan Rini dengan tenang. Ia harus bersikap amanah atas apa yang diminta oleh Lela kepadanya.


"Iya.. Kasihan juga Mbak Lela.."jawab Didi dengan melajukan sepeda motornya dan menyeberangi jalan menuju rumah Bidan Rini.


"Terimakasih, Ya Mas.." ucap Bidan Rini lalu berjalan menuju kerumahnya.


Sementara itu, Dino masih menunggu Didi diwarung Mbak Lela. Ia melirik kedalam rumah tersebut dan melihat Lela sedang berbaring dikursi tamu, tampak Ia masih sangat lelah.


Sesaat Didi datang dan masuk kedalam warung "Din.. Bakik, Yuk.. Kasihan Mbak Lelanya biar istirahat" ajak Didi sembari menghampiri Mbak Lela kedalam kerumah.


"Mbak.. Ini uang teh susu dinginnya ya" ucap Didi, lalu menyerahkan uang pas kepada Lela yang masih terbaring.


"Makasih, Ya.. Di. Maaf sudah ngerepotin" ucap Lela dengan lemah.


"Gak apa, Mbak.. Saling bantu sesama tetangga" balas Didi dengan tersenyum.


Lela menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman Didi.


Lalu kedua pemuda itu berpamitan untuk pulang. Setelah kepulangan kedua pemuda itu, Lela masih bingung dengan kondisinya. Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia merasa tidka melakukan hal-hal terlarang tersebut.


Seketika Ia mengingat kakek Nugroho. Namun apakah Ia harus menuduh pria senja itu, sedangkan Ia sendiri tidak yakin. Namun Ia hanya mengingat jika Kakek itu yang sudah datang dua kali kewarungnya dan Ia merasakan bercinta dengan pria senja tersebut.


Namun Ia tidak memiliki bukti untuk menuduhkan hal tersebut. Sebab kejadian itu laksana mimpi yang tak dapat dijelaskan.


Lela beranjak bangkit. Ia tidak menginginkan janin itu, sebab Ia sendiri tidak mengetahui siapa ayah dari Janinnya.


Lela kembali meracik ramuan andalannya dan kali ink dengan takaran yang sangat banyak.


Lela tidak ingin janin tanpa ayah itu berkembang dalam rahimnya.


Ia meminum dengan segera ramuan tersebut, dan berharap segera bereaksi dan janin itu gugur seketika.


Setelah meminum ramuannya, Lela menanti reaksinya sembari tetap menjaga warungnya. Sebab Ia seorang janda dan dari warungnya Ia dapat menghidupi kebutuhan hidupnya.


Beberapa orang datang dan membeli makanan dan minuman ringan. Lalu mengobrol diwarungnya.


Setelah hampir senja, Lela mendapatkan keuntungan yang lumayan dan dapat mengganti biaya perobatannya yang tadi Ia keluarkan.


Dikejauhan.. Tampak Kakek Nugroho sedang menuju warungnya. Ada rasa berdebar dalam hati Lela saat melihat kehadiran pria senja itu.


Rasa takut dan juga rasa kacau bercampur aduk ketika pria senja itu berjalan mendekati warungnya.