MIRNA

MIRNA
episode 88



Perampok itu menodongkan senjata api kepada Yanti "Serahkan seluruh harta benda yang kamu miliki!" Ucap kepala perampok itu dengan nada ancaman.


Yanti bergetar ketakutan, dan Ia mencoba menyelamatkan harta bendanya "Saya tidak memiliki harta benda lagi, itu hasil dagangan saya malam tadi dan seluruh uangnya didalam laci kasir" ucap Yanti mencoba berbohong.


Seorang dari perampok itu memeriksa laci kasir, dan mengambil seluruh uang hasil penjualan malam tadi. Banhkan mereka merampas dompet yang dipegang oleh Yanti yang merupakan uang hasil jasa plus-plus.


"Periksa kedua kamar itu, mungkin saja masih ada perhiasan yang disembunyikannya" ucap Seorang pria yang berbadan kekar dan merupakan sebagai kepala perampok tersebut.


Lalu beberapa diantara mereka memeriksa kamar yang disebutkan oleh kepala perampok itu, dan menemukan berbagai emas dan permata yang disimpan Yanti didalam lemari pakaiannya.


"Bos.. ini ada banyak emas dan permata.. gila.. kita dapat rezeki nomplok pagi ini" seru seorang anggota perampok itu.


Bawa seluruhnya masuk kedalam mobil "Titah kepala perampok itu kepada anggotanya.


"Baik, Bos.." jawabnya dengan cepat. Lalu mereka juga membawa seluruh bungkus rokok yang dipajang oleh Yanti di lemari kaca yang baru saja Ia beli di toko sembako.


Salah satu anggota perampok memandangi Yanti sedari tadi dengan penuh hasrat, sebab Yanti masih menggunakan pakaian yang sangat menggoda.


Kepala perampok itu mengerti isi kepala dari anggotanya tersebut.


"Bos.. boleh makan sebentar, masa iya ada makanan dianggurin" ucap salah seorang anggota perampok yang sedari tadi sudah tidak dapat menahan gejolak hasratnya.


Kepala perampok itu tersenyum licik.


"Sabar, saya dulu yang makan, baru giliran kalian" ucap Kepala perampok itu dengan nada penuh penekanan. 


Sektika Yanti tersentak kaget, sebab Ia mendapatkan firasat jika Ia akan digilir secara gratis oleh para perampok tersebut.


Dan benar saja, kepala perampok menggaulinya didepan para anak buahnya. Setelah mendapatkan puncak surgawinya, Ia menyerahkan Yanti kepada para anggotanya bagaikan barang yang tidak berharga.


Lalu para anggota perampok itu bergilir untuk menggauli Yanti dengan tawa mereka yang terdengar menjijjkan.


Setelah seluruh anggota perampok itu mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka pergi begitu saja dengan membawa hasil rampokan dan juga mencicipi tubuh Yanti.


Kini Yanti menggerutu dengan kesal, sebab hasil usaha yang dikumpulkannya selama ini hampir ludes seluruhnya, untung saja Ia masih menyimpan sedikit uang didalam ATM-nya.


"Dasar, perampok sialan..!! Awas saja jika datang kemari lagi, akan aku jadikan kalian tumbal pesugihanku" ucap Yanti dengan kesal.


"Itu sosok bayangan hitam kemana sih? Kenapa tidak muncul-muncul dari malam tadi? Padahal sudah ada tumbal yang tersedia" gerutu Yanti dengan kesal.


Ia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah Ia keluar dari kamar mandi, Ia mendengar suara rintihan dari kamar rahasianya, Ia baru sadar jika Ia belum memberi makan Lisa.


Ia tidak boleh membiarkan Lisa mati begitu saja. Sebab janin dalam kandungan Lisa 2 bulan lagi sudah siap untuk ditumbalkannya.


Yanti mengambil mie cup instan lalu menyeduhnya, dan mengantarkannya kepada Lisa yang kini meringkuk didalam kamar rahasia.


Ia membuka pintu kamar itu, lalu dengan cepat menutupnya.


"Ini dimakan, Mbak.. ini juga minumnya." Ucap Yanti kepada Lisa yang tampak pucat.


Lisa sudah sangat kelaparan sebab kini Ia tak sendiri lagi, ada janin didalam rahimnya yang juga butuh asupan.


Lisa meraih mie cup itu, dan memakannya dengan terburu-buru.


Lalu Yanti meninggalkannya begitu saja.


Rantai yang dipasang oleh Yanti cukup panjang, sehingga Lisa bisa keluar masuk kamar mandi.


Namun kondisi Lisa masih sakit dan lemah, sehingga Ia tidak dapat memikirkan bagaimana caranya untuk kabur.


Yanti kemudian membersihkan warungnya, Ia kembali berbelanja segalanya, sebab sebagian dagangannya digarap oleh perampok tadi.


Meskipun kesal, Ia berharap dapat keuntungan malam ini, dan Ia yakin jika keempat remaja itu dapat mengantarkan keuntungan yang besar.


Sementara itu, Mirna menuruni anak tangga menuju sungai.


Ia sedang berada ditangkahan sungai, memandang sampan milik pria tua yang biasanya selalu menjala ikan disungai.


Namun sejak kejadian malam tadi, pria itu tak menampakkan dirinya.


Mirna tersenyum dengan sinis, Ia sudah menduga jika sosok itu adalah genderuwo yang merupakan sekutu dari Nini Maru.


Namun Ia mencoba tidak menggubrisnya, sebab sosok itu masih menunjukkan sikap yang berpura-pura baik kepadanya, dan Mirna juga membalas sikap kepura-puraan itu.


Sosok kakek Nugroho yang selama ini Ia kenal sesungguhnya jelmaan dari genderuwo  yang akan menjadi calon ayah mertuanya dalam misi Nini Maru. 


Sebab itu Kakek Nugroho selalu berbuat baik padanya agar dapat mengelabui Mirna, dan mempercayainya bahwa Ia tulus pada gadis itu.


Namun Mirna yang juga mengetahui siapa sebenarnya kakek Nugroho, orang yang hanya berpura-pura baik padanya, karena ada maksud dan tujuan tertentu, sehingga Mirna  memberikan ikan pemberian kakek tersebut kepada Kayla sigadis kecil yang kini sudah tak lagi terlihat keberadaannya.


Mirna mengambil sebuah batu kerikil didasar sungai, lalu Ia menjentikkannya kearah perahu, dan memutuskan tali penambatnya sehingga sampan itu terbawa arus dan menghilang.


Sosok genderuwo adalah sosok makhluk tak kasat mata yang sangat menyukai wanita dan suka berbuat me- sum.


Sehingga Ia menggarap Lela dan Yanti. Namun Ia tidak berani menyentuh Mirna, sebab Mirna diperuntukkan untuk Rey.


Mirna yang telah selesai Mandinya, beranjak dari tangkahan dan menuju kerumahnya.


Saat bersamaan, ia berpapasan dengan Yanti tampaknya membawa beberapa gelas kotor, sepertinya Ia akan mencucinya ditangkahan tersebut.


Mirna melintasinya dengan berpura-pura tidak melihat Yanti.


Yanti menyunggingkan senyum sinis "Dasar wanita sombong!!" Gumannya lirih, lalu menapaki jalanan berundak dan tiba-tiba saja Ia tergelincir dan wadah tempatnya membawa gelas-gelas itu terjatuh dan berpecahan.


Sementara itu, Yanti jatuh tersungkur ditanah, dan Mirna tampak tak menggubrisnya, dan berlalu begitu saja meninggalkannya dalam kesakitan.


Yanti menggerutu dengan kesal, sebab hari ini Ia begitu banyak ditimpa kesialan dan juga musibah.


"Brengsek.. mengapa nasibku sangat sial hari ini?! Semua ini karena Mirna.. sepertinya Ia pembawa sial dalam hidupku" ucap Yanti dengan kesal. Lalu Ia beranjak bangkit dari tanah licin tersebut, dan tubuhnya sangat kotor.


Yanti kemudian menuju sungai dan berniat mandi sekalian. Saat Ia asyik mandi berendam, Ia melihat sosok bergerak didalam air menuju kearahnya. Karena merasa curiga, Ia bergegas naik ketangkahan, setelah Ia berhasil naik ketangkahan, Ia melihat sosok ular sanca sedang berenang menuju kearahnya. 


Tanpa menunggu waktu lama, Yanti lalu ngacir untuk menyelamatkan dirinya. Ia berlari sekencangnya, hingga saat Ia sampai dipintu belakang rumah Mirna, Ia merasakan nafasnya tersengal dan sangat memburu.


Yanti berjalan tertatih menuju warungnya, lalu beristirahat sejenak untuk mengatur nafasnya yang memburu.


Pakaiannya yang basah kuyup membuatnya merasa menggigil. Ia belum ada beristirahat sedari malam tadi.


Yanti merasakan mengantuk dan Ia memasuki warungnya dengan pakaian basah.


Ia duduk disofa tempat karoeke dan tak sadar Ia terlelap dalam tidurnya.