
Baron menarik paksa pakain Tasya hingga robek dan memperlihatkan dua bukit kembar milik Tasya karena kancing pakaiannya berhamburan.
Angkasa yang merasa geram, meraih pecahan batu bata yang tergelatak tak jauh darinya, lalu memimpuk Baron dan kening remaja tersebut.
Buuuugh..taak...
"Aaaaargh.."
Baron mengerang kesakitan dan menoleh ke arah siapa yang telah menimpuknya, dan keningnya berdarah serta benjol.
Seketika Ia menatap geram dan kesal karena ternyata Angkasa dan juga Samudera yang berada tak jauh dari mereka ikut campur dalam kesenangan yang akan mereka lakukan.
"Sialaan..!! Mengapa Kalian ikut campur urusanku!!"
Lalu Baron menarik Tasya dengan kasar dan menarik bra gadis itu hingga terlepas dan membuat dua bukit kembarnya terpampang jelas.
Sedangkan kedua tangan Tasya dicengkram kebelakang membuat gadis itu meronta-ronta ingin dilepaskan.
"Apakah kalian menyukai ini?! Tapi sepertinya kalian sangat polos dan belum pernah menyentuhnya bukan?!" ucap Baron kepada Angkasa dan juga Samudera yang saat ini memalingkan wajahnya karena tidak ingin melihat aurat Tasya yang terbuka.
Baron mencengkram kuat rahang Tasya dan membuat gadis itu merintih kesakitan.
Angkasa yang tidak tahan melihat perlakuan Baron akhirnya berjalan menghampiri remaja breengsek itu dan ingin membuat perhitungan kepadanya.
Namun kedua rwkan Baron menghadang langkah Angkasa, dan keduanya membawa pisau sangkur yang mereka sembunyikan dibalik pinggangnya.
Angkasa bergerak mundur dengan mencekungkan perutnya saat kedua rekan Baron menyerangnya dengan menyabetkan pisau sangkur tersebut.
Melihat hal itu, Samudera bergegas menghampiri Angkasa, dan memberikan perlawanan kepada kedua sisiwa yang membawa pisau tersebut.
Tanpa mereka sadari, dari balik dinding sekolah, sesosok siswa telah merekam kejadian tersebut sedari tadi.
Lalu pertarungan terjadi.
Salah satu siswa brandal itu berhasil menggores lengan Samudera, dan siswa itu tersenyum sinis melihat darah mengalir dari lengan Samudera.
Siswa itu kembali menyerang Sanudera, dan kali ini Samudera berhasil menangkap pergelangan tangan siswa tersebut, lalu menekuk pergelangan tangannya hingga mata pisau itu mengarah kepada pergelangan tangan si siswa, dan..
Jleeeb..
Ujung pisau itu menembus pergelangan tangan si siswa dan hingga geriginya sulit dicabut.
"Aaaaaaarrrggh.."
Erang si siswa penuh kesakitan.
Lalu Samudera menandang siswa itu hingga jatuh tersungkur.
sedangkan Angkasa masih menghadapi siswa yang juga menyerangnya. ujung pisau itu kini berada dilehernya, dan Angkasa masih mencoba menahan pergelangan tangan siswa itu, dan Angkasa menendang lato-lato si siswa hingga meringis kesakitan dan pisaunya terlepas dari tangannya, lalu Angkasa menendang pisau itu menjauh dari si siswa dan Ia melakukan tendangan dibetis siswa itu.
Sementara Baron yang melihat dua rekannya terkapar, dengan cepat mendorong tubuh Tasya ke arah Samudera yang sedang menuju kepadanya dan Ia ingin melarikan diri. Saat bersamaan seorang guru yang mendengar suara erangan dan kegaduhan itu merasa curiga dan melihat ke arah belakang toilet dan mendapati Samudera sedang mendekap tubuh Tasya yang saat itu kondisinya sangat berantakan.
"Heeei..!! apa yang kalian lakukan?!" teriak guru Matematika itu dengan sangat terkejut melihat dua siswa yang terluka dan Tasya yang sedang dalam dekapan Samudera.
"Mereka mencoba memperko-sa Tasya, Pak! Dan saat kami akan menyelamatkan Tasya, mereka menghajar kami!" ucap Baron membalikkan fakta.
Tasya yang menaruh dendam kepada keduanya karena menolak perasaannya berbalik meraung dan ikut membenarkan ucapan Baron.
Samudera mendorong tubuh Tasya dari dekapannya, namun tasya sengaja memandang sinis dan merasakan telah pu-as karena berhasil menjebak keduanya.
"Bohong..!! Kami justru ingin menyelamatkannya dari perbuatan Baron. Dan yang merobek pakaiannya juga Baron, ini fitnah!!" ucap Samudera membela diirinya.
"Tidaak, Pak! Mereka berdua telah mencoba menodai saya, dan saya sudah tidak suci lagi. Saya ingin salah satu dari mereka bertanggungjawab atas perbuatan yang mereka lakukan!" ucap Tasya sembari menangis tersedu.
Seketika para guru yang belum pulang berkumpul karena mendengar suara kegaduhan tersebut dan kini mereka melihat dua siswa yang sekarat dan pisau sangkur yang tertancap di pergelangan tangan siswa itu membuat keduanya menjadi tertuduh.
Samudera menggenggam pergelangan tangan Angkasa, keduanya terjebak oleh fitnah yang keji, niat mereka yang ingin menolong Tasya, namun siswi tersebut berbalik ikut memfitnah keduanya.
Pihak sekolah menggiring Angkasa, Samudera, Baron, Tasya dan dua siswa yang terluka ke ruang guru, sedangkan dua siswa yang terluka dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan.
Pihak sekolah memnaggil para orangtua mereka untuk dimintai musyawarah atau akan dobawa ke jalur ke hukum, dan kini Satria yang datang menghadap.
Saat semua orangtua mereka berkumpul, guru wanita terpesona dengan ketampanan Satria. Mereka selama ini tidak pernah bertemu dengan orangtua laki-laki Samudera dan Angkasa, dan kini mereka mengetahui mengapa kedua siswa itu sangat tampan, ternyata mewarisi wajah ayahnya.
"Pak Satria, Anak bapak terlibat perkelahian dan perbuatan tidak seno-noh terhadap siswi wanita bernama Tasya. Dan siswi itu meminta salah satu dari anak bapak untuk bertanggungjawab menikahinya.
Satria masih bersikap tenang dan menatap pada Tasya.
"Jika anak bapak tidak ada yang bersedia menikahinya, maka kami akan menempuh jalur hukum tentang perlindungan anak" ucap Kepala sekolah itu penuh penekanan.
Kini Satria menatap kedua anaknya yang meminta ayahnya mmepercayai mereka.
"Demi Allah, ya.. Kita tidak berbuat seperti apa yang dituduhkan, dan kita sebaliknya ingin menolong Dia dari si Baron dan dua temannya" jawab Anhkasa membela diri.
Tasya menatap pada Angkasa "Bohong!! Mereka berdua yang mencoba menodai saya, dan Baron beserta temannya yang ingin menyelamatkan saya dan kalian menusuknya dengan pisau!" sergah Tasya tak ingin melepaskan salah satu diantara mereka. Ia sudah terlanjur menyukai ke duanya.
Semua yang ada disana tampak mempercayai ucapan Tasya, dan Baron tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah, siapapun orangtua pasti mempercayai ucapan ananknya, begitu juga halnya dengan saya yang mempercayai kedua anak saya, sebab saya mengenal anak saya dibanding kalian" jawab Satria.
Ia menghela nafasnya dengan berat dan kini menatap pada Tasya. Tatapan itu membuat Tasya bergidik ketakutan.
"Katakanlah yang sebenarnya!" ucap Satria dengan tenang namun membuat jantung Tasya rasaningin copot.
"Emmm.. Saya mengatakan yang sebenarnya" jawab Tasya tergagap.
"Jika yang kau katakan benar, maka mari kita ke puskesmas dan melakukan visum apakah ada bukti tertinggal ditubuhmu yang menyatakan anakku bersalah. Jika anakku benar bersalah, maka aku akan menikahkanya salah satu untukmu, namun jika kau berbohong, maka aku akan menyeretmu ke kantor polisi atas tindakan tidak menyenangkan dan juga pencemaran nama baik" ancam Satria.
Seketika Tasya gemetar ketakutan. Ia tergugup dan merundukkan kepalanya.
"Katakan siapa yang sebenarnya yang melakukan perbuatan itu padamu?!" tanya Satria dengan Sarkas.
"Aku tau kejadian sebenarnya!" ucap seorang siswa yang tiba-tiba datang nyelonong masuk keruangan guru.
Semua mata tertuju pada sisiwa itu.
"Bukti apa yang kau punya?" tanya kepala sekolah penasaran.
"Ini..!" ucap siswa yang tak lain ada Syamsul.
"Aku merekam semua kejadiannya dari awak hingga akhir!" jawab Syamsul yang memperlihatkan phonselnya.